Setuju sekali Pak Aunur ysh,

Bukan hanya jangan dikotak-kotakkan, tetapi perlu secara holistik. Namun
juga bukan generalisasi, perlu pemahaman lokal disamping pengetahuan global.

Kalau membaca tulisan saya sebelumnya jelas bahwa setiap disiplin ilu perlu
mentransformasikan cara pandangnya dengan the real world. Cara pandang Pak
Emil tidak salah, karena pasti seseorang tidak dapat lepas dari disiplin
ilmu asalnya, namun pandangannya bahwa ekonom yang harus menyatu dengan
kedua aspek utama tersebut (ekonomi dalam kaitannya dengan aspek manusia dan
lingkungannya) juga harus diikuti oleh yag berasal dari disiplin lain. Bukannya
lalu ikut-ikutan menjadi ekonom yang menterjemahkan semua ke dalam pemahaman
dan istilah tersebut. Kerusakan wilayah terjadi karena unsur wilayah
tersebut di"terjemah"kan ke dalam nilai (dalam istilah) ekonomi (mikro
maupun makro, jangka pendek maupun jangka panjang). Padahal banyak nilai,
makna atau pemahaman lain yang bekerja dalam interaksi antara sistem alam
yang perubahan wakturuangnya cenderung lebih panjang dengan sistem peradaban
manusia yang lebih dinamis dan realtif wakturuangnya lebih pendek. Yang sama
mungkin adalah dua-duanya sama-sama beragam dan berubah.

Pak Emil sendiri selalu berkemang. Kalau dahulu pada wal Orde Baru beliau
termasuk kelompok ekonom yang membuat Bangsa Indonesia "sadar ekonomi" dan
"pemerataan", kemudian beralih penganjur "ekologisme". Dan belakangan beliau
juga setuju agar konsep pengembangan gugus pulau perlu menjadi salah satu
paradigma pembangunan yang baru. Ekologisme sendiri kadangkala terlalu "one
sided', karena tidak dapat keberlanjutan unsur eko berhasil
tanpa perkembangan kearifan antropos-nya. Kembali, peningkatan kualitas
keduanya merupakan kunci penigkatan produk peradaban yang lebih berkualitas
dan berkelanjutan, bukan sebaliknya "alat" (ekonomi) mempengaruhi
"pelaku"(manusia) dan "tempat"nya (lingkungan).

Karena planner (sebagai konsultan atau advisor) )memiliki wakturuang reatif
sangat pendek, seringkali pendekatan kuantitatif dan penyederhanaan
masalah yang diambil, istilah-istilah ekonomi yang berlaku di "pasar ilmu
global" kemudian yang digunakan untuk berkomunikasi, terutama dengan yang
dominan terhadap tugasnya (yang sedang berwenang/menjabat/ber"wenang" dan
yang sedang mau menggunakan peluang memanfaatkan/investor/eksploiter).
Akibatnya banyak faktor lokal yang terabaikan, termasuk peluang
berkembangnya potensi dan peran (peradaban) setempat, yang wakturuang
ditempatnya jauh lebih panjang daripada planer tersebut.
Bahayanya, apabila peningkatan kualitas lokal bukan menjadi fokus utama,
setelah pe-manfaat-an (secara ekonomi) akibat rencana yang dibuat sudah
"selesai", yang tinggal hanya beban atau bahkan bencana bagi mereka yang
ditingggalkan ditempat (biodiversitas lingkungan alam dan kualitas peradaban
setempat).

Contoh nyata, sebagai negara kepulauan (yang kebangkitan bangsanya sudah
sejak 100 th yang lalu, dan perjuangan tanah-air-nya sudah 80 tahun plus 50
tahun secara formal), karena "skala ekonomi" nya dan "multyplier effect"nya
tidak "significant", maka peningkatan potensi, teknologi dan pengembangan
budaya pesisir dan pulau-lat serta interaksi antar pulau hingga ketingkat
pulau perbatasan baru mulai terpikir kurang dari 1 dekade ini.
Bahkan pendekatan "berbasis laut" yang dikembangkan justru masih "bagaimana
meningkatkan kekayaan laut sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia"
= eksploitasi ekonomi, bukan penyiapan ketahanan jangka panjang. Bakan masih
ada planer bangsa kita yang setengah buta dengan masalah pesisir, laut dan
pulau-pulau kita. Seperti ada rekan planer yang menyatakan bahwa : "sekarang
pembangunan dan penataan ruang kita akan berbasis pulau, dimulai denan
pulau-pulau besar....( = bukti bahwa pemikiran negara daratan masih
dominan). ...dengan mengolah indikator-indikator yang telah tersedia
diberbagai instansi dan daerah yang ada"..... (= indikator yang ada masih
didominasi skenario informasi masa lalu), "yang akan disusun secara
integratif dari tingkat nasional, tahun selanjutnya pada tingkat propinsi
dan mungkin selanjutnya hingga tingkat kota dan kabupaten" (= sentralisme).
Saya yakin aspek lokal non-ekonomis akan menjadi prioritas nomor sekian.
Padahal pertimbangan ekonomi cuma salah satu dari pertimbangan tingkat
kualitas lingkungan hidup dan peradaban suatu bangsa.

Bagaimana kita akan membangkitkan bangsa kelautan kita di abad yang akan
datang?. Mudah-mudahan tidak seperti ulang tahun ke 50 Deklarasi Djuanda,
atau 100 th Kebangkitan Bangsa tahun ini, atau 200 th masuknya bangsa Eropa
ke Australia....dsb.
Maaf rekan-rekan, saya terlalu banyak ngelindur....Padahal tahun-tahun itu
saya toh sudah tidak exist lagi... mungkin saya harus ikutan Maya Ratu :
"...emang gua pikirin...."

Wasalam,

Abimanyu




On 1/18/08, Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Mas Abimanyu ysh,
> sebenarnya pemikiran ekonomi tidaklah di kotak-kotakan seperti itu, bahwa
> ekonomi just untuk ekonomi semata, banyak eksternaliti yang muncul yang
> perlu dipertimbangkan, dan pertimbangan ekologi maupun sosial sebenarnya
> juga merupakan pertimbangan ekonomi. karena jika kerusakan wilayah terjadi
> pasti akan menurunkan nilai dari wilayah tersebut. Cuma banyak orang
> mempertimbangkan nilai ekonomi dengan profit jangka pendek dan perorangan
> bukan ekonomi wilayah. Seorang ekonom seperti Emil Salim ternyata pemikiran
> ekonominya yang digunakan pada waktu dia menjadi menteri lingkungan hidup.
> Jadi seorang planner seharusnya juga tidak boleh memilah-milah untuk
> kepentingan siapa? seperti yang disebutkan oleh Bung BTS kepentingan
> ekonomi, sosial maupun yang lainnya....semuanya harus dipertimbangkan
> salam
>
>
> ----- Original Message ----
> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Friday, January 18, 2008 3:02:20 PM
> Subject: Re: back to spatial capital RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100
> Hari 'Ditangan Ahlinya'....
>
> Ysh pak Benedictus D.S,
> mungkin pernyataan saya agak nyeleneh bagi rekan-rekan yang sudah
> mengadopsi bahasa "universal" yang telah "menguasai" pemikiran kita yang
> tidak semua dari disiplin ekonomi (apalagi regional planner yang berbasis
> regional economics). Saya maklum, karena istilah konsumsi dan produksi (yang
> berasal dari istilah ilmu ekonomi) juga diadopsi dalam ekologi. Istilah dan
> cara berfikir berbasis ekonomi sudah "mengakar" di benak sebagian besar
> kita.
> Begitu juga banyak yang tidak setuju pendapat saya yang juga nyeleneh
> karena beranggapan bahwa tiga pilar pembangunan : "ekonomi, ekologi dan
> sosial" (atau sustainomic -nya yang antara lain dikemukakan Munasinghe)
> merupakan konsep para ekonom untuk lebih concern terhadap masalah
> non-ekonomi (ekologi dan sosial), sehingga keluar konsep bagaimana
> memasukkan eksternalitas (dampak lingkungan dan sosial) menjadi internal.
> Mungkin pendapat tersebut antara lain dapat di lihat dari sisi lain,
> misalnya mengikuti uraian Miller, ekonomi cuma salah satu bagian dari aspek
> manusia (human/social system) dibanding aspek alam (natural system). Artinya
> ekonom melihat realita : ekonomi-ekologi-equity, teknolog :
> buatan-alam-manusia, budayawan: budaya-alami-manusiawi, agamawan:
> keimanan-alam-manusia, dll.
> Mungkin begitu juga bagaimana kita melihat ruang, tidak selalu nilai suatu
> lruang hanya dilihat dari aspek produksi/kapital atau konsumsi/keuntungan,
> karena kalau menurut rent seeker, suatu lahan hanya memiliki nilai kalau dia
> dimanfaatkan (dieksploitasi). Artinya: kalau suatu hutan distatuskan sebagai
> hutan lindung, ada opportunity cost yang hilang bagi keuntungan masyarakat
> yang tinggal di kawasan tersebut. Atau: kalau pasir laut sekitar kepulauan
> Riau diselundpkan ke Singapura, propinsi Kepri akan kehilangan peluang
> devisa sekian trilyun dolar, dsb. Padahal nilai suatu unsur lingkungan hidup
> tidak dapat di"sederhanakan" menjadi elemen-elemen (ekonomi) yang parsial,
> sebagai "sumber daya" (hutan, pasir, dsb sda) atau "kapital".
> Hutan merupakan salah satu unsur utama sistem kehidupan maupuan peran
