Pak Kresno `putera Malinau' ysh, Saya kira usaha yang sudah anda lakukan 10 tahun terakhir ini sudah menunjukkan hasil yang layak untuk diketengahkan. Upaya pelestarian hutan sambil mendayagunakan ekonomi masyarakat kiranya perlu menjadi contoh yang dapat dikembangkan di berbagai tempat, terutama bentuk-bentuknya dan cara-caranya. Apalagi kemitraan positif antara NGO dan Pemda, sering kita kekurangan informasi.
Saya justru tertarik ketika anda mencoba memberikan `kriteria pembangunan infrastruktur' yaitu : Sarana transportasi jalan akan memberikan manfaat apabila : 1).ada lalu lintas ekonomi dalam arti menghubungkan antara daerah produsen dan konsumen, sehingga dengan adanya jalan akan meningkatkan aksesibilitas perekonomian, Komentar saya: suatu prinsip yang bagus, sehingga `harus sangat jelas' apa yang disebut dengan `daerah produsen' dan apa yang disebut dengan `daerah konsumen'. Sehingga perlu pendefinisian ruang secara kasuistis. Infrastruktur bersifat menstimulasi. 2). jarak yang dihubungkan, apakah dengan jarak tersebut masih memungkinkan dilayani oleh trayek (setahu saya harus diperlukan kendaraan dengan spesifikasi tertentu untuk bisa sampai diwilayah Kecamatan Malinau selatan, yang sudah terbuka dengan memanfaatkan jalan logging, jarak tempuh dari Malinau ke Loreh ibu kota Kec. Malinau Selatan kurang lebih 60 km, harus memerlukan waktu 3 - 4 jam). Komentar saya: bila mengandalkan transportasi darat, memang harus memperhitungkan jarak dan kualitas jalan, serta anda sebutkan juga: jenis moda. Jadi pilihan-pilihan ini harus diperhitungkan terlebih dahulu dalam perencanaan sistem transportasi. 3. jumlah masyarakat yang dilayani, hal ini terkait dengan biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang akan diberikan oleh jalan tersebut. Selain itu perlu dikaji secara ekonomi, kapan break event point dapat tercapai. Komentar saya: kalau memperhitungkan biaya ekonomi, tentunya sulit diterapkan dalam penyediaan public goods. Tugas Pemerintah adalah memberikan pelayanan yang sama di seluruh tempat as is. Terkadang juga memperhatikan aspek strategis tertentu. Sebagai contoh, kawasan perbatasan negara merupakan kawasan yang dikategorikan sebagai kawasan strategis nasional, yang dimaksudkan sebagai `dominan'nya peran Pemerintah Pusat dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan tersebut. Pengertian `dominan' bisa berarti 100%, 50%, 25%, atau 10%, hal mana yang saat ini sedang digodok oleh Pak Deni cs. Penentuan garis batas negara menggunakan prinsip Thalweg dan Watershed, yaitu contoh bila bertemu pada dataran tinggi dilihat jatuhnya air hujan pada dua lereng berbeda; atau bila bertemu dataran rendah adalah pada garis terdalam (jurang). Pada jarak lebar tertentu dari turunnya aliran air, maka area itu disebut `no man's land', dan kedua negara tidak berhak melakukan aktivitas apapun di area tersebut. Bila membaca penuturan Pak Rofiq, bisa jadi garis no man's land itu mencapai 40 km. Saya mendengar bila Malaysia tidak mematuhi kaidah ini, sehingga mereka mendesak pembangunan jaringan jalan hingga 2 km dari perbatasan. Bila Pusat akan berperan, memang sebaiknya berada dalam daerah yang didefinisikan sebagai kawasan strategis nasional (KSN), yaitu mulai dari titik patok perbatasan hingga tepi no man's land. Dapat didefinisikan dengan menggunakan peta topografi. Mungkin ini suatu koreksi bila selama ini menggunakan `pola ribbon'. Untuk Pak Rofiq, bila selama ini perencanaan pembangunan menganut teori demand, mungkin untuk kasus Malinau ini bisa menggunakan teori supply. Contoh, bila memang ada supply gadis-gadis mal di tempat tersebut, kan seharusnya infrastruktur yang dapat dibangun adalah mal? Mohon maaf, yang terakhir ini canda saja pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Kresno Santosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Rofiq, Pak Eka dj dan teman-teman milister yang terhormat > > > Bicara mengenai Kabupaten Malinau bagi saya tidak akan ada habisnya, satu Kabupaten di utara Kalimantan Timur tersebut telah menjadi rumah kedua saya. Ada keterikatan batin antara saya dengan Malinau orang tua angkat saya adalah seorang Dayak Kenyah yang tinggal di Desa Setulang, dipinggir