Eka dan rekan milis lainnya, 
Eka, ini memang sangat mustahil, saya tulis reply untuk Eka malahan diatas 
computer Eka sendiri di Jakarta, padahal bisa aja ngomong langsung. Tapi apa 
boleh buat media milis ini memang punya keuntungan yang lain, salah satu adalah 
lebih effisien karena kita harus pikir baik-baik sebelum tulis jawaban. 
 
OK sekarang mengenai subyek 10, 15. 20, 25 dan yang diamond adalah 50 tahun. 
Well ini semuanya sih cuma batas-batas waktu conceptual yang tertentu, tapi 
saya coba berikan beberapa tanggapan: 
 
Pertama terhadap yang masih pendek 10-15 dan 20 tahun, these were rather 
technical planning periods yang secara konvensional digunakan dalam penyusunan 
rencana yang katanya dahulu terutama dipengaruhi olehcycles atau yang lazim 
disebut bussiness-cycles, yang kata ekonom suka berulang oleh karena itu 
dinamakan siklus, lantas ada juga yang menggunakan umur (biasanya dari mahluk 
atau species) atau usia yang biasanya dinamakan generasi dan entah karena 
alasan apa dipakai 20 tahun untuk satu generasi, maybe dari lahir jadi dewasa 
lantas sudah bisa mati atau regenerate, well that is biological entah ada juga 
species yang lebih lama seperti penyu yang seratus tahun,  OK itu planning 
teknis. 
 
Kalau kategori kedua kelihatannya bukan bisnis tahunan tapi development cycles, 
seperti dikiur menurut gejala lahir, gestation, maturation atau pendewasaan, 
lalu kembali di undevelop atau di redevelop, tapi ini juga masih rada  bio atau 
economic oriented, yang jelas semuanya itu masih liniar atau ikut garis yang 
selalu satu arah, memang engga masuk akal kalau kita berlawanan arah, kecuali 
kalau untuk analisa sejarah, jadi regressive atau past oriented dan bukan 
future oriented. 
 
Nah sekarang barangkali yang bukan linier dan bukan future oriented yang bukan 
linier itu bisa dipelajari dalam matematika, pakai segala teori atau program 
yang non linier, tapi itu terlalu kompleks dan juga engga banyak digunakan oleh 
planolog (kecuali yang rada sinting) Nah yang non future itu bisa yang 
regressive atau melihat kebelakang, tapi sebetulnya bukan untuk masalah 
analitis (yang pengen cari pencerahan doang) tapi juga untuk memberi masukan 
kreatip. Jadi ini adalah tinjauan atau kritik spesifik pada futurologi. 
Well that opens a very different perspective  yang saya barangkali ingin tinjau 
adalah kecepatan atau percepatan dari perubahan, ini juga rada mechanistic jadi 
bukan saja the speed of change but also the acceleration of change, nah ini 
saya kira Eka bisa kembangkan juga: kalau terhadap kecepatan atau speed itu 
jelas hanya soal waktu atau proses perubahannya, Tapi kalau fenomena change itu 
jauh lebih menarik, tidak saja climate change tapi juga social and economic 
change dan terlebih lagi political change, and what not  Mungkin yang paling 
menarik adalah  cultural and philosophical change,  perubahan budaya, peradaban 
dan falsafah
Cuma yang terakhir ini mungkin rada sukar kita mikir cultural change sebelumnya 
cultural perception kita itu sudah cukup kuat atau ngerti. Otherwise I think 
this is just a waste of time. 
Secara singkat memang 50 tahun itupun masih a very short half century. 
Diam-diam tahun depan sudah lima puluh tahun saya mengemban suatu program 
pendidikan planologi, and that seems very short indeed.  Pak Wawo , 
incidentally terima kasih untuk computermu.   



----- Original Message ----
From: ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, July 21, 2008 12:00:42 AM
Subject: [referensi] Milis Futurologi


Pak Wawo ysh,
Saya bukan Eko pak, tapi ingin menanggapi sedikit pandangan bapak. Saya 
tertarik dengan `pengakuan dosa', untuk sesuatu hal adalah `kesempurnaan' dari 
`a perfect mistake' yang pernah bapak sampaikan(…son if you have to make 
mistakes, you might as well make some good mistakes perhaps even a perfect 
mistake …)
 
Salah satu `mistake' itu menurut hemat saya adalah time duration yang terlalu 
dekat, 10, 15, 20, atau 25 tahun; adalah `suatu masa' yang masih terjangkau 
oleh `satu generasi'. Sehingga varia[n]si mistake itu mudah dimodifikasi 
sehingga menjadi `a perfect mistake'. Kita tokh tidak ingin terjebak dalam 
konspirasiini.
 
