Bang Aunur, Wah, ber-GongXi Fatchai masih disana? Gimana sih kalau orang China asli memperingati itu? Oleh-oleh sementara ini bagi saya menguatkan kesadaran bahwa antara pembangunan ekonomi (wilayah) dan trend tumbuhnya kota-kota tidak bisa dipisahkan. Sulit bilang perencanaan wilayah/kota itu ilmu spatial/fisik atau ekonomi, atau .....ya pokoknya "wilayah" itulah dengan berbagai dimensinya. Kalau boleh ambil pelajaran yang lain, pilihan model pengembangan wilayah itu bukanlah doktrin, tetapi pilihan berdasarkan diagnostik, sesuai kondisi potensi, fase pertumbuhan, dan masalah yang dihadapi suatu wilayah (sub-nasional) yang spesifik. Bukan satu model template, all-size, yang diterapkan seragam di seluruh negeri.
Pada masa optimis dulu, di negara kita juga diterapkan konsep transformasi struktural dari "pertanian - ke manufaktur - ke jasa", dalam sekuen Repelita I, II, dan III, sebagaimana modelnya WW Rostow. Hasilnya, swasembada pangan sempat, tapi saat ke industri? We don't know what went wrong? Or we know? Tahu-tahu kota-kota sudah jadi pusat-pusat jasa perdagangan, tapi yang dijual produk import, yang justru memukul industri lokal. Selamat 'belajar sampai negeri China', ditunggu oleh-oleh lainnya. Risfan Munir Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To: [email protected] From: Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> Date: Fri, 1 Feb 2008 02:02:25 -0800 (PST) Subject: Re: [referensi] Re: Agropolitan (F&D, 1975); âKerancuanâ Dalam Sistem Hirarkhi Kota di Indonesia (1) Pak Aby ysh, Kebetulan saya lagi jalan-jalan ke Cina yang penduduknya 1,3 milyar dan pertumbuhan ekonominya diatas 10% per tahun. Dalam diskusi tentang pembangunan regional mereka mempunyai rencana berbeda, yakni menghendaki bahwa kota-kota dapat mendorong tumbuhnya lapangan pekerjaan yang dapat menimbulkan urbanisasi. Jumlah petani sekarang masih 800 juta dengan pendapatan yang masih rendah, sehingga ada usaha agar petani berkurang menjadi separuhnya dalam sepuluh tahun ke depan dengan merubah mereka menjadi pekerja di perkotaan atau industri, karena itu mereka menggenjot tumbuhnya kota-kota modern (dengan lapangan kerja sektor jasa) di seluruh Cina. Misalnya Nanning yang tadinya kota agropolitan mereka sulap menjadi pusat industri dan keuangan di selatan, meskipun belum sepenuhnya berhasil tapi tekad itu terlihat jelas dengan menggelontorkan dana yang cukup besar ke kota kecil itu, diadakan KTT antara ASEAN dan Cina tahu 2006... Inilah Cina. Saya berbicara dengan salah satu anggota partai tentang mimpi ini, karena mereka katakan bahwa konsentrasi ke Pertanian saja tidak bisa menyelesaikan kemiskinan, mereka sudah lakukan berpuluh-puluh tahun, jadi harus ada perubahan yang mendasar tentang pembangunan ekonomi. Ini hanya dari diskusi dengan mereka lho. salam ----- Original Message ---- From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, January 30, 2008 6:26:21 PM Subject: [referensi] Re: Agropolitan (F&D, 1975); âKerancuanâ Dalam Sistem Hirarkhi Kota di Indonesia (1) Milisters ysh, Paper berjudul âPengembangan Agropolitan: Menuju Siasat Baru Perencanaan Regional di Asiaâ ditulis oleh John Friedmann dan Mike Douglass dari University of California untuk âSeminar on Industri-alization Strategies and the Growth Pole Approach to Regional Planning and Development; The Asia Experienceâ, yang diselenggarakan dibawah naungan UNCRD di Nagoya pada tanggal 4 sampai13 Nopember 1975. Bersama