Mas Djarot, jadi kita sudah kenalan nih ya?
Memang resi Abiyoso adalah eyangnya Arjuna (bapak Abimanyu), maka itu saya
kadang-kadang takut ketulah kalau menanggapi resi Aby tersebut. Apalagi
kalau ingat beliau bisa juga marah besar....(he he he , maaf pak Aby. Jadi
ingat masa lalu).

Omong-omong sejarah, seringkali kita mau memaksakan agar generasi yang akan
datang harus menghargai sejarah dan kenangan kita, sehingga mereka harus
membayar (tanpa modal warisan dari kita) untuk pelestarian tersebut. Begitu
juga mengenai pasar, lingkungan atau karya arsitektur.

Bagi saya, nostalgia jalan Surabaya sudah berbeda dengan kondisi pasar
barang antik di tempat yang sama sekarang ini. Sama seperti saya kehilangan
suasana pedesaan, hutan bambu dan sawah hijau hingga menguning sebelum
berenang di kali Gajah Uwong, dari rumah di  jalan  Melati Kulon  dulu. Atau
sepedahan ke tegalan di Mbulak-Sumur sampai Klaten. Tidak ada lagi makan
ikan mujair mancing dari kolam di rumah Pak Taruno dengan nasi pulen yang
baru dipanen, dsb, dst. Begitu juga suasana yang multi etnik di perumahan
bagian kota Menteng tempo dulu,  minum coca cola di depot jalan Tengku Umar,
sehabis main  perang-perangan diantara pagar pohon kemuning  atau nyemplung
cari ikan di kolam taman Lembang yang masih alami, main orkes lagu-lagu Blue
Diamond dengan  Ayeng, si manis Yola dan Hansye, Indo tetangga rumah, dan
sobat-sobat lain yang semua dengan sedih turut terusir  ke negeri Belanda
waktu konfrontasi Irian Barat. Sekarang semua sudah menjadi kota dengan
suasana dan cerita yang lain dan tidak meninggalkan sisa-sisa kenangan kecil
saya.

Begitu juga mungkin kekecewaan  Bangsa Belanda ketika kehilangan  sisa-sisa
kawasan dan bangunan kolonial yang  dirasakan masa kecilnya atau
diceritakan  oleh  Oma-Opanya, sehingga mereka mau mengeluarkan dana untuk
konservasi kota tua di kota-kota besar kita. Kita dan mereka lupa bahwa
kenangan masa lalu kita dan mereka dulu adalah beban bagi masa depan
generasi yad.

Begitu juga mengenai pasar. Dahulu pasar hanya satu hari dalam seminggu,
kadang hanya beberapa jenis tertentu yang dijual sesuai dengan lokasi dan
sumber jualannya. dan hanya menyisakan  lahan kosong  kalau  diluar  hari
pasarnya yang dapat berfungsi ruang publik untuk kegiatan lainnya.  Juga
pasar malam, atau sekatenan cuma setahun sekali. Dan ini juga masih terjadi
dan sering kita temui kalau kedaerah-daerah pelosok luar Jawa atau di
pulau-pulau mikro yang masih sering diabaikan oleh orang kota daratan.
Sekarang diversitas pasar sudah sangat tinggi baik jenis, lokasi, pola
konsumsi dan produksi materi jualan, hingga fungsinya, sehingga
pengelompokan atau pembagian jenis yang dualistik dan memperlakukannya
secara agregat dalam kelompok, sama saja membunuh secara kejam keberagaman
kehidupan ekosistem pasar tersebut. Sama kejamnya dengan menginginkan
eksistensi atau format pasar hanya seperti rencana planolog, idealisme
arsitek, mimpi landscaper, nostalgia  sejarawan,  penyederhanaan  model
ekonomi, potensi profit developer, atau  demi  dukungan politis tertentu
saja, baik dari Pulau Benggala hingga Papua, Pulau Miangas hingga Pulau Dana
Rote (kalau masih dalam orientasi daratan Indonesia).

Coba bayangkan seratus tahun lagi, saat air muka laut semakin tinggi, hujan,
angin, sudah mengakibatkan gelombang dan air pasang lima tahunan lebih dari
enam meter diatas muka laut dari saat P 0.00 di Sunda Kelapa dibuat jaman
dahulu (yang masih jadi referensi hingga sekarang). Bagaimana dan siapa yang
wajib memelihara kota dan bangunan tua di Pasar Ikan yang berada di bawah
permukaan air pasang "normal" saat itu?.  Apa nilai historis yang disisakan
bagi generasi yad tersebut?.

