Apa Profesi Tertua Didunia ?
  Ada 3 orang profesional, Dokter, Insinyur Sipil dan Planner  duduk berbincang 
dan membicarakan tentang apa profesi paling tua dan pertama muncul  didunia 
..............
  Yang Dokter mengatakan “...Menurut Kitab Suci, Tuhan menciptakan Hawa dari 
tulang rusuknya Nabi Adam......, dimana jelas bahwa itu memerlukan pekerjaan 
operasi klinis..... jadi maka kedokteranlah yang merupakan  profesi paling  
tertua didunia.....”.
  Lalu  yang Insinyur Sipil menyanggah dengan mengatakan  : “ Didalam Kitab 
Suci juga disebutkan bahwa sebelum diciptakan manusia ..... Tuhan  telah lebih 
dulu menciptakan ‘Keteraturan’ ..... seperti dengan masing-masing bintang, 
planet dan satelit-satelitnya berputar pada garis edar masing-masing dan 
langitpun menjadi jernih ......dari keadaan semula.... Big Bang yang 
menyebabkan ledakan besar, debu serta material langit memenuhi ruang angkasa 
yang kacau-balau......... yang itu adalah merupakan pekerjaan teknik sipil 
terbesar yang pernah ada... dan sekaligus membuktikan bahwa Teknik Sipillah 
profesi yang tertua didunia ...........
  Mas  Planner tak mau kalah.. dan dengan senyum kemenangan mengatakan : ”... 
Ya... tapi anda berdua musti ingat Bung.... anda pikir siapa yang pertama kali 
menciptakan keadaan Tidak Teratur dan Kacau Balau  itu?.....”. 
  *           *           *           *           *
   
  Melanjutkan Diskusi santai dengan pak Risfan .......
   
  +++: ...Bicara Visit Indonesia 2008, apalagi sudah masuk tahunnya, berarti 
bicara perencanaan operational, bukan PJM atau PJP Pariwisata. 
  >>>>: Namanya negara sedang berkembang pak ....Kita biasa berfilosofi ‘sambil 
berlayar, sambil membangun perahunya’....... mudah-mudahan targetnya tetap 
tercapai ... dan upaya pembinaan pelaku industri pariwisata tetap dapat 
memperoleh kemajuannya yang berarti..........
   
  +++: ...Selama ini kita banyak GR nya. Merasa punya banyak daya tarik, merasa 
diri menarik. Tetapi kurang pemasarannya. Asumsi kita orang luar negeri tahu 
'kekayaan wisata' kita. Nyatanya kan tidak. 
  Kita lupa bahwa mereka tidak pernah belajah Ilmu Bumi dan Sejarah Indonesia 
seperti anak SD/SMP kita. 
  Coba kalau ada kesempatan jalan ke Singapore , Malaysia tanya apa yang mereka 
tahu tentang Indonesia ? Jawabannya umumnya minim. 
  Kaum terpelajarnya saja banyak yang tidak tahu peta wilayah Indonesia , apa 
lagi multi-etnik dan daya tarik budaya dan alamnya. 
  Yang  mereka tahu paling cuma Jakarta, Bali, Batam dan sekitarnya..........
  >>>:  Ini  seolah-olah seperti saya  menjadi Jubirnya Deparbud..hehe... tapi 
tak apa.... prinsip awalnya kan rakyat harus berprasangka baik bahwa setiap 
rezim khususnya setelah reformasi... memiliki niatan baik untuk mensejahterakan 
bangsanya... dan kita  harus berprasangka baik pula bahwa setiap rezim berminat 
pada pengembangan azas good governance... yang artinya termasuk pula mau 
mendengarkan nasehat-nasehat yang baik dari siapa saja asalkan untuk kebaikan 
bangsa dan negara..........
   
