Bapak Ibu milisters semuanya ysh,
Mohon maaf lancang membantu memoderasi diskusi ...........
Awalnya adalah posting (saya) tentang Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan
Ahlinya'....... yang maksudnya (saya) adalah daripada ruang halaman dari
koran besar seperti Kompas yang cukup berharga dan memiliki communicating
power yang besar dengan masyarakat hanya sering dihambur-hambur (oleh
wartawannya) untuk bicara tentang kota (Jabodetabek) yang tak jarang isinya
agak mengada-ada dan malah kurang mendidik atau kurang mencerdaskan
masyarakat ......
Maka awalnya saya ingin mengusulkan.... bagaimana kalau Ketua IAP dan Dirjen
Penataan Ruang mendiskusikannya dengan industri media (yang besar tentang
ruang wacana keruangan...., utamanya media cetak seperti Kompas yang
readernya banyak, mungkin juga televisi, yang pemirsanya jutaan orang (tetapi
kalau hanya sesekali dan jarang juga mungkin percuma ya, karena lalu dilupakan
orang)....
Dan agak-agak terakhir boleh juga radio... pendengarnya lokal, dan maaf....
jumlahnya lebih terbatas lagi..... tetapi bedanya dengan surat kabar...
suratkabarsering masih diklipping... dikutip dsb.... memamng radio sih
istimewanya bisa interaktif.... sedangkan apakah radio masih ada yang
merekamnya dan mendengarnya ulang?.....
Agar seperti surat kabar besar Kompas misalnya menyediakan kolom tetap
periodik ... misalnya seminggu 1x, atau 2 minggu 1x, atau sebulan 1x dengan
ruang yang cukup... katakanlah setengah halaman......
Maksud awal dari usulan tentang kolom tetap wacana penataan ruang
disuratkabar besar seperti Kompas adalah benar seperti setengahnya telah
dikemukakan oleh mas Dwi.... agar dapat meningkatkan awareness masyarakat
tentang pentingnya tata ruang dalam pembangunan sosial ekonomi masyarakat
atau bahkan tentang pentingnya tata ruang dalam pembangunan nasional kita
............
Dan ketika saya kemukakan tentang utamanya menyangkut pengembangan sistem
kota-kota secara nasional ... maka lalu mas BTS segera mengawali menanyakan
itu nanti dibawah kendali siapa?.......saya belum jawab... tetapi nampaknya
sebagiannya sudah dijawab oleh pak Risfan.......
...... Padahal untuk berhasilnya penerapan tata ruang (implementasi) dan
pengendalian, sangat bergantung pada pressure dari masyarakat. RUTR atau Dinas
Tata Kota tidak bisa apa-apa kalau Gubernur/Walikota/ Bupati yang
merestui/mensponsor i/mendiamkan 'pelanggaran' RUTR.
Sementara DPRD kalau tidak ada rakyat (konstituen) yang teriak, ya akan
damai-damai saja dengan eksekutif. ................
Atau dijawab oleh pak AunurRofiq :
.......Menyinggung diskusi penataan ruang di media oleh DG maupun Direktur,
saya khawatir hanya pembicaraan tentang kebijakan saja......
Harapan saya tentang kasarnya .. bagaimana caranya agar penataan ruang
dapat direalisasikan menjadi kolom tetap apakah mingguan, dwi mingguan atau
bulanan setidaknya diharian di Kompas setidaknya ½ halaman justru akhirnya
belum terjawab ........
Pertama diskusi malah berbelok karena cucu saya pak Abimanyu rupanya
senang membawa korek api dan inginnya menyulut kapan saja ada tumpukan jerami
debat ekonomi ..... beliau membawa diskusi pada kegeraman beliau atas praktek
ekonomi yang terjadi selama ini ....... seolah bahwa milis ini sekaligus
milisnya mayoritas para ekonom..... padahal tidak..... ...
Padahal milis ini.. atau khususnya topik ini ... dimaksudkan (setidaknya oleh
saya) justru agar khususnya masyarakat keruangan (planner dan arsitek) sebagai
mayoritas milister disini.... agar dapat mendiskusikan the now formula of
strategic economic development with a more spatial dimension emphasis
inside...... untuk kemudian disodorkan dan diyakinkan kepada para ekonom dan
politikus.... yang dalam praktek pembangunan dan pemerintahan -- para planner
dan arsitek suka atau tidak suka nyatanya mereka hampir selalu menjadi
panglima dan atau penguasa pembangunan..... dan banyak kali menurut Markus
Zand mereka lebih menganggap planner dan arsitek sekedar sebagai tukang
menggambar saja...........
Karena itu kurang tepat kiranya kalau pada topik ini kita justru terbawa
untuk berdebat tentang jahatnya atau kegagalan dari teori atau praktek
ekonomi ..... yang padahal justru itu kita yakini karena akibat karena
tak banyak disertakan spatial dimension emphasis didalamnya (ekologi, spatial
capital, sistem kota... dsb) ....selain karena korupsi... maka economic
development with less spatial planning emphasis on it itulah maka hasilnya
kurang memuaskan.......
dan ilmu ekonomi sendiri pada dasarnya bukanlah jahat ... hanya praktek
ekonomi atau rezim atau politik ekonomi tak jarang mengaplikasikan-nya
sebagai malpraktek........
Kemudian ......diasumsikan penataan ruang benar dapat berhasil memperoleh
tempatnya dalam kolom tetap di Kompas misalnya .... entah berapa lama lagi dari
sekarang.... karena koran Kompas adalah media umum dengan pembaca
intelektual sampai ratusan ribu orang ...... jelas bahwa bahasa dari penataan
ruang yang dibawakan disana haruslah yang populer ....... yang setidaknya kaum
intelektual dari berbagai lintas disipliner lainnya sebagai awam tata ruang
dapat memahaminya ....... dan mudah-mudahan awam yang membacanya pun masih
dapat mengerti pula.......
Maka itu boleh saja wacananya silih berganti antara level filsafat maupun
juga level praktis..... asalkan yang penting bahasanya maupun arahnya dapat
memberikan pemahaman kepada masyarakat...... ataupun juga bahkan kepada para
pengambil keputusan yang masih belum tentu sepenuhnya memahami apa yang akan
diputuskannya.... yang seperti jokenya pak Har ... bisa saja dulu waktu kuliah
penataan ruang mereka pas mengantuk, atau pas minta izin keluar untuk pipis
sehingga tidak mendengar... sehingga sekarang lupa... dsb......
Kemudian tentang spatial capital...(dilain waktu memang kiranya perlu kita
bahas lebih mendalam).. atau lebih sederhana lagi barangkali tentang
pengertian capital.... yang nampaknya membuat mbak Melly dan pak Abimanyu
sedikit alergi atau kurang sreg..... dan memandang "social capital, spatial
capital, atau capital-capital lainnya menunjukkan bahwa virus ekonomi telah
menjangkiti sebagian dari kita.... .
Maaf, penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut............. tidak banyak
orang di negeri kita Indonesia ini yang bisa seberuntung mbak Melly atau pak
Abim bisa menikmati permanent employment dan karier... bisa ngantor dan
menerima monthly salary serta jabatan atau bahkan kalau pak Abim nanti saat
pensiun juga pasti ada dana pensiun hari tua .........
Dari 49% penduduk miskin kita dari total 230-an juta orang (versi Bank
Dunia) ataupun dari sekitar 10-11 juta tenaga kerja kita yang menganggur dan
seharusnya menghidupi lebih banyak jumlah orang lagi dari angka itu ..... tak
seluruhnya dapat ditampung menjadi salaryman ....dan sebagian terbesarnya
terpaksa harus terjun disektor informal .... menciptakan pekerjaan
sendiri.... atau menciptakan pekerjaan sekaligus bagi lingkungannya .....
dimana ini tentu sebagiannya merupakan sebuah pekerjaan bisnis ... baik
sebagai penjual jasa ataupun penjual barang atau produsen barang .... walau
semuanya serba disektor informal....... ini jelas merupakan sebuah
penyelesaian ekonomi ... .. sehingga wajar kalau setidaknya bagi mereka
(bukan bagi setiap atau semua orang)...... diterapkan parameter ekonomi
seperti capital.... market....sales... income... laba dsb.....
Disektor modern dan sektornya orang sibuk..... sebenarnya kalau mbak Melly
masih kurang sreg bahwa apa-apa (tepatnya banyak hal) perlu dilihat
sebagai capital...... kita ambil contoh .... dari aktivitas sehari-hari anda
ngantor ..... bagi anda kantor bisa saja bukan capital tetapi sekedar
routinity....... dan diploma serta pengalaman kerja barangkali lebih
merupakan employment capital... tetapi bagi employer anda..... juga
employernya pak Abim (UI, Depdiknas)... kantor, kampus dan ruang kuliah pada
dasarnya adalah important fascility atau capital atau bahkan spatial
capital.....
Kalau UI di Depok itu bukan spatial capital.... coba saja dikembalikan
seluruhnya ke Salemba... tentu tidak muat....... ruang kuliah juga tidak bisa
sekedar dibawah pohon.....
Bagi bos kantornya mbak Melly.... kalau mungkin kantornya di Segitiga
Kuningan.... spatial capital itu malah bukan saja sekedar just a modern
office space .... tetapi bahkan a strategic location....atau juga merely a
prestigious location......
Arsitektur UI atau ITB hampir pasti bukan unit ekonomi ..... tetapi kalau
demikian banyak anak muda negeri ini ingin juga menjadi arsitek ...... lalu
sekolah arsitektur negeri tidak mampu menampungnya ... lalu terpaksa muncul
sekolah swasta..... mahasiswanya dan dosennya hampir pasti bebas virus
ekonomi ..... tetapi bagaimana sekolah arsitektur swasta seperti Trisakti,
Untar atau Parahiyangan bisa berdiri dan hidup berkelanjutan .. demikian juga
para dosennya dan keluarganya.... tanpa terdapat prinsip ekonomi
didalamnya?... salahkah yayasan mereka mengidap virus ekonomi?.....
Untuk mas BTS ... saya kira terlalu pagi untuk menanyakan atau untuk menjawab
pertanyaan wacana sistem kota secara nasional itu nanti dibawah kendali
siapa..... kalau kepastian kolom tetap di Kompas saja juga belum jelas
juntrungannya.......
Wacana sistem kota secara nasional itu juga tidak harus menjadi wacana
awal disana ..... dan sebelum kita sampai pada tahap kendali oleh
siapa..... yang lebih penting justru agar masyarakat luas dapat memahami dulu
..... bahwa sistem kota secara nasional itu dalam kenyataannya malah sudah
ada dan jelas perlu..... seperti mengapa Tn Abang bisa menjadi pusat pasar
tekstil nasional .. mengapa Sby menjadi pusat utama KTI dan Mks menjadi
sub pusat KTI....dsb......Yang penting rakyat luas paham dulu.......
Kalau kita mau mengingat prinsip demokrasi ..... dan kalau cukup banyak
masyarakat nanti mulai memahami tata ruang dengan berbagai aspek teoretik
maupun praktisnya......... jawaban dari pertanyaan mas BTS itu tentang
kelembagaannya juga sebenarnya bisa saja terserah kita........ wong namanya
juga demokrasi yang saat ini saja nyaris liberal..........
Nyatanya toh setidaknya wacana sangat-sangat awal tentang sistem perkotaan
secara nasional itu bisa dimulai oleh siapa saja ... diantaranya telah oleh
saya.. yang hanya rakyat biasa.......
Terimakasih .... diskusinya lumayan seru.... tetapi bisa nggak ya hehe..
kembali ke relnya semula... atau malah mau disudahi?...... jangan ya?......
selain belum semuanya bicara.... soalnya kendali eh obsesi saya tentang space
di Kompas belum jelas juntrungannya.......
Sementara demikian,
aby
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.