Begitu dulu, mudah-mudhan cukup mampu memancing perenungan Mas Djarot
(seperti nama iparku) dan mailister lain berkaitan dengan perubahan kondisi
fisik dan kultural pada waktu-ruang kota dan wilayah kita di masa datang.
Atau kita masih mengharap bahwa waktu berhenti demi 'keberlanjutan'
idealisme masa lalu kita?.

Wasalam,

Abimanyu


2008/1/16 Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Mas ABIMANYU (yang buyutnya Abiyoso, yang ayahnya
> Parikesit; Abimanyu juga adalah eyangnya Yudoyono),
> salam kenal ya ! Terima kasih atas tanggapannya.
>
> Para sahabat semua,
>
> Benarlah yang dikatakan, pasar klithikan (istilah
> Jowo) adalah pasar loak (istilah Betawi).... kiranya
> sama sebagai label. Barangkali yang membedakan adalah
> sejarahnya.
>
> Dulu sekitar tahun 1970 saya masih SD kelas VI, sudah
> ada beberapa orang perempuan (umumnya perempuan) yang
> setiap hari keluar masuk kampung kami membeli pakaian
> bekas.... kemudian dijajakan di emperan toko, digelar
> di atas selembar plastik. Salah satunya bernama Mbok
> Kembar, maka kalau dia datang, ibu-ibu di kampung
> segera mengelilinginya dan terjadilah jual beli
> pakaian bekas. Maklum, waktu itu uang langka, jadi ya
> pakaian anaknya yang kira-kira sudah tidak dipakai
> lagi ya "diuangkan".... ini sebuah taktik atau kiat
> untuk survive para ibu-ibu di kampung kami. Istilah
> yang populer waktu itu adalah "pakaian rombengan" atau
> "pakaian bekas".... sekarang istilahnya berubah,
> menjadi "pakaian pantas pakai" dalam konteks kegiatan
> karitatif.... bantuan bencana !
>
> Sekarang orang-orang segenerasi dengan Mbok Kembar
> sudah punah, yang muncul generasi baru yaitu generasi
> klithikan Jl. Mangkubumi, yang telah menjadi kelompok
> terorganisir ketika persoalan perebutan ruang kota
> menjadi marak di tanah air. Kita sangat prihatin
> terhadap nasib saudara-saudara kita yang hidup di
> ruang kaki lima, tetapi menurut saya seharusnya juga
> dengan penuh pemahaman yang mendalam. Sebab, jika kita
> jeli, sekarang ini "penampilan memelas ala kaki lima"
> sudah menjadi sebuah mode topeng untuk pihak tertentu.
> Mereka mungkin semul adalah pedagang kaki lima, tetapi
> setelah sekarang menjadi juragan.... yang kini
> memiliki "rumah produksi" dan beberapa "outlet" tetap
> saja seperti semula.... ingin tetap dilihat dan
> dipersepsikan sebagai golongan miskin di kota....
> padahal properties tenda dan peralatannya selalu
> diangkut dengan mobil bak terbuka.... milik
> sendiri.....
>
> Barang yang dijual juga sudah berbeda, bukan lagi
> sepatu bekas, jas bekas ditambal dan ditawarkan, catok
> (sabuk) bekas, berko (lampu sepeda) rusak, dll Mereka
> sekarang jualan barang bekas (monitor, HP, dll) juga
> barang-barang baru..... harga barang baru itu juga
> harga klithikan alias murah banget.... maka banyak
> menarik minat banyak pihak, terutama yang ekonominya
> pas-pasan......
>
> Langkah "relokasi terencana" versi pemkot di Yogya
> menurut saya cukup bagus, sebab memberi tempat dan
> nafas kehidupan yang lebih baik bagi banyak warga
> kota,.... dan pasar klithikan di Kuncen tersebut telah
> berhasil melahirkan wiraswastawan baru serta
> membangkitkan titik-titik bisnis masyarakat lokal di
> sekitarnya.... yang semula lesu karena pasar hewan
> Kuncen hanya buka setiap pasaran Pahing.....
>
> Dari pengamatan saya sebagai arsitek, pasar - pasar
> tradisional yang baru (desain baru) yang bertolak dari
> gagasan relokasi umumnya gagal karena aspek desain
> yang keliru. Mengapa ? Pasar bagi pedagang tradisional
> adalah rumah kedua, bukan sekedar tempat menggelar
> dagangan. Artinya, ya di-desain sebagai pasar yang
> aman, melindungi barang dagangan ! Jadi ya pasar ya
> gudang !
>
> Pada kasus pasar klithikan Kuncen, disediakan tempat
> untuk menggelar dagangan ala kebiasaan lama (gelaran
> plastik) tetapi pada bagian bawahnya disediakan ruang
> penyimpanan barang klithikan atau loak yang aman,
> kotak berdinding bata dengan tutup dari lembaran
