Mas ABIMANYU (yang buyutnya Abiyoso, yang ayahnya
Parikesit; Abimanyu juga adalah eyangnya Yudoyono),
salam kenal ya ! Terima kasih atas tanggapannya.

Para sahabat semua,

Benarlah yang dikatakan, pasar klithikan (istilah
Jowo) adalah pasar loak (istilah Betawi).... kiranya
sama sebagai label. Barangkali yang membedakan adalah
sejarahnya.

Dulu sekitar tahun 1970 saya masih SD kelas VI, sudah
ada beberapa orang perempuan (umumnya perempuan) yang
setiap hari keluar masuk kampung kami membeli pakaian
bekas.... kemudian dijajakan di emperan toko, digelar
di atas selembar plastik. Salah satunya bernama Mbok
Kembar, maka kalau dia datang, ibu-ibu di kampung
segera mengelilinginya dan terjadilah jual beli
pakaian bekas. Maklum, waktu itu uang langka, jadi ya
pakaian anaknya yang kira-kira sudah tidak dipakai
lagi ya "diuangkan".... ini sebuah taktik atau kiat
untuk survive para ibu-ibu di kampung kami. Istilah
yang populer waktu itu adalah "pakaian rombengan" atau
"pakaian bekas".... sekarang istilahnya berubah,
menjadi "pakaian pantas pakai" dalam konteks kegiatan
karitatif.... bantuan bencana !

Sekarang orang-orang segenerasi dengan Mbok Kembar
sudah punah, yang muncul generasi baru yaitu generasi
klithikan Jl. Mangkubumi, yang telah menjadi kelompok
terorganisir ketika persoalan perebutan ruang kota
menjadi marak di tanah air. Kita sangat prihatin
terhadap nasib saudara-saudara kita yang hidup di
ruang kaki lima, tetapi menurut saya seharusnya juga
dengan penuh pemahaman yang mendalam. Sebab, jika kita
jeli, sekarang ini "penampilan memelas ala kaki lima"
sudah menjadi sebuah mode topeng untuk pihak tertentu.
Mereka mungkin semul adalah pedagang kaki lima, tetapi
setelah sekarang menjadi juragan.... yang kini
memiliki "rumah produksi" dan beberapa "outlet" tetap
saja seperti semula.... ingin tetap dilihat dan
dipersepsikan sebagai golongan miskin di kota....
padahal properties tenda dan peralatannya selalu
diangkut dengan mobil bak terbuka.... milik
sendiri.....

Barang yang dijual juga sudah berbeda, bukan lagi
sepatu bekas, jas bekas ditambal dan ditawarkan, catok
(sabuk) bekas, berko (lampu sepeda) rusak, dll Mereka
sekarang jualan barang bekas (monitor, HP, dll) juga
barang-barang baru..... harga barang baru itu juga
harga klithikan alias murah banget.... maka banyak
menarik minat banyak pihak, terutama yang ekonominya
pas-pasan......

Langkah "relokasi terencana" versi pemkot di Yogya
menurut saya cukup bagus, sebab memberi tempat dan
nafas kehidupan yang lebih baik bagi banyak warga
kota,.... dan pasar klithikan di Kuncen tersebut telah
berhasil melahirkan wiraswastawan baru serta
membangkitkan titik-titik bisnis masyarakat lokal di
sekitarnya.... yang semula lesu karena pasar hewan
Kuncen hanya buka setiap pasaran Pahing.....

Dari pengamatan saya sebagai arsitek, pasar - pasar
tradisional yang baru (desain baru) yang bertolak dari
gagasan relokasi umumnya gagal karena aspek desain
yang keliru. Mengapa ? Pasar bagi pedagang tradisional
adalah rumah kedua, bukan sekedar tempat menggelar
dagangan. Artinya, ya di-desain sebagai pasar yang
aman, melindungi barang dagangan ! Jadi ya pasar ya
gudang !

Pada kasus pasar klithikan Kuncen, disediakan tempat
untuk menggelar dagangan ala kebiasaan lama (gelaran
plastik) tetapi pada bagian bawahnya disediakan ruang
penyimpanan barang klithikan atau loak yang aman,
kotak berdinding bata dengan tutup dari lembaran
logam, digembok. Jadi ada fasilitas penyimpanan dan
penggelaran dagangan bagui setiap satu pedagang ! Ini
sebuah terobosan, sebab umumnya pasar tradisional
berkembang alamiah, setiap pedagang memperluas
ruangnya dengan menambahi sendiri meja-meja.... jadi
ya designed by people, not by architect !

