Mas Djarot,

semacam pasar klithikan yang anda sampaikan mirip pasar loak yang semula
berkembang di jl. Surabaya, Jakarta Pusat. Bukan hanya barang bekas atau
"loakan" saja, bahkan kalau ada barang yang belum ada mereka bisa
"usahakan". Namun bentuk semula yang semacam kaki lima informal (waktu saya
smp), karena menyediakan banyak barang bekas yang antik (asli loakan maupun
yang palsu buatan baru) kemudian di formalkan menjadi salah satu obyek turis
manca-negara. Sekitar awal tahun 1980-an selain barang antik juga berkembang
barang elektronik dan kemudian koper-koper yang mungkin dibutuhkan para
turis. Pada tahun-tahun tersebut tawaran untuk "hunting" barang elektronik
bekas atau komponen mobil yang "seperti baru" masih berkembang (kebetulan
waktu itu kantor konsultan saya berada di jalan itu). Sampai saat ini pasar
kaki-lima tersebut masih berjaya di pusat Jakarta, dengan bentuk yang tetap
sepanjang jalan dan menutup muka perumahan di belakanginya (sekaligus tempat
penitipan barang pada malam hari). Artinya, pasar loakan di sepanjang
trotoar (kaki-lima?) yang semula liar dapat menjadi formal kalau berkembang
hingga cukup bergengsi sebagai obyek turis kota. Namun kecenderungan ini
tentu tergantung kekhasan "local content" dari berbagai segi, dan tidak
selalu perlu di-"generalisasi".

Wasalam,

Abimanyu

2008/1/15 Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Eyang Wawo, Mas Aby dan sahabats semua,
>
> Aku tergelitik untuk menanggapi diskusi tentang pasar,
> sebab ada jenis pasar lain yang belum tersinggung....
> PASAR KLITHIKAN... yang sekarang sedang mekar-mekarnya
> menjadi sebuah ikon tempat tujuan wisata warga
> Jogjakarta.... meski sebelumnya heboh karena
> pemindahannya dari sebuah jalan protokol sempat
> meramaikan media disini..... sebab niat baik walikota
> dilihat dengan kacamata yang lain..... penggusuran !
>
> Pasar klitihikan adalah pasar barang bekas, misalnya
> kacamata bekas, radio bekas, sepatu bekas dll
> pernik-pernik termasuk sekrup-sekrup dll. Semula hanya
> perorangan, istilah lokalnya "bakul rombengan" yang
> tersebar di sekitar pinggir jalan tertentu saja, buka
> siang hari dan dagangan digelar dengan sehelai
> plastik.... kalau kita punya spion masih baik tetapi
> ada elemen yang hilang atau rusak, maka pasar
> klithikan adalah tempat untuk hunting elemen itu agar
> kembali menjadi bagus.....
>
> Catatan khusus: di Jogja juga ada pasar "lor pasar"
> yang biasanya menawarkan barang-barang hasil
> curian,.... ini terkenal juga.... letaknya di utara
> pasar Beringharjo... di tengah kota.... jadi tempat
> ini menjadi jujugan orang untuk mencari barangnya yang
> hilang karena dicuri..... semacam pasar gelap tetapi
> sebenarnya terang karena siang juga buka.....
> akhir-akhir ini barang-barang bantuan gempa banyak
> dijumpai disitu, misalnya tenda-tenda made in luar
> negeri yang eksklusif karena memang bantuan untuk
> korban gempa.... sudah menjadi penghuni "lor pasar"
> itu.... karena mungkin mereka sudah tidak
> memerlukannya.... memerlukan uang ya maka diuangkan
> begitulah.....
>
> Sekarang pmset para pedagang klithikan di bekas pasar
> hewan Kuncen (dekat rumah mertuaku) menjadi tempat
> keramaai baru.... tetangga kami bahkan laris
> jualannya... ada juga yang siang jadi montir dan malam
> menjadi pedagang klithikan.... bahkan konon para
> pedagang klitihkan sekarang ini nyaris selalu
> kehabisan stock dagangan.... sampai-sampai barang di
> rumah lantas di-klithikkan.... biar berubah menjadi
> uang....
>
> Lho mengapa ? Ya karena ada mekanisme yang menarik.
> Konon nih, ada undian dengan hadiah mobil bagi para
> pedagang yang mau berjualan ditempat itu. Lho mengapa
> kok sampai ada effort begitu besar ? Ya sebelumnya
> soal pemindahan pasar klithikan ini pernah ditentang
> oleh sekelompok orang, bahkan menggunakan berbagai
> jargon hebat dan petugas hukum segala.
>
> Untunglah, perseteruan antara Walikota dan kelompok
> yang tidak setuju sudah berakhir..... tetapi celakalah
> mereka yang anti itu..... sebab kelompok yang tidak
> anti justru mendaftar lebih dahulu dan memperoleh
> tempat berjualan yang strategis..... sementara yang
> anti... setelah mau damai kemudian mendaftarkan diri
> ikut berjualan disitu.... yang tersedia tinggal lokasi
> yang kurang strategis.....
>
> Lewat pasar klithikan... terjadi revolusi finansial
> bagi beberapa pedagang yang semula tidak pernah
> membayangkan akan demikian.... mereka yang tidak sok
> jagoan dan justru memahami niat baik walikota dengan
> hati dan pikiran jernih,.... nggak hanya dengan otak
> dan emosi.... justru lebih mapan... dan sekarang
> mereka memetik hasil dari kesederhanaan sikap dan
> pikiran mereka itu..... mosok tadinya berdagang secara
> ilegal... diberi tempat kok nggak mau hanya gara-gara
> curiga.... wah ini penggusuran......
>
> Salam,
> Djarot
>
> --- Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]<waworoentoehannie%40yahoo.com>
> >
>
> wrote:
>
> > Hengky A.
> > Kelihatannya banyak juga tanggapan-tanggapan yang
> > mulai mengalir, tetapi yang paling konsisten dan
> > lengkap adalah tanggapan Hengky, Jadi tanggapan atau
> > jawaban yang baik juga memerlukan appresiasi yang
> > nenadai, sayang andai kata posting Hengky tentang
> > pasar modern dan tradisional itu datang sebelum
> > akhir minggu maka kita bisa selami baik-baik,
> > sekarang rada tergesa-gesa dan bisa kurang memuaskan
> > pandangan balasan kita. tapi ingin saya coba.
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] <watashiaby%40yahoo.com>>
> > To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>
> > Cc: [EMAIL PROTECTED] <kebudayaan%40yahoogroups.com>
> > Sent: Sunday, January 13, 2008 9:56:25 PM
> > Subject: [referensi] Re: Pasar Modern, Tradisional
> > dan Pasar Kaget
> >
> > Direstoran hamburger .........
> >
> > Seorang bapak pergi kerestoran hamburger dan memesan
> > sebuah. Tak lama kemudian mbak waitress menyodorkan
> > pesanan si bapak. Si bapak segera menikmatinya
> > dengan membuat gigitan pertama hamburgernya tetapi
> > merasakan sesuatu yang aneh... dan ternyata ada
> > selembar rambut disitu....
> > Setengah terkejut sibapak memanggil mbak waitress :
> > "...Mbaaak, ini kok ada selembar rambut di hamburger
> > saya ini bagaimana?.. .. Saya mau liat!... Bagaimana
> > sih membuatnya?. ....".
> > Sibapak diajak oleh mbak waitress keruang tempat
> > membuat hamburger ... dan si bapak melihat bahwa
> > ternyata cara membuat hamburger adalah ...koki
> > disana setelah mencampur daging halus dan tepung
> > lalu menggepengkannya dibawah ketiak......
> > Kata si bapak : "Hiiihh .... menjijikkan! ....".
> > Kata mbak waitress : "..Ooo... bapak sih belum saja
> > ngeliat.. bagaimana kalau yang ditempat membuat
> > donat......".
> >
> > *Pertama terhadap anekdot diatas di restoran
> > hamburger
> > catatan saya pertama terhadap nilai (kebersihan
> > rambut) yang belum tentu sama dengan pabdabgan barat
> > di restoran.
> > Jadi ucapan : "menjijikkan' adalah cukup 'loaded'
> > atau sarat nilai katakan saja.
> >
> > Tapi nilai utama anekdot adalah nilai humor atau,
> > sindiran 'not to take it seriously' kita juga
> > ditantang untuk mengembangkan assosiasi kita dengan
> > meng andaikan cara membuat donat yang sama lucunya.
> >
> >
> > Yang terakhir saya merasa bahwa mungkin juga ada
> > versi humor yang sama untuk produk produk-produk
> > tradisional kita seperti bikin tempe atau trasi atau
> > batagor , dengan sendirinya juga ada sense of humor
> > yang sesuai lagi.
> >
> > (sebagai contoh: pernah ada yang menamakan kereta
> > api dari Padalarang ke Cianjur itu dengan Cipeuyeum
> > Ekspres." * * *
> > *
> >
> > Especially bapak2 Wawo, Risfan, Aunur, BTS, Dwi,
> > Putu Dhika, Mbak Mellyana dan milisters semuanya
> > ysh,
> >
> > Maaf latah ikutan menanggapi, dan maaf juga karena
> > terlambat mempostnya.. ......... ...
> >
> > Istilah 'pasar tradisional' nampaknya tak sekedar
> > menunjukkan identitas kesejarahannya saja ... tetapi
> > juga sekarang sekaligus menjadi istilah 'umum'
> > ...sebagai bagian dari definisi bermacam
> > jenis-jenis pasar dan fasilitas berbelanja lainnya
> > yang ada dimasyarakat saat ini... dan macam jenisnya
> > juga demikian banyaknya ......
> > Seperti mulai dari istilah pasar modern ( department
> > store, mall, square, hypermart, minimart)... ...,
> > specialized market (pasar-pasar tekstil, sayur,
> > beras, hewan, sukucadang, bahan bangunan, burung dan
> > pets, obat, bunga, barang bekas, barang elektronik,
> > komputer, dsb.), sampai ke 'pasar tradisional',
> > pasar lingkungan bahkan juga ..... 'pasar
> > kaget'..... yang skalanya lebih kecil lagi dari
> > 'pasar lingkungan'.. .. umumnya didirikan dekat pada
> > lingkungan pemukiman skala kecil disuburban.. ...
> > didirikan secara swadaya, non-permanen, serba ala
> > kadarnya... beroperasi hanya beberapa jam saja
> > dipagi hari.... untuk mengakomodasikan kebutuhan
> > berbelanja kebutuhan sehari hari sederhana tapi
> > 'ogah' jarak perjalanan yang jauh kepasar'.....
> > dimana fasilitas demikian tak mungkin dibangun oleh
> > developer... .....
> >
> > Di Minahasa ada desa yang bikin rumah 'adat
> > tradisional' ternyata sama sekali tidak ada nilai
> > tradisional, dan juga fungsi adatnya. Saya takut
> > memqng istilah tradisional itu sama sekali tidak
> > dimengerti, saya masih berpendapat bahwa sebaiknya
> > hal ini diklarifikasikan dahulu oleh para antropolog
> > budaya tentang kata tradisi dan tradisional. before
> > we get totally confused. Baru setelah itu kita
> > masuk dalam hal-hal seperti kommoditi yang
> > diperdagangkan, jasa yang diberikan sperti gunting
> > rambut atau kredit dsb, lalu pola penggunaan ruang,
> > sampai pada sewa lahan, kebersihan, waktu
> > penggunaan, dan access maupun distance ke pembeli.
> > Observasi saya terhadap pasar-pasar tradisional di
> > US ataupun Eropah itu selamanya pada lapangan umum
> > biasanya tengah kota, sedangkan waktu pasar itu
> > sangat periodik, hanya minggu atau hanya pagi, sore
> > atau hari tertentu.
> > Saya kira juga semua kios2nya adalah temporary bisa
> > bongkar pasang atau diatas trailer/truck. cara ini
> > menjamin kebersihan dan mengelak hak pakai yang
> > permanen.
> > Versi yang agak modern di Asia Tenggara ini adalah
> > pasar-pasar sementara seperti di Singapore ada di
> > tempat parkir siang hari tapi malam hari jadi kaki
> > lima. pasar tradisional yang lain adalah pasar yang
> > sejak zaman kolonial sudah ada, dan sekarang
> > dipertahankan arsitektur aslinya (rada art deco)-
> > malahan ada toko buku yang jual barang dan buku
> > antik.
> > Dugaan saya agak berbeda dengan pandangan
> > konvensionil sekarang, pasar tradisional cenderung
> > menjadi lebih eksklusip dan punya pasaran yang
> > justru upmarket ke turis atau orang yang mampu bayar
> > lebih (kaya pasar jl Surabayalah) pembeli-pembeli
> > kurang mampu justru jadi pengemis yang pergi ke
> > warung-warung kecil atau ke supermarket
> >
> > Akhirna saya ingin catat nama-nama pasar di Solo
> > yang memang menggunakan nama hari pasaran, seperti
> > Pasar Kliwon, Pasar Wage, Pasar Legi dst.. Here we
> > definitely have a tradition, even when it is in a
> > name. .
> > * * *
> > Tak sebagaimana pengertian yang diungkapkan oleh
> > sementara pihak yang berpendapat bahwa 'pasar
> > tradisional' muncul berbareng dengan berkembangnya
> > peradaban permukiman permanen manusia pasca zaman
> > batu .... lalu seolah sesudah itu 'model pasar yang
> > muncul kemudian' adalah 'bukan pasar tradisional'.
> > ..... tetapi nyatanya.... . 'pemukiman baru' dari
> > manusia juga terus tumbuh dan terus bermunculan
> > disana-sini dizaman modern ini....
> > Kawasan transmigrasi baru ditengah hutan.... kawasan
> > perumahan BTN hasil mengurug sawah atau hasil
> > membabat kebun...... adalah juga 'pemukiman baru
> > manusia' dizaman modern ini... dan tetap saja pada
> > skalanya yang terkecil dan tersederhana juga
> > membutuhkan jenis fasilitas 'community shopping
> > facility'nya yang sesuai juga ...........
> > Istilah 'pasar tradisional' nampaknya mulai muncul
> > kepermukaan justru bersamaan waktunya dengan
> > lahirnya 'pasar modern'...... . dan istilah itu
> > menjadi semakin lebih sering lagi muncul berbarengan
> > dengan meningkatnya 'rasa berseteru' dari 'pasar
> > tradisional' kepada 'pasar modern' yang awalnya
> > disebabkan oleh mulai munculnya perasaan terdesak
> > dan terpukul dari pihak 'pasar tradisional'.
> > ....... karena semakin meluasnya pendirian pasar
> > modern dimana-mana yang jumlahnya nampaknya kini
> > juga mulai melebihi kebutuhan ...........
> > Ditambah situasi bahwa lapangan kerja dan kesempatan
> > kerja terasa semakin sulit saja didapat ... maka
> > keadaan 'terdesak' itu semakin menumbuhkan keresahan
> > dari pihak 'pasar tradisional' .... dan kalau
> > keadaan demikian dibiarkan terus...pemerintah
> > mengkhawatirkan potensi gejolak sosial yang akan
> > muncul...... . lalu akhirnya terdorong
> > mengeluarkan Perpres Pasar Modern (PERPRES No.112
> > Tahun 2007).....
> >
> > ...
> > * * *
> > Persaingan pada dasarnya muncul bila dua atau lebih
> > buah produk dengan beberapa aspeknya yang sejenis
> > secara bersamaan muncul...... ...tetapi dua produk
> > sejenis... asalkan keduanya saling berbeda selling
> > pointnya ... bisa saja mereka 'secara tak langsung'
> > tidak bersaing ....
> > Truk dan mobil sedan adalah dua macam produk
> > otomotif yang tidak akan saling bersaing .... tetapi
> > antara truk Mitsubishi dan truk Toyota
> > kemungkinannya bisa bersaing... bisa pula tidak
> > bersaing..... .....
> > Mereka bersaing kalau masing-masing memiliki
> > spesifikasi yang sama ... seperti menyangkut volume
> > mesin, daya angkut, harga jual, serta saling
> > memperebutkan wilayah pasarserta konsumen yang sama
> > ..... tetapi mereka dikatakan tidak bersaing kalau
> > yang satu mengeluarkan type light truck dan yang
> > lainnya mengeluarkan tipe 'truk raksasa'..... ...
> > Pasar tradisional dan pasar modern yang terlihat
> > sebagai
> === message truncated ===
>
> __________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>
>  
>

Kirim email ke