> logam, digembok. Jadi ada fasilitas penyimpanan dan
> penggelaran dagangan bagui setiap satu pedagang ! Ini
> sebuah terobosan, sebab umumnya pasar tradisional
> berkembang alamiah, setiap pedagang memperluas
> ruangnya dengan menambahi sendiri meja-meja.... jadi
> ya designed by people, not by architect !
>
> Pasar tradisional yang hanya menyediakan pelindung
> atap pasti tidak menarik, sebab apakah pedagang akan
> bolak-balik membawa barangnya setiap hari dari rumah
> ke pasar ? Bagaimana perilaku itu dapat dijalani oleh
> pedagang-pedagang tradisional ? Paling bagus, pasar ya
> sekaligus gudang, keamanan terjamin !
>
> Salam,
> Djarot
>
> --- abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] <takdir65%40gmail.com>>
>
> wrote:
>
> > Mas Djarot,
> >
> > semacam pasar klithikan yang anda sampaikan mirip
> > pasar loak yang semula
> > berkembang di jl. Surabaya, Jakarta Pusat. Bukan
> > hanya barang bekas atau
> > "loakan" saja, bahkan kalau ada barang yang belum
> > ada mereka bisa
> > "usahakan". Namun bentuk semula yang semacam kaki
> > lima informal (waktu saya
> > smp), karena menyediakan banyak barang bekas yang
> > antik (asli loakan maupun
> > yang palsu buatan baru) kemudian di formalkan
> > menjadi salah satu obyek turis
> > manca-negara. Sekitar awal tahun 1980-an selain
> > barang antik juga berkembang
> > barang elektronik dan kemudian koper-koper yang
> > mungkin dibutuhkan para
> > turis. Pada tahun-tahun tersebut tawaran untuk
> > "hunting" barang elektronik
> > bekas atau komponen mobil yang "seperti baru" masih
> > berkembang (kebetulan
> > waktu itu kantor konsultan saya berada di jalan
> > itu). Sampai saat ini pasar
> > kaki-lima tersebut masih berjaya di pusat Jakarta,
> > dengan bentuk yang tetap
> > sepanjang jalan dan menutup muka perumahan di
> > belakanginya (sekaligus tempat
> > penitipan barang pada malam hari). Artinya, pasar
> > loakan di sepanjang
> > trotoar (kaki-lima?) yang semula liar dapat menjadi
> > formal kalau berkembang
> > hingga cukup bergengsi sebagai obyek turis kota.
> > Namun kecenderungan ini
> > tentu tergantung kekhasan "local content" dari
> > berbagai segi, dan tidak
> > selalu perlu di-"generalisasi".
> >
> > Wasalam,
> >
> > Abimanyu
> >
> > 2008/1/15 Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] <dpurbadi%40yahoo.com>>:
> >
> > > Eyang Wawo, Mas Aby dan sahabats semua,
> > >
> > > Aku tergelitik untuk menanggapi diskusi tentang
> > pasar,
> > > sebab ada jenis pasar lain yang belum
> > tersinggung....
> > > PASAR KLITHIKAN... yang sekarang sedang
> > mekar-mekarnya
> > > menjadi sebuah ikon tempat tujuan wisata warga
> > > Jogjakarta.... meski sebelumnya heboh karena
> > > pemindahannya dari sebuah jalan protokol sempat
> > > meramaikan media disini..... sebab niat baik
> > walikota
> > > dilihat dengan kacamata yang lain..... penggusuran
> > !
> > >
> > > Pasar klitihikan adalah pasar barang bekas,
> > misalnya
> > > kacamata bekas, radio bekas, sepatu bekas dll
> > > pernik-pernik termasuk sekrup-sekrup dll. Semula
> > hanya
> > > perorangan, istilah lokalnya "bakul rombengan"
> > yang
> > > tersebar di sekitar pinggir jalan tertentu saja,
> > buka
> > > siang hari dan dagangan digelar dengan sehelai
> > > plastik.... kalau kita punya spion masih baik
> > tetapi
> > > ada elemen yang hilang atau rusak, maka pasar
> > > klithikan adalah tempat untuk hunting elemen itu
> > agar
> > > kembali menjadi bagus.....
> > >
> > > Catatan khusus: di Jogja juga ada pasar "lor
> > pasar"
> > > yang biasanya menawarkan barang-barang hasil
> > > curian,.... ini terkenal juga.... letaknya di
> > utara
> > > pasar Beringharjo... di tengah kota.... jadi
> > tempat
> > > ini menjadi jujugan orang untuk mencari barangnya
> > yang
> > > hilang karena dicuri..... semacam pasar gelap
> > tetapi
> > > sebenarnya terang karena siang juga buka.....
> > > akhir-akhir ini barang-barang bantuan gempa banyak
