Halo pak Risfan ysh,
trims atas tanggapannya......sudah balik ke jkt?.........
Saya sih tidak paham tentang kebijakan pengkaplingan garis pantai ......
tetapi sebagaimana pengembangan sistem kota bahkan kota metropolitan
sekalipun..... saya kira pada prinsipnya pemerintah harus selalu wajib
mengkonservasikan ruang bagi sikecil dan atau simiskin ..... dan sekali-sekali
tak boleh swasta dengan segala cara semacam model Artalyta begitu lalu pihak
swasta dibiarkan mendikte para otoritas keruangan kita dan menjadikannya
silau..... lalu semua ruang-ruang strategis nasional kita itu baik
dimetropolitan, megapolitan atau dipantai-pantai yang indah negeri ini habis
dikuasai swasta............
Peran sikecil baik dalam perekonomian kota besar .....maupun dalam
pariwisata pantai yang indah ---tempat dimana para industrialis properti
menjadi sangat rakus ingin menguasai ruang strategis--- cukuplah besar.......
Anda tak mungkin dapat membayangkan kehidupan kota besar dan pariwisata
pantai tanpa kehadiran sikecil........Ruang atau kapling bagi sikecil adalah
wajib hukumnya ......terlebih simiskin masih mayoritas dinegeri ini.......
Tak boleh terjadi mayoritas sikecil selalu tersisih oleh sekelompok minoritas
developers penguasa ruang dengan hanya pola pikir komersialisme.......
Dikota sikecil hanya berada dikawasan kumuh atau tinggal jauh diluar kota
dan tiap hari harus berangkat kekota dengan duduk diatap kereta karena
kemiskinan .....atau nelayan dipantai yang indah sekali lagi mereka
tersisih... tinggal jauh dari pesisir dan hanya mendapat sedikit ruang sempit
digaris pantai sekedar tempat melintas dari rumah ketempat perahu
ditambat........lalu nelayan sekali lagi menjadi 'orang asing' dipesisir yang
indah yang dikuasai swasta rakus komersial ............ .
salam,
aby
Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan-rekan,
Menyambut seloroh pak Aby, saya kira perusahaan-perusahaan besar di negara
kita juga masih menggunakan prinsip primitif "buru, tangkap" alias eksploitasi
SDA tanpa upaya pengelolaan yang sustainable.
Masalah pengawalan perairan, dengan kapal yang jumlahnya terbatas, kecepatan
jelajahnya terbatas. Sehingga soalnya hanya kucing-kucingan dengan petugas.
Asal tahu bocoran frekuensi radionya, mereka mudah sekali mengelabui petugas.
Ibarat pedagang kaki lima yang dapat bocoran jadwal patroli satpol PP. Jadi
bukan soal modal, tapi soal niat baik yang tidak ada.
Mengenai nasib nelayan, seperti usaha mikro. Ya begitulah. Atau bahkan
seperti PKL, kalau garis pantai sudah diisi budi-daya usaha menengah
(aquaculture, rumput laut) kalau gak ati-ati bisa "terusir" mereka. Ini
memerlukan kepedulian, agar masing-masing tidak hanya mengurusi "program"
masing-masing.
Normatifnya tentu perlu perencanaan komprehensif, sinergis. Tapi kenyataannya
repot karena tiap rencana, program dari tiap pihak punya TOR dan schedule
masing-masing. Jadi yang praktis sajalah, yang penting "peduli" dan menghormati
daerah dan komunitas lokal, karena pada merekalah sebetulnya efetivitas tiap
program/kegiatan diuji.
Mengenai kekuatiran pencurian oleh tetangga, itu hanya membuktikan hukum
gravitasi. Ada medan magnet yang menarik, maka larilah ikan, kayu, buruh,
capital, intelektual, karya cipta, dst ke sana. Toh habis teriak maling
terbukti tidak ada action penyelamatan aset negeri. Kalau bicara konsep
center-periphery, tahulah kita yang mana pusat, yang mana hinterland
('terbelakang') nya.
Belakangan ini saya harus membaca beberapa buku bisnis & manajemen yang
ditulis ilmuwan Kawasan Asia Tenggara ini. Banyak dibahas strategi 'rejeki
nomplok' dengan membeli perusahaan-perusahaan di nusantara, terutama bidang
prasarana, bidang explotasi SDA, termasuk perikanan yang sedang kesulitan
cash-flow, lalu menjualnya lagi dengan harga berlipat.
Sementara pikiran kita tersita sengketa pilkada, konflik elit yang
memprovokasi massa, dan pembagian BLT yang selalu ricuh. Gitu saja kok
repot........
Salam,
Risfan M.
--- On Fri, 6/13/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [plbpm] Re: Tradisi? Re: Ikan Indonesia Masuk ke Rumpon Malaysia
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Friday, June 13, 2008, 9:52 PM
Pak Eka ysh,
Benar bahwa batas laut kita dengan Malaysia ada yang hanya 11.5 mil
(didepan pulau Karimun).. atau sebaliknya dekat Port Klang batas laut pihak
Malaysia sendiri juga lumayan sempit..... tetapi dipihak kita keutara (barat
laut) selepas Rupat dan Bagansiapiapi. .....mulai dari LabuanBatu,
Tanjungbalai, Belawan, Pangkalanbrandan, Langsa terlebih LhokSeumawe. ......
batas laut kita itu sangat melebar mencapai 80mil bahkan lebih....... ..
Bahwa diperairan selat Malaka...... .... memang budaya adalah budaya.. atau
tradisi adalah tradisi..... ialah terdapat tradisi/ budaya menangkap ikan oleh
nelayan secara turun temurun.....
Namun karena nelayan tradisional kita (bercampurdengan pengusaha ikan UKM
bermodal) terus-menerus melanjutkan begitu saja budaya atau tradisi buru dan
tangkap masa lalu itu tanpa penyesuaian. ... seperti mulai terdapat faktor
overpopulasi. ... hingga jumlah nelayan meningkat... .... lalu faktor
modernisasi jaring sampai pernah dipakai pukat harimau yang lalu dilarang itu
......belum lagi kalau dipakai pula model bahan peledak yang lalu merusak
ekologi laut........ sangat kurang terdapat jeda penangkapan ikan dan jeda
rehabilitasi ....... tentu saja secara matematik populasi ikan lama-lama
kalah pertumbuhannya dengan peningkatan frekwensi penangkapannya. ....
Belum lagi kata pak Abimanyu.... .walau tak lagi dipakai pukat harimau
...... tapi ikan-ikan kecil walau sempat lolos dari jaring...... tak urung
mereka menderita stress berat juga atau cedera .... bisa nggak doyan makan,
sakit lalu mati.......merasaka n terserempet jaring atau tertabrak ikan-ikan
besar dalam jumlah banyak yang berontak karena terjerat jaring...... .,
ekologinya terusak juga oleh jaring raksasa..... dsb....
Bahwa menurut anda jalan keluarnya adalah :
.......meningkatkan kegiatan perikanan bagi nelayan pantai timur dengan
membantu menyediakan kapal-kapal bermotor ukuran besar sehingga mampu berlayar
lebih jauh dan lebih lama, dan lebih ke utara hingga ke barat......
Saya sih setuju saja ....... itu artinya pemberian kredit kapal oleh lembaga
keuangan.... .. yang ia atau tidaknya tergantung kepada penilaian kelayakan
lembaga keuangan, karena pertimbangan mereka sering njlimet juga, mereka
pikirkan asuransi segala ......... lalu sebagai kapal besar konsumsi solarnya
juga sekarang semakin berat....... budaya kapal layar dengan tenaga gerak
angin semakin kurang.... sehingga kalau semuanya serba kapitalisitik begitu
.... apakah nelayan kecil mampu menembus kelayakan penilaian oleh lembaga
keuangan .. saya nggak tahu........ .
Kalau soal mengamankan wilayah perbatasan untuk pelanggarannya. ...... saya
kira itu sih mungkin juga... tetapi barangkali sebatas melaporkan kepada
TNI-AL..... sebab kalau harus duel dengan pelanggar batas sedang sipelanggar
kapalnya lebih besar dan bersenjata.. ... tentu nelayan kita mikir dulu.....
kecuali pelanggarnya sekedar sepasang muda-mudi atau ABG dengan perahu kecil
..... mungkin mereka bisa tangani sendiri tanpa TNI-AL.....
Kalau soal perompakan saya no comment deh ya.. hehe....
Tetapi saya kira pengembangan budaya baru atau budaya logis pembangunan
berkelanjutan ...seperti rumponisasi .. apalagi orang Belawan sendiri
mengatakan perlu mengembangkan 5000 titik rumpon dan mereka baru
kembangkan 6/ enam titik rumpon seberat 20 ton (whalahh) ...... maka itu
menunjukkan bahwa masyarakat nelayan disana setidaknya paham dan sadar juga
bahwa budaya / budidaya perikanan berkelanjutan bukanlah sekedar budaya
perikanan buru, kejardan tangkap saja...... namun juga budaya perikanan jeda
tangkap, rehabilitasi dan tentu saja......rumpon .... Selain kampanye 1 juta
pohon... saya kira perlu juga setidaknya kampanye nasional tanam 100.000
rumpon dilaut...... ..
Saya kira creativity untuk perluasan kesempatan kerja perlu terus
dikembangkan dan dipandang penting ...... demikian juga faktor2 pendukung
sukses pembangunan seperti KB, pemberantasan korupsi... dsb......
Selamat berakhir pekan dan salam,
aby
ekadj06 <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
Recent Activity
1
New Members
Visit Your Group
Yahoo! Search
Start Searching
Find exactly
what you want.
All-Bran
10 Day Challenge
Join the club and
feel the benefits.
Health Groups
for people over 40
Join people who are
staying in shape.
.