Karena bapak telah mengalami masa yang panjang, saya terilhami dari `a glorious 
weekend' untuk suatu penerawangan yang lebih jauh; setidaknya ukuran minimal 50 
tahun. Kiranya berkenan bila saya mengajak bapak dan rekan-rekan yang berminat 
untuk saling berbagi dalam pandangan-pandangan masa depan ini dalam wacana 
baru. Mudah-mudahan tahun depan sedikit komunitas ini dapat berkontribusi dalam 
Plano50. Salam..
 
-ekadj
 
Subscribe to futurologi      
Powered by tech.groups. yahoo.com  

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ ...> 
wrote:
>
> Eko, mungkin Eko tidak mengira akan ada tanggapan dari pihak yang sebenarnya 
> sudah tidak punya suara secara langsung, tetapi saya sepenuhnya menyokong 
> atau pertahankan pendirian dan keyakinan Eko. Memang saya kira birokrasi dan 
> sekaligus para konsultan yang tidak resmi dalam birokrasi tapi bagaimanapun 
> juga harus ikut dalam permainan yang jelas munafik ini. For the time being 
> mungkin mereka yang masih punya ideal atau keyakinan bahwa somewhere there 
> there must be a truth, yah mereka termasuk kita tidak banyak yang dapat kita 
> harapkan. Ini bukan hiburan tetapi kenyataan.  Jadi tetap bikin 
> rencana-rencana netral yang engga ada risiko dan juga tidak ada musuh 
> (kecuali yang ngerti),  itulah birokrasi atau governance atau pemerintah 
> sekarang, yah jangan digoyang-lah, don't shake the boat, maka selamatlah kita 
> semua? well  barangkali memang tidak semua, dan lebih celaka memang tidak 
> selamat, what we are doing is just postponing the problems, jadi kalau
> engga besok yah pasti nanti semua dosa-dosa ini harus dibayar,  ini diseluruh 
> dunia, coba kita lihat si Soros yang bisa mengatasi pelbagai krisis katanya 
> begini: do you want to hear the bad news, yes we lost a lot of money 
> (pokoknya semua bank-bank di dunia ini pasti lugilah) but do you know the 
> good news , .. well it was not our money we lost (ja jelas semua pemegang 
> saham yang atau kata gede  stupid stakeholders yang betul-betul lugi - engga 
> apa sih kalau dia pinjem duit lagi, yah dari pemerintah bukan, nah si 
> pemerintah dia dapet duitnya dari mana, yah kalau bukan dari pembayar pajak 
> PBB segala, the problem is that these taxpayers do not revolt since they are 
> just as stupid.  Ini gambaran gedenya, tapi saya sekarang persis dalam 
> situasi semacam ini:.... kebetulan saja saya memang cucu dari seorang yang 
> dahulu adalah mantri cacar jah yang mesti suntik cacar penduduk, kebetulan 
> lagi si opa yang diberi nama tete-paksi (vaccinateur) punya sebidang
> tanah yang mulanya adalah kebun kelapa tapi dengan segala akalnya telah ia 
> jadikan kobong pece atau sawah. Nah sawah ini rupanya oleh Pemerintah 
> Kabupaten sekarang diincar oleh karena setiap ibukota kabupaten itu perlu ada 
> ringroad, whatever that means, malahan si kepala dinas PU sudah berhasil 
> mendapat allokasi untuk membikin ringroad itu, walaupun belum ada RTRW atau 
> apa saja yang dapat membenarkan ringroad itu. Well so I just asked that basic 
> question  what do you need that ringroad for, dan pertanyaan yang lebih sukar 
> tapi pantes untuk setiap planolog, dimana ringroad itu mau dibangun, yah 
> rupanya pertanyaan ini rada sukar saya dapat jawaban. Secara kebetulan saya 
> juga diminta untuk ikut rapat di PU Jakarta wah this not often happens, tapi 
> waktu saya lagi nunggu tuan-tuan bappeda dan sekjen PU lagi rapat saya koq 
> ketemu salah seoarang Kepala, kalau engga salah Kepala Bina Program, who said 
> that he was jyust back from a rapat PU di Makassar, wah
> kebetulan nih lantas saya tanya soal ringroad di Ratahan ibukota kabupaten 
> Mitra itu, well jelas jawabannya straight from the textbook, engga bisa tuh 
> harus ada RTRW atau ada rencana yang jelas, oklah saya pulang cukup puas. Nah 
> sekarang sudah tiga bulan lewat dan rencana ringroad itu kelihatannya engga 
> dilanjutkan, tapi ada perkembangan baru yang tidak begitu aneh, kabupaten 
> Mitra atau Minahasa Tenggara itu kebagian BANTEK, whatever that means pokonya 
> you have to swallow it, datanglah konsultan dari Bandung PT Reka Spasia 
> Indonesia yang dalam waktu singkat akan menghasilkan  suatu RTRW. Nah saya 
> sudah tiga kali ke kantor BAPPEDA Mitra tapi engga bisa ketemu, dan nilpun 
> juga rada susah. Well anyhow saya juga tahu bahwa uang untuk ringroad sudah 
> turun dan biaya BANTEK juga sudah turun . Dengan kata lain Eko I am back at 
> square one. Jadi kesimpulannya memang we have created our own problems. Sudah 
> hampir 50 tahun lalu saya mulai ngajar di planologi
> itb,  akhirnya dosa-dosa ini saya harus tanggung juga. 
> Memang milis ini sabar sekali, Jadi Aby, Eko Eka dan siapalah yang masih mau 
> nulis, kenyataannya  all that knowledge is just considered buulshit by the 
> birokrasi.  Rekan BTS anda sih bukan dalam birokrasi tapi jelas ikut 
> prihatin, mungkin dosa Soros itu sukar diketemukan  tapi for the time being 
> it is governments that take all the burden. Sudah lama saya coba keluar dari 
> kemelut ini tapi hanya satu yang mungkin masih bisa jadi penyelamat:  kata 
> orang tentang Benyamin Franklin.... he made himself rich by making his wants 
> few..... kalau begitu kita bertapa saja kan.  Pak Wawo. 
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Eko Budi Kurniawan [EMAIL PROTECTED]
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com; [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Sent: Wednesday, July 9, 2008 10:42:24 PM
> Subject: [referensi] Re: [perkotaan] Re: Kemiskinan Reinterpreted or Job 
> Creation Preferred?
> 
> 
> Bos, saya tidak gusar hehe saya hanya memberi masukan dan umpan diskusi...
> 
> Tapi soal kekuatiran saya itu benar... sejauh ini, walau hanya berbekal 
> pengalaman kerja yg masih di bawah pak Eka, tapi saya amati kita para 
> planners baik di birokrasi maupun di konsultan cenderung lebih suka membuat 
> RTRW yg "netral"2 saja, dan "aman2" saja... apalagi kalau dipertimbangkan 
> soal waktu dan biaya... 
> 
> Kalau menyusun kebijakan (RTRW) yg berisi kebijakan2 yg membantu mereka yg 
> "tidak beruntung" itu pasti membutuhkan waktu dan biaya studi yg besar... 
> nanti pemilik konsultan tidak bisa untung banyak, tenaga ahli tidak bisa 
> mengerjakan proyek2 lain, dan birokratnya jadi ketambahan kerja... tapi kalau 
> menyusun RTRW yg netral kan enak, di lapangan cukup 2-3 hari, kumpul data 
> sekunder plus foto2.. analisis standar, gampang, mahasiswa tingkat akhir pun 
> bisa, cukup diberi contoh dari RTRW sebelum2nya atau RTRW daerah2 lain yg 
> sudah jadi...isi rencana nya juga standar, tinggal copy paste dan penyesuaian 
> nama lokasi dan peta... beres deh... semua senang... setelah itu RTRW nya 
> cukup jadi pajangan di rak kantor2 Bappeda atau Dinas2 terkait, untuk 
> memenuhi arahan UUPR bahwa setiap pemerintah di berbagai level harus punya 
> RTRW... 
> 
> salam...
 
Messages in this topic (21) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Calendar 
Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/ 
MARKETPLACE
You rock! Blockbuster wants to give you a complimentary trial of Blockbuster 
Total Access. 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 
Recent Activity
        *  2
New MembersVisit Your Group 
Y! Messenger
Send pics quick
Share photos while
you IM friends.
Wellness Spot
on Yahoo! Groups
A resource for living
the Curves lifestyle.
Dog Zone
on Yahoo! Groups
Join a Group
all about dogs.
. 
__,_.._,___ 


      

Kirim email ke