Mailers yang budiman,
Nilai-nilai yang dibawa oleh para Planner dan dituangkan di dalam rancangan 
rencana, sebagai output pekerjaan, sungguh mulia. Memang demikianlah yang 
diharapkan, sesuai dengan textbook dan berbagai sumber informasi lain yang 
menjadi santapan harian Planner. 
Rancangan Rencana itu dapat saja bagus, tetapi sering kita dengar bak "mengecat 
langit". Bagaikan burung punduk merindukan bulan. Sangat kecil kemungkinan 
untuk bisa dicapai. Hal itu terjadi karena rancangan rencana penuh dengan 
konsep yang bagus, nalarnya ada, masuk akal, tetapi sumber dayanya tidak cukup.
Hubungannya dengan "tukang beca" apa? 
Begini. Jika seseorang sedang berada di Tunjungan Plaza Surabaya mau ke Pasar 
Turi naik beca, calon penumpang nanya ke pengayuh beca: "Tahu jalan ke Pasar 
Turi, Mas?" Saya yakin dia menjawab:"Tahu!". Lalu ketika calon penumpang 
menawar ongkos limangewu dari harga limolasewu, tukang beca bisa oke-oke saja. 
Dan jangan heran, kalau diminta putar haluan sampai ke Gresik mas pengayuh beca 
juga tidak keberatan. Tapi dengan sumber daya tidak cukup, hanya limangewu, 
sang pengayuh beca bisa lemas dijalan...dan bukannya sampai di tujuan tapi di 
rumah sakit karena beca nabrak beton pembatas trotoar. 
So what? Jika Planner merancang rencana tata ruang tidak dibarengi dengan 
sumber daya yang cukup, maka hasilnya sudah pasti tidak sesuai dengan tujuan. 
Laporan? Ada! Kualitas? Ntar dulu! Limangewu minta senyaman naik taksi, yo opo? 
Naik beca aja same sudah sukur.
Sekadar untuk menghibur kita di awal minggu ini. He..he..he..
Salam,
Rempu          




      

Kirim email ke