Risfan, anda sedikitnya pantas mendapat jawaban langsung yang memang ingin juga saya sampaikan secara jujur. Tadinya saya rada kuatir apa insinuasi atau sepak-sepak dibawah meja itu engga bikin jengkel pemilis ini, tapi kalian memang cakap seperti Reny daripada mencoba menganalisa masalahnya secara frontal, lebih baik larut dalam nostalgi yang sedikitnya saya masih bisa ingat, jadi memang saya udah rada lupa jaman DTC itu wah itu memang bener idealisme tahun enampuluhan atau tujuhpuluhan, jaman Iskandar Alisyahbana, Filino Harahap, Soedjana Sapiie, dan masih banyak lain lagi itu betul-betul main dengan teknologi dan development, wah kayaknya Risfan juga disuruh bikin ikan pindang , memang bener kalau di Pelabuhan Ratu sih buat apa bikin pindang, tapi ada juga yang bikin kapal dari semen, wah apa sih yang bisa dikarang, lantas ada juga yang kena virus enterpreneur atau N-Ach(ievement) disuruh kursus yang dipimpin oleh psikolog, waduh lantas dikasih sertipikat(pokoknya lulus kursus) Yang saya heran kok saya yang menandatangani sertipikatnya (as if I was the one that sold these virus) Yah Risfan kita bisa geleng-geleng kepala sekarang,... and where have all those dear people gone???.. yah barangkali jadi kaya bang Hengky Abyoso?? itu masih lumayan. Kalau eksperimen saya dengan kopra pasti sebelumnya ada bio-diesel, cuma sekarang di Talaud yang kena hama sexava kopera atau kelapa memang lebih baik dijadikan biodiesel karena kalau dimakan atau dijadikan minyak goreng barangkali kita jadi hama sexava juga (althans sexnya doang) Jadi Risfan , ..how fortunate you are that you still had the DTC. Tapi yang saya ingat Risfan justru di Papan Sejahtera atau bank perumahan atau entah apa yang di ujung Kuningan itu, kan itu dengan rekan kita Meilina atau siapa sih lagi (to be honest waktu saya dosen sering saya terpesona dengan those female planners, .. I think they certainly outsmarted the boys, tapi disitu saya kira si planolog macho itu bisa lebih laku) Wah saya jadi ngelantur ini. Mungkin memang bisa kita katakan :... money is everything , but it is not the only thing... kalau diterjemahkan dalam buku Henry Mintzberg The Rise and Fall of Strategic Planning .... if planning is (indeed) everything, it probably is perhaps (indeed) nothing. Ah udahlah lebih baik engga usah baca buku. Yang saya lebih terkesan adalah Risfan mencoba menganalisa Festival of Flowers di Tomohon. Wah ini memang sangat menarik. Terus terang selama pesta kembang ini saya samasekali engga lihat apa-apa. Kebetulan saya tinggal dirumah , and I do not think that I missed anything. Jadi bener kesimpulan Risfan, ini sih ego trip dari pejabat-pejabat alumni Diklat, yang coba bikin event . Tapi event organizer nya sih ibu sekjen Dep PU kan, Well where have all the flowers gone, ... long-long ago. Nah ini juga funsdamentals yangt memang engga ada di kursus kilat Diklat, juga engga ada di kursus N.Ach dari DTC dulu. Sindiran yang saya sampaikan ke Reny itu ceritera tentang lumut atau moss, yang memang cuma bisa hidup kalau cukup lembab, nah saya engga mau jual lumut ke Trubus, tapi the sad thing was that penyelenggara flower festival itu mencukur dan membakar habis tembok yang lumutan itu dengan blower yang notabene pakai minyak tanah yang mahal. ... this is indeed very sad, tapi demikian pemerintah dan pejabat kita sekarang , ... it is all in an ego-trip. Jadi barangkali milis ini juga engga sampai mikir begitu kerdil sampai lumut ajah dipersoalkan (kecuali my dear Reny) Risfan gua akhir-akhir ini sering gatel karena memang ada jamur-jamur yang kaya lumut itu. Tapi kalau pakai salep ultrasilin itu paling-paling untuk kutu air, jadi barangkali saya mesti dibakar dengan blower juga. Kalau engga mungkin allergi planolog yang jadi bingung? Lain lagi allergi terhadap bikin ringroad , itu bukan saja gatel tapi langsung terminal. Kalau gitu lebih baik gatel ajalah. Pak Wawo.
----- Original Message ---- From: risfano <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, July 12, 2008 7:39:13 AM Subject: [referensi] Re: Kemiskinan Reinterpreted ...untuk Pak Wawo.. Pak Wawo ysh., Wah! Saya pernah baca pengakuan diri seorang Direktur UN... di pusatnya sana, begitu pensiun dia berkata kira-kira, "Memberi makan satu orang miskin di tepi jalan yang saya lewati lebih jelas dan mulia, daripada pengabdian saya puluhan tahun di lembaga yang saya pimpin.....yang saya tidak tahu apakah telah benar-benar menolong orang yang perlu ditolong ...." Saya masih ingat pak Wawo sebagai pimpinan Development Technology Center, pusat aplikasi teknologi tepat guna ITB, tempat dimana saya juga belajar memperkenalkan teknologi "pengasinan & pemindangan ikan" dst ke perkampungan nelayan di Jabar selatan, yang ternyata tidak kenal 'pindang ikan'. Saya juga pernah 'memergoki' pak Wawo bereksperimen dengan 'kopra' bersama petani. Setidaknya saya terinspirasi tentang 'perspektif yang lebih luas' dari: Apa itu "pembangunan daerah", dalam dimensi-dimensi "think out of the box". Makanya kemarin saya bertanya soal festival bunga Tumohon. Kalau bicara "governance" (kepemerintahan) , yaitu menyangkut hubungan pemerintah-masyarak at.. Kegiatan planning yang terjadi selama ini tergolong 'terisolasi' , pada hubungan 'pemerintah- konsultan/ dosen' saja. Beda dengan bidang lingkungan hidup, kesehatan, pendidikan, yang dirasakan langsung oleh masyarakat, isyu-nya dikawal oleh berbagai kelompok masyarakat atau kelompok kepentingan. Sedang Rencana (tata ruang) kelihatannya lebih sepi, lebih dianggap sebagai urusan teknis atau 'blue-print' program internal instansi tertentu.. Jadi soal ijin lokasi atau IMB semata. Menjadi wacana publik kalau ada kasus saja. Kalau ikutan untuk tidak ber 'manis-manis' saja, komentar saya: Para planolog sendiri juga lebih bersikap sebagai "alumni Diklat departemen". Bukan sebagai sarjana (seperti arsitek, insinyur sipil, ekonom, antropolog) yang bermain di semua sisi masyarakat (pemerintah, swasta, riset, media, pelaku dan lainnya), apalagi sebagai intelektual yang bebas. Padahal sekarang wahananya lebih terbuka. Mulai dari ekstrem kanan, kerja dengan developer, realtor kalau bias ke yang gitu-gitu. Hingga yang ekstrem kiri, jadi aktivis LSM, yang memberdayakan komunitas' maupun yang 'mengadvokasi' pembangunan daerah, komunitas, lingkungan hidup, dst., kalau bias ke per'pejuang' an. Dan di antara kedua ekstrem itu lebih banyak lagi peluang karya yang bisa diexplore... ... Sekali lagi saya terinspirasi oleh pendekatan "think out of the box" pak Wawo dalam pembangunandaerah s/d komunitas. Salam, Risfan Munir --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ ...> wrote: > > Eko, mungkin Eko tidak mengira akan ada tanggapan dari pihak yang sebenarnya > sudah tidak punya suara secara langsung, tetapi saya sepenuhnya menyokong > atau pertahankan pendirian dan keyakinan Eko. Memang saya kira birokrasi dan > sekaligus para konsultan yang tidak resmi dalam birokrasi tapi bagaimanapun > juga harus ikut dalam permainan yang jelas munafik ini. For the time being > mungkin mereka yang masih punya ideal atau keyakinan bahwa somewhere there > there must be a truth, yah mereka termasuk kita tidak banyak yang dapat kita > harapkan. Ini bukan hiburan tetapi kenyataan. Jadi tetap bikin > rencana-rencana netral yang engga ada risiko dan juga tidak ada musuh > (kecuali yang ngerti), itulah birokrasi atau governance atau pemerintah > sekarang, yah jangan digoyang-lah, don't shake the boat, maka selamatlah kita > semua? well barangkali memang tidak semua, dan lebih celaka memang tidak > selamat, what we