Sungai Malinau dan saya banyak punya saudara disana. Saya juga telah berjuang bersama dengan Pak Marthin Billa didalam membangun Kabupaten Malinau sebagai Kabupaten Konservasi, sehingga nama Malinau tidak hanya terkenal didalam negeri tapi juga sampai keluar negeri. Banyak prestasi yang membanggakan dan prestisius seperti penghargaan Kalpataru yang diterima oleh masyarakat desa Setulang pada tahun 2003 dan Kalpataru yang diterima Bupati Malinau pada tahun 2007. Saat ini Kabupaten Malinau sudah memasuki Voluntary Carbon Market bekerjasama dengan salah satu LSM dari Inggris. Saya bergabung dengan CIFOR telah melakukan kegiatan di Malinau hampir selama 10 tahun di Kabupaten Malinau > sejak Malinau sebagai kota Kawedanan. > > Inisiatif Kabupate Konservasi dibangun berdasarkan kearifan suku Dayak Kenyah didalam mengelola hutan, sehingga sampai saat ini Kabupaten Malinau merupakan Kabupaten yang masih memiliki hutan dengan kondisi paling bagus dan luas yang masih tersisa di bioregion Borneo. Didalam biografinya, Pak Marthin Billa telah menyampaikan secara panjang lebar mengenai bagaimana membangun Malinau dan Bagaimana menghormati alam sebagai warisan leluhur Daya' Kenyah. > > Faktor utama yang menjadi kendala bagi pembangunan di Kabupaten Malinau adalah faktor alam, dimana fisografi wilayah Kabupaten Malinau bergelombang sampai bergunung dengan kondisi tutupan hutan yang masih sangat luas dan rapat. Berdasarkan RTRWK hampir 90,2 % kawasan hutan di Kabupaten Malinau merupakan kawasan berhutan dan 50 % dari kawasan hutan tersebut merupakan hutan lindung dan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Kabupaten Malinau merupakan daerah perhuluan sungai-sungai besar yang mengalir diwilayah propinsi Kaltim seperti S. Mahakam, S. Sesayap, sehingga secara ekologi Kabupaten Malinau merupakan water catchment area bagi kabupaten yang berada didaerah hilirnya. > > Terhadap pembangunan jalan yang menghubungkan ibu kota Kabupaten dengan Kecamatan Kayan Selatan memang sampai dengan saat ini masih menjadi perhatian pemkab. Malinau. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat yang meginginkan adanya kesamaan dan pemerataan pembangunan. Namun demikian banyak hal yang harus diperhatikan tentunya terkait dengan kondisi landscape dan fungsi kawasan hutan yang akan dibuka untuk perencanaan pembangunan jalan tersebut. Hal ini tentunya memerlukan koordinasi antar Departemen. Menurut saya, diperlukan satu perencanaan yang terpadu dan diperlukan studi yang komprehensif seperti Studi Kelayakan, Studi Lingkungan, sampai dengan Studi Ekonominya. Sarana transportasi jalan akan memberikan manfaat apabila 1).ada lalu lintas ekonomi dalam arti menghubungkan antara daerah produsen dan konsumen, sehingga dengan adanya jalan akan meningkatkan aksesibilitas perekonomian, 2). jarak yang dihubungkan, apakah dengan jarak tersebut masih > memungkinkan dilayani oleh trayek (setahu saya harus diperlukan kendaraan dengan spesifikasi tertentu untuk bisa sampai diwilayah Kecamatan Malinau selatan, yang sudah terbuka dengan memanfaatkan jalan logging, jarak tempuh dari Malinau ke Loreh ibu kota Kec. Malinau Selatan kurang lebih 60 km, harus memerlukan waktu 3 - 4 jam). 3. jumlah masyarakat yang dilayani, hal ini terkait dengan biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang akan diberikan oleh jalan tersebut. Selain itu perlu dikaji secara ekonomi, kapan break event point dapat tercapai. > > Informasih mengenai Malinau sudah cukup banyak, bapak-bapak bisa searching di gogle dengan mengentik Malinau, maka banyak informasi yang bisa diperoleh atau click www.cifor.org, beberapa hasil penelitian CIFOR dapat diperoleh dalam web tersebut. > > Sejak resmi menjadi daerah Kabupaten Otonom, berdasarkan UU No. 47 tahun 1999 pembangunan di Kabupaten Malinau memang masih belum merata namun demikian beberapa pembangunan yang terkait dengan kebutuhan dasar seperti sekolah, kesehatan dan fasilitas pelayanan publik menjadi prioritas dan hampir semua Kecamatan sudah mempunyai fasilitas pelayanan, kecuali beberapa Kecamatan pemekaran baru. Pemkab. Malinau juga mempunyai program pembangunan yang dinamakan Gerakan Pembangunan Desa Mandiri