Milister Ysh,

Kita coba dari sudut lain ya..


Jakarta jika tanpa
penyangga (Penyangga lahir secara alamiah ). 
Jakarta dengan
pertambahan penduduk sekitar 4% per tahun akan membutuhkan tambahan ruang bagi 
tempat tinggal
sekitar 400.000 orang
per-tahun, atau sama dengan jumlah penduduk kota ukuran menengah di Sumatera 
seperti Sibolga  atau Bengkulu. Pada tahun 2008 ini, penduduk Jakarta 
diperkirakan akan
mencapai 12 juta orang (termasuk pengunjung siang dari Bo-De-Ta-Bek); Menurut 
pak Danisworo sejumlah 3,5 juta
lainnya diantisipasi akan tinggal di kota-kota Bogor, Tangerang dan Bekasi,
menjadikan penduduk perkotaan Jabotabek menjadi sekitar 15,5 juta orang. Ini
belum termasuk daerah pedesaan di wilayah yang sama yang diperkirakan akan
berpenduduk 5,5 juta orang sehingga pada tahun 2008 ini Jakarta dan wilayah
konurbasinya akan berpenduduk sekitar 21 juta orang. Bagaimana jumlah ini akan
ditampung secara layak ?  Bagaimana
pengadaan lahan bisa dipenuhi ?(cat: tanpa ada kota
penyangga).
 
Akibat dari itu, setiap hari saya perhatikan, dari pukul 6 pagi hingga 10.32 
tak kurang
dari 12 kereta AC berangkat dari stasiun Bogor ke Jakarta. Belum ditambah
kereta non AC yang hampir setiap 10 menit sekali dari Bogor ke Jakarta, 
ditambah lagi ada pemberangkatan tersendiri dari stasiun Bojong dan Depok.  
Jadi katakanlah tak kurang dari 50 kereta
berangkat dari Bogor ke Jakarta dari jam 6 hingga jam 10.30. Masing-masing
kereta menarik minimal 8 gerbong, bahkan bisa lebih, kadang hingga 10-12
gerbong. Masing-masing gerbong tak kurang dari 100-200 orang (tidak termasuk
yang diatas gerbong/Kalau pak Emil Salim cenderung menggunakan kereta lihatlah
profil kereta kami pak..). Katakanlah rata-rata 100 orang per gerbong, berarti
ada 40.000  (50X8X100) orang yang tumplek ke Jakarta dari sekitar Bogor yang 
menggunakan
kereta listrik. Jika dari Tangerang dan Bekasi masing-masing hanya separuh dari
Bogor (Karena jumlah perjalanan kereta tidak sebanyak ke bogor) berarti ada 80 
ribu orang plus minus tumplek di Jakarta di waktu yang
hampir bersamaan. Kalau kuota haji kita 200 ribu pertahun, ini hampir 
separohnya jakarta latihan memobilisasi penduduknya setiap hari hanya dari KRL. 
 
Stasiun yang paling
diminati untuk turun jika dari Bogor adalah Pasar Minggu hingga Juanda. Dari 
stasiun
Pasar Minggu hingga Juanda ada 9 stasiun pemberhentian, tetapi di stasiun
gambir tidak semua kereta boleh berhenti (hanya pakuan ekspres) jadi tinggal 8
stasiun yang paling banyak menurunkan penumpang. Menurut pengamatan saya 
(mungkin
saja keliru, mohon dibetulkan) terdapat ¾ penumpang yang turun pada sepanjang 
stasiun tsb.
Sisanya ¼ lagi tercecer di stasiun yang lain. Bangkitan 8 stasiun ini mungkin 
memperparah
kemacetan yang ada. Lha hampir 4000 orang tumplek di masing-masing stasiun di
waktu yang hampir bersamaan. Apabila kita bagi manis dari jam 6 hingga jam
10.32, kira2 menjadi 4 jam  berati ada 1000 orang per jam yang harus 
dimobilisasi dari ke 8 stasiun ini. Ini  semua baru perhitungan  minimal  lho  
..
 
Bagaimana
mengurus Jakarta dengan kondisi seperti ini... Ini belum kita hitung dari
pengguna bus dan kendaraan pribadi, baik motor maupun roda 4. Dari soal
penyediaan perumahan permukiman dan transportasi aja sudah semrawut, bukankah  
penyangga  lahir dengan alamiah... 
Salam hangat 

wisnu




Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/ 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group  | Yahoo! Groups Terms of Use  | Unsubscribe   


      

Kirim email ke