are doing is just postponing the problems, jadi kalau > engga besok yah pasti nanti semua dosa-dosa ini harus dibayar, ini diseluruh > dunia, coba kita lihat si Soros yang bisa mengatasi pelbagai krisis katanya > begini: do you want to hear the bad news, yes we lost a lot of money > (pokoknya semua bank-bank di dunia ini pasti lugilah) but do you know the > good news , .. well it was not our money we lost (ja jelas semua pemegang > saham yang atau kata gede stupid stakeholders yang betul-betul lugi - engga > apa sih kalau dia pinjem duit lagi, yah dari pemerintah bukan, nah si > pemerintah dia dapet duitnya dari mana, yah kalau bukan dari pembayar pajak > PBB segala, the problem is that these taxpayers do not revolt since they are > just as stupid. Ini gambaran gedenya, tapi saya sekarang persis dalam > situasi semacam ini:..... kebetulan saja saya memang cucu dari seorang yang > dahulu adalah mantri cacar jah yang mesti suntik cacar penduduk, kebetulan > lagi si opa yang diberi nama tete-paksi (vaccinateur) punya sebidang > tanah yang mulanya adalah kebun kelapa tapi dengan segala akalnya telah ia > jadikan kobong pece atau sawah. Nah sawah ini rupanya oleh Pemerintah > Kabupaten sekarang diincar oleh karena setiap ibukota kabupaten itu perlu ada > ringroad, whatever that means, malahan si kepala dinas PU sudah berhasil > mendapat allokasi untuk membikin ringroad itu, walaupun belum ada RTRW atau > apa saja yang dapat membenarkan ringroad itu. Well so I just asked that basic > question what do you need that ringroad for, dan pertanyaan yang lebih sukar > tapi pantes untuk setiap planolog, dimana ringroad itu mau dibangun, yah > rupanya pertanyaan ini rada sukar saya dapat jawaban. Secara kebetulan saya > juga diminta untuk ikut rapat di PU Jakarta wah this not often happens, tapi > waktu saya lagi nunggu tuan-tuan bappeda dan sekjen PU lagi rapat saya koq > ketemu salah seoarang Kepala, kalau engga salah Kepala Bina Program, who said > that he was jyust back from a rapat PU di Makassar, wah > kebetulan nih lantas saya tanya soal ringroad di Ratahan ibukota kabupaten > Mitra itu, well jelas jawabannya straight from the textbook, engga bisa tuh > harus ada RTRW atau ada rencana yang jelas, oklah saya pulang cukup puas. Nah > sekarang sudah tiga bulan lewat dan rencana ringroad itu kelihatannya engga > dilanjutkan, tapi ada perkembangan baru yang tidak begitu aneh, kabupaten > Mitra atau Minahasa Tenggara itu kebagian BANTEK, whatever that means pokonya > you have to swallow it, datanglah konsultan dari Bandung PT Reka Spasia > Indonesia yang dalam waktu singkat akan menghasilkan suatu RTRW. Nah saya > sudah tiga kali ke kantor BAPPEDA Mitra tapi engga bisa ketemu, dan nilpun > juga rada susah. Well anyhow saya juga tahu bahwa uang untuk ringroad sudah > turun dan biaya BANTEK juga sudah turun . Dengan kata lain Eko I am back at > square one. Jadi kesimpulannya memang we have created our own problems. Sudah > hampir 50 tahun lalu saya mulai ngajar di planologi > itb, akhirnya dosa-dosa ini saya harus tanggung juga. > Memang milis ini sabar sekali, Jadi Aby, Eko Eka dan siapalah yang masih mau > nulis, kenyataannya all that knowledge is just considered buulshit by the > birokrasi. Rekan BTS anda sih bukan dalam birokrasi tapi jelas ikut > prihatin, mungkin dosa Soros itu sukar diketemukan tapi for the time being > it is governments that take all the burden. Sudah lama saya coba keluar dari > kemelut ini tapi hanya satu yang mungkin masih bisa jadi penyelamat: kata > orang tentang Benyamin Franklin.... he made himself rich by making his wants > few..... kalau begitu kita bertapa saja kan. Pak Wawo. > > >