Pasar tradisional yang hanya menyediakan pelindung
atap pasti tidak menarik, sebab apakah pedagang akan
bolak-balik membawa barangnya setiap hari dari rumah
ke pasar ? Bagaimana perilaku itu dapat dijalani oleh
pedagang-pedagang tradisional ? Paling bagus, pasar ya
sekaligus gudang, keamanan terjamin !

Salam,
Djarot

--- abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Mas Djarot,
> 
> semacam pasar klithikan yang anda sampaikan mirip
> pasar loak yang semula
> berkembang di jl. Surabaya, Jakarta Pusat. Bukan
> hanya barang bekas atau
> "loakan" saja, bahkan kalau ada barang yang belum
> ada mereka bisa
> "usahakan". Namun bentuk semula yang semacam kaki
> lima informal (waktu saya
> smp), karena menyediakan banyak barang bekas yang
> antik (asli loakan maupun
> yang palsu buatan baru) kemudian di formalkan
> menjadi salah satu obyek turis
> manca-negara. Sekitar awal tahun 1980-an selain
> barang antik juga berkembang
> barang elektronik dan kemudian koper-koper yang
> mungkin dibutuhkan para
> turis. Pada tahun-tahun tersebut tawaran untuk
> "hunting" barang elektronik
> bekas atau komponen mobil yang "seperti baru" masih
> berkembang (kebetulan
> waktu itu kantor konsultan saya berada di jalan
> itu). Sampai saat ini pasar
> kaki-lima tersebut masih berjaya di pusat Jakarta,
> dengan bentuk yang tetap
> sepanjang jalan dan menutup muka perumahan di
> belakanginya (sekaligus tempat
> penitipan barang pada malam hari). Artinya, pasar
> loakan di sepanjang
> trotoar (kaki-lima?) yang semula liar dapat menjadi
> formal kalau berkembang
> hingga cukup bergengsi sebagai obyek turis kota.
> Namun kecenderungan ini
> tentu tergantung kekhasan "local content" dari
> berbagai segi, dan tidak
> selalu perlu di-"generalisasi".
> 
> Wasalam,
> 
> Abimanyu
> 
> 2008/1/15 Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]>:
> 
> >   Eyang Wawo, Mas Aby dan sahabats semua,
> >
> > Aku tergelitik untuk menanggapi diskusi tentang
> pasar,
> > sebab ada jenis pasar lain yang belum
> tersinggung....
> > PASAR KLITHIKAN... yang sekarang sedang
> mekar-mekarnya
> > menjadi sebuah ikon tempat tujuan wisata warga
> > Jogjakarta.... meski sebelumnya heboh karena
> > pemindahannya dari sebuah jalan protokol sempat
> > meramaikan media disini..... sebab niat baik
> walikota
> > dilihat dengan kacamata yang lain..... penggusuran
> !
> >
> > Pasar klitihikan adalah pasar barang bekas,
> misalnya
> > kacamata bekas, radio bekas, sepatu bekas dll
> > pernik-pernik termasuk sekrup-sekrup dll. Semula
> hanya
> > perorangan, istilah lokalnya "bakul rombengan"
> yang
> > tersebar di sekitar pinggir jalan tertentu saja,
> buka
> > siang hari dan dagangan digelar dengan sehelai
> > plastik.... kalau kita punya spion masih baik
> tetapi
> > ada elemen yang hilang atau rusak, maka pasar
> > klithikan adalah tempat untuk hunting elemen itu
> agar
> > kembali menjadi bagus.....
> >
> > Catatan khusus: di Jogja juga ada pasar "lor
> pasar"
> > yang biasanya menawarkan barang-barang hasil
> > curian,.... ini terkenal juga.... letaknya di
> utara
> > pasar Beringharjo... di tengah kota.... jadi
> tempat
> > ini menjadi jujugan orang untuk mencari barangnya
> yang
> > hilang karena dicuri..... semacam pasar gelap
> tetapi
> > sebenarnya terang karena siang juga buka.....
> > akhir-akhir ini barang-barang bantuan gempa banyak
> > dijumpai disitu, misalnya tenda-tenda made in luar
