Ya nggak gitu lah Pak, Saya cuma menyarankan supaya click sebentar kurikulum sekolah planologi. Supaya ingat bekal-bekal yang pernah dipelajari, dan kemungkinan-kemungkinan aplikasi yang bisa dikembangkan. Paling tidak memperluas perhatian, dari aspek perencanaan kepada aspek "pengelolaan pemanfaatan" dan "pengendalian" sesuai amanat UUPR. Dengan konsekuensi mesti lebih menyentuh aspek manajemen pembangunan, dan memahami proses-proses ekonomi, sosial, kelambagaan dan politik (pembangunan) yang berkembang di kota/wilayah.
Perencanaan pun, di lapangan saat ini yang banyak ditangani adalah sejenis RPJMD, yang mencakup bidang sosial, ekonomi, fisik, budaya, dengan rekomendasi yang multi-sektor juga. Begitu gawat dan kompleksnya masalah perkotaan/wilayah, begitu lengkapnya bekal kuliah semasa sekolah, masak sih terus-menerus tutup mata dengan alasan tugasku 'cuma zoning dan ngapling'. Jangan meredusir profesi menjadi sekedar 'tukang zoning dan kapling'. Sarjana adalah intelektual, bukan tukang. Terima kasih atas tanggapannya. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan milisters ysh, > Waduh kok sepertinya pada kehilangan pegangan ya ? Hidup ini cuman 'mampir' yang di isi proses pembelajaran terus menerus sampai kita di 'kubur' alias 'dut'. Sepertinya profesi 'planner' dapat ditarik-ulur kayak karet, bisa jadi sangat luas tetapi juga dapat sempit, tergantung kemana focus kita. > Terlampir ada 'jamu' untuk menguatkan stamina, semoga bermanfaat. > Wassalam, > Onnos > > > To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Thu, 26 Jun 2008 16:58:43 +0000Subject: [referensi] Khitah sebagai Sarjana Planologi ? Re: Paradigma? > > > > > > Terima kasih atas tanggapannya,