dengan paper lain dari seminar yang sama, seperti oleh Fu Chen Lo dan Kamal Solih, kedua paper itu bersama beberapa terjemahan lainnya kala itu (1976) seperti karya John Glassons, HW Richardson, Edgar M.Hoover maupun karya bangsa sendiri seperti oleh Majid Ibrahim... diterbitkan oleh Program Perencanaan Nasional FEUI dalam kerangka penggalakan Studi Pembangunan Regional ditanah air kala itu. Khususnya untuk karya Friedmann dan Douglass (F&D, LP-FEUI, 1976) âagropolitanâ....... dengan berjalannya waktu .... maka data-data numeriknya segera tertinggal dan dapat dimengerti .... tetapi satu hal yang merisaukan adalah ... disamping pembelaannya yang âgigihâ pada âpembangunan pedesaan dan petaniâ yang tentu saja amat disambut hangat oleh masyarakat pertanian dan ilmu sosial kita pada umumnya kala itu ..... tetapi kecamannya yang diluar batas pada konsep kutub pembangunan... a.l. seolah bahwa âmengikutinya secara membabi buta sama saja dengan bunuh diriâ (mengutip dari Mesarovic dan Pestel, 1974)... telah menumbuhkan antipati yang luas pada konsep kutub pembangunan, yang dampaknya merugikan kemajuan pembangunan regional kita...... bahkan sampai sekarang ini......... Setidaknya dalam waktu yang cukup lama ... Bappenas misalnya lebih percaya bahwa âagropolitanâ atau kota-kota kecil merupakan konsep sistem kota yang layak dan mampu membendung arus urbanisasi ........ lalu demikian juga ...dalam NUDS-2 misalnya terdapat juga kesan bahwa pengembangan âagropolitanâ atau kota-kota kecil lebih âdiutamakanâ dibanding dengan âkonsep kutub pertumbuhanâ.......dan apalagi Departemen Nakertrans seperti seakan telah âmematok harga matiâ bahwa kalau sampaipun mereka akan mengembangkan lokasi transmigrasi berskala âkotaâ maka pastilah agropolitan......... Walau âagropolitanâ adalah salah satu dari âkonsep pembangunan pertanian/ pedesaan yang terbaikâ.....namun karena cercaannya yang diluar batas pada sains perencanaan ... hingga menimbulkan dampak âdianut secara luas dan secara tidak tepat benarâ.... dan terlebih lagi kedudukannya dalam sistem hirarkhi kota kita tidak jelas ...... apakah ia setara dengan kota kabupaten.. kota kecamatan...... atau dibawah kota kecamatan..... atau bagaimana...... maka bagi saya akhirnya... ia malah tak lebih dari sekedar suatu âkerancuanâ dalam konsep sistem hirarkhi perkotaan di Indonesia........ * * * Bagi kalangan yang memang menekuni cabang studi pembangunan regional ini sebagai studi utama yang mendalam, dan tak asal menerimanya bulat-bulat begitu saja .... mereka barangkali sebagiannya mampu mengkritisi dan melihat beberapa kelemahan mendasar dari karya F&D itu serta tak terpengaruh ........ Tetapi bagi mereka yang utamanya dari disiplin ilmiah non-keruangan... yang sekedar memakai beberapa teks cabang sains ini sebagai rujukan seperlunya .... dan kebetulan lebih mengambil karya F&D karena pembelaannya yang memuaskan pada pembangunan desa dan pertanian....., bukan tak mungkin mereka sangat mudah âtermakanâ oleh âprovokasiâ itu bahwa âpembangunan regional yang benar adalah membuat agropolitanâ.......... lalu mereka âmemalingkan mukaâ dari literatur keruangan lainnya... dan berpandangan skeptik bahwa âkonsep kutub pembangunanâ adalah âkonsep tentang kota dan industri yang tak patut berdampingan dengan pembangunan pertanianâ....... Bahwa bagi kepentingan âpembangunan sistem perkotaan secara nasionalâ konsep yang didalamnya terdapat âprovokasi menyerang habisâ sains perencanaan ini termasuk sangat merugikan bangsa ini ... maka tulisan ini bermaksud mengkritisi kelemahan karya F&D tersebut........ * * * Sejak awal F&D pada papernya sudah âmengejekâ sains perencanaan....... terlihat dari semenjak âkata pengantarânya..... kutipannya adalah sbb: F&D : kata Pengantar : â....Beberapa tahun terakhir ini terlihat usaha-usaha mencari kaidah-kaidah merencana pembangunan. Jalan pikiran kaidah yang lama sudah tidak lagi meyakinkan..... Dasar pikiran yang lama ialah : 1. Bahwa kebahagiaan dan rasa sejahtera manusia datang dengan sendirinya dari kegigihan mengusahakan pertumbuhan ekonomi 2. bahwa pertumbuhan ekonomi adalah akibat dari perkembangan industri yang cepat 3. bahwa perkembangan industri yang cepat dapat ditampung paling efisien dibeberapa pusat kota, dan dari sini manfaatnya akan âmenyebarâ keseluruh pelosok wilayah nasional; 4. bahwa pertumbuhan ekonomi, pengembangan industri dan pengembangan tata hidup kota (urbanization) hanya dapat direncanakan melalui suatu pusat perencanaan yang mengatur dan menyelaraskan kegiatan, dan 5. bahwa perencanaan yang terkoordinasikan itu merupakan suatu tugas teknik yang dapat diselesaikan dengan memakai model-model ekonometri yang rumit dipadu dengan administrasi yang mutakhir ..... F&D lebih lanjut tentang pola pikir masyarakat perencanaan: â....Perencana-perencana tata ruang (spatial planners) mencoba mencari tempat berpijak kedalam bingkai jalan pikiran ini. Sumbangan utama mereka pada bidang perencanaan pembangunan adalah berupa pengertian kutub2 pertumbuhan (growth poles) dan pusat2 pertumbuhan (Kuklinski dan Petrella, 1972)....... ... Menurut mereka (maksud F&D : menurut pandangan tata ruang): menanam modal harus dilihat dari sudut tata ruang bahwa walau daya hasil penanaman modal mungkin dapat dicapai sebesar-besarnya jika terutama dipusatkan dibeberapa kota besar saja, namun pertimbangan- pertimbangan keadilan menuntut adanya kebijakan concentrated deconcentration; bahwa kegiatan merencana harus mencakup setidaknya 3 tingkat tata ruang, yaitu kota, regional dan nasional, agar segi tata ruang tertampung dalam rencana-rencana menumbuhkan ekonomi nasional. Dengan demikian menurut keyakinan mereka, akan dapat dicapai suatu ekonomi nasional yang bersatu padu dari sudut tata ruang (Lefeber dan Chauduri,1971); Misram, Sundaram dan Prakasa Rao, 1974).....â Kaidah ini mendapat serangan, baik dari sudut âbukan tata ruangnyaâ maupun sudut âtataruangnyaâ (non spatial and spatial dimension). Pada satu pihak dikatakan, kaidah ini gagal memberi hasil yang diharapkan (Faber dan Seers, 1972). Pada pihak lain beberapa tahun terakhir ini menunjukkan tanda2 bahwa ekonomi internasional sedang bergeser kesuatu keadaan yang baru, dan ini berarti bahwa mengikuti terus secara membabi-buta kaidah yang lama itu, kasarnya adalah sama dengan bunuh diri (Mesarovic dan Pestel, 1974). Sebagai akibat dari kedua kecaman ini, mulai nampak suatu kaidah yang baru. Tujuannya tidak lagi pertumbuhan ekonomi tetapi pembangunan sosial, dengan memperhatikan kebutuhan2 khusus manusia (Seers,1970, Ul Haq, 1972). Menurut kaidah ini, pembangunan harus disesuaikan dengan batas2 lingkungan hidup; perhatian utama (dalam ekonomi pertanian) harus diberikan pada pembangunan pedesaan; dan perencanaan pembangunan pedesaan harus bersifat tidak terpusat (decentralized), melibatkan semua pihak, dan secara luas mencakup semua hal-ikhwal dari keadaan2 