> > negeri yang eksklusif karena memang bantuan untuk
> > korban gempa.... sudah menjadi penghuni "lor
> pasar"
> > itu.... karena mungkin mereka sudah tidak
> > memerlukannya.... memerlukan uang ya maka
> diuangkan
> > begitulah.....
> >
> > Sekarang pmset para pedagang klithikan di bekas
> pasar
> > hewan Kuncen (dekat rumah mertuaku) menjadi tempat
> > keramaai baru.... tetangga kami bahkan laris
> > jualannya... ada juga yang siang jadi montir dan
> malam
> > menjadi pedagang klithikan.... bahkan konon para
> > pedagang klitihkan sekarang ini nyaris selalu
> > kehabisan stock dagangan.... sampai-sampai barang
> di
> > rumah lantas di-klithikkan.... biar berubah
> menjadi
> > uang....
> >
> > Lho mengapa ? Ya karena ada mekanisme yang
> menarik.
> > Konon nih, ada undian dengan hadiah mobil bagi
> para
> > pedagang yang mau berjualan ditempat itu. Lho
> mengapa
> > kok sampai ada effort begitu besar ? Ya sebelumnya
> > soal pemindahan pasar klithikan ini pernah
> ditentang
> > oleh sekelompok orang, bahkan menggunakan berbagai
> > jargon hebat dan petugas hukum segala.
> >
> > Untunglah, perseteruan antara Walikota dan
> kelompok
> > yang tidak setuju sudah berakhir..... tetapi
> celakalah
> > mereka yang anti itu..... sebab kelompok yang
> tidak
> > anti justru mendaftar lebih dahulu dan memperoleh
> > tempat berjualan yang strategis..... sementara
> yang
> > anti... setelah mau damai kemudian mendaftarkan
> diri
> > ikut berjualan disitu.... yang tersedia tinggal
> lokasi
> > yang kurang strategis.....
> >
> > Lewat pasar klithikan... terjadi revolusi
> finansial
> > bagi beberapa pedagang yang semula tidak pernah
> > membayangkan akan demikian.... mereka yang tidak
> sok
> > jagoan dan justru memahami niat baik walikota
> dengan
> > hati dan pikiran jernih,.... nggak hanya dengan
> otak
> > dan emosi.... justru lebih mapan... dan sekarang
> > mereka memetik hasil dari kesederhanaan sikap dan
> > pikiran mereka itu..... mosok tadinya berdagang
> secara
> > ilegal... diberi tempat kok nggak mau hanya
> gara-gara
> > curiga.... wah ini penggusuran......
> >
> > Salam,
> > Djarot
> >
> > --- Hannie Waworoentoe
>
<[EMAIL PROTECTED]<waworoentoehannie%40yahoo.com>
> > >
> >
> > wrote:
> >
> > > Hengky A.
> > > Kelihatannya banyak juga tanggapan-tanggapan
> yang
> > > mulai mengalir, tetapi yang paling konsisten dan
> > > lengkap adalah tanggapan Hengky, Jadi tanggapan
> atau
> > > jawaban yang baik juga memerlukan appresiasi
> yang
> > > nenadai, sayang andai kata posting Hengky
> tentang
> > > pasar modern dan tradisional itu datang sebelum
> > > akhir minggu maka kita bisa selami baik-baik,
> > > sekarang rada tergesa-gesa dan bisa kurang
> memuaskan
> > > pandangan balasan kita. tapi ingin saya coba.
> > >
> > >
> > > ----- Original Message ----
> > > From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]
> <watashiaby%40yahoo.com>>
> > > To: [email protected]
> <referensi%40yahoogroups.com>
> > > Cc: [EMAIL PROTECTED]
> <kebudayaan%40yahoogroups.com>
> > > Sent: Sunday, January 13, 2008 9:56:25 PM
> > > Subject: [referensi] Re: Pasar Modern,
> Tradisional
> > > dan Pasar Kaget
> > >
> > > Direstoran hamburger .........
> > >
> > > Seorang bapak pergi kerestoran hamburger dan
> memesan
> > > sebuah. Tak lama kemudian mbak waitress
> menyodorkan
> 
=== message truncated ===



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke