Pak Rofiq, Pak Eka dj dan teman-teman milister yang terhormat
   
   
  Bicara mengenai Kabupaten Malinau bagi saya tidak akan ada habisnya, satu 
Kabupaten di utara Kalimantan Timur tersebut telah menjadi rumah kedua saya.  
Ada keterikatan batin antara saya dengan Malinau orang tua angkat saya adalah 
seorang Dayak Kenyah yang tinggal di Desa Setulang, dipinggir Sungai Malinau 
dan saya banyak punya saudara disana. Saya juga telah berjuang bersama dengan 
Pak Marthin Billa didalam membangun Kabupaten Malinau sebagai Kabupaten 
Konservasi, sehingga nama Malinau tidak hanya terkenal didalam negeri tapi juga 
sampai keluar negeri.  Banyak prestasi yang membanggakan dan prestisius seperti 
penghargaan Kalpataru yang diterima oleh masyarakat desa Setulang pada tahun 
2003 dan Kalpataru yang diterima Bupati Malinau pada tahun 2007.  Saat ini 
Kabupaten Malinau sudah memasuki Voluntary Carbon Market bekerjasama dengan 
salah satu LSM dari Inggris.  Saya bergabung dengan CIFOR telah melakukan 
kegiatan di Malinau hampir selama 10 tahun di Kabupaten Malinau
 sejak Malinau sebagai kota Kawedanan.
   
  Inisiatif Kabupate Konservasi dibangun berdasarkan kearifan suku Dayak Kenyah 
didalam mengelola hutan, sehingga sampai saat ini Kabupaten Malinau merupakan 
Kabupaten yang masih memiliki hutan dengan kondisi paling bagus dan luas yang 
masih tersisa di bioregion Borneo.  Didalam biografinya, Pak Marthin Billa 
telah menyampaikan secara panjang lebar mengenai bagaimana membangun Malinau 
dan Bagaimana menghormati alam sebagai warisan leluhur Daya' Kenyah.
   
  Faktor utama yang menjadi kendala bagi pembangunan di Kabupaten Malinau 
adalah faktor alam, dimana fisografi wilayah Kabupaten Malinau bergelombang 
sampai bergunung dengan kondisi tutupan hutan yang masih sangat luas dan rapat. 
 Berdasarkan RTRWK hampir 90,2 % kawasan hutan di Kabupaten Malinau merupakan 
kawasan berhutan dan 50 % dari kawasan hutan tersebut merupakan hutan lindung 
dan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.  Kabupaten Malinau merupakan daerah 
perhuluan sungai-sungai besar yang mengalir diwilayah propinsi Kaltim seperti 
S. Mahakam, S. Sesayap, sehingga secara ekologi Kabupaten Malinau merupakan 
water catchment area bagi kabupaten yang berada didaerah hilirnya.
   
  Terhadap pembangunan jalan yang menghubungkan ibu kota Kabupaten dengan 
Kecamatan Kayan Selatan memang sampai dengan saat ini masih menjadi perhatian 
pemkab. Malinau.  Hal ini dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat yang 
meginginkan adanya kesamaan dan pemerataan pembangunan.  Namun demikian banyak 
hal yang harus diperhatikan tentunya terkait dengan kondisi landscape dan 
fungsi kawasan hutan yang akan dibuka untuk perencanaan pembangunan jalan 
tersebut.  Hal ini tentunya memerlukan koordinasi antar Departemen.   Menurut 
saya, diperlukan satu perencanaan yang terpadu dan diperlukan studi yang 
komprehensif seperti Studi Kelayakan, Studi Lingkungan, sampai dengan Studi 
Ekonominya.  Sarana transportasi jalan akan memberikan manfaat apabila 1).ada 
lalu lintas ekonomi dalam arti menghubungkan antara daerah produsen dan 
konsumen, sehingga dengan adanya jalan akan meningkatkan aksesibilitas 
perekonomian, 2). jarak yang dihubungkan, apakah dengan jarak tersebut masih
 memungkinkan dilayani oleh trayek (setahu saya harus diperlukan kendaraan 
dengan spesifikasi tertentu untuk bisa sampai diwilayah Kecamatan Malinau 
selatan, yang sudah terbuka dengan memanfaatkan jalan logging, jarak tempuh 
dari Malinau ke Loreh ibu kota Kec. Malinau Selatan kurang lebih 60 km, harus 
memerlukan waktu 3 - 4 jam). 3. jumlah masyarakat yang dilayani, hal ini 
terkait dengan biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang akan diberikan oleh 
jalan tersebut.  Selain itu perlu dikaji secara ekonomi, kapan break event 
point dapat tercapai.
   
  Informasih mengenai Malinau sudah cukup banyak, bapak-bapak bisa searching di 
gogle dengan mengentik Malinau, maka banyak informasi yang bisa diperoleh atau 
click www.cifor.org, beberapa hasil penelitian CIFOR dapat diperoleh dalam web 
tersebut.
   
  Sejak resmi menjadi daerah Kabupaten Otonom, berdasarkan UU No. 47 tahun 1999 
pembangunan di Kabupaten Malinau memang masih belum merata namun demikian 
beberapa pembangunan yang terkait dengan kebutuhan dasar seperti sekolah, 
kesehatan dan fasilitas pelayanan publik menjadi prioritas dan hampir semua 
Kecamatan sudah mempunyai fasilitas pelayanan, kecuali beberapa Kecamatan 
pemekaran baru.  Pemkab. Malinau juga mempunyai program pembangunan yang 
dinamakan Gerakan Pembangunan Desa Mandiri atau GERBANG DEMA, dimana sampai 
saat ini sudah masuk dalam GERBANG DEMA jilid 2.  
   