> > > dijumpai disitu, misalnya tenda-tenda made in luar
> > > negeri yang eksklusif karena memang bantuan untuk
> > > korban gempa.... sudah menjadi penghuni "lor
> > pasar"
> > > itu.... karena mungkin mereka sudah tidak
> > > memerlukannya.... memerlukan uang ya maka
> > diuangkan
> > > begitulah.....
> > >
> > > Sekarang pmset para pedagang klithikan di bekas
> > pasar
> > > hewan Kuncen (dekat rumah mertuaku) menjadi tempat
> > > keramaai baru.... tetangga kami bahkan laris
> > > jualannya... ada juga yang siang jadi montir dan
> > malam
> > > menjadi pedagang klithikan.... bahkan konon para
> > > pedagang klitihkan sekarang ini nyaris selalu
> > > kehabisan stock dagangan.... sampai-sampai barang
> > di
> > > rumah lantas di-klithikkan.... biar berubah
> > menjadi
> > > uang....
> > >
> > > Lho mengapa ? Ya karena ada mekanisme yang
> > menarik.
> > > Konon nih, ada undian dengan hadiah mobil bagi
> > para
> > > pedagang yang mau berjualan ditempat itu. Lho
> > mengapa
> > > kok sampai ada effort begitu besar ? Ya sebelumnya
> > > soal pemindahan pasar klithikan ini pernah
> > ditentang
> > > oleh sekelompok orang, bahkan menggunakan berbagai
> > > jargon hebat dan petugas hukum segala.
> > >
> > > Untunglah, perseteruan antara Walikota dan
> > kelompok
> > > yang tidak setuju sudah berakhir..... tetapi
> > celakalah
> > > mereka yang anti itu..... sebab kelompok yang
> > tidak
> > > anti justru mendaftar lebih dahulu dan memperoleh
> > > tempat berjualan yang strategis..... sementara
> > yang
> > > anti... setelah mau damai kemudian mendaftarkan
> > diri
> > > ikut berjualan disitu.... yang tersedia tinggal
> > lokasi
> > > yang kurang strategis.....
> > >
> > > Lewat pasar klithikan... terjadi revolusi
> > finansial
> > > bagi beberapa pedagang yang semula tidak pernah
> > > membayangkan akan demikian.... mereka yang tidak
> > sok
> > > jagoan dan justru memahami niat baik walikota
> > dengan
> > > hati dan pikiran jernih,.... nggak hanya dengan
> > otak
> > > dan emosi.... justru lebih mapan... dan sekarang
> > > mereka memetik hasil dari kesederhanaan sikap dan
> > > pikiran mereka itu..... mosok tadinya berdagang
> > secara
> > > ilegal... diberi tempat kok nggak mau hanya
> > gara-gara
> > > curiga.... wah ini penggusuran......
> > >
> > > Salam,
> > > Djarot
> > >
> > > --- Hannie Waworoentoe
> >
> <[EMAIL PROTECTED] <waworoentoehannie%40yahoo.com>
> <waworoentoehannie%40yahoo.com>
> > > >
> > >
> > > wrote:
> > >
> > > > Hengky A.
> > > > Kelihatannya banyak juga tanggapan-tanggapan
> > yang
> > > > mulai mengalir, tetapi yang paling konsisten dan
> > > > lengkap adalah tanggapan Hengky, Jadi tanggapan
> > atau
> > > > jawaban yang baik juga memerlukan appresiasi
> > yang
> > > > nenadai, sayang andai kata posting Hengky
> > tentang
> > > > pasar modern dan tradisional itu datang sebelum
> > > > akhir minggu maka kita bisa selami baik-baik,
> > > > sekarang rada tergesa-gesa dan bisa kurang
> > memuaskan
> > > > pandangan balasan kita. tapi ingin saya coba.
> > > >
> > > >
> > > > ----- Original Message ----
> > > > From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] <watashiaby%40yahoo.com>
> > <watashiaby%40yahoo.com>>
> > > > To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>
> > <referensi%40yahoogroups.com>
> > > > Cc: [EMAIL PROTECTED] <kebudayaan%40yahoogroups.com>
> > <kebudayaan%40yahoogroups.com>
> > > > Sent: Sunday, January 13, 2008 9:56:25 PM
> > > > Subject: [referensi] Re: Pasar Modern,
> > Tradisional
> > > > dan Pasar Kaget
> > > >
> > > > Direstoran hamburger .........
> > > >
> > > > Seorang bapak pergi kerestoran hamburger dan
> > memesan
> > > > sebuah. Tak lama kemudian mbak waitress
> > menyodorkan
> >
> === message truncated ===
>
> __________________________________________________________
> Looking for last minute shopping deals?
> Find them fast with Yahoo! Search.
> http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
>  
>

Kirim email ke