khas setempat. Karena itu perencanaan harus berpijak pada pertimbangan2 kualitatif maupun cara2 kwantitatif, dan gayanya haruslah transactive (Friedmann, 1973). Kami bermaksud disini mengemukakan suatu kebijaksanaan tata ruang untuk âkaidah yang baruâ ini. Pembahasan dibagi dalam 2 bagian. Dibagian pertama, dinilai hasil2 siasat pengembangan industri yang dipercepat yang dijalankan oleh 6 negara Asia: India, Indonesia, Malaysia Barat, Philipina, Republik Korea dan Thailand. Kami sampai pada 2 kesimpulan utama. Kaidah lama menurut pendapat kami, telah menimbulkan pertentangan2 yang cukup genting dalam susunan pembangunan nasional. Pertentangan2 âdualistic dependenceâ ini dipertajam oleh peralihan ekonomi yang terganggu keseimbangan susunannya dan terhenti geraknya. Siasat mengembangkan pedesaan secara dipercepat merupakan jawaban yang paling tepat untuk menghadapi keadaan baru yang sedang muncul ini. Kebijaksanaan tataruang untuk melaksanakan siasat baru ini dibahas dalam Bagian II.... dst........... * * * Pada bagian âkata pengantarâ itu dapat dikatakan F&D telah mulai membuat âprovokasiâ tentang âkegagalan pola pikir perencana ruangâ...., mengatakannya sebagai âkaidah lamaâ .... sambil pada saat yang sama mereka mencampur-adukkan antara âkegagalan strategi ekonomiâ dan âstrategi keruanganâ ... seolah bahwa tata ruang dan ekonomi adalah 2 hal yang sama ....... atau seolah strategi ekonomi selalu memakai 100% strategi keruangan....... yang setidaknya untuk kasus Indonesia halnya tidaklah demikian ........... F&D seperti yang seolah lupa atau tidak memahami saja bahwa cabang sains ekonomi regional atau ekonomi keruangan (wilayah dan kota) adalah seolah sekedar menjadi âanak tiriâ saja dari pandangan konservatisme ilmu ekonomi (Richardson)....... dan bahwa âkebenaranâ atau âurgensiânya juga masih sering dilecehkan oleh para ahli ekonomi neo klasik .........F&D seolah seperti mengesampingkan begitu saja fakta bahwa pada dasarnya logika2 keruangan dari sains perencanaan ruang itu banyak sekali tak dipercayai oleh para ahli ekonomi yang umumnya lebih merupakan âpara panglima pembangunanâ........ dan kalaupun dipakai tak jarang juga âbeberapa potong sajaâ ........ Sebenarnya F&D (1975) memiliki alasan yang kuat dalam hal kecaman terhadap strategi ekonomi 6 negara Asia sebagai obyek studinya kala itu yang mereka anggap sebagai âmengabaikan pembangunan desaâ .... dan bolehlah diacungi jempol ..... tetap masalahnya menjadi rancu ketika pada saat yang sama F&D jugaâmengganyang habisâ sains perencanaan ruang, seolah bahwa perencana ruang sama dengan âpara ahli ekonomiâ atau sekaligus âpara politikusâ yang sekaligus juga âpara panglima pembangunanâ....... yang padahal apalagi untuk kasus Indonesia ...... âpanglima tertinggiâ pembangunan ekonomi itu adalah presiden ....... yang tak seorangpun mengetahui... berapa persen saran dari para penasehat ekonomi disekelilingnya itu yang didengar dan dipakainya ......dan berapa persen ânasehat keruanganâ telah dipakai oleh para âpanglima pembangunan ekonomiâ.......... Dan sepertinya kalau mengingat âriwayatnyaâ bahwa pemerintah baru menyetujui model pendaerahan pembangunan dan analisa kutub perkembangan pada awal tahun 1970-an (Soegijoko, Soerjanji dalam Aditjondro, 1982)..... setelah hanya âbeberapa tahun sebelumnyaâ sampai 1965 dimasa Sukarno Indonesia masih memakai model âperekonomian isolasiâ ... lalu periode 1966-1968 merupakan peralihan dari âperekonomian isolasiâ ke âperekonomian liberalâ........bersamaan dengan nuansa âpenumpasan gerakan G-30-S/PKIâ.... maka wajar bahwa bila konsep-konsep keruangan baru diperkenalkan dan âdisetujuiâ oleh pemerintah pada tahun 1970-an lalu sampai sekitar tahun 1975- âhasil dari penerapan strategi keruangan kitaâ belumlah banyak dapat âdipetik hasilnyaâ.....(atau sekaligus juga âbelum banyak berbuat?).............. Kenyataannya memang proporsi penduduk perkotaan kita kala itu masihlah sangat rendah (1980 : 17.03%)... sehingga dapat dikatakan kala itu masalah urbanisasipun belumlah menjadi isu pembangunan yang menonjol ...... Sampai sekitar 1975-an dengan penduduk DKI sekitar4 juta jiwa... sepertinya Gubernur Ali Sadikin juga belum mencanangkan âJkt KotaTertutupâ....... yang artinya orang dengan bebas masih dapat dengan mudah berpindah KTP ke DKI....... * * * âKaidah baruâ dari F&D yang âbukan barang baruâ............. Walaupun F&D seperti menemukan âkaidah baruâ bahwa seyogyanya negara-negara melakukan âoper persnelingâ dari semula lebih condong pada âpembangunan dengan menekankan pertumbuhan ekonomiâ agar kemudian bergeser pada âpembangunan sosialâ....... tetapi kalau dalam konteks âpembangunan keruangan yang idealâ ........ padahal âkaidah baruâ dari F&D itu bukanlah benar-benar âbarang baruâ............ F&D : â.........Kami bermaksud disini mengemukakan suatu kebijaksanaan tata ruang untuk âkaidah yang baruâ ini. Pembahasan dibagi dalam 2 bagian. Dibagian pertama, dinilai hasil2 siasat pengembangan industri yang dipercepat yang dijalankan oleh 6 negara Asia: India, Indonesia, Malaysia Barat, Philipina, Republik Korea dan Thailand............... .......... Siasat mengembangkan pedesaan secara dipercepat merupakan jawaban yang paling tepat untuk menghadapi keadaan baru yang sedang muncul ini........â.. Patrick Geddes (Skotlandia) yang hidup sezaman dengan Ebenezer Howard (1850-1928), pencetus konsep kota baru, kota taman dan gerakan perencanaan kota... adalah bapak filosofi masalah perencanaan kota (dan wilayah) modern... dimana Geddes mengatakan : â.....Perencanaan fisik saja tak akan meningkatkan kondisi kehidupan dikota, kecuali jika diterapkan secara terpadu dengan perencanaan sosial dan ekonomi yang berkait dengan lingkungan....â (AJ Catanese, Urban Planning, 1988)....... Bahkan lebih lanjut Geddes juga mengatakan : â......Perpaduan perencanaan ini harus dilakukan dalam skala regional, yang mencakup kota dan daerah pedalaman sekitarnya........â. (Catanese, op.cit).... yang artinya adalah pembangunan âkotaâ dan âdesaâ.......... Atau kalau mau ditarik jauh kebelakang lagi .... perencanaan kota misalnya disebutkan telah berkembang sebagai suatu seni dan ilmu selama hampir 6000 tahun................. Keajaiban dunia Spinx diMesir atau Borobudurditanah air bukanlah semata suatu aspek pembangunan dalam rangka âpertumbuhan ekonomiâ .... namun juga mengandung aspek dasar pembangunan lainnya seperti fisik, politik, sosial, budaya ....... Jadi singkat kata âkaidah baruâ dari F&D tentang gearshift penekanan pembangunan dari ekonomi ke sosial itu bukanlah âbarang baruâ dalam konsep pembangunan keruangan ......... Sementara demikian dulu dan salam, aby --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. --------------------------------- Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. --------------------------------- Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