> ekologisnya. Pasir laut merupakan bagian dari struktur habitat laut dan
> posisi dan potensinya menunjang keberlanjutan keberadaan pulau-pulau di
> dekatnya, dsb, dst. belum lagi kalau dilihat bahwa tata nilai berkembang
> bersama berkembangan peradaban (termasuk kemampuan dan kebijakan) kita
> sebagai bangsa kepulauan, yang kalau tidak ada upaya dari sekarang akan
> kehilangan sekitar 2000 pulau.......Semoga kita tidak terkungkung oleh kotak
> yang kita "selalu" beli dari bangsa daratan yang "maju", yang baru bereaksi
> terhadap aspek lingkungan hidup setelah salah satu mantan wakil presidennya
> "melek" atas betapa besar pengabaian mereka terhadap hari depannya
> sendiri....(baru dari aspek unsur alam), atau terguncang bahwa ternyata
> keberagaman (etnis) merupakan kenyataan di negaranya sendiri setelah salah
> satu yang muncul sebagai calon presidennya ternyata bukan dari ras yang sama
> dengan sebelumnya.
> Mari keluar dari tempurung import yang selama ini menjajah pemikiran
> kita.....
> (silat lidah: jangan pernah sakit hati)
>
> Wassalam,
>
> Abimanyu
>
>
>
> On 1/18/08, Benedictus Dwiagus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >    Kalau kata mahatma Gandhi:
> >
> >    1. "Capital as such is not evil; it is its wrong use that is evil.
> >    Capital in some form or other will always be needed." Mahatma
> >    Gandhi <http://en.wikipedia.org/wiki/Mahatma_Gandhi>
> >
> > Saya sih tidak mengerti kenapa capital harus disederhanakan sekedar
> > angka ekonomi atau lebih sederhana lagi sekedar uang? Ketika social capital
> > dicetuskan, sebenarnya justru pingin mendobrak terminology capital yang
> > terdahulu dan mengajuka ide, bahwa ada factor produksi di luar tenagakerja
> > dan lahan (kalau ini bisa dengan sederhana "diuangkan"), yaitu nilai ikatan
> > kemasyarakatannya itu sendiri yang bisa menjadi factor produksi, dalam arti
> > membantu dia untuk lebih produktif. Begitu juga mungkin maksudnya pak Aby
> > ketika mencetuskan kata "spatial capital", memanfaatkan ruang sebagai factor
> > produksi, dalam arti untuk memproduksi sesuatu yang baik bagi semuanya yang
> > ada dalam ruang itu …..
> >
> >
> >
> > Jadi saya juga tidak berpikiran soal angka atau money terms ketika
> > bicara spatial capital,…..  bukankah kita sadar,uang itu bukan capital,..
> > jadi memang sepatutnya jangan disederhanakan ruang jadi uang,…. Ruang jadi
> > sekedar uang ketika ada distorsi …..
> >
> > Sama seperti melly bilang, ruang adalah sesuatu yang bisa digunakan utk
> > membuat kualitas hidup orang di dalamnya lebih baik. Saya pikir ini definisi
> > yang miripbukan dengan definisi spatial capital….
> >
> > Saya malah khawatir kalau orang gak sadar kalau ruang adalah sebuah
> > capital bersama (bukan sekedar dimiliki private secara semena-mena) , ruang
> > malah akan dieksploitasi abusively tanpa sadar, .. instead of making use
> > optimally, commonly and mutually…
> >
> > dan bukankah itu   peran penataan ruang??
> >
> >
> >
> >
> >
> > Best regards,
> >
> >
> >
> > *Benedictus Dwiagus S.*
> >
> > bdwiagus.blogspot.com  <http://bdwiagus.blogspot.com/>
> >
> >
> >
> > *Planning** : Much works remain to be done before we can announce our
> > total failure to make any progress ,...*
> >
> >
> >
> >
> >  ------------------------------
> >
> > *From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On
> > Behalf Of *Mellyana Frederika
> > *Sent:* 18 January 2008 10:38
> > *To:* [email protected]
> > *Subject:* RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan
> > Ahlinya'....
> >
> >
> >
> > Wah, itu betul-betul ruang menarik ya. Sama, kalau jam segitu susah ya
> > diikuti, jam penuh di kantor.
> >
> >
> >
> > Tapi, gus, satu hal yang selalu membuat saya gak sreg.... kenapa sih
> > ruang harus dilihat sebagai "capital"?
