Wah, ini komentar atas posting lama ya. Justru maksud saya justru sebaliknya. Saya mengingatkan agar teman-teman jangan meredusir, mengecilkan arti/lingkup profesi menjadi begitu sempit. Menyempit-nyempit kan diri, membatasi diri pada "zoning & kapling", lalu ngotot supaya semua pihak, semua unit pemerintah mematuhinya. Mana bisa begitu.
Ada aspek kelembagaan, pembiayaan, ada aspek ekonomi, sosial, dan politik (bargain antar pihak - dalam perencanaan partisipatif). Masalah kota dan wilayah memerlukan "perencanaan kota dan wilayah" . Ada masalah kemacetan lalu lintas kota, masalah pengangguran kota, masalah kemiskinan kota, kekumuhan di kota/wilayah. Tidak bisa dihadapi hanya dengan "rencana tata ruang" (zonasi, plotting pusat-pusat, dst). Perebutan lokasi antar kepentingan, peruntukan, antar lapisan masyarakat harus didalami akar-akarnya, dicarikan solusinya. Bukan soal alokasi ruang semata. Lagi pula, urusan tata ruang hanya satu dari belasan urusan pemerintah daerah (UU32/2004). Sehingga diperlukan pendekatan yang lebih multisektor dalam "perencanaan kota dan wilayah". Namanya juga "perencana kota/wilayah." Karena itu saya menyarankan agar profesi planologi melihat dirinya dalam perpektif luas "perencanaan kota dan wilayah". Tentunya "Perencanaan tata ruang" harus tetap dikembangkan oleh yang mengampu dan menekuninya, tapi ini salah satu urusan saja, seperti perencanaan (wilayah/kawasan) pariwisata, perencanaan wilayah pesisir, wilayah pertanian, wilayah industri, dst. Jangan lupa di negara kita juga banyak UU yang menyangkut Daerah dan Wilayah/Kota, yang mesti diacu dan diterjemahkan oleh Planolog dalam perencanaan operasional. Acuan Planolog bukan cuma UUPR. Ada RPJP/M Nasional, Propinsi, Kota, Kabupaten yang juga membutuhkan kontribusi para planolog. Sejauh ini kualitas RPJM kota/kabupaten misalnya, masih banyak yang sebatas mengikuti manual saja, kurang mendalam analisisnya. Ini sangat memerlukan kiprah planolog lebih intens lagi. Menyangkut dokumen rencana yang jadi 'bantal'. Saya ingat komentar Bambang SP mengutip syair lagunya Uriah Heep, "If you don't care for me, why should I care for you." Ini penting mengingat jumlah populasi planolog yang baru lulus juga banyak, dari berbagai perguruan tinggi dan daerah. Membuka perpektif luas untuk mereka berkiprah adalah sangat urgent. Apalagi banyak bidang/urusan di semua daerah (kota/wilayah) yang memerlukan kontribusi mereka. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], abdul alim salam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Waduh sedih banget. Kok ahli zoning dan ngapling di bilang tukang. Kalo gitu planner yg nekuni penataan ruang cukup diberikan SKT (Sertifikat Ketrampilan) bukan SKA (Sertifikat Keahlian). BSP - IAP perlu revisi kegiatan sertifikasinya nih ...... > > Tapi saya yakin kok itu cuma ungkapan rasa lelah dari mas Risfan - yg mengukur keahlian penataan ruang dari produk-produk yang dihasilkan selama ini. Banyak yang cuma jadi "bantalan kursi", sekalipun sudah di-perda-kan. > > Wassalam > AAS > > > --- On Sun, 6/29/08, risfano [EMAIL PROTECTED] wrote: > > From: risfano [EMAIL PROTECTED] > Subject: [referensi] Khitah sebagai Sarjana Planologi ? Re: Paradigma? > To: [email protected] > Date: Sunday, June 29, 2008, 9:51 AM > > > > > > > > Ya nggak gitu lah Pak, > > Saya cuma menyarankan supaya click sebentar kurikulum sekolah planologi. Supaya ingat bekal-bekal yang pernah dipelajari, dan kemungkinan- kemungkinan aplikasi yang bisa dikembangkan. Paling tidak memperluas perhatian, dari aspek perencanaan kepada aspek "pengelolaan pemanfaatan" dan "pengendalian" sesuai amanat UUPR. Dengan konsekuensi mesti lebih menyentuh aspek manajemen pembangunan, dan memahami proses-proses ekonomi, sosial, kelambagaan dan politik (pembangunan) yang berkembang di kota/wilayah. > Perencanaan pun, di lapangan saat ini yang banyak ditangani adalah sejenis RPJMD, yang mencakup bidang sosial, ekonomi, fisik, budaya, dengan rekomendasi yang multi-sektor juga. > > Begitu gawat dan kompleksnya masalah perkotaan/wilayah, begitu lengkapnya bekal kuliah semasa sekolah, masak sih terus-menerus tutup mata dengan alasan tugasku 'cuma zoning dan ngapling'. > Jangan meredusir profesi menjadi sekedar 'tukang zoning dan kapling'. Sarjana adalah intelektual, bukan tukang. Terima kasih atas tanggapannya. > Salam, > Risfan Munir > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Sugiono Ronodihardjo sugiono_r@ .> wrote: > > > > Rekan milisters ysh, > > Waduh kok sepertinya pada kehilangan pegangan ya ? Hidup ini cuman 'mampir' yang di isi proses pembelajaran terus menerus sampai kita di 'kubur' alias 'dut'. Sepertinya profesi 'planner' dapat ditarik-ulur kayak karet, bisa jadi sangat luas tetapi juga dapat sempit, tergantung kemana focus kita. > > Terlampir ada 'jamu' untuk menguatkan stamina, semoga bermanfaat. > > Wassalam, > > Onnos > > > > > > To: referensi@ .: risfano@: Thu, 26 Jun 2008 16:58:43 +0000Subject: [referensi] Khitah sebagai Sarjana Planologi ? Re: Paradigma? > > > > > > > > > > > > Terima kasih atas tanggapannya, >

