Pak Eka dan rekan-rekan semua yang tertarik masalah Kapet ysh,
 
Sambil menunggu kesiapan pak Eka untuk mengundang diskusi ‘copy darat’ mengenai 
pengembangan Kapet, izinkan saya untuk mencoba melacak asal-usul ‘idea’ dari 
kegiatan Kapet ini secara ‘sersan’.
 
Saya pernah baca hasil studi dari JICA diawal tahun 1980-an, kalau tidak salah 
judulnya ‘North & South Sumatera Regional Economic Development Strategy‘. Hasil 
studi tersebut, diantaranya mengusulkan adanya ‘Integrated Economic Development 
Zone’ (IEDZ) yang tujuannya untuk mengembangkan kegiatan ekonomi diwilayah 
studi. 
IEDZ dipilih lokasinya dengan beberapa kriteria, misalnya potensi kegiatan 
ekonomi utama yang menonjol dilokasi tersebut (maaf saya lupa apa saja 
kriterianya, silahkan cari kembali dibuku hasil studi tersebut).  Lokasi-lokasi 
IEDZ tersebut dapat dalam wilayah Propinsi, Kabupaten, atau Kota, yang saling 
terkait/berinteraksi satu dengan  yang lain, karena ada saling ketergantungan 
yang terintegrasi. 
Dari IEDZ tersebut diusulkan ‘indikasi program pembangunan jangka menengah dan 
panjang’ yang dapat mendorong perkembangan ekonomi (multiplayer effect) 
diwilayah tersebut.
 
Sepertinya ide IEDZ inilah yang dimodifikasi jadi Kapet. ‘Zone’ diterjemahkan 
menjadi ‘Kawasan’, tetapi ‘Integrated’ yang mengidikasikan 
keterkaitan/ketergantungan antar kegiatan ekonomi didalam dan antar lokasi 
‘Zone’ tidak atau kurang tercerminkan dalam Kapet.
Studi ekonomi regional semacam ini mungkin butuh pendekatan yang lebih 
comprehensive, tidak sekedar membangun infrastruktur secara fisik saja. Mungkin 
dapat diikuti dengan penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan dan studi 
Kelembagaannya. Kalau ada datanya, pendekatan dengan metoda ‘input-otput 
analysis’ mungkin dapat dimainkan disini.  
 
Dikaitan dengan UU-PR 26/2007, mungkin istilah Kapet dapat saja identik/mirip 
(baca ‘similar’) dengan Kawasan Strategis (bisa Nasional / Propinsi / Kabupaten 
/ Kota), tetapi yang penting makna ‘keterpaduan’ agar lebih ditekankan kepada 
keterkaitan atau saling ketergantungan antar sector dan lokasi, jadi 
masing-masing Kapet tidak berdiri dan berjalan sendiri.
 
Nah, itulah hasil penelusuran ingatan saya dari ’jadul masa 80-an’, mohon maaf 
kalau ada yang lupa dan salah. Saya yakin masih ada rekan-rekan yang punya buku 
hasil studi JICA tersebut, harus kita akui orang Jepun memang pekerja keras 
yang perlu kita contoh semangatnya.
Wassalam,
Onnos


To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Tue, 3 Jun 2008 14:21:01 
+0000Subject: [referensi] Re: Diskusi Mezzogiorno dan Kapet (1)





Pak Onnos ysh,
Kembali saya merasakan bila diskusi mengenai Kapet ini cukup penting, dan mau 
nggak mau terpaksa dibawa serius. Mengingat salah satu ketentuan di dalam UUPR 
itu adalah adanya pengaturan mengenai `Kawasan Strategis 
Nasional/Provinsi/Kabupaten/Kota'. Sebenarnya terminologi KSN/P/K/K itu 
tidaklah dilahirkan/dipertukarkan dari terminologi `kawasan tertentu' yang dulu 
digunakan dalam UUPR92, tetapi melihat pada praktek pengelolaan kawasan yang 
telah berlangsung selama ini dan juga kebutuhan yang ada. Sehingga dualisme 
pengertian `kawasan fungsional' yang digunakan dalam UUPR92, telah diperbaiki 
di dalam UUPR07 ini. Dulu kita mengenal `2 macam' pengertian kawasan 
fungsional: 1 kawasan lindung-budidaya, dan 2 kawasan 
perkotaan-perdesaan-tertentu. Pada saat ini pengertian kawasan fungsional itu 
hanya `lindung-budidaya'; sedangkan berdasarkan `aspek pengelolaan (urusan)' 
adalah `kawasan strategis N/P/K/K'.
 
Di dalam praktek kita melihat ada kawasan yang semata diurus oleh 1 sektor 
(seperti pasar, pelabuhan, bandara, waduk, dll), ada multisektor (sep kawasan 
berikat, Kapet, dll), dan juga ada yang diurus oleh 
multi-national/international institutions (sep Borobudur, Asmat, Pulau Komodo, 
dll). Ada yang diurus langsung oleh Pemerintah Pusat (sep Batam, Senayan, 
Kemayoran, PTN, dll), juga oleh Pemprov (sep Pluit, Pantura Jakarta, dll), dan 
juga oleh Pemkab/kot (sep pasar, terminal, dll). Masing-masing dengan tingkat 
penanganan/kompetensi tertentu, ada yang 100%, 50%, 25%, dst. Masing-masing 
juga dengan sistem perencanaan (masterplan) tersendiri untuk pengembangannya.
 
Kajian mengenai Kapet adalah sangat penting, untuk memahami kurang-lebih sistem 
pengelolaan yang telah dilakukan; dan terus-terang berada dalam pengamatan yang 
sangat serius oleh Pak Dadang, Pak Sunu, Mr. Fransisco, dkk. Ada beberapa hal 
menarik seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bila `pengelolaan kawasan' 
ini telah mengalami proses transformasi sedemikian rupa, sehingga saat ini 
terdapat confuse dan meragukan secara liability. Sebagai contoh, salah seorang 
ketua Bapel merasa bila dia ditunjuk oleh Presiden untuk mengemban tanggung 
jawab itu; namun di lain pihak telah ada transformasi urusan dari Pemerintah 
Pusat kepada Pemerintah Provinsi; namun anggaran pengelolaan masih dibebankan 
oleh Pusat. Belum lagi bila urusan Kapet yang seharusnya multi-sektor, namun 
pada kenyataannya komitmen sektor ternyata tidak terwujud. Hal ini dapat 
dimaklumi, bila ibu saya saja lieur, apalagi orang-orang seperti saya ini?
 
Beberapa hal yang dapat saya sarankan sebagai seorang amatir di antaranya : 
perlu pendefinisian Kapet secara teritorial berdasarkan keunggulan kawasan 
(sekedar mengamini pendapat terdahulu). Dari cerita terdahulu, saya kesulitan 
ketika mendefinisikan wilayah kerja Kapet Mbay; apakah memang suatu lokasi di 
Kota Mbay, ataukah Kabupaten Ngada, ataukah meliputi seluruh Pulau Flores? 
Kemarin saya ke Flores menemukan kerancuan ini, sehingga saat ini Kapet 
ditanggapi secara apatis justru oleh Pemprov sendiri.
 
Berikutnya adalah benar yang disampaikan oleh Pak BTS tentang faktor lokasi, 
yang sejujurnya tidak menggambarkan suatu daerah yang prospek berkembang pada 
beberapa Kapet. Namun bila pilihan itu memang datang dari Pemprov sendiri, maka 
saya sampai pada saran berikut ini:
 
Kembali kepada paragraf awal, saya cenderung menyebutkan bila Kapet seharusnya 
menjadi Kawasan Strategis Provinsi, sehingga dapat menjadi urusan sepenuhnya 
oleh masing-masing Pemprov.
 
Mengenai kopi darat, sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku di komunitas kita 
selama ini, biasanya ada pinisepuh yang hadir, yang disebut Pak Aby sebagai 
Komandan dan Wadan Geng Motor. Kebetulan lusa komandan kita yang memiliki 
julukan `Sang Pendekar Pedang Sakti' akan datang ke Jakarta dan Bandung; namun 
sayang saya besok harus pergi lagi ke luar kota. Diharapkan ada di antara rekan 
yang bersedia mengorganisir pertemuan kopi darat. Dan mudah-mudahan dapat 
menjadi suri baru di komunitas ini. Salam.
 
-ekadj--- In [email protected], Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL 
PROTECTED]> wrote:>> Halo pak Eka ysh,> Sepertinya bicara 'planning' Bapak itu 
sudah jagonya lho, sebaiknya 'sersan' saja, biar kita tidak stressss...> Betul 
Bu Reny, kita perlu undang Bung Aswir (menterinya Kapet), beliau narasumber 
sekaligus 'dalang' he he ...> Banyak para 'teoritikus' yang mungkin bisa 
diundang juga, biar rame berdebat tetapi tetap dengan kepala dingin ya ..> 
Syukur ada yang punya pengalaman lapangan yang bisa menyampaikan 'best & bad 
practices' ngelola Kapet ..> Okey, semoga pak Eka ada waktu luang untuk 
mengundang kita-kita, anggap saja amal ibadah ya ... pasti ada hikmahnya.> 
Wassalam,> Onnos> > > To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Mon, 2 Jun 2008 
23:37:58 +0000Subject: [referensi] Re: Diskusi Mezzogiorno dan Kapet (1)> > > > 
> Pak Onnos ysh,Sebenarnya topik Kapet ini sangat menarik untuk dibahas, dan 
saya sangatbanyak bersesuaian dengan pendapat bapak. Namun kemampuan 
danpengetahuan saya sangat terbatas untuk persoalan yang sangat berat 
ini.Diharapkan pandangan banyak pakar dan senior yang bersentuhan 
langsungdengan Kapet di milis ini.Angka 171M itu kelihatannya hanya untuk 
anggaran pengelolaan kebijakan,baik di tingkat pusat hingga ke badan pengelola. 
Pada tahun 2003 sayapernah 'menghitung' dukungan pembangunan infrastruktur 
(ke-pu-an) hanyauntuk 1 Kapet saja dan 1 tahun saja, yaitu Kapet Mbay Flores, 
sebesar330M. Secara teori seharusnya Mbay hari ini sudah menjadi pusat 
ekonomibaru di Indonesia Timur-Selatan. Salam.-ekadj--- In 
[email protected], Sugiono Ronodihardjo [EMAIL PROTECTED]:>> Sepertinya 
'seminar online' tentang Kapet ini cukup menarik dan banyakpeminatnya, mungkin 
perlu segera 'dicopy daratkan' biar tidakngawang-ngawang atau sekedar jadi 
angan-angan belaka.> Ditunggu undangannya dari pak Eka untuk ngobrol santai 
sambil salingkenalan, jangan lupa musti ada yang bisa 'komat-kamit' baca doa, 
agarkita semua selamat dan sejahtera, amin.> Wassalam,> Onnos 
 






_________________________________________________________________
Easily publish your photos to your Spaces with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview

Kirim email ke