   
   
   
  Salam 
  Kresno
   
  

ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Pak Rofiq ysh,
  Saya kira hanya semata karena kecintaan terhadap bangsa inilah yang mampu 
menggerakkan langkah bapak hingga memasuki pedalaman hutan Kalimantan. 
Sekiranya bapak berkenan, boleh juga ditunjukkan perjalanan itu melalui 
Wikimapia, sehingga dapat diketahui koordinat lokasi dll. Bila telah asyik 
bermain peta, boleh dibaca Taufiq Ismail melalui Risman Maris.
  Saya kira cukup banyak rekan yang memiliki pengalaman di wilayah ini, seperti 
tahun lalu katanya Pak Kresno melakukan pembinaan di Malinau dsk. Pak If dan 
Pak Bin tentunya sudah memahami karakteristik wilayah perbatasan Kasaba ini, 
dst.
  Suku Dayak sendirinya katanya masuk dalam rumpun Proto Melayu ya Pak RYZ dan 
Arief? Sehingga kehadirannya di bumi Nusantara ini lebih tua beberapa ribu 
tahun sebelum bangsa Melayu, Jawa, dll. Saya kira perhitungannya dari 
antropologi fisik, seperti katakanlah berasal dari Yunan Cina, namun migrasi 
sebelum datangnya agama Budha. Wajar bila wanitanya putih cantik seperti di 
mal-mal, namun kalau anting-antingnya segede donat mah serem juga.
  Perhatian bapak mengenai `jalan ke perbatasan' saya kira mirip dengan 
kegusaran Pak Harya tentang analogi pisau. Sementara demikian dulu pak. Salam.
  -ekadj

--- In [email protected], Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Eka, pak Wawo, pak Aby dan teman-teman yang lain,
> Saya baru pulang dari perjalanan ke pedalaman kalimantan, tepatnya ke Long 
> Ampung, kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau. Ini merupakan perjalanan 
> yang luar biasa, karena saya bertemu dengan komunitas yang bermukim di hulu 
> sungai Kayan. Long Ampung adalah dua desa terdepan dari perbatasan Indonesia 
> dan Serawak, tetapi jarak keperbatasan masih jauh sekitar 40 km. Untuk menuju 
> ke lokasi hanya dapat ditempuh dengan udara dan air dari kota terdekat 
> Malinau, dengan pesawat Cessna, sekitar 1,5 jam sedang dengan perahu 
> (ketinting) sekitar satu-dua minggu tergantung kondisi air. Pak Eka pemukiman 
> orang dayak yang ada di Kayan ini sangat berbeda dengan suku-suku pedalaman 
> yang lain, mereka mempunyai budaya yang tinggi mirip dengan suku baduy di 
> Banten. Pertanian cukup maju, bangunan rumah sudah sangat bagus (meskipun 
> terbuat dari bahan lokal tapi cukup sehat dan mempunyai lumbung padi seperti 
> di Baduy), mereka membuat sendiri kain, topi maupun mandau
> (senjatanya). Saya terkesan karena desa yang ada sangat terpencil (susah 
> diakses) dihuni oleh kurang lebih 2000 jiwa. Mereka merupakan komunitas yang 
> terkesan sepintas cukup sejahtera karena mempunyai rumah yang bagus, lumbung 
> padi yang banyak, peternakan, perahu dan ladang yang ditanami berbagai macam 
> tanaman buah dan sayur. Yang membedakan dengan mereka yang tinggal di jawa 
> hanya karena tidak ada listrik maupun telepon. Dan yang paling menyenangkan 
> bertemu dengan gadis-gadis dayak yang cantik-cantik, mereka tidak terlihat 
> seperti orang desa, tapi seperti para remaja jakarta yang ada di mal-mal.
> 
> Pak wawo, saya sempat berdiskusi dengan pak Bupati tentang asal usul suku 
> dayak yang ada di Kayan ini, beliau menulis buku tentang suku dayak kenyah. 
> Karena saya pernah berkunjung ke suku minoritas di pedalaman Guangzhi, China, 
> ternyata mirip dengan suku dayak ini, baik pakaian, topi, alat pertanian 
> maupun rumahnya, maka saya yakin bahwa mereka berasal dari suku yang sama. 
> Tetapi kenapa mereka bisa terdampar di tengah-tengah hutan kalimantan? banyak 
> cerita mengenai ini. Namun saya tidak akan berdiskusi mengenai asal-usul suku 
> dayak ini, tetapi timbul kebimbangan jika kita ingin "membangun" desa di 
> pedalaman seperti Long Ampung. Apakah kita tidak akan mengusik kebahagiaan 
> mereka jika kita perkenalkan produk-produk modern, seperti listrik, mobil, 
> TV, radio, sepeda motor dll. Saya sebetulnya sangat menikmati pemandangan 
> masa lampau yang sejahtera seperti Long Ampung ini, pemandangannya begitu 
> indah, masyarakatnya sungguh luar biasa ramahnya. Apakah mereka
> akan sebahagia ini seandainya jalan ke perbatasan kita bangun dengan membuka 
> keterisolasiannya
> 
> Salam
> Aunur Rofiq
  

                           

       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

Kirim email ke