Mas Abimanyu ysh,
sebenarnya pemikiran ekonomi tidaklah di kotak-kotakan seperti itu, bahwa 
ekonomi just untuk ekonomi semata, banyak eksternaliti yang muncul yang perlu 
dipertimbangkan, dan pertimbangan ekologi maupun sosial sebenarnya juga 
merupakan pertimbangan ekonomi. karena jika kerusakan wilayah terjadi pasti 
akan menurunkan nilai dari wilayah tersebut. Cuma banyak orang mempertimbangkan 
nilai ekonomi dengan profit jangka pendek dan perorangan bukan ekonomi wilayah. 
Seorang ekonom seperti Emil Salim ternyata pemikiran ekonominya yang digunakan 
pada waktu dia menjadi menteri lingkungan hidup. Jadi seorang planner 
seharusnya juga tidak boleh memilah-milah untuk kepentingan siapa? seperti yang 
disebutkan oleh Bung BTS kepentingan ekonomi, sosial maupun yang 
lainnya....semuanya harus dipertimbangkan
salam  


----- Original Message ----
From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, January 18, 2008 3:02:20 PM
Subject: Re: back to spatial capital RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 
'Ditangan Ahlinya'....


Ysh pak Benedictus D.S, 
mungkin pernyataan saya agak nyeleneh bagi rekan-rekan yang sudah mengadopsi 
bahasa "universal" yang telah "menguasai" pemikiran kita yang tidak semua dari 
disiplin ekonomi (apalagi regional planner yang berbasis regional economics). 
Saya maklum, karena istilah konsumsi dan produksi (yang berasal dari istilah 
ilmu ekonomi) juga diadopsi dalam ekologi. Istilah dan cara berfikir berbasis 
ekonomi sudah "mengakar" di benak sebagian besar kita.  
Begitu juga banyak yang tidak setuju pendapat saya yang juga nyeleneh karena 
beranggapan bahwa tiga pilar pembangunan : "ekonomi, ekologi dan sosial" (atau 
sustainomic -nya yang antara lain dikemukakan Munasinghe) merupakan konsep para 
ekonom untuk lebih concern terhadap masalah non-ekonomi (ekologi dan sosial), 
sehingga keluar konsep bagaimana memasukkan eksternalitas (dampak lingkungan 
dan sosial) menjadi internal.  
Mungkin pendapat tersebut antara lain dapat di lihat dari sisi lain, misalnya 
mengikuti uraian Miller, ekonomi cuma salah satu bagian dari aspek manusia 
(human/social system) dibanding aspek alam (natural system). Artinya ekonom 
melihat realita : ekonomi-ekologi-equity, teknolog : buatan-alam-manusia, 
budayawan: budaya-alami-manusiawi, agamawan: keimanan-alam-manusia, dll.   
Mungkin begitu juga bagaimana kita melihat ruang, tidak selalu nilai suatu 
lruang hanya dilihat dari aspek produksi/kapital atau konsumsi/keuntungan, 
karena kalau menurut rent seeker, suatu lahan hanya memiliki nilai kalau dia 
dimanfaatkan (dieksploitasi). Artinya: kalau suatu hutan distatuskan sebagai 
hutan lindung, ada opportunity cost yang hilang bagi keuntungan masyarakat yang 
tinggal di kawasan tersebut. Atau: kalau pasir laut sekitar kepulauan Riau 
diselundpkan ke Singapura, propinsi Kepri akan kehilangan peluang devisa sekian 
trilyun dolar, dsb. Padahal nilai suatu unsur lingkungan hidup tidak dapat 
di"sederhanakan" menjadi elemen-elemen (ekonomi) yang parsial, sebagai "sumber 
daya" (hutan, pasir, dsb sda) atau "kapital". Hutan merupakan salah satu unsur 
utama sistem kehidupan maupuan peran ekologisnya. Pasir laut merupakan bagian 
dari struktur habitat laut dan posisi dan potensinya menunjang keberlanjutan 
keberadaan pulau-pulau di dekatnya, dsb,
 dst. belum lagi kalau dilihat bahwa tata nilai berkembang bersama berkembangan 
peradaban (termasuk kemampuan dan kebijakan) kita sebagai bangsa kepulauan, 
yang kalau tidak ada upaya dari sekarang akan kehilangan sekitar 2000 
pulau.......Semoga kita tidak terkungkung oleh kotak yang kita "selalu" beli 
dari bangsa daratan yang "maju", yang baru bereaksi terhadap aspek lingkungan 
hidup setelah salah satu mantan wakil presidennya "melek" atas betapa besar 
pengabaian mereka terhadap hari depannya sendiri....(baru dari aspek unsur 
alam), atau terguncang bahwa ternyata keberagaman (etnis) merupakan kenyataan 
di negaranya sendiri setelah salah satu yang muncul sebagai calon presidennya 
ternyata bukan dari ras yang sama dengan sebelumnya. 
Mari keluar dari tempurung import yang selama ini menjajah pemikiran kita.....
(silat lidah: jangan pernah sakit hati)
 
Wassalam,
 
Abimanyu


 
On 1/18/08, Benedictus Dwiagus <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Kalau kata mahatma Gandhi:
"Capital as such is not evil; it is its wrong use that is evil. Capital in some 
form or other will always be needed." Mahatma Gandhi 
Saya sih tidak mengerti kenapa capital harus disederhanakan sekedar angka 
ekonomi atau lebih sederhana lagi sekedar uang? Ketika social capital 
dicetuskan, sebenarnya justru pingin mendobrak terminology capital yang 
terdahulu dan mengajuka ide, bahwa ada factor produksi di luar tenagakerja dan 
lahan (kalau ini bisa dengan sederhana "diuangkan"), yaitu nilai ikatan 
kemasyarakatannya itu sendiri yang bisa menjadi factor produksi, dalam arti 
membantu dia untuk lebih produktif. Begitu juga mungkin maksudnya pak Aby 
ketika mencetuskan kata "spatial capital", memanfaatkan ruang sebagai factor 
produksi, dalam arti untuk memproduksi sesuatu yang baik bagi semuanya yang ada 
dalam ruang itu ….. 
 
Jadi saya juga tidak berpikiran soal angka atau money terms ketika bicara 
spatial capital,…..  bukankah kita sadar,uang itu bukan capital,.. jadi memang 
sepatutnya jangan disederhanakan ruang jadi uang,…. Ruang jadi sekedar uang 
ketika ada distorsi …..   
Sama seperti melly bilang, ruang adalah sesuatu yang bisa digunakan utk membuat 
kualitas hidup orang di dalamnya lebih baik. Saya pikir ini definisi yang 
miripbukan dengan definisi spatial capital….  
Saya malah khawatir kalau orang gak sadar kalau ruang adalah sebuah capital 
bersama (bukan sekedar dimiliki private secara semena-mena) , ruang malah akan 
dieksploitasi abusively tanpa sadar, .. instead of making use optimally, 
commonly and mutually… 
dan bukankah itu   peran penataan ruang??
 
 
Best regards,
 
Benedictus Dwiagus S. 
bdwiagus.blogspot.com  
 
Planning : Much works remain to be done before we can announce our total 
failure to make any progress ,...
 
 



From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Mellyana 
Frederika
Sent: 18 January 2008 10:38
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan Ahlinya'....
 
Wah, itu betul-betul ruang menarik ya. Sama, kalau jam segitu susah ya diikuti, 
jam penuh di kantor.
 
Tapi, gus, satu hal yang selalu membuat saya gak sreg.... kenapa sih ruang 
harus dilihat sebagai "capital"? 
 
 Saya ingat, pembicaraan tentang "kapital" ini sudah pernah berlangsung 
beberapa kali di milis ini, dan Pak Abimanyu pernah menulis "...social capital, 
spatial capital, atau capital-capital lainnya menunjukkan bahwa virus ekonomi 
telah menjangkiti sebagian dari kita, artinya budaya, sumber daya alam, dll 
semua hal akhirnya seolah-olah ditransformasikan ke angka...agar dianggap "sah" 
dengan ukuran ekonomi... 
Saya juga ingat, ada tanggapan-tanggapan dari Pak Salahuddin Wahid, Pak Hengky 
dan kemudian diakhiri dengan kekuatiran Pak Abimanyu yang ditulis,"saya cuman 
khawatir penggunaan istilah "modal" dan "sumber daya" hanya mengacu kepada 
konsep ekonomi sempit, yg menyederhanakan suatu "entitas" yang hakiki menjadi 
"alat" atau "input" dalam konteks "produksi". Saya berbagi kekuatiran yang sama 
dengan Pak Abimanyu dalam hal ini. 
 
Jadi, tanggapan saya barangkali agak basi. Saya hanya kembali berpikir (setelah 
melihat email dibawah), ruang harusnya tidak dilihat sebagai kapital, tetapi 
sebagai media untuk membuat kualitas hidup orang2 didalamnya lebih baik. Ketika 
ruang dilihat sebagai capital (yang bisa dan sering sekali 
di-terlalusederhana-kan menjadi uang), sulit membuat ruang itu bukan tempat 
untuk mencari atau menghasilkan keuntungan. Ketika ruang=uang, akan sulit buat 
pengguna ruang yang tidak mampu memanfaatkan ruang tersebut (dan menghasilkan 
uang) untuk bisa bertahan. Katakanlah, seperti kasus pedagang pasar Barito. 
 
Kalau untuk peningkatan pemahaman bahwa ruang memegang peranan penting, saya 
sepakat. 
 
 
melly
 
Salahuddin Wahid  
 
 
 
 
 



From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
Benedictus Dwiagus
Sent: Friday, January 18, 2008 7:19 AM
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED] 
Subject: RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan Ahlinya'....
YSH Pak ABy dan rekan milister semuanya,
 
Saya sering mendengar radio Trijaya, dan beberapa kali saya mendengar iklan 
"diskusi penataan ruang" yang memakai narasumber dari Dirjen Penataan ruang, 
kadang Pak Imam Sudrajat, kadang pak dirjen sendiri. Masalahnya acara diskusi 
dimulai kalau tak salah sekitar jam 08.30 atau jam 09.00 pagi, jadi saya gak 
bisa mengikuti, karena sudah keburu ada di kantor, jadi tidak bisa mendengarkan 
di perjalanan…. 
 
Saya malah berpikir mengembangkan ide pak Aby bukan untuk sekedar memenuhi 
ruang media public dengan wacana-wacana, tapi meningkatkan awareness orang akan 
pentingnya ruang sebagai capital, kalau perlu dengan cara  membenturkan 
berbagai pemahaman, sehingga terjadi perombakan paradigma atau reorientasi 
pemahaman terhadap issue/permasalahan yang terkait dengan pemanfaatan ruang …. 
 
 
 
Best regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
bdwiagus.blogspot.com  
 


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.6/1230 - Release Date: 17/01/2008 
16:59



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.6/1230 - Release Date: 17/01/2008 
16:59





      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke