Pak Luluk ysh,
 
statement di bawah ini agak mengganggu saya:
 
"Jas Merah lainnya yang perlu dipakai adalah fakta kecenderungan negara kaya 
sumber daya alam, khususnya bahan tambang, memiliki performa ekonomi lebih 
buruk,  ketimbang negara-negara yang miskin bahan tambang." 
 
Saya kira yg salah bukan pertambangannya tapi sistem pemerintahan, level 
demokrasi, culture, corruption, dan teman2nya yg membuat pertambangan tidak 
berkorelasi positif thd kesejahteraan masyarakat... Kalau Pak Luluk melihat 
Canada dan Australia, keduanya makmur dari pertambangan...
 
salam..


--- On Tue, 7/8/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Jas Merah Pertambangan
To: [email protected]
Date: Tuesday, July 8, 2008, 5:38 AM






Sdr Luluk, saya setuju dengan ulasan tersebut dengan catatan.
Pertambangan di Indonesia selama ini lebih banyak mudhorot-nya karena secara 
umum Indonesia masih melanjutkan tradisi pertambangan masa kolonial. Hasil 
tambang  dinilai hanya sebagai obyek ekonomi yang dapat dijual, di eksploitasi 
besar-besaran dan berkelanjutan untuk memperoleh dana yang besar selama hasil 
tambang tersebut belum habis. Bila sudah habis, atau sisanya tidak menghasilkan 
pendapatan yang layak ekonomi (ongkos lebih besar daripada pemasukan) ya 
ditinggal saja. Tidak ada tanggung jawab penjagaan maupun pemulihan ekosistem 
saat operasi hingga selesai pengurasan. Tidak ada tanggung jawab perubahan 
lapangan kerja, perilaku sosial, perubahan budaya yang berkaitan dengan 
peningkatan kualitas dan potensi masyarakat lokal hingga setelah isi bumi 
dikuras. Ini terjadi karena kemajuan dan keberlanjutan daerah koloni bukan 
tujuan utama pemerintah kolonial.   
Demikian pula pemerintah daerah waktu itu,  cuma  berusaha menarik investasi 
dari luar daerah tanpa memperharikan  perkembangan kearifan dan  kemampuan  
masyarakat lokalnya.  Tujuannya adalah selama berkuasa semakin  banyak uang 
yang mengalir dan dapat dimanfaatkannya, tanpa menghitung nilai lingkungan dan 
sosial-kultural yang semakin tererosi yang diwariskan ke generasi mendatang.
Tentu ini dongeng skeptis pertambangan, yang mungkin sebagian menyatakan itu 
cuma sejarah, omong kosong, atau imaginasi orang yang frustasi.

Tugas pemikir-pemikir muda apalagi mahasiswa pascasarjanalah untuk menyangkal 
secara ilmiah dongeng omong kosong tersebut dengan data faktual. Juga tugas 
kalian untuk  menyusun pemikiran, prinsip, kriteria, metode, skenario hingga 
langkah-langkah pembangunan berbasis pertambangan yang lebih membawa keberkahan 
dan peningkatan kualitas hidup manusia dan keberlanjutan lingkungan bagi 
generasi mendatang yang paling sesuai dengan realita kita di NKRI, tanpa harus 
menunggu berbagai teori import, modernism, postmodernism, dst, atau membuang 
waktu membahas perdebatan tokoh-tokoh didunia sono, Foucault, Derrida, 
Heidegger, Habermas, dsb, dst, yang tidak pernah berusaha mengahayati realita 
di bumi kita. Selama kita cuma dinina bobokkan dengan perdebatan orang lain, 
kita tidak dapat menghasilkan karya  dibumi kita sendiri.
Jadi....mulailah dengan realita yang anda hadapi sekarang di tanah-air sendiri 
sebagai titik tolak penyiapan masa datang.  

Semoga,

Abimanyu 


On Mon, Jul 7, 2008 at 12:09 PM, Luluk Uliyah <[EMAIL PROTECTED] org> wrote:






Senin, 7 Juli 2008, www.jatam.org

Jas Merah Pertambangan            

Oleh : Em. Lukman Hakim, mahasiswa Pasca Sarjana UNEJ

Bukankah ditahun 1960-an Bung Karno dengan tegas mengatakan, Alam ini bukanlah 
warisan dari nenek moyang kita, melainkan pinjaman dari anak cucu bangsa yang 
harus dijaga keberlanjutannya.

***

Banyak pihak menolak rencana penambangan emas PT IMN,  mulai nelayan, 
mahasiswa, ormas, dan NGO pro rakyat. Namun semua itu tak sanggup meyakinkan 
Pemda Banyuwangi tentang bahaya besar dibalik ijin Kuasa Pertambangan yang ia 
keluarkan, ataupun rekomendasi DPRD Banyuwangi agar ijin tersebut meningkat 
statusnya menjadi ijin eksploitasi.

Jasmerah

Ungkapan Bung Karno "Jas Merah" atau jangan sekali-kali melupakan sejarah 
sejatinya perlu dipertimbangkan Pemda Banyuwangi. Sejarah merupakan cermin 
bagaimana masa depan seharusnya ditata, dibenahi, dan dikontruksi.

Sejarah kebijakan pertambangan di negeri ini telah mencatat, bahwa ekstraksi 
emas, migas, batu bara, timah, besi, dan lainnya erbukti ttelah memberi 
mudhorot yang lebih besar, dibanding dengan manfaat yang diharapkan. Bila 
Qoidah usulul fiqh berkata "Dar ul mafasid muqoddamun ala jalbil 
masoleh—membuang kejelekan itu lebih baik dari mengambil kebaikan", semestinya 
tingkat kemudhorotan yang lebih besar dan kerap dihadirkan perusahaan tambang 
itu direnungkan, dibanding dengan mengejar kebaikan dalam bentuk imimg-iming 
kesejahteraan, ketersediaan tenaga kerja, dan keniakan Income negara-daerah 
yang selama ini tidak terbukti.

Kebijakan dan ijin pertambangan dalam bentuk apapun, hanya menguntungkan 
segelintir elit dengan cara mengorbankan nasib ribuan warga. Khusunya yang 
tinggal di lingkar tambang. Pengalaman tambang skala besar di Kalimantan, 
Sumatra dan Papua semestinya membuka mata hati pemerintah untuk tidak 
mengulangnya di Banyuwangi.

Berita selengkapnya dapat dibaca di www.jatam.org

------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- -- 
Informasi lain terkait dengan advokasi pertambangan mineral dan energi dapat 
dilihat di www.jatam.org 
Dapatkan update informasi dari website kami dengan mendaftarkan alamat email 
anda sebagai anggota Info Kilat JATAM yang ada di bagian kiri website kami. 
============ ========= ========= =====
Luluk Uliyah
Sekretariat JATAM
email : [EMAIL PROTECTED] org
Jl. Mampang Prapatan II/30 Jakarta Selatan
Telp/Fax. 021- 794 1559
============ ========= ========= =====

 














      

Kirim email ke