Pak Wawo ysh, Bila memang dirasa cukup bahan untuk diperbincangkan, baik kita adakan pertemuan selekasnya. Saya kira Mas Catuy dkk sudah terpanggil jiwanya untuk seperti biasa menyiapkan segala sesuatunya. Untuk tema, bisa threat terakhir ini; dan karena bapak sudah menyinggung creativity, sepertinya kita perlu mengundang pemikiran mazhab UI dan Untar yang mulai mengembangkan konsep 'creative city' dst.
Pembicara, tentunya sudah saatnya dipanel antara Pak BTS, Mulia Amri, Abiyoso, dkk untuk topik urban primacy dan counter magnet. Saya kira perlu juga didengar enlightnment mengenai creativity dari Tim UI (Pak Abimanyu, Nuzul Achjar, Lita Sari) dan Tim Untar (Soerjono Herlambang, I Gede Oka, Jo Santoso). Tidak tertutup pembicara dan topik dadakan bilamana perlu. Mengenai waktu, sedapatnya pada waktu Pak Wawo ke Jakarta, ada rencana awal April pak? Tadinya saya mengharapkan ada hari libur, sehingga bisa sehari penuh. Atau sekali waktu kita adakan hari Sabtu? Mohon kiranya Mas Catuy memberikan kepastian. Mengenai tempat, saya mengharapkan bisa sekalian makan siang. Boleh Kantin UI <http://www.wikimapia.org/#lat=-6.194203&lon=106.848119&z=18&l=0&m=a&v=2\ > - Salemba, RM Wong Solo <http://www.wikimapia.org/#lat=-6.284778&lon=106.795864&z=16&l=0&m=a&v=2\ > - Fatmawati, atau tempat yang rada santai di Resto Pulau Dua <http://www.wikimapia.org/#lat=-6.210442&lon=106.804662&z=16&l=0&m=a&v=2\ > - Gatot Subroto (dekat DPR), atau di RM Sari Bundo <http://www.wikimapia.org/#lat=-6.182102&lon=106.833608&z=18&l=0&m=a&v=2\ > - Patung Pak Tani (dekat istana negara). Untuk tempat terakhir ini dekat dengan ibukota negara yang mau dipindahkan, kantor Pemda DKI, DKP, dan stasiun Gambir (kereta Argo Gede dan Argo Lawu). Silahkan Mas Catuy membuat keputusan, boleh alternatif lain. Mengenai pembiayaan, tentunya diharapkan donasi dari teman-teman yang mau syukuran atau melepas niat. Sedapat mungkin kita merilis satu buku lagi. Apa sudah ada yang baru? Kalau dapat threat terakhir. Sementara waktu saya menyiapkan lagi kompilasi Pak Aby yang lama, Seri 07 - Kota Pusat Layan Desa. Sementara demikian dulu. Salam. -ekadj --- In [email protected], Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tetapi bagaimana sebetulnya masalah creativity itu untuk Betawi kita. Deden sudah coba melihatnya dalam konteks kota-kota yang punya lahan budaya urban yang kaya sekali, sedikitnya di New York tapi saya rasa terbesar mungkin di urban europe kini dan ini adalah seluruh eropah, oleh karena sudah tidak ada lagi non urban europe. Secara sangat hati-hati saya ingin mencoba menarik analisa itu ke Asia walaupun masih sangat kasar - Begini di Asia kini kelihatannya secara historis ada dua jalur budaya besar, yang satu adalah budaya yang berakar dari India (Hindu) atau Persia yang juga sampai ke Indonesia, sedangkan di Utara ada jalur budaya Cina (Mongol) sampai ke Jepang, pasti para antropolog atau sejarawan budaya bisa memberikan analisa yang lebih tepat lagi, tapi pertanyaan yang ingin kita susun adalah bagaimana akar-akar budaya ini telah membentuk suatu modal kreatip atau kelas kreatip. Observasi yang sangat gegabah barangkali ingin melihat implikasinya > langsung dalam perbandingan India dan Jepang sekarang. Rasanya Deden dan Mulya bisa melakukan comparison ini. Barangkali sebagai tantangan saya lemparkan issue 'black berry' (suatu hp yang ada mesintiknya) and how that might shape the future creative society? > Kalau issue yang rada enteng barangkali : what will happen to Singapore if the global financial crunch will come (barangkali BTS sudah ada dugaannya)> atau lebih mudah lagi: what role will global airports have for future tourist or travel patterns.(well anymore creative questions ) > Eka Dj rasanya ada cukup bahan untuk kopi darat berikut kan. salam dari Tomohon dan Pak Wawo.

