Saya mau permisi coba ikutan pak Risfan menginterpretasi posting pak Nuzul juga….. "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
“….. Lha, kalau kekuasaan dan kebijakan kapitalistik beranggapan bahwa hutan ataupun space kota adalah instrumen untuk mengakumulasikan kapital, pertanyaan, tata ruang itu mau ideal untuk sustainable development ataukah mengakomodasikan kekuasaan yang ingin membentuk "representation of space”. Kalau mau ideal, apakah "spatial practice" dan "space of representation" sebagai identitas masyarakat sudah diakomodasikan? Mungkin kira-kira begitu argumentasinya…..”. Maka itu untuk idelisme penataan ruang diperlukan demokratisme atau rule of game dalam penataan ruang…. Jadi kekuasaan penataan ruang itu (eksekutif) sejak dari skala nasional sampai skala lokalnya ada yang mengontrolnya (legislatif)…. Baik mengontrol piIihan kebijakan dan strateginya maupun mengontrol kinerjanya….. “….Lepas pandangan Lefebvre yang kental dengan perspektif Marx, rasa-rasanya sih, jika di mata kekuasaan "ruang" adalah instrumen untuk mengakumulasikan kapital, tanpa memperhatikan identitas, kita masih akan tetap berdebat nggak habis-habisnya. ..dengan argementasi yang itu itu juga…..”. Lha makanya itu….. yang debat statusnya cuma dianggap dijalanan… nggak ada apa-apanya… sementara yang kuasa … mengutip kata bu Cut Safana cuma bersikap EGP….. “….Mau bikin institusi? Who will be those people in the institution?....”. Kurang jelas pertanyaannya ditujukan ke siapa… kalau saya yang ditanya… Maka saya akan tanya balik … mau bikin institusinya mau dibawah eksekutif atau dibawah legislatif…. Kalau dibawah eksekutif… saya no comment….. kalau dibawah legislatif…. Ya memang itu belum ada… maka ia pantas untuk dibuat….. dan itu konstitusional…. alias sesuai dengan undang2… dan pastilah elegan dan terhormat….... Kata pak Nuzul siapa mau duduk didalamnya?.... Lha pak Nuzul.. pak Risfan.. pak BTS… pak Djarot… pak Wisnu.. bu Nita…pak Risman… pak Yahya.... emang pada nggak mau dan pada nggak bisa apa?....... Kalau lulus fit n proper test.. why not?..... Salam, aby --- On Fri, 9/5/08, risfano <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: risfano <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [RadNET-BULK] RE: [referensi] Re: Bengkok Lurus Re: Kompas Obok2 Planologi? (1) To: [email protected] Date: Friday, September 5, 2008, 1:58 AM Mencoba menginterpretasi posting Bang Nuzul, Nyatanya ada kebijakan pembangunan (ekonomi), atau ideologi pembangunan nasional, serta otonomi daerah yang telah dianut secara nasional pengaruhnya sangat dominan dalam "terbentuknya pola (ruang) sebaran kegiatan (ekonomi)". Itu pun juga telah menjadi trend, entah pilihan entah ketidak berdayaan, negara berkembang. Jadi apa mau dikata. Paling-paling berharap, mudah-mudahan "di bawah derasnya hujan, masih tersisa ruang-ruang yang tidak kena hujan", sehingga adalah otonomi untuk menatanya. Mau menyalahkan siapa? Rasanya kok bukan ini pertanyaannya. Salam, Risfan Munir --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan Aby dan Pak Onnos, > > Pak Onnos dengan tepat mengatakan bahwa Penataan Ruang merupakan salah satu > pendekatan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan. Kemudian pembangunan > ekonomi perlu diintegrasi kan dengan masalah lingkungan. Lha.. yang jadi > persoalan, sejak dulu kan soal efektivitasnya, bahkan teman-teman dari dulu > mempertanyakan apakah Tata Ruang itu mengakomodasikan kondisi yang ada > (karena begitu banyaknya Tata Ruang harus direvisi, eg. Pantai Kapuk) > ataukah sebagai kerangka yang menjadi referensi bersama yang harus dipatuhi? > > Rekan Eko Budi beberapa waktu lalu ada menyebut Lefebvre, sosiolog > dan filosof Prancis yang terkenal dengan pemikirannya dalam "Production of > Space". Lefebvre mengatakan bahwa wujud space dipengaruhi oleh dua hal yang > saling berkaitan yaitu kekuasaan (power) dan identitas. Ada tiga bentuk > space menurut Lefebvre,yaitu "spatial practice", "representation of space" > dan "space of representation" . Spatial practice menyangkut perilaku > masyarakat menurut kebiasaan dan adat istiadat, sementara "representation of > space" adalah persepsi tentang nilai space. Perspektif kapitalis melihat > ruang kota adalah tempat untuk akumulasi kapital, jadi buatlah hypermarket, > rumah mewah, lapangan golf, dll atau, ekploitasi saja hutan. Untuk itu > perlu hegemoni kekuasaan. > > Lha, kalau kekuasaan dan kebijakan kapitalistik beranggapan bahwa hutan > ataupun space kota adalah instrumen untuk mengakumulasikan kapital, > pertanyaan, tata ruang itu mau ideal untuk sustainable development ataukah > mengakomodasikan kekuasaan yang ingin membentuk "representation of space". > > Kalau mau ideal, apakah "spatial practice" dan "space of representation" > sebagai identitas masyarakat sudah diakomodasikan? Mungkin kira-kira begitu > argumentasinya. > > Lepas pandangan Lefebvre yang kental dengan perspektif Marx, rasa-rasanya > sih, jika di mata kekuasaan "ruang" adalah instrumen untuk mengakumulasikan > kapital, tanpa memperhatikan identitas, kita masih akan tetap berdebat nggak > habis-habisnya. ..dengan argementasi yang itu itu juga.. Mau bikin > institusi? Who will be those people in the institution? > Sekedar menghangatkan suasana di bulan Ramadhan, bulan penuh perenungan, > bulan penuh ampunan, semoga kita menjadi lebih baik lagi. > > Wassalam, > > Nuzul Achjar >