atau GERBANG DEMA, dimana sampai saat ini sudah masuk dalam GERBANG DEMA jilid 2. > > > > > Salam > Kresno > > > > ekadj08 [EMAIL PROTECTED] wrote: > Pak Rofiq ysh, > Saya kira hanya semata karena kecintaan terhadap bangsa inilah yang mampu menggerakkan langkah bapak hingga memasuki pedalaman hutan Kalimantan. Sekiranya bapak berkenan, boleh juga ditunjukkan perjalanan itu melalui Wikimapia, sehingga dapat diketahui koordinat lokasi dll. Bila telah asyik bermain peta, boleh dibaca Taufiq Ismail melalui Risman Maris. > Saya kira cukup banyak rekan yang memiliki pengalaman di wilayah ini, seperti tahun lalu katanya Pak Kresno melakukan pembinaan di Malinau dsk. Pak If dan Pak Bin tentunya sudah memahami karakteristik wilayah perbatasan Kasaba ini, dst. > Suku Dayak sendirinya katanya masuk dalam rumpun Proto Melayu ya Pak RYZ dan Arief? Sehingga kehadirannya di bumi Nusantara ini lebih tua beberapa ribu tahun sebelum bangsa Melayu, Jawa, dll. Saya kira perhitungannya dari antropologi fisik, seperti katakanlah berasal dari Yunan Cina, namun migrasi sebelum datangnya agama Budha. Wajar bila wanitanya putih cantik seperti di mal-mal, namun kalau anting-antingnya segede donat mah serem juga. > Perhatian bapak mengenai `jalan ke perbatasan' saya kira mirip dengan kegusaran Pak Harya tentang analogi pisau. Sementara demikian dulu pak. Salam. > -ekadj > > --- In [email protected], Aunur rofiq aunurrofiqhadi@ wrote: > > > > Pak Eka, pak Wawo, pak Aby dan teman-teman yang lain, > > Saya baru pulang dari perjalanan ke pedalaman kalimantan, tepatnya ke Long Ampung, kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau. Ini merupakan perjalanan yang luar biasa, karena saya bertemu dengan komunitas yang bermukim di hulu sungai Kayan. Long Ampung adalah dua desa terdepan dari perbatasan Indonesia dan Serawak, tetapi jarak keperbatasan masih jauh sekitar 40 km. Untuk menuju ke lokasi hanya dapat ditempuh dengan udara dan air dari kota terdekat Malinau, dengan pesawat Cessna, sekitar 1,5 jam sedang dengan perahu (ketinting) sekitar satu-dua minggu tergantung kondisi air. Pak Eka pemukiman orang dayak yang ada di Kayan ini sangat berbeda dengan suku-suku pedalaman yang lain, mereka mempunyai budaya yang tinggi mirip dengan suku baduy di Banten. Pertanian cukup maju, bangunan rumah sudah sangat bagus (meskipun terbuat dari bahan lokal tapi cukup sehat dan mempunyai lumbung padi seperti di Baduy), mereka membuat sendiri kain, topi maupun mandau > > (senjatanya). Saya terkesan karena desa yang ada sangat terpencil (susah diakses) dihuni oleh kurang lebih 2000 jiwa. Mereka merupakan komunitas yang terkesan sepintas cukup sejahtera karena mempunyai rumah yang bagus, lumbung padi yang banyak, peternakan, perahu dan ladang yang ditanami berbagai macam tanaman buah dan sayur. Yang membedakan dengan mereka yang tinggal di jawa hanya karena tidak ada listrik maupun telepon. Dan yang paling menyenangkan bertemu dengan gadis-gadis dayak yang cantik-cantik, mereka tidak terlihat seperti orang desa, tapi seperti para remaja jakarta yang ada di mal-mal. > > > > Pak wawo, saya sempat berdiskusi dengan pak Bupati tentang asal usul suku dayak yang ada di Kayan ini, beliau menulis buku tentang suku dayak kenyah. Karena saya pernah berkunjung ke suku minoritas di pedalaman Guangzhi, China, ternyata mirip dengan suku dayak ini, baik pakaian, topi, alat pertanian maupun rumahnya, maka saya yakin bahwa mereka berasal dari suku yang sama. Tetapi kenapa mereka bisa terdampar di tengah-tengah hutan kalimantan? banyak cerita mengenai ini. Namun saya tidak akan berdiskusi mengenai asal-usul suku dayak ini, tetapi timbul kebimbangan jika kita ingin "membangun" desa di pedalaman seperti Long Ampung. Apakah kita tidak akan mengusik kebahagiaan mereka jika kita perkenalkan produk-produk modern, seperti listrik, mobil, TV, radio, sepeda motor dll. Saya sebetulnya sangat menikmati pemandangan masa lampau yang sejahtera seperti Long Ampung ini, pemandangannya begitu indah, masyarakatnya sungguh luar biasa ramahnya. Apakah mereka > > akan sebahagia ini seandainya jalan ke perbatasan kita bangun dengan membuka keterisolasiannya > > > > Salam > > Aunur Rofiq

