Rekan-rekan Deden  R. dan Mulya A. 
Semestinya saya lebih menyelami lagi referensi yang Deden telah sebut dan Mulya 
juga tanggapi, tetapi maklumlah saya memang dari dua atau tiga generasi yang 
lampau namun 'while being retired I cannot say to be tired'  hal yang tidak 
begitu tepat oleh karena ke rekan Hengky A. saya katakan saya jemu (bored to 
hell - kalau mengikuti  indonesian idol - the supposedly  upcoming 
(urban)creative class) tapi sudahlah barangkali ini bisa jadi topic tersendiri  
dalam JAKARTA KOQ DILAWAN DST - tapi usw peran  "creative class"  ini khususnya 
di Jakarta  pasti perlu kita simak lebih dalam, dan kalian berdua sudah mulai 
hal ini.  Saya juga tidak mau terjebak dalam suatu debat atau pandangan kritik 
dangkal, tapi mungkin saya ingin menggali lebih dalam  hal mana rada susah,  
walaupun ada suatu pemeo yang mengatakan  'we are indeed surprised that so many 
that dug for dirt actually struck gold'  atau dalam logika petambang mas itu 
sekali-kali memang gali lubang untuk
 buang kotoran. -  which again opens another vista of the potential richness of 
urban waste in the future. Wah gitulah kalau kita ngawur-ngawuran. 
Tapi  first the observation on Storper, Scott, Soya and perhaps Saskia S, bahwa 
mereka geographer kelas wahid  (kecuali Saskia ) tidak usah kita sangkal, tapi 
sedikitnya ada dua observasi tambahan, pertama pada waktu planologi itb itu 
baru merupakan suatu embryo atau idee, dua promotor utamanya adalah Kenneth 
Watts (planning advisor di DKI) dan Jaqueline Tyrwhitt (dosen Harvard/MIT) yang 
keduanya adalah geographers of origin but also the first postwar  Townplanning 
generation di UK,  sedangkan ada satu lagi yang ikut tender katanya dari Canada 
atau UBC atau Toronto yang juga geography dept. malahan lembaga itu yang 
menampung Pak Soekotjo T. yang jadi pakar aerial photography  dan remote 
sensing.  Akhirnya juga temuan rekan Eko B di Perancis yang simply said that 
all planning in France is regional geography atau masuk dalam mazhab besar itu. 
 Jadi kalau metaphor penggali tambang emas diatas kita terapkan untuk geografi 
dan planning maka kesimpulannya 
 adalah:  that those geographers did not realize that they hit  (planning) 
gold, while on the other hand those (stupid) planners still were trying to find 
the rich vein,  atau si planolog masih mencari akar emasnya. Well in that case 
both are stupid, atau tidak bisa menikmati nasibnya. 
Tetapi bagaimana sebetulnya  masalah creativity itu untuk Betawi kita.  Deden 
sudah coba melihatnya dalam konteks kota-kota yang punya lahan budaya urban 
yang kaya sekali, sedikitnya di New York tapi saya rasa terbesar mungkin di 
urban europe kini dan ini adalah seluruh eropah, oleh karena sudah tidak ada 
lagi non urban europe. Secara sangat hati-hati saya ingin mencoba menarik 
analisa itu ke Asia walaupun masih sangat kasar  - Begini di Asia kini 
kelihatannya secara historis ada dua jalur budaya besar, yang satu adalah 
budaya yang berakar dari India (Hindu) atau Persia yang juga sampai ke 
Indonesia, sedangkan di Utara ada jalur budaya Cina (Mongol) sampai ke Jepang,  
pasti para antropolog atau sejarawan budaya bisa memberikan analisa yang lebih 
tepat lagi, tapi pertanyaan yang ingin kita susun adalah  bagaimana akar-akar 
budaya ini telah membentuk suatu modal kreatip atau kelas kreatip. Observasi 
yang sangat gegabah barangkali ingin melihat implikasinya
 langsung dalam perbandingan  India dan Jepang  sekarang. Rasanya Deden dan 
Mulya bisa melakukan comparison ini. Barangkali sebagai tantangan saya 
lemparkan issue  'black berry'  (suatu hp yang ada mesintiknya) and how that 
might shape the future creative society?
Kalau issue yang rada enteng barangkali : what will happen to Singapore if the 
global financial crunch will come (barangkali BTS sudah ada dugaannya)> atau 
lebih mudah lagi:  what role will  global airports have for future tourist or 
travel patterns.(well anymore creative questions )
Eka Dj rasanya ada cukup bahan untuk  kopi darat berikut kan. salam dari 
Tomohon dan Pak Wawo. 



