Pak Wawo dan rekans ysh,

Terima kasih pak Wawo atas jawabannya. Teringat masa memperkenalkan
teknologi tepat guna (teknologi olah makanan, ferro-cement, solar
energy), belajar AMT (achievement motivation training) di DTC.

Where have all the flowers gone.......
Betul pak Wawo, akhirnya kita bertemu di gedung Bank Papan Sejahtera
(sekarang kantor KPK). Agak aneh kalu ditarik dari teknologi pindang.

Tapi mungkin kenyataan sering ironis, seperti sekarang kantor saya di
gedung angkuh di segitiga emas, di lantai 29, tapi sebagian besar tugas
dan waktu saya justru bersama klaster UKM di daerah-daerah, dari tanah
Karo hingga di Palopo.
Karena itu ingatan masa pengenalan 'appropriate technology' masih dekat.
Apalagi AMT dengan virus N-Ach nya itu  (aneh-bin-ajaib} masih diajarkan
di dinas terkait UKM.

Karena itu pula saya melihat kemungkinan untuk mengisi regional plan,
tidak hanya dengan regionalisasi dan sistem pusat, tetapi bisa
mengisinya dengan rekomendasi program pengembangan berbagai 
"mata-rantai" kegiatan ekonomi lokal, sehingga menjawab permasalahan
saat ini masyarakat. Setelah "disambungkan" banyak kelompok produsen
yang akhirnya dari lokal jadi melayani daerah lain, pulau lain, hingga
ekspor. Kata Bang Nuzul "daya saing territori?" Yah puas-puas dirinya
bicara  "small is beautiful".

Salam,
Risfan Munir

--- In [email protected], Hannie Waworoentoe
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Risfan, anda sedikitnya pantas mendapat jawaban langsung yang memang
ingin juga saya sampaikan secara jujur. Tadinya saya rada kuatir apa
insinuasi atau sepak-sepak dibawah meja itu engga bikin jengkel pemilis
ini, tapi kalian memang cakap seperti Reny daripada mencoba menganalisa
masalahnya secara frontal, lebih baik larut dalam nostalgi yang
sedikitnya saya masih bisa ingat, jadi memang saya udah rada lupa jaman
DTC itu wah itu memang bener idealisme tahun enampuluhan atau
tujuhpuluhan, jaman Iskandar Alisyahbana, Filino Harahap, Soedjana
Sapiie, dan masih banyak lain lagi itu betul-betul main dengan teknologi
dan development,  wah kayaknya Risfan juga disuruh bikin ikan pindang ,
memang bener kalau di Pelabuhan Ratu sih buat apa bikin pindang, tapi
ada juga yang bikin kapal dari semen, wah apa sih yang bisa dikarang,
lantas ada juga yang kena virus enterpreneur atau  N-Ach(ievement)
disuruh kursus yang dipimpin oleh psikolog, waduh lantas dikasih
> sertipikat(pokoknya lulus kursus)  Yang saya heran kok saya yang
menandatangani sertipikatnya (as if I was the one that sold these virus)
Yah Risfan kita bisa geleng-geleng kepala sekarang,... and where have
all those dear people gone???.. yah barangkali jadi kaya bang Hengky
Abyoso?? itu masih lumayan. Kalau eksperimen saya dengan kopra pasti
sebelumnya ada bio-diesel, cuma sekarang di Talaud yang kena hama sexava
kopera atau kelapa memang lebih baik dijadikan biodiesel karena kalau
dimakan atau dijadikan minyak goreng barangkali kita jadi hama sexava
juga (althans sexnya doang)  Jadi Risfan , ..how fortunate you are that
you still had the DTC. Tapi yang saya ingat Risfan justru di Papan
Sejahtera atau bank perumahan atau entah apa yang di ujung Kuningan itu,
kan itu dengan rekan kita Meilina atau siapa sih lagi (to be honest
waktu saya dosen sering saya terpesona dengan those female planners, ..
I think they certainly outsmarted the boys,  tapi
> disitu saya kira si planolog macho itu bisa lebih laku)  Wah saya jadi
ngelantur ini. Mungkin memang bisa kita katakan :... money is everything
, but it is not the only thing... kalau diterjemahkan dalam buku Henry
Mintzberg The Rise and Fall of Strategic Planning .... if planning is
(indeed) everything, it probably is perhaps (indeed) nothing.  Ah
udahlah lebih baik engga usah baca buku.
> Yang saya lebih terkesan adalah Risfan mencoba menganalisa Festival of
Flowers di Tomohon. Wah ini memang sangat menarik. Terus terang selama
pesta kembang ini saya samasekali engga lihat apa-apa. Kebetulan saya
tinggal dirumah , and I do not think that I missed anything. Jadi bener
kesimpulan Risfan, ini sih ego trip dari pejabat-pejabat alumni Diklat,
yang coba bikin event . Tapi event organizer nya sih ibu sekjen Dep PU
kan, Well where have all the flowers gone, ... long-long ago. Nah ini
juga funsdamentals yangt memang engga ada di kursus kilat Diklat, juga
engga ada di kursus N.Ach dari DTC dulu. Sindiran yang saya sampaikan ke
Reny itu ceritera tentang lumut atau moss, yang memang cuma bisa hidup
kalau cukup lembab, nah saya engga mau jual lumut ke Trubus, tapi the
sad thing was that penyelenggara flower festival itu mencukur dan
membakar habis tembok yang lumutan itu dengan blower yang notabene pakai
minyak tanah yang mahal. ... this is indeed
> very sad, tapi demikian pemerintah dan pejabat kita sekarang , ... it
is all in an ego-trip.  Jadi barangkali  milis ini juga engga sampai
mikir begitu kerdil sampai lumut ajah dipersoalkan  (kecuali my dear
Reny)
> Risfan gua akhir-akhir ini sering gatel karena memang ada jamur-jamur
yang kaya lumut itu.  Tapi kalau pakai salep ultrasilin itu
paling-paling untuk kutu air, jadi barangkali saya mesti dibakar dengan
blower juga. Kalau engga mungkin allergi planolog yang jadi bingung?  
Lain lagi allergi terhadap bikin ringroad , itu bukan saja gatel tapi
langsung terminal.  Kalau gitu lebih baik gatel ajalah. Pak  Wawo.
>
>
> ----- Original Message ----
> From: risfano [EMAIL PROTECTED]
> To: [email protected]
> Sent: Saturday, July 12, 2008 7:39:13 AM
> Subject: [referensi] Re: Kemiskinan Reinterpreted ...untuk Pak Wawo..
>
>
> Pak Wawo ysh.,
> Wah!
>
>

Kirim email ke