Ysh. milister semuanya. Membangun ekonomi daerah bisa dilakukan dengan banyak cara. Ini cerita kecil dari Kabupaten Bima di Pulau Sumbawa. Kabupaten Bima adalah kabupaten biasa seperti kabupaten lainnya. Tidak punya kekayaan alam yang signifikan seperti di Kutai atau di Timika misalnya. Sebagai kabupaten biasa, APBD yang dimiliki ya sedeng-sedeng saja, ... tidak berlebih (tahun 2006 sekitar Rp 400-an milyar). Sisa anggaran setiap tahun tak lebih dar 10% dari total APBD (akhir tahun 2006 hanya 4% atau sekitar Rp 16 milyar). Artinya pas-pasan saja. Adapun sisa di bawah 10% itu sisa anggaran akibat sisa tender, yaitu sisa akibat penawaran dari plafon anggaran oleh pihak kedua (kontraktor, konsultan, supplier, dsb) yang biasanya sekitar 10-15% dari plafon. Sisa anggaran ini selanjutnya dicatatkan sebagai "Penerimaan Pembiayaan". Penerimaan Pembiayaan adalah penerimaan kas yang boleh dikeluarkan untuk hal-hal yang memberi pemasukan, misalnya : memberi pinjaman, modal investasi, membeli obligasi, dan sebagainya. Ceritanya berawal sekitar 2 tahun yang lalu, yaitu soal frekuensi penerbangan ke Bima oleh Maskapai Merpati Nusantara yang hanya 3 kali seminggu. Oleh Pemda Bima, frekuensi penerbangan itu sangat kurang, dan ini akan mempengaruhi lambatnya ekonomi daerah Bima. Paling tidak Merpati bisa terbang setiap hari sehingga akses Jawa - Sumbawa meningkat dan akan mendorong ekonomi Bima dan Sumbawa pada umumnya. Demikian pola pikir Pemda Bima. Dari sisi Merpati, frekuensi itu tidak bisa ditambah karena "load factor" (jumlah kursi yang terpakai) tidak memenuhi target untuk penerbangan setiap hari (mungkin masih di bawah 70%). Tetapi menurut Pemda Bima, potensi penumpang itu sangat besar karena masyarakat Sumbawa suka merantau (seperti Orang Minang) dan banyak yang sukses. Mereka diyakini akan suka "mudik" dan mungkin mau investasi di tanah kelahirannya. Bila benar demikian, maka akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Bima (Sumbawa pada umumnya). Kemudian kreatifitas muncul. Pemda Bima menawarkan untuk membeli "seat", atau men-sekuritisasi "seat" pada harga tertentu sampai tercapai "load factor" sehingga memungkinkan Merpati bisa terbang setiap hari. Uang yang ditanamkan untuk mensekuritisasi itu sebesar Rp 7 milyar untuk 20 bulan. Selanjutnya Merpati akan menjual seat yang dimiliki Pemda Bima, dan hasilnya dibagi bersama. Dua tahun telah lewat dan Merpati terbang setiap hari. Ternyata "load factor" melebihi dari yang diperkirakan, alias selalu penuh. Merpati untung, pemda Bima juga untung, bandara juga ramai dan bergairah. Tidak hanya untung memperoleh profit dari penjualan seat, tetapi lebih dari itu, penerbangan setiap hari dipastikan akan mendorong perekonomian daerah. Sekarang penerbangan ke Bima tidak hanya Merpati, tetapi juga Batavia, dan saya dengar juga Sriwijaya. Jadi sekarang penerbangan itu 3 kali setiap hari. Ini semua karena kreatifitas tadi (ini menyangkut kepemimpinan tentunya). Baru-baru ini Pemda memperpanjang kontrak dengan Merpati dengan menanamkan Rp 20 milyar untuk waktu 24 bulan. Uang atau dana sebesar Rp 7 milyar yang ditanamkan 2 tahun yang lalu dan sudah kembali modal plus untung itu, juga Rp 24 milyar yang ditanamkan baru-baru ini, adalah dana hasil dari "Penerimaan Pembiayaan" dari sisa-sia tahun anggaran yang memang diperbolehkan untuk investasi yang memberi untung dan manfaat sebagaimana saya jelaskan pada alinea di atas. Pemda Bima telah memanfaatkan dan berhasil. Barangkali ini contoh kecil saja bagi daerah yang berupaya meningkatkan ekonomi dan sekaligus meningkatkan APBD tanpa harus membebankan kepada masyarakat, misalnya dengan membuat perda-perda pajak daerah. Ini Pemda Bima mendapat tambahan PAD dari keuntungan, meningkatkan akses yang akan mendorong ekonomi daerah, dan masyarakat senang tanpa beban pajak dan malah memberi peluang kerja. Ini salah satu contoh keberhasilan otonomi daerah. Asyik khan? Thanks. CU. BTS.