----- Original Message ----
From: Mulya Amri <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, March 12, 2008 5:46:06 AM
Subject: Re: [referensi] Re: JAKARTA KOQ DILAWAN?

Hallo Mas Deden,
Thanks buat commentnya.
 
Membaca Florida menulis tentang Creative Class memang menarik. Yang paling 
menarik bagi saya adalah ketika perusahaan berusaha menarik calon2 pekerja 
potensial dengan menawarkan "suasana," baik di kantor maupun di kota tempat 
perusahaan itu berada.. Dari situ saya jadi belajar bahwa banyak faktor yang 
membuat sebuah kota jadi maju atau mundur, dan seringkali faktor2 itu berada di 
luar kendali planner. Planner bisa memfasilitasi, membuat suatu "environment" 
yang memungkinkan kota itu maju/mundur. Tapi apakah kota itu betul2 
maju/mundur, ya lain lagi persoalannya.
 
Analisis creative class sangat relevan di negara2 yang ekonominya didominasi 
creative industries (i.e. sekian persen dari economic growth dimotori oleh 
sektor arts/cultural products, ICT, desain, riset). Di Indonesia juga cukup 
banyak pekerja2 kreatif, tapi apakah peran mereka (sektor ini) cukup signifikan 
dalam ekonomi, mungkin belum.
 
Beberapa waktu yang lalu saya menemukan artikel ini di Planetizen: The City as 
Factory. http://www.planetiz en.com/node/ 29661 . Ini resensi terhadap buku 
yang ditulis Elizabeth Currid, dosen planologi di USC, "The Warhol Economy: How 
Fashion, Art, and Music Drive New York City". Pertanyaan dari yang menulis 
resensi: lantas, di mana peran planner?
 
Salam,
Muli


 
On 3/7/08, Deden Rukmana <dedenrukmana@ yahoo.com> wrote: 
Mas Muli, ysh:
Well written! Sempet dulu ketemu dg Storper, Scott and Soja di UCLA? Mereka 
memang geographers wahid (meskipun Storper and Soja dosen planning department, 
tapi background mereka adalah geography). 
Buat yang lain juga:
Tambahan dari saya adalah analisa mereka adalah applicable utk skala global 
atau international. Globalisasi dan kapitalisme adalah sama2 menganut azas 
survival of the fittest. Siapa yg kuat dia yg menang dan yg lemah akan binasa 
dan korban dari kompetisi. Dan ini juga menjelaskan dalam skala Southeast Asia 
kenapa Singapore menjadi pemenang dan Jakarta menjadi supporter kalau kita 
tidak mau bilang the loser. 
Kalau kita mau terapkan teori mereka dalam skala national pun adalah relevan 
juga. Hanya saya ingin menjelaskan peran planning dalam skala national utk 
mengurangi dampak negatif dari kapitalisme tsb. Di Indonesia yg menganut sistem 
perencanaan di tingkat nasional, mestinya planning berperan for mitigating the 
impacts of capitalism. Planning bisa berperan for addressing the failure of 
laissez-faire. Dalam salah satu mata kuliah disini, saya sering sampaikan bahwa 
tradisi planning dikenal baik in American society sejak Great Depression in 
1930s. Terdapat banyak proyek nasional dan planning berperan besar utk 
mengatasi dampak dari Great Depression tsb.
Kembali kepada diskusi kedigjayaan Jakarta, inipun adalah the failure of 
laissez-faire. Dalam jangka panjang fenomena ini adalah tidak sustainable. 
Banjir tahunan adalah salah satu indikasinya. Demikian juga dg migrasi yg tidak 
kunjung berkurang ke Jakarta yg menambah beban pemerintah DKI. Kemacetan, 
berkurangnya green areas, bertambahnya slums adalah sebagian masalah ibukota yg 
tak akan kunjung tuntas tanpa ada perubahan dalam sistem perkotaan di 
Indonesia. Di sinilah planning ditunggu perannya for turning around the 
direction of urban system in Indonesia. 
Dalam konteks sistem kota-kota di US, apa yg ditawarkan oleh Richard Florida 
melalui creative class-nya banyak "dibeli" oleh pengamat perkotaan disini. Ini 
pun turut menjelaskan mengapa kota A perkembangan kotanya tidak selaju kota B. 
Konsep Richard Florida ini pun banyak diaplikasikan di negara2 lain. Kembali 
lagi ke dalam konteks Indonesia, menurut saya akibat kedigjayaan Jakarta, 
konsep creative class tidaklah terlalu relevan utk Indonesia. Berikut saya 
kutipkan email saya yg dikirim utk rekan2 saya di PL 88  bulan November 2006 
mengenai creative class and sistem kota di Indonesia:
"Apa yg telah digagaskan oleh Richard Florida on creative class, membuat 
planning scholars di Amrik berbangga hati. Secara khusus, JAPA, the leading 
planning journal in the US, membuat forum tersendiri utk diskusikan bukunya 
Florida (The Rise of the Creative Class). There has been very few planning 
scholars who is able to author a hot book among urban policy-makers. Richard 
Florida is the man! There is little question that Florida's book has become the 
most popular book in urban economics, urban sociology, urban politics and, 
indeed, urban planning, in the last decade. 
Konsep creativity index-nya, banyak menarik perhatian urban policy-makers in 
the US. Konsep ini memberikan dimensi baru dalam memahami pertumbuhan 
kota/metropolitan di US. In his sequential book (The Flight of the Creative 
Class), he expands his concept to a global context and asserts the growing 
global competition for creative people. 
As cited by Agus, the key components of his creativity index include 
technology, talent and tolerance. Technology and talent have long been seen as 
driving forces of economy growth. He describes tolerance as "openness to 
self-expression and wide range of social groups". From these components, he 
develops four indexes, which make up of the creativity index, include 
creativity class concentration, high-tech index, innovation index and diversity 
index. The last one is based on the fraction of the population that is gay!)
Nah, sekarang bgm kita (sbg orang yg pengen negaranya maju) bisa memaknai 
konsep yg digagas sama si Florida ini. Di US, regional disparities is not a hot 
issue as we have in Indonesia. Ketimpangan antara New York dg North Dakota, 
misalnya tidaklah jadi masalah besar. Hanya buat mayor in any city in North 
Dakota, Florida's concept will shed light on his city's economy growth problem. 
Otherwise, the major of San Francisco will be proud much more of his 
accomplishment of attracting, retaining and developing creative people. 
Di Indonesia, we should be able to rank cities based on Florida's creativity 
index. (As he did in European countries, please check his snazzy website at 
www.creativeclass. org), but then what?
Kota2 di kita, mohon dikoreksi kalo salah, masih banyak tergantung kepada 
pusat. Desentralisasi tanpa didukung sumber daya lokal yg kuat, membuat kota2 
kita crippled. Kalo kebanyakan kota2 kita seperti Kutai, tentunya dinamika 
desentralisasi akan lebih vibrant! Kompetisi antar kota spt digagas oleh 
Florida for attracting, retaining and developing creative people seem 
irrelevant to our cities. Menurutku, salah satunya berakar dari peran Jakarta 
yg terus menguat sbg central dari berbagai sektor kehidupan di Indonesia dan 
melemahkan peran kota2 lainnya utk berkompetisi dg Jakarta. 
There is little doubt that Jakarta is able to attract and develop creative 
people. Its tolerance to diversity is also one of driving forces of economic 
growth. Nonetheless, kedigjayaan Jakarta mengerdilkan kota2 lainnya dan membuat 
Jakarta be an outlier in our urban system. 
Dg mengasumsikan bahwa Jakarta diluar our urban system, kita mungkin bisa 
aplikasikan konsepnya si Florida di Indonesia. Buatlah Bandung bersaing dg 
Surabaya, Medan, Ujung Pandang for attracting, retaining and developing 
creative people. Kota2 lainnya pun bersaing dg kota sekelasnya. Hanya sekali 
lagi, karena Jakarta yg terus membesar, maka kota spt Tangerang, Bekasi, Bogor 
tak bisa kita masukkan pula dalam model kita ini. Kedigjayaan Jakarta ini yg 
bikin aku gemes dg konsep pengembangan kota di Indonesia."
Terima kasih dan salam dari Savannah,
Deden. 

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Mulya Amri" <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote:
>
> Rekan-rekan yang baik,
> 
> Menanggapi ajakan dari Pak Abi untuk memberi pandangan alternatif, dan
> meneruskan email Pak BTS (sort of..), saya ingin nimbrung memberi alasan
> mengapa Jakarta sulit dikalahkan economic primacy-nya. Ini kaitannya bukan
> soal Jakarta sebagai ibukota, tapi sebagai pusat ekonomi.
> 
> Kebanyakan apa yang saya tulis ini me-refer ke pandangan planning scholars
> yang menganut aliran New Regionalism dan Marxist-Geography, macam Michael
> Storper (The Capitalist Imperative), Allen Scott (Global City-Regions) , Ed
> Soja (Postmetropolis) , Saskia Sassen (The Global City), dll.
> 
> Salah satu premis mereka yang penting adalah "globalisasi =
> kapitalisme- isasi = urbanisasi/urban primacy/urban specificity". Ini adalah
> setali tiga uang. Kapitalisme membutuhkan sistem kerja yang efisien. Dan
> sistem yang efisien adalah kalau manusia dan aktivitasnya tidak tersebar di
> semua/sembarang tempat, tapi mengumpul di sedikit tempat yang strategis.
> Urbanisasi adalah strategi ruang yang dipilih oleh kapitalis untuk
> menjalankan kapitalisme secara efisien (Storper). Dan kapitalisme akan
> semakin berkembang kalau dia tidak dibatasi oleh sekat-sekat macam batas
> negara.
> 
> Kalau kita lihat lebih detil lagi, ketika kita ngomongin globalisasi,
> sebenarnya bukan "seluruh dunia jadi lebih connected," tapi yang semakin
> connected hanyalah tempat-tempat strategis (dalam hal ini one global city
> with other global cities). Yang lain boleh dibilang "dilewat"... Tempat
> strategis/global cities semacam London, New York, Tokyo adalah yang disebut
> Sassen sebagai "command centers of world capitalism". Jakarta bukan termasuk
> command center di skala global (mungkin skala Indonesia).
> 
> Dan selagi kita masih menganut sistem kapitalisme, kota-kota besar akan
> terus berkembang. Sebagian kota kecil mungkin akan berkembang, mungkin
> tidak. Daerah perdesaan akan tetap tertinggal.
> 
> Mengapa kota besar akan terus berkembang? Karena kota mendapat "energi"nya
> dari dalam dirinya sendiri. Energi itu terutama berasal dari jumlah &
> kualitas orang/usaha yang ada di kota, serta jumlah & kualitas interaksi
> yang tercipta di antara orang-orang dan usaha-usaha itu.
> 
> Contohnya (kembali ke kapitalisme) , sebuah usaha di zaman sekarang tidak
> bisa lagi berdiri sendiri. Usaha macam Ford di zaman dulu, yang sangat
> vertically integrated (satu perusahaan mobil membuat semua bagian mobil
> sendiri: ban, kaca, mesin, bodi, dll - bahkan menjualnya!) , sudah tidak
> zaman lagi. Sejak tahun 60-an, dimulailah era Post-Fordism. Hampir semua
> usaha, kalau mau efisien, harus memilih spesialisasi. Jadilah ada perusahaan
> yang bikin ban saja, ada yang bikin mesin saja, ada yang bikin kaca saja,
> ada yang meng-assemble dan memberi merek mobilnya saja.
> 
> Perusahaan-perusaha an sekarang semakin butuh supplier (usaha lain),
> distributor (usaha lain), kontraktor/subkontr aktor (usaha lain), dan pekerja
> (individu-individu yang sebenarnya merupakan unit usaha lain). Semakin
> banyak supplier berkumpul di suatu tempat, semakin senang usaha yang
> membutuhkan supply tersebut, karena antar supplier akan bersaing dan
> memberikan harga yang paling murah. Kalau di suatu tempat hanya ada sedikit
> supplier, harganya bisa lebih mahal (kurang persaingan). Demikian juga
> dengan kebutuhan akan tenaga kerja. Di kota kecil, tenaga kerja yang
> dibutuhkan perusahaan sedikit, sehingga kalau terjadi mogok, ada pegawai
> yang keluar, dll, perusahaan tersebut akan kesulitan mencari pegawai
> pengganti. Di kota besar, calon pegawai banyak. Bahkan pegawai
> berkualitas/ terdidik pun banyak. Jadi perusahaan tidak usah banyak khawatir
> soal pergantian pegawai. Jadilah perusahaan memilih berada di kota.
> 
> Terus, pegawai perusahaan butuh fasilitas umum, tempat hiburan, dll. Di kota
> kecil, jumlah orang sedikit, dan fasilitas umum/tempat hiburan sedikit
> (which is the chicken, which is the egg?). Di kota besar, sebaliknya: ada
> banyak orang, banyak usaha, banyak fasilitas, banyak transaksi ekonomi. It
> doesn't matter anymore which is the chicken and which is the egg. They all
> come together... Sebuah kota menjadi besar karena dia besar.
> 
> Lalu, apakah tidak mungkin ada kota/daerah lain yang bisa menjadi besar,
> mengalahkan yang sudah besar? Mungkin saja. Lihat contoh "Silicon Valley"
> dan Detroit. Dulu Silicon Valley nothing, sekarang besar. Dulu Detroit
> besar, sekarang sekarat. Apa yang terjadi? Perubahan struktur industri di
> masing-masing kota. Unlike New York yang usahanya beragam, Detroit sangat
> fokus ke industri (otomobil). Ketika negara-negara maju mengalami
> de-industrialisasi (industri berat "dibuang" ke negara-negara dunia ketiga),
> Detroit menjadi bagian dari kota2 di utara/timur Amerika yang sekarang
> disebut "rust-belt". New York dulu juga berat ke industri, tapi tidak
> terlalu. Usaha dan orang2 di sana cukup variatif. Ketika jaman industri
> beralih jadi jaman jasa (finance, etc), New York siap. Detroit tidak.
> 
> Bagaimana dengan kawasan Silicon Valley? Tumbuhnya kawasan itu juga
> disebabkan perubahan struktur industri yang penting, yaitu berkembangnya
> jaman informasi menjadi setara (bahkan mengalahkan) jaman jasa. Silicon
> Valley menjadi cradle tempat kelahiran jaman informasi. Dia tumbuh cepat
> bukan karena bersaing dengan kota-kota lain yang sudah maju, tapi karena dia
> menciptakan industri baru yang kemudian menjadi acuan dunia. Ketika
> kota-kota lain mulai sadar bahwa sekarang adalah jaman informasi, mereka
> berusaha meniru dan membuat Silicon Valley-nya sendiri. Tapi tetap Silicon
> Valley yang asli akan lebih besar. Karena apa? Ketika kota-kota lain baru
> berusaha menarik usaha-usaha ICT ke kotanya, Silicon Valley sudah memiliki
> banyak dan beraneka ragam usaha ICT. Kembali ke cerita yang pertama: Silicon
> Valley menjadi (semakin) besar karena dia sudah lebih dulu besar (in terms
> of ICT industry).
> 
> Sorry sudah terlalu panjang. Mungkin pada intinya, selagi kita masih
> menganut sistem kapitalisme, yang besar akan tetap besar. Kecuali terjadi
> perubahan mendasar pada sistem industri. Sebuah kota (baik besar maupun
> kecil) yang menjadi leader dalam perubahan tersebut, akan menjadi besar dan
> mungkin saja mengalahkan kota lain yang sudah lebih dulu besar... Sampai
> terjadi perubahan mendasar berikutnya.
> 
> Sekian dulu untuk sementara.
> 
> Salam,
> Muli
>



 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke