Pak Rofiq dan Pak Abim ysh,

Terima kasih atas referensi dan informasinya, untuk suatu ketika
berkesempatan memperoleh dan membacanya. Mungkin sudah saatnya menyiapkan
semacam perpustakaan kecil untuk koleksi dan dokumentasi. Saya sendiri masih
belajar secara mudah dan santai, misalnya dengan menonton film dan video
yang saat ini begitu banyak menawarkan skenario masa depan. Sebenarnya ini
langkah mundur, bila dulu sempat menjadi 'master' di dunia
'simulasi<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1701>'.
Namun bila hal ini mengindikasikan pada keinginan menjadi ahli futurologi,
tentunya jauh panggang dari api.

Saya kira justru Pak Rofiq sudah menjadi futurologist, karena sudah melihat
'bentuk' di masa depan. Namun coba kita ikuti pelan-pelan skenario Pak Rofiq
ini, dan kita siapkan di milis
Futurologi<http://tech.groups.yahoo.com/group/futurologi/>.
Saya kira banyak kecerdasan di sekitar kita yang bisa kita saksikan dan
dinikmati, tinggal menunggu waktu saja. Saya yakin.

Salam,
-ekadj


On Mon, Jul 28, 2008 at 12:28 PM, Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]>wrote:

>    Pak Eka, buku a brief history of the future karangan oona strathern
> bagus untuk dibaca kalau kita ingin menjadi futurist atau futurologist.
> Banyak sekali metoda untuk meramalkan masa depan, salah satunya menggunakan
> delphi technique. Alfin Toffler menggunakan pendekatan ini, ada juga yang
> menggunakan skenario sistem dinamis. Anyway Indonesia sudah harus mempunyai
> center of futurology... paling tidak memang dimulai dengan milis dulu.
>
>
> Salam
> Aunur Rofiq
>
>  ----- Original Message ----
> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
>  Sent: Saturday, July 26, 2008 9:22:24 PM
> Subject: Re: [referensi] Milis Futurologi
>
> Rekan milister ysh,
>
> Mungkin saya termasuk yang masih gamang terhadap pendekatan yang menganggap
> mampu meramal *the future* melalui data informasi masa lalu (plus
> plus...), karena saya yakin ada masa lalu yang seolah-olah berulang (karena
> generalisasi), tetapi karena waktu-ruang-kultural suatu eksositem bersama
> peradaban manusia (antroposistem) selalu berubah atau berkembang (walaupun
> ada menyederhanakannya seolah berupa spiral, yang juga tidak jelas perubahan
> dimensinya) maka yang dilakukan hanya pe-model-an (apapun bentuk
> penyederhanaan dunia nyata yang digunakan, dengan berbagai asumsi tidak
> berlakunya berbagai unsur lain di luar model tersebut) dengan "if and only
> if" yang bisa sangat banyak dan mungkin justru mengabaikan unsur yang
> penting.
>
> Masa lalu adalah sejarah yang dapat dijelaskan, dipelajari atau dikenang
> karena tidak berulang kembali. Masa kini akan segera menjadi masa lalu. Masa
> depan tergantung apa yang kita dan pelaku lain siapkan dan lakukan sekarang
> dengan sengaja/terencana/terkelola ataupun tidak sengaja/terencana/terkelola
> berdasarkan pengetahuan dan kemampuan masa lalu, tanpa harus terikat kaku
> dengan temuan masa lalu tersebut. Jadi semakin banyak kita tahu keterkaitan
> kita dengan aspek dan pihak lain maka semakin arif harusnya tindakan kita
> dalam menyiapkan masa depan.
>
> Sebagai contoh, RTRW cuma suatu skenario dengan berbagai "if and only if"
> yang penyusunnya ketahui di masa lalu (yang pasti berbeda dengan masa
> datang) dan gunakan dalam pemodelannya, sesuai *keterbatasan* dan 
> *resiko*yang dicakupinya, Langkah selanjutnya perlu merupakan proses 
> berkelanjutan
> yang bersifat kesepakatan, kolaborasi, revisi dan koreksi terhadap
> keterbatasan sebelumnya dan perubahan resiko penerapannya, untuk mewujudkan
> aspek positif yang diharapkan bersama (dan  bukan sekadar melegalisasi
> kekurangan yang terlanjur dilakukan, walaupun tidak populer). Jadi sangat
> tidak arif apabila kemudian kita menganggap pihak lain "harus" (apriori)
> mengikuti "model" atau skenario kita tersebut.
>
> Sementara itu dulu sumbang pikir saya.
>
> Salam,
>
> Abimanyu
> .
>
>

Kirim email ke