Wah.... dimilis referensi  kalau ingin memancing Gus Sholah agar berkenan 
keluar dari ruang padepokan dan  turun kehalaman... kalo pakai isu keruangan 
rada seret ... dan ternyata bisa mudah juga kalau caranya  lewat topik ironi 
pendidikan  ya?......hehe... 
  Beliau langsung ‘terbakar’ dan berkenan sedikit ‘nge-rap’...hehe.... 
  Kalo inget bahwa Gus Sholah hobinya memetik gitar dan bernyanyi juga .... 
entahlah .... kapan waktu memancing beliau dengan bahan ‘wacana musik” seperti 
tentang "perkembangan aliran musik jazz' gitu  bisa manjur juga nggak 
ya?....hehe..
   
  Yah.. banyak ironi kehidupan dan  banyak ironi pembangunan kita yang 
dilematis....... banyak diantaranya langsung atau tak  langsung berkait dengan 
faktor kependudukan.......  tetapi isu kependudukan itu sendiri sering atau 
hampir selalu  tak pernah diletakkan didepan..........
   
  Anggaran Pendidikan misalnya... yang telah diundangkan sebagai  dijatah 20% 
dari APBN misalnya ..... bukannya pemerintah tak konsekwen .... tetapi nyatanya 
dari serba multi keterbatasan kita yang ultra kompleks.... siapapun yang 
menjalankan roda pemerintahan .. dengan tingkat kenegarawanannya  setinggi 
apapun juga .... . tentu akan masygul juga  dengan dilema anggaran APBN untuk 
pendidikan itu..... maupun juga dengan dilema  keterbatasan anggaran sektoral 
vital lainnya ......... 
   
  Sudah sebagiannya bangsa ini ber”KB” .... tetapi  dengan laju pertumbuhan 
penduduk sebanyak 1.3%  per tahun .....Penduduk kita  setiap tahun bertambah 
dengan 3 sampai 4 juta jiwa ....... itu artinya.... tanpa bicara “kwalitas 
pendidikan”  sekalipun.........  tetapi jelas bahwa  kwantitas ruang sekolah 
harus terus ditambah .... SDM pendidikpun  harus ditambah pula.....buskota dan 
konsumsi BBM  perlu ditambah.... areal tanaman pangan perlu diperluas....... 
dsb.....
   
  Itu kita belum bicara sektor strategis  lainnya ..... 
   
  Jadi disektor pendidikan saja ...... sepintas kerlingan mata saja sudah 
nampak bahwa  selain kita terus terhuyung-huyung dengan carry over beban 
pembangunan  pendidikan  yl yang tak  pernah tercover.... seperti untuk aspek  
”peningkatan mutu pendidikan”..... termasuk diantaranya “program rehabilitasi 
sekolah-sekolah ambruk” .... kitapun tiap  tahun berikutnya sudah  dihadang 
lagi dengan  masalah rutin “dampak dari pertambahan penduduk”.......
   
  Jepang sebagai negara Asia  yang kemakmurannya kini luar biasa.... yang kini 
penduduknya sekitar 120 juta ..... dan ditahun 1950-an sekitar 80-an juta .... 
pada tahun 2100 kelak mereka akan menurunkannya menjadi 65 juta jiwa saja..... 
dan tahun 2007 untuk pertamakalinya jumlah penduduknya mulai menyusut..........
   
  Jadi maka memang “kapan” mutu pendidikan kita akan pernah membaik ........ 
kalau bahkan masalah “KB” sajapun  tak pernah kunjung beres?........
  Apalagi diera “penegakan HAM” inipun BKKBN sedang bimbang ..... Mereka ragu 
apakah semboyan terakhir “Dua anak cukup.... Lelaki perempuan sama saja” itu 
“masih melanggar HAM” juga nggak ya katanya? .... dan BKKBN sedang terpikir 
apakah akan  “lebih melunakkannya lagi” atau nggak.....  
Wah..wah..wah...........
   
