Pak Wawo, Eka dan rekan2 ysh, Bicara time-line atau cycles, dalam jangka panjang mau tidak mau bicara skenario. Kata Peter Schward, skenario dibuat karena dalam kasus kompleks extrapolasi sulit dilakukan, karena beberapa faktor utama yang tidak bisa diramal (hasil pemilu, keputusan pemimpin, konflik, dst).
Setidaknya ada beberapa plot skenario yang bisa dipertimbangkan: Pertama, yang normal ekstrapolatif. Kedua, cyclical. Sejarah yang berulang dalam kurun waktu tertentu. Misalnya pra-Orba rakyat 'ngantri minyak', setelah lima dekade rakyat 'ngantri minyak' lagi. Ketiga, challenge and response. Ada tantangan, kendala tapi bisa diresponse. Ada masalah volume lalu-lintas yang tinggi, kebutuhan lahan yang melonjak. Lalu direspons dengan pembangunan prasarana jalan, distribusi pusat-pusat. Maka kota meluas, lalu muncul masalah metropolitan (sprawl), lalu direspons dengan pembangunan ring-road, outer-ring-road. Direspons terus dengan pertumbuhan intensif ala rumah susun, ....dst, .....dst. Ini secara jangka panjang tampak sebagai sesuatu yang linier juga. Tapi sampai kapan? Tentu ada batasnya. Keempat, skenarionya Lone Ranger atau Rambo. Alias ndableg. Ada kemungkinan pemimpin dan sistem tidak peduli dengan 'perubahan-perubahan' atau "tanda-tanda zaman". Yakin saja dengan keputusan dan nikmat dengan tren yang ada, nyaman, tak mau berubah. Pada pertengahan 70an wacana 'minyak akan habis' sudah dikembangkan, teknologi tepat-guna, solar energy sudah diperkenalkan. Tapi tidak mendapat sambutan. Maka sejarah harus menghadapi realita keras. Bukannya kampanye industrialisasi, malahan menteri perindustrian dan 4 menteri lainnya sibuk melarang industri bekerja penuh, dengan ancaman lagi (Lho, katanya mau bersing?). Kelima, skenario evolutif. Perubahan yang lambat tidak terasa, seringkali memang menghanyutkan. Contohnya mungkin "global warming". Atau ini tidak lambat ya, karena setelah beribu tahun 'bumi aman', kok tiba-tiba satu abad ini saja jadi memanas. Mungkin yang evolutif itu perkembangan wilayah seperti Tomohon, sampai datangnya the flower festival? So, apakah memang kita bisa meramal sampai lebih dari 10 tahun? Salam, Risfan Munir http://urbanis.wordpress.com <http://urbanis.wordpress.com> --- In [email protected], Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Eka dan rekan milis lainnya, > Eka, ini memang sangat mustahil, saya tulis reply untuk Eka malahan diatas computer Eka sendiri di Jakarta, padahal bisa aja ngomong langsung. Tapi apa boleh buat media milis ini memang punya keuntungan yang lain, salah satu adalah lebih effisien karena kita harus pikir baik-baik sebelum tulis jawaban. > > OK sekarang mengenai subyek 10, 15. 20, 25 dan yang diamond adalah 50 tahun. Well ini semuanya sih cuma batas-batas waktu conceptual yang tertentu, tapi saya coba berikan beberapa tanggapan: > > Pertama terhadap yang masih pendek 10-15 dan 20 tahun, these were rather technical planning periods yang secara konvensional digunakan dalam penyusunan rencana yang katanya dahulu terutama dipengaruhi olehcycles atau yang lazim disebut bussiness-cycles, yang kata ekonom suka berulang oleh karena itu dinamakan siklus, lantas ada juga yang menggunakan umur (biasanya dari mahluk atau species) atau usia yang biasanya dinamakan generasi dan entah karena alasan apa dipakai 20 tahun untuk satu generasi, maybe dari lahir jadi dewasa lantas sudah bisa mati atau regenerate, well that is biological entah ada juga species yang lebih lama seperti penyu yang seratus tahun, OK itu planning teknis. > > Kalau kategori kedua kelihatannya bukan bisnis tahunan tapi development cycles, seperti dikiur menurut gejala lahir, gestation, maturation atau pendewasaan, lalu kembali di undevelop atau di redevelop, tapi ini juga masih rada bio atau economic oriented, yang jelas semuanya itu masih liniar atau ikut garis yang selalu satu arah, memang engga masuk akal kalau kita berlawanan arah, kecuali kalau untuk analisa sejarah, jadi regressive atau past oriented dan bukan future oriented. > > Nah sekarang barangkali yang bukan linier dan bukan future oriented yang bukan linier itu bisa dipelajari dalam matematika, pakai segala teori atau program yang non linier, tapi itu terlalu kompleks dan juga engga banyak digunakan oleh planolog (kecuali yang rada sinting) Nah yang non future itu bisa yang regressive atau melihat kebelakang, tapi sebetulnya bukan untuk masalah analitis (yang pengen cari pencerahan doang) tapi juga untuk memberi masukan kreatip. Jadi ini adalah tinjauan atau kritik spesifik pada futurologi. > Well that opens a very different perspective yang saya barangkali ingin tinjau adalah kecepatan atau percepatan dari perubahan, ini juga rada mechanistic jadi bukan saja the speed of change but also the acceleration of change, nah ini saya kira Eka bisa kembangkan juga: kalau terhadap kecepatan atau speed itu jelas hanya soal waktu atau proses perubahannya, Tapi kalau fenomena change itu jauh lebih menarik, tidak saja climate change tapi juga social and economic change dan terlebih lagi political change, and what not Mungkin yang paling menarik adalah cultural and philosophical change, perubahan budaya, peradaban dan falsafah > Cuma yang terakhir ini mungkin rada sukar kita mikir cultural change sebelumnya cultural perception kita itu sudah cukup kuat atau ngerti. Otherwise I think this is just a waste of time. > Secara singkat memang 50 tahun itupun masih a very short half century. > Diam-diam tahun depan sudah lima puluh tahun saya mengemban suatu program pendidikan planologi, and that seems very short indeed. Pak Wawo , incidentally terima kasih untuk computermu. > > > > ----- Original Message ---- > From: ekadj08 [EMAIL PROTECTED] > To: [email protected] > Sent: Monday, July 21, 2008 12:00:42 AM > Subject: [referensi] Milis Futurologi > > > Pak Wawo ysh, > Saya bukan Eko pak, tapi ingin menanggapi sedikit pandangan bapak. Saya tertarik dengan `pengakuan dosa', untuk sesuatu hal adalah `kesempurnaan' dari `a perfect mistake' yang pernah bapak sampaikan( son if you have to make mistakes, you might as well make some good mistakes perhaps even a perfect mistake ) > > Salah satu `mistake' itu menurut hemat saya adalah time duration yang terlalu dekat, 10, 15, 20, atau 25 tahun; adalah `suatu masa' yang masih terjangkau oleh `satu generasi'. Sehingga varia[n]si mistake itu mudah dimodifikasi sehingga menjadi `a perfect mistake'. Kita tokh tidak ingin terjebak dalam konspirasiini. > > Karena bapak telah mengalami masa yang panjang, saya terilhami dari `a glorious weekend' untuk suatu penerawangan yang lebih jauh; setidaknya ukuran minimal 50 tahun. Kiranya berkenan bila saya mengajak bapak dan rekan-rekan yang berminat untuk saling berbagi dalam pandangan-pandangan masa depan ini dalam wacana baru. Mudah-mudahan tahun depan sedikit komunitas ini dapat berkontribusi dalam Plano50. Salam.. > > -ekadj > > Subscribe to futurologi > Powered by tech.groups. yahoo.com > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ ...> wrote: > > > > Eko, mungkin Eko tidak mengira akan ada tanggapan dari pihak yang sebenarnya sudah tidak punya suara secara langsung, tetapi saya sepenuhnya menyokong atau pertahankan pendirian dan keyakinan Eko. Memang saya kira birokrasi dan sekaligus para konsultan yang tidak resmi dalam birokrasi tapi bagaimanapun juga harus ikut dalam permainan yang jelas munafik ini. For the time being mungkin mereka yang masih punya ideal atau keyakinan bahwa somewhere there there must be a truth, yah mereka termasuk kita tidak banyak yang dapat kita harapkan. Ini bukan hiburan tetapi kenyataan. Jadi tetap bikin rencana-rencana netral yang engga ada risiko dan juga tidak ada musuh (kecuali yang ngerti), itulah birokrasi atau governance atau pemerintah sekarang, yah jangan digoyang-lah, don't shake the boat, maka selamatlah kita semua? well barangkali memang tidak semua, dan lebih celaka memang tidak selamat, what we are doing is just postponing the problems, jadi kalau > > engga besok yah pasti nanti semua dosa-dosa ini harus dibayar, ini diseluruh dunia, coba kita lihat si Soros yang bisa mengatasi pelbagai krisis katanya begini: do you want to hear the bad news, yes we lost a lot of money (pokoknya semua bank-bank di dunia ini pasti lugilah) but do you know the good news , .. well it was not our money we lost (ja jelas semua pemegang saham yang atau kata gede stupid stakeholders yang betul-betul lugi - engga apa sih kalau dia pinjem duit lagi, yah dari pemerintah bukan, nah si pemerintah dia dapet duitnya dari mana, yah kalau bukan dari pembayar pajak PBB segala, the problem is that these taxpayers do not revolt since they are just as stupid. Ini gambaran gedenya, tapi saya sekarang persis dalam situasi semacam ini:.... kebetulan saja saya memang cucu dari seorang yang dahulu adalah mantri cacar jah yang mesti suntik cacar penduduk, kebetulan lagi si opa yang diberi nama tete-paksi (vaccinateur) punya sebidang > > tanah yang mulanya adalah kebun kelapa tapi dengan segala akalnya telah ia jadikan kobong pece atau sawah. Nah sawah ini rupanya oleh Pemerintah Kabupaten sekarang diincar oleh karena setiap ibukota kabupaten itu perlu ada ringroad, whatever that means, malahan si kepala dinas PU sudah berhasil mendapat allokasi untuk membikin ringroad itu, walaupun belum ada RTRW atau apa saja yang dapat membenarkan ringroad itu. Well so I just asked that basic question what do you need that ringroad for, dan pertanyaan yang lebih sukar tapi pantes untuk setiap planolog, dimana ringroad itu mau dibangun, yah rupanya pertanyaan ini rada sukar saya dapat jawaban. Secara kebetulan saya juga diminta untuk ikut rapat di PU Jakarta wah this not often happens, tapi waktu saya lagi nunggu tuan-tuan bappeda dan sekjen PU lagi rapat saya koq ketemu salah seoarang Kepala, kalau engga salah Kepala Bina Program, who said that he was jyust back from a rapat PU di Makassar, wah > > kebetulan nih lantas saya tanya soal ringroad di Ratahan ibukota kabupaten Mitra itu, well jelas jawabannya straight from the textbook, engga bisa tuh harus ada RTRW atau ada rencana yang jelas, oklah saya pulang cukup puas. Nah sekarang sudah tiga bulan lewat dan rencana ringroad itu kelihatannya engga dilanjutkan, tapi ada perkembangan baru yang tidak begitu aneh, kabupaten Mitra atau Minahasa Tenggara itu kebagian BANTEK, whatever that means pokonya you have to swallow it, datanglah konsultan dari Bandung PT Reka Spasia Indonesia yang dalam waktu singkat akan menghasilkan suatu RTRW. Nah saya sudah tiga kali ke kantor BAPPEDA Mitra tapi engga bisa ketemu, dan nilpun juga rada susah. Well anyhow saya juga tahu bahwa uang untuk ringroad sudah turun dan biaya BANTEK juga sudah turun . Dengan kata lain Eko I am back at square one. Jadi kesimpulannya memang we have created our own problems. Sudah hampir 50 tahun lalu saya mulai ngajar di planologi > > itb, akhirnya dosa-dosa ini saya harus tanggung juga. > > Memang milis ini sabar sekali, Jadi Aby, Eko Eka dan siapalah yang masih mau nulis, kenyataannya all that knowledge is just considered buulshit by the birokrasi. Rekan BTS anda sih bukan dalam birokrasi tapi jelas ikut prihatin, mungkin dosa Soros itu sukar diketemukan tapi for the time being it is governments that take all the burden. Sudah lama saya coba keluar dari kemelut ini tapi hanya satu yang mungkin masih bisa jadi penyelamat: kata orang tentang Benyamin Franklin.... he made himself rich by making his wants few..... kalau begitu kita bertapa saja kan. Pak Wawo. > > > > > >