> >
> >
> >
> >  Saya ingat, pembicaraan tentang "kapital" ini sudah pernah berlangsung
> > beberapa kali di milis ini, dan Pak Abimanyu pernah menulis "...social
> > capital, spatial capital, atau capital-capital lainnya menunjukkan bahwa
> > virus ekonomi telah menjangkiti sebagian dari kita, artinya budaya, sumber
> > daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah ditransformasikan ke
> > angka...agar dianggap "sah" dengan ukuran ekonomi...
> >
> > Saya juga ingat, ada tanggapan-tanggapan dari Pak Salahuddin Wahid, Pak
> > Hengky dan kemudian diakhiri dengan kekuatiran Pak Abimanyu yang
> > ditulis,"saya cuman khawatir penggunaan istilah "modal" dan "sumber daya"
> > hanya mengacu kepada konsep ekonomi sempit, yg menyederhanakan suatu
> > "entitas" yang hakiki menjadi "alat" atau "input" dalam konteks "produksi".
> > Saya berbagi kekuatiran yang sama dengan Pak Abimanyu dalam hal ini.
> >
> >
> >
> > Jadi, tanggapan saya barangkali agak basi. Saya hanya kembali berpikir
> > (setelah melihat email dibawah), ruang harusnya tidak dilihat sebagai
> > kapital, tetapi sebagai media untuk membuat kualitas hidup orang2 didalamnya
> > lebih baik. Ketika ruang dilihat sebagai capital (yang bisa dan sering
> > sekali di-terlalusederhana-kan menjadi uang), sulit membuat ruang itu bukan
> > tempat untuk mencari atau menghasilkan keuntungan. Ketika ruang=uang, akan
> > sulit buat pengguna ruang yang tidak mampu memanfaatkan ruang tersebut (dan
> > menghasilkan uang) untuk bisa bertahan. Katakanlah, seperti kasus pedagang
> > pasar Barito.
> >
> >
> >
> > Kalau untuk peningkatan pemahaman bahwa ruang memegang peranan penting,
> > saya sepakat.
> >
> >
> >
> >
> >
> > melly
> >
> >
> >
> > Salahuddin Wahid
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >  ------------------------------
> >
> > *From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On
> > Behalf Of *Benedictus Dwiagus
> > *Sent:* Friday, January 18, 2008 7:19 AM
> > *To:* [email protected]
> > *Cc:* [EMAIL PROTECTED]
> > *Subject:* RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan
> > Ahlinya'....
> >
> > YSH Pak ABy dan rekan milister semuanya,
> >
> >
> >
> > Saya sering mendengar radio Trijaya, dan beberapa kali saya mendengar
> > iklan "diskusi penataan ruang" yang memakai narasumber dari Dirjen Penataan
> > ruang, kadang Pak Imam Sudrajat, kadang pak dirjen sendiri. Masalahnya acara
> > diskusi dimulai kalau tak salah sekitar jam 08.30 atau jam 09.00 pagi,
> > jadi saya gak bisa mengikuti, karena sudah keburu ada di kantor, jadi tidak
> > bisa mendengarkan di perjalanan….
> >
> >
> >
> > Saya malah berpikir mengembangkan ide pak Aby bukan untuk sekedar
> > memenuhi ruang media public dengan wacana-wacana, tapi meningkatkan
> > awareness orang akan pentingnya ruang sebagai capital, kalau perlu dengan
> > cara  membenturkan berbagai pemahaman, sehingga terjadi perombakan paradigma
> > atau reorientasi pemahaman terhadap issue/permasalahan yang terkait dengan
> > pemanfaatan ruang ….
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Best regards,
> >
> >
> >
> > *Benedictus Dwiagus S.*
> >
> > bdwiagus.blogspot.com  <http://bdwiagus.blogspot.com/>
> >
> >
> >
> >
> > No virus found in this incoming message.
> > Checked by AVG Free Edition.
> > Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.6/1230 - Release Date:
> > 17/01/2008 16:59
> >
> > No virus found in this outgoing message.
> > Checked by AVG Free Edition.
> > Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.6/1230 - Release Date:
> > 17/01/2008 16:59
> >
> >
>
>
> ------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! 
> Search.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping>
>
> 
>

Kirim email ke