  Salam,
  aby


salahuddin wahid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:            Menurut UUD pasal 28, 
jelas pendidikan adalah hak rakyat dan Pemerintah adalah pihak yang punya 
kewajiban menghormati dan melindungi hak tersebut. Celakanya, kewajiban itu 
tidak ditopang dengan kemampuan, baik dari segi dana maupun birokrasi 
pelaksana. Sejak dua tahun lalu saya mendapat tugas untuk mengasuh Pesantren 
Tebuireng. Baru saya tahu betapa mengenaskan kondisi dunia pendidikan 
Indonesia, terlebih lagi yang dikelola oleh lembaga pendidikan swasta di 
daerah. Memang ada lembaga pendidikan yang bermutu dengan biaya mahal. Itu 
perlu ada karena ada pkonsumen yang membutuhkan dan mampu membayar. Tetapi 
sebagian besar pendidikan swasta tidak bermutu, apalagi lembaga pendidikan 
keagamaan Islam. 
  Pendidikan yang baik membutuhkan guru yang bermutu. Tetapi faktanya mutu guru 
kita payah. Tidak ada upaya memadai untuk meningkatkan mutu bguru terutama guru 
swasta.  Mutu pendidikan tidak merata. Saat ditangkap polisi karena membantu 
murid menjawab soal UAN, sejumlah guru di desa di Sumatera Utara menjawab bahwa 
tidak adil membuat soal ujian nasional yang sama  untuk murid di Jakarta  dan 
di desanya. Mengapa dana untuk UAN dipakai untuk pelatihan meningkatkan mutu 
guru selama beberapa tahun (5 sampai 6 tahun). Setelah mutunya merata, baru 
dilakukan UAN secara nasional.
  Kesejahteraan guru swasta tidak baik, Pemerintah juga harus membantu 
mengatasi masalah itu. Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), lebih dari 90% 
adalah milik swasta. Sedangkan SD, > 90% adalah milik Pemerintah. Madrasah 
Tsanawiyah (setingkat SMP), > 80 adalah milik swasta. SMP, > 80 milik 
Pemerintah. Sekolah swasta yang ada di desa-desa itu tentu mutunya tidak baik 
karrena gurunya tidak sejahtera. Walhasil banyak sekali masalah yang kita 
hadapi dalam dunia pendidikan. Masalahnya pelik, rumit dan bersifat mendesak. 
Kalau tidak kita perbaiki sekarang, entah bagaimana jadinya dengan masa depan 
Indonesia.
  Menurut saya, aset yang sebenarnya dari bangsa adalah manusianya. Kalau SDA 
kita habis beberapa puluh btahun lagi, sedangkan SDM kita tidak unggul, 
bagaimana kita bisa bersaing dengan bangsa lain. Jadi bangsa saya pendidikan 
adalah prioritas pertama bangsa kita. Prioritas kedua : pendidikan dan 
prioritas ketiga : pendidikan.
  Artinya, anggaran yang harus disediakan tidak cukup hanya 20%, mungkin 1/3 
APBN harus dialokasikan untuk pendidikan. Selain penyediaan dana, penggunaan 
anggaran juga harus diperbaiki supaya penggunaannya efektif dan efisien. 
Efektif artinya membuat kebijakan secara benar. Efisien artinya menghilangkan 
kebocoran. Seorang anak muda aktivis LSM yang kebetulan pernah ikut sebuah 
proyek di Depdiknas, mengatakan bahwa korupsi di Depdiknas luar biasa parahnya 
dan belum tersentuh.
  Itulah sedikit urun rembug dari seorang yang bukan ahli pendidikan tetapi 
terpaksa mengurusi pesantren. Semoga ada manfaatnya.      
   
  

Betti Alisjahbana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      Rekan-rekan,   Topik Forum Debat kali ini mengangkat tema : Pendidikan 
Murah, Kewajiban Pemerintah dan Hak Rakyat ?
  

  Hadir sebagai pemapar pembuka adalah :
  

  Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah : Pemerintah 
mestinya bersikap bagai orang tua yang siap berkorban untuk memajukan 
pendidikan anak-anaknya, demi masa depan bangsa ini.
  Prof Dr. Gerardus Polla, Rektor Universitas Bina Nusantara : Swasta 
seharusnya bisa turut berperan membantu Pemerintah dalam menyediakan Pendidikan.
  

  Silahkan sampaikan opini dan argumen Anda di 
http://www.qbheadlines.com/debateroom1.php 
  

    Salam hangat penuh semangat

  

  Betti Alisjahbana
  http://QBheadlines.com/
  http://QBarchitects.com/
  


  



  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

                           

       

Kirim email ke