Pak Rofiq ysh, Saya kira hanya semata karena kecintaan terhadap bangsa inilah yang mampu menggerakkan langkah bapak hingga memasuki pedalaman hutan Kalimantan. Sekiranya bapak berkenan, boleh juga ditunjukkan perjalanan itu melalui Wikimapia <http://www.wikimapia.org/#lat=3.590178&lon=116.625366&z=9&l=0&m=a&v=2> , sehingga dapat diketahui koordinat lokasi dll. Bila telah asyik bermain peta, boleh dibaca Taufiq Ismail melalui Risman Maris <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/233> .
Saya kira cukup banyak rekan yang memiliki pengalaman di wilayah ini, seperti tahun lalu katanya Pak Kresno melakukan pembinaan di Malinau dsk. Pak If dan Pak Bin tentunya sudah memahami karakteristik wilayah perbatasan Kasaba ini, dst. Suku Dayak sendirinya katanya masuk dalam rumpun Proto Melayu ya Pak RYZ dan Arief? Sehingga kehadirannya di bumi Nusantara ini lebih tua beberapa ribu tahun sebelum bangsa Melayu, Jawa, dll. Saya kira perhitungannya dari antropologi fisik, seperti katakanlah berasal dari Yunan Cina, namun migrasi sebelum datangnya agama Budha. Wajar bila wanitanya putih cantik seperti di mal-mal, namun kalau anting-antingnya segede donat mah serem juga. Perhatian bapak mengenai `jalan ke perbatasan' saya kira mirip dengan kegusaran Pak Harya tentang analogi pisau <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1778> . Sementara demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Eka, pak Wawo, pak Aby dan teman-teman yang lain, > Saya baru pulang dari perjalanan ke pedalaman kalimantan, tepatnya ke Long Ampung, kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau. Ini merupakan perjalanan yang luar biasa, karena saya bertemu dengan komunitas yang bermukim di hulu sungai Kayan. Long Ampung adalah dua desa terdepan dari perbatasan Indonesia dan Serawak, tetapi jarak keperbatasan masih jauh sekitar 40 km. Untuk menuju ke lokasi hanya dapat ditempuh dengan udara dan air dari kota terdekat Malinau, dengan pesawat Cessna, sekitar 1,5 jam sedang dengan perahu (ketinting) sekitar satu-dua minggu tergantung kondisi air. Pak Eka pemukiman orang dayak yang ada di Kayan ini sangat berbeda dengan suku-suku pedalaman yang lain, mereka mempunyai budaya yang tinggi mirip dengan suku baduy di Banten. Pertanian cukup maju, bangunan rumah sudah sangat bagus (meskipun terbuat dari bahan lokal tapi cukup sehat dan mempunyai lumbung padi seperti di Baduy), mereka membuat sendiri kain, topi maupun mandau > (senjatanya). Saya terkesan karena desa yang ada sangat terpencil (susah diakses) dihuni oleh kurang lebih 2000 jiwa. Mereka merupakan komunitas yang terkesan sepintas cukup sejahtera karena mempunyai rumah yang bagus, lumbung padi yang banyak, peternakan, perahu dan ladang yang ditanami berbagai macam tanaman buah dan sayur. Yang membedakan dengan mereka yang tinggal di jawa hanya karena tidak ada listrik maupun telepon. Dan yang paling menyenangkan bertemu dengan gadis-gadis dayak yang cantik-cantik, mereka tidak terlihat seperti orang desa, tapi seperti para remaja jakarta yang ada di mal-mal. > > Pak wawo, saya sempat berdiskusi dengan pak Bupati tentang asal usul suku dayak yang ada di Kayan ini, beliau menulis buku tentang suku dayak kenyah. Karena saya pernah berkunjung ke suku minoritas di pedalaman Guangzhi, China, ternyata mirip dengan suku dayak ini, baik pakaian, topi, alat pertanian maupun rumahnya, maka saya yakin bahwa mereka berasal dari suku yang sama. Tetapi kenapa mereka bisa terdampar di tengah-tengah hutan kalimantan? banyak cerita mengenai ini. Namun saya tidak akan berdiskusi mengenai asal-usul suku dayak ini, tetapi timbul kebimbangan jika kita ingin "membangun" desa di pedalaman seperti Long Ampung. Apakah kita tidak akan mengusik kebahagiaan mereka jika kita perkenalkan produk-produk modern, seperti listrik, mobil, TV, radio, sepeda motor dll. Saya sebetulnya sangat menikmati pemandangan masa lampau yang sejahtera seperti Long Ampung ini, pemandangannya begitu indah, masyarakatnya sungguh luar biasa ramahnya. Apakah mereka > akan sebahagia ini seandainya jalan ke perbatasan kita bangun dengan membuka keterisolasiannya > > Salam > Aunur Rofiq