  UNTUK soal pengetahuan geografi dari konsumen pariwisata ..... pemerintah 
nampaknya sudah amat menyadari ... bahwa  konsumen pariwisata sekarang  tak 
lagi merasa cukup hanya dengan mendapatkan informasi kepada biro perjalanan 
saja... namun bahkan  telah ingin mendapatkan informasinya ‘langsung’ kepada 
sumber informasinya ......dengan perantaraan teknologi internet .... langsung 
kepada situs pariwisata negara-negara didunia....... 
  Nampaknya sudah ada kesadaran yang cukup didepartemen Pariwisata dan 
Kebudayaan bahwa “ if you are not online... then you are not on-sale....”.
  Atau juga kesadaran bahwa ...  “if your destination is not on the Web... then 
it may well be ignored by the millions of people who now have easy access to 
the internet ..... and who expect that every destination will have a 
comprehensive presence on the Web....”. 
   
  Kaitan erat antara teknologi internet dan industri pariwisata dunia sekarang 
lalu adalah  “..if you are not in there fighting..”  maka lalu “.. then you 
cannot expect to win the battle for tourist dollars..”, sehingga sekarang 
disadari bahwa internet adalah memang  merupakan medan perang paling dahsyat 
dari antara industri pariwisata antar negara .............
   
  Menjawab kerisauan pak Risfan itu ...... walau barangkali masih  dengan 
segala kekurangannya (kalau ada) .... Deparbud  telah meluncurkan situs resmi 
pariwisata dalam rangka Visit Indonesia Year 2008. Situs yang beralamat di 
www.my-indonesia.info ...... dimaksudkan sebagai worldwide tourist information 
center untuk pariwisata di Indonesia........ 


  Dana untuk pengembangan situs  dan promosi ini pada 2006 mencapai Rp 2 
miliar...., pada 2007 mencapai Rp 5,5 miliar.... dan untuk 2008 disiapkan 
investasi Rp 10 miliar, semuanya dari APBN....... 
   
  Situs itu konon didukung oleh empat server yang berlokasi di empat benua, 
yaitu di Amerika Serikat (Benua Amerika), Singapura (Asia), Eropa, dan 
Australia. Lokasi server di empat benua itu dimaksudkan agar pengguna internet 
mancanegara yang mengakses situs ini secara otomatis dilayani oleh server 
terdekat........
   
  Konon situs  ‘My-Indonesia.info’ itu telah dioptimalkan sehingga pencarian 
kata kunci 'indonesia info' atau 'indonesia tourism' di mesin cari Google akan 
menempatkan situs itu pada posisi atas, dan menurut  penelitian,  pada 2006 
sebanyak 56% wisatawan yang datang ke Indonesia mencari informasi tujuan wisata 
dari internet.........


  +++: Masalahnya, umumnya kita kalau membahas pariwisata selalu condong bicara 
dari sudut pandang kita sendiri (inward looking), 
  bukan dari sudut pandang wisatawan. 
  Kita sering rancu antara misi pariwisata dengan misi 'kebanggaan budaya' dan 
harga diri bangsa. Kurang mau melihat dari sisi wisatawan.
  >>>:  Yah... kalau yang berpandangan demikian adalah masyarakat 
awam...kiranya masih dapat dimengerti ..... karena itulah maka  sosialisasi 
tentang peran strategis dari industri pariwisata kita merupakan bagian  teramat 
penting dalam upaya pengembangan sektor pariwisata kita ....... dan harus 
merupakan bagian dari usaha pencerdasan bangsa yang tak pernah berhenti...... 
supaya jangan terjadi sudah dipromosikan secara hebat .... giliran dikunjungi 
ternyata mengecewakan ...........
   
   
  +++: ...Bahwa banyak daerah kebanjiran, ada korban Lapindo, saya kira tidak 
soal, karena sebagian besar wisatawan perlunya cuma ke daerah tujuan wisata 
(DTW) tertentu saja......... 
  >>>: Betul... siipp......
   
  +++: ...Pada masa sekarang ini, bisa menahan wisatawan hingga 7 hari saja 
barangkali sudah berat. 
  Dengan demikian maka obyek dan atraksi yang akan disajikan juga harus dengan 
batasan 7 hari dikurangi waktu perjalanan. 
  Mengingat sebaran DTW yang luas, maka sepertinya kita tidak bisa ambisius 
membawa wisatawan ke banyak lokasi sekaligus. 
  Sehingga kalau ke Bali, yang dengan sekitarnya saja. 
  Kalau ke Jogya, ya ke Borobudur dan sekitarnya saja, 
  begitu pula ke Tator, atau ke Bukittinggi. Atau bisa ke dua DTW tapi waktunya 
lebih singkat, lebih banyak di perjalanan. Berarti belanjanya jadi kurang.
  >>>>: Karenanya untuk ‘hanya kemungkinan kunjungan singkat’.... baik untuk 
wisman ataupun wisnus.... yang paling  relevan untuk dikembangkan  adalah 
‘akhirnya’ utamanya ‘wisata kota’ dan dekat sekitarnya....... maka akhirnya 
wisata kuliner, wisata shopping cenderamata, atau wisata mengunjungi semacam 
taman mini,  disneyland atau  museum dan semacamnya menjadi  pasar wisata yang 
perlu digarap lebih intensif......, dan karenanya wisata konvensi dan wisata 
bisnis menjadi pasar wisata yang riil yang perlu digarap lebih 
intensif............
   
  +++ Memang jumlah dan frekuensi kunjungan wisman dari Asia Timur ini harusnya 
diantisipasi dari dulu. 
  Kalau di Bali, kehadiran mereka memang sudah direspons dari dulu, ini bisa 
kita lihat dengan banyaknya brosur macam-macam di Airport Ngurah Rai dalam 
huruf kanji. 
  Saya tidak tahu di Bitung, tetapi di Jawa Tengah yang juga banyak dikunjungi 
mereka nampaknya belum merespons. Padahal seharusnya Jawa Tengah mempelajari 
kenapa banyak sekali orang Jepang, juga Taiwan, Korea, atau komunitas Budhist 
itu kesana, bukan Cuma sebagai wisatawan tapi juga mensponsori pemugaran 
candi-candi (terutama Borobudur, Prambanan)   tapi kok tidak ada brosur dalam 
hurut kanji, yang ada nama-nama jalan ditulis dalam huruf ’honocoroko.’ 
  Counters information center juga kurang sekali, kalau ada tidak informatif.
   >>>: Kalau soal menyangkut nama-nama jalan ...... ya paling enggak asalkan 
latinnya masih ada, masih luimayan...... tapi maaf... mudah-mudahan yang  
berikut ini masih nyambung dengan diskusi pariwisata kita ........ 
  Dikota kampung saya di Bekasi ......... saya perhatikan kalau pagi itu 
beberapa jalan protokol disana bukan hanya disapu saja ... tetapi bahkan hampir 
tiap pagi disemprot dan dicuci dengan air oleh petugas dengan truk tangki 
air..... yang tentu saja jalan-jalan protokol Bekasi itu menjadi tak berdebu 
dan  bersih sekali ..... 
  Tetapi yang lebih hebat lagi...... hampir dipojok manapun dikota Bekasi baik 
dijalan protokolnya atau bukan  ... kecuali didalam kompleks perumahan .... 
anda hampir tak akan  pernah dapat menemukan papan-papan nama penunjuk nama  
jalan dengan tiang  yang seharusnya  dipasang disetiap ujung jalan .... supaya 
kita tahu sebuah ruas  jalan itu namanya jalan apa....... 
  Anda hanya akan tahu sebuah ruas jalan di Bekasi itu namanya Jalan Anu...... 
hanya  kalau kebetulan diruas jalan itu terdapat toko atau kantor yang memasang 
papan namanya dan mencantumkan nama jalan itu serta no. bangunan dibawahnya 
.......... 
   
   
  +++: Kalau asumsi saya benar, bahwa orang luar negeri itu tidak kenal 
Indonesia, maka adalah kesalahan kita sendiri kalau dunia internasional tidak 
mengenal kekayaan daya tarik wisata di negara kita. 
  Mestinya kan bisa menahan wisman 7 hari di Jawa Tengah, lalu tahun depan 
diharap mereka 7 hari lagi ke Bali, 7 hari masa liburan lain ke Sumatera Barat, 
dst.  
  >>>>: Lama kunjungan (length of stay) seperti dibenarkan  oleh pak Risfan  
sendiri..  walau uang ada... tetapi sangat dipengaruhi oleh ‘waktu berlibur 
yang amat terbatas’........ tetapi dari ‘kekurangan’ kita terhadap sesama 
kompetitor negara Asean hari ini  seperti Thailand, Malaysia atau Singapura 
yang ‘pemenuhan jalan keluarnya’ sifatnya  tak dapat segera dilakukan...  
karena utamanya menyangkut investasi fisik atau keuangan yang mahal misalnya 
....... satu hal yang masih dapat dilakukan .... dalam jangka waktu  amat 
segera... dengan biaya yang pasti terjangkau dan amat murah ..... tidak lain 
adalah seperti :
  (a) pertama..... langkah penyuluhan dan pembinaan:  “mengerahkan semua aparat 
pemda” dalam kerangka untuk sosialisasi kepada masyarakat luas dan utamanya 
para pelaku industri dan jasa  terkait dengan pariwisata.... ialah kampanye 
tentang sadar “senyum dan keramah tamahan” serta tentang kesadaran  ‘etika 
kesiapan dan kebersihan toilet’ ..... 
  (b) pembuatan segera UU Perlindungan dan Penggalakan  Wisatawan .... baik 
bagi wisatawan asing ataupun nusantara ......... seperti misalnya penerapan 
hukuman ekstra berat kepada tindakan kejahatan, kekerasan atau penipuan, 
pemerasan dsb.  kepada wisatawan asing atau wisnus...... dengan alasan karena 
itu bukan sekedar menyerang hak asasi manusia.... namun juga   menghancurkan 
sektor pembangunan nasional yang strategis ....... (jadi dalam hal ini Amrozi 
dkk...hukumannya seharusnya dobel)........
   
  Kalau ‘senyum dan ramah tamah’ serta ‘etika kebersihan tolet’  sebagai 
‘kepribadian dasar pariwisata’ itu serta etika keamanan dan kenyamanan 
wisatawan’  serta sangsi hukumnya yang berat sudah bisa dipunyai .... maka saya 
kira setidaknya  kondisi prasyarat dasar dari industri pariwisata kita itu 
sudah dipunyai dan dapat menjadi landasan kuat bagi dikembangkannya  sektor 
pariwisata kita kedepan dengan mantap ........ 
   
  Bagaimanapun juga .... pariwisata wisman sebagai advanced tourism akan 
berhasil kalau kita juga mampu dan berhasil dalam mengem-bangkan pariwisata 
domestik sebagai elementary tourism..... atau mungkin logikanya juga bisa 
dibalik ......
   
  Tentang wisman ..... walaupun idealnya  kita seyogyanya  dapat menyiapkan 
segala sesuatunya berupa utamanya ‘pembangunan secara fisik‘ .... sebagaimana 
Malaysia dapat banyak melakukannya ..... dan itu tentu mahal sekali dan kita 
bisa-bisa belum terlalu siap betul.... dan sementara ini kita masih lebih 
banyak memiliki ’wajah kemiskinan dimana-mana’...... .. tetapi  samasekali 
‘wajah kemiskinan’ kita itu bukanlah ‘kartu mati pariwisata’........
   
  Mengunjungi negeri miskin dengan berbagai kesederhanaannya .... asalkan 
keamanan  sangat memuaskan ..... asalkan azas kebersihan --walau 
sederhana—dapat ditampilkan .... asalkan  senyum dan keramah-tamahan ada 
dimana-mana ........ wisatawan asing ataupun wisnus dihormati ..... saya kira 
itu justru akan merupakan daya tarik wisata tersendiri yang luar biasa kuatnya 
......... 
  Kota-kota seperti Yogyadan Solo misalnya ... yang masih menampilkan wajah 
tradisional dimana-mana .... andong dan becak...lesehan.... istana raja..... 
bahasa dan arsitektur yang khas yang berbeda dari negeri asal..... semuanya itu 
adalah bagian dari dunia pariwisata sebagai  ‘experience economy’........ 
  Psikologinya adalah bahwa kalau sekedar melahap pemandangan  detil kemewahan  
dan keindahan arsitektur bangunan, pertamanan dan jalan-jalan... wisman sudah 
biasa mendapatkannya sehari-hari dinegeri mereka .......... tetapi kalau 
pemandangan budaya kehidupan tradisional dengan berbagai kesederhanaannya dan 
kehangatannya.... justru itulah yang mereka tak  lagi akan pernah mendapatnya 
dinegeri mereka.......
   
  Dihormati dan diperlakukan  ibarat seperti ’pangeran’ dan ’putri raja’ ...... 
harga-harga serba murah ..... senyum dan wajah ramah-tamah yang mudah 
didapatkan dimana-mana ...... saya kira itulah ‘impression’ yang kiranya akan 
menjadi oleh-oleh ceritaan dari mulut-kemulut...  dan magnit luar biasa untuk 
tahun berikutnya mereka atau teman yang mendengar  bisa kembali lagi ke 
Indonesia...........
   
  +++: Malaysia juga tampak sangat serius dalam mengidentifikasi, 
merevitalisasi, mengemas produk-produk budayanya. 
  Bahkan sampai-sampai yang kontroversial seperti mengakui lagu Rasa Sayange, 
Reog, Batik sebagai miliknya. 
  Dari sisi mereka itu menunjukkan keseriusannya untuk merevitalisasi kekayaan 
budaya yang (sebetulnya) terbatas itu. 
  Terutama soal batik Malaysia mereka sangat serius kelihatannya. Sementara 
kita, setelah kaget ’milik’nya diakui bangsa lain, sampai sekarang juga 
terbatas ’ngomel’ saja. Nyatanya no action. 
  Tidak ada misalnya dari Departemen Kehakiman mempromosikan kemudahan mengurus 
hak cipta, paten, dan bentuk HAKI lainnya, atau bantuan pelayanan bagi UKM atau 
maestro tertentu sebagai ’aksi.’ 
  >>>>:  Berkait dengan itu konon DepKumham telah memproses  pengurusan hak 
paten dari  sekitar 3 -4 ribuan hak cipta  untuk produk-produk batik dan produk 
UKM lainnya..... hehe... jadi jubir lagi... untuk Depkumham....
   
  +++: Yang hilang dari kita saat ini adalah kejayaan Bandara Sukarno-Hatta 
yang pernah kita banggakan itu. 
  Sementara KL International Airport pada tahun 2005-2006 meraih predikat 
sebagai the World’s Best Airport, untuk kelas 15-25 juta penumpang/tahun, maka 
Bandara Sukarno-Hatta kian terpuruk pamornya dengan jalan raya (tol) yang 
sering terendam air,
  dan makin macet karena makin banyak pintu keluar/masuk yang dibuka.
  Ini menunjukkan bahwa di kita ”tidak ada prioritas, tidak ada keterpaduan”. 
Semua jalan sendiri-sendiri, saling cari untung sendiri, saling jegal. 
   Dalam dunia pariwisata pengalaman ’first impression’ dan ’last impression’ 
itu sangat menentukan. 
  Kalau keluar dari airport saja sudah macet lebih dari sejam, maka moodnya 
sudah kacau, pulangnya juga membawa kenangan kemacetan yang sama. 
  Maka agak nekad kalau kita terus mengharap mereka kembali, atau akan 
menceritakan ’kenangan manis’ kepada tetangga, keluarga dan rekan kerjanya 
untuk ke Indonesia. @@@
  >>>>:  Apa-apa yang ’kurang’ pada kita untuk soal-soal semacam itu.... tapi 
asalkan untuk urusan ‘sangat pribadi’  seperti ‘toilet’ tidak membuat mereka 
menjadi murka...... asalkan benar masih terdapat keramah-tamahan dan senyum... 
keamanan ... serta sikap hormat kepada wisatawan  dimana-mana .... asalkan 
harga-harga masih sangat murah..... saya kira semua ‘kekurangan’ kita untuk 
macet, jalan tol kebanjiran, delay pesawat  dsb. masih dapat mereka ampuni’.... 
dan ‘tergantikan’ dengan keunikan ‘kesederhanaan’ kita itu......... dan malahan 
‘semua kekurangan’ kita itu dapat menjadi ’oleh-oleh cerita lucu’ dan  ‘unik’  
dikampung halaman mereka.........
   
  Salam untuk semuanya,
  aby

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke