Milisters ysh,
 
Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
“…..Pak Aunur, Pak Risfan, Pak Dwi, Pak Aby dan teman-teman milister Ysh, 
Selama bulan Ramadhan 1429H ini, koq rasa-rasanya saya merasa cerewet sekali 
untuk mengomentari berbagai hal, khususnya tentang penataan ruang. Jadi mohon 
maaf sebelumnya jika ada yang kurang berkenaan…..”.
>>>: Dimata saya anda adalah salah satu tamu agungnya milis ini… jadi posting 
>>>anda selalu saja appreciated dan menarik… setidaknya untuk saya….
 
Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
“……Begini ceritanya. Dalam beberapa kesempatan saya mencoba mereview hasil 
Rencana Tata Ruang baik tingkat provinsi maupun Kabupaten yang dibuat 
konsultan, khususnya dalam analisis ekonomi regional. Yang menarik adalah 
hampir semuanya menggunakan model shift-share. Namun sayangnya, tidak satupun 
analisis shift-share tersebut yang "bunyi" dalam konteks tata ruang, kecuali 
sekedar angka-angka yang tidak punya makna. Saya tidak tahu persis asal muasal 
digunakannya shift-share tersebut yang kemudian menjalar ke daerah lain……”. 
 
"Bambang Tata Samiadji" [EMAIL PROTECTED] wrote:

“….Konsultan itu tidak selalu lebih pandai. Konsultan itu hanya second opinion 
saja. Tapi seharusnya konsultan itu harus tahu makna, atau filosofi atas 
pekerjaannya. Kalau dalam rencana tata ruang, khususnya Regional Planning, 
memang selalu menggunakan analisis Shift-Share. Itu karena si konsultan 
mencontoh dari yang sudah-sudah. Yang sudah begitu, maka dia ikuti saja. 
Anehnya si klien itu juga nggak tahu apa guna Shift-Share itu. Sungguh sangat 
fatal karena metode Shift-Share itu sifatnya gambaran makro saja dan 
preliminary analisis saja.….”.
 
>>>: Dalam pekerjaan2  PR tak jarang…. yang penting kadang bukanlah mutu 
>>>hasilnya…. tapi adalah ‘pokoknya ada pembelanjaan anggarannya’ ….. dan 
>>>mudah2an  konsultannya cukup pengertian……
Penunjukan konsultannya juga tak selalu the very best of the best…. Sesekali 
bukan tak mungkin hasil ‘desakan’ (‘tekanan’) atau ‘titipan’ dari legislatif….. 
 
"Bambang Tata Samiadji" [EMAIL PROTECTED] wrote:
 “……Yang masih debating adalah sistem kota-kota yang katanya ada orde 1, orde 
2, orde 3, dan seterusnya. Heran di jaman global dan desentralisasi koq masih 
dipakai. Tapi terserah... syariatnya memang gitu kali……”.
>>>: Justru dizaman globalisasi inilah dimana negara-negara sedang berkembang 
>>>berlomba-lomba ingin menarik sebanyak-banyak investasi asing…. Malu kalau 
>>>wilayahnya masih ‘berantakan’ dan ‘udik’..…..jadi perlu ‘berbenah’…..
Berlomba-lomba ingin  tune in dan kompatibel dengan berbagai sistem kehidupan  
serta sistem disitribusi negara-negara maju….. dengan harapan ratingnya dalam 
country competitiveness bisa tinggi dan terpilih sebagai bagian dari 
‘negara-negara tujuan investasi favorit’….…
Lain daripada itu…… berbeda dengan orang2 dibirokrasi, para salaryman serta  
profesional….. yang sangat berbeda dengan mayoritas rakyat biasa…. yang sumber 
kehidupannya serta invoicingnya lebih terletak dilapangan dan sangat bergantung 
pada mekanisme pasar…… rakyat terbanyak harus hidup dari berwiraswasta…. Dari 
berproduktivitas… serta  tergantung dari interaksi transaksi  ekonomi….. 
Rakyat sebagai bagian terbesar penduduk negeri ….  Banyak  harus larut dalam 
sistem distribusi nasional….. sebagai bagian dari mekanisme pasar ….
Barang yang diproduksi didistribusikan melalui sistem kota-kota…. Demikian pula 
barang yang dibutuhkan dan dapat dibeli… juga sebelumnya harus menempuh jalan 
panjang  distribusinya dulu sejak  pertama keluar dari pabriknya (bahkan tak 
jarang diluarnegeri sana) …… 
Sistem distribusi nasional atau regional dan lokal  tergantung pula pada sistem 
jaringan transport nasional, regional serta lokal yang sama …... dimana 
konkritnya jalur distribusi itu adalah berupa jaringan hubungan strategis  
antar kota-kota   secara hirarkhial ……
Karena itu dimata profesional dan para salaryman hirarkhi kota itu tidak 
penting… karena pasarnya, konsumen/  bos/  ‘tuhan’nya serta invoicingnya 
berbeda…… 
Tetapi dimata para produsen…  dimata para wiraswastawan,  dimata para 
industrialis,  para trader serta rakyat kebanyakan pada umumnya….. Hirarkhi  
kota yang hampir menyatu  dengan  hirarkhi sistem jaringan transportasi  serta 
hirarkhi  jejaring distribusi adalah sosok serta rute pasti yang nyata, riil 
dan vital dalam kehidupan sehari2nya…..
Distribusi bukanlah proses yang  ‘asssaaal’… tetapi memakai hirarkhi….. 
setidaknya dari pabrik… keagen tunggal/ distributor utama…..  ke distributor’’’ 
ke wholesaler… ke retail…. barulah kekonsumen…... konsumen tidak bisa nyelonong 
langsung ke pabrik….. 
Sistem distribusi umumnya sejalan dengan sistem jaringan transportasi nasional 
yang hirarkhial….…. 
Karena itulah ‘sistem hirarkhi kota’ itu ‘aturan’ serta 'benda riil' dimata 
rakyat ….. sedangkan dimata profesional dan salaryman  ia 'abstrak' dan  
bukanlah apa-apa…….
 
Salam,
aby

--- On Thu, 9/11/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Shift-Share
To: [email protected]
Date: Thursday, September 11, 2008, 6:10 AM







Bung Nuzul dan milister lainnya ysh. 

Konsultan itu tidak selalu lebih pandai. Konsultan itu hanya second opinion 
saja. Tapi seharusnya konsultan itu harus tahu makna, atau filosofi atas 
pekerjaannya. Kalau dalam rencana tata ruang, khususnya Regional Planning, 
memang selalu menggunakan analisis Shift-Share. Itu karena si konsultan 
mencontoh dari yang sudah-sudah. Yang sudah begitu, maka dia ikuti saja. 
Anehnya si klien itu juga nggak tahu apa guna Shift-Share itu. Sungguh sangat 
fatal karena metode Shift-Share itu sifatnya gambaran makro saja dan 
preliminary analisis saja. Di dalam buku pinternya diberitahu bahwa hasil 
analisis Shift-Share itu tidak boleh dijadikan kesimpulan. Selain dari itu, 
kelemahan Shift-Share itu tidak ada kaitan atau implikasi dengan geografi atau 
spatial (sifatnya skalar, bukan vektor).Lha kalau nggak ada kaitan dengan 
spatial, mengapa dipakai? 

Sebetulnya Bung Nuzul, kelemahan itu tidak hanya dalam analisis Shift-Share, 
hampir semua analisis yang ada lemah kaitannya dengan hasil rencananya. Dalam 
analisis penduduk misalnya, konsultan sering mencampur data sensus (1960, 1971, 
1980, 1990, 2000) dengan non-sensus (misalnya tahun 1993, 1994, 1995, dst). 
Jelas itu tidak benar. Begitu juga penilaian dengan sistem scoring, itu dari 
sisi metode juga salah, tapi terus saja dipakai. Begitu juga pada analisis kota 
yang melakukan pemekaran. Kota hasil pemekaran biasanya mempunyai laju 
pertumbuhan lebih dari 4%. Inipun dipercaya dan selalu dipakai dasar analisis 
selanjutnya. Padahal laju pertumbuhan penduduk yang tinggi pada kota hasil 
pemekaran itu sebagai akibat tambahan wilayah, bukan pertumbuhan penduduk itu 
sendiri. Beberapa dokumen tata ruang saya juga masih sering menemui bahwa dalam 
analisis PDRB, mereka tidak tahu makna Current Price dan Contant Price. Ada 
yang menghitung laju pertumbuhan ekonomi
 daerah masih juga menggunakan Current Price. Konsultan-konsultan begini ini 
justru bersertifikat. 

Yang masih debating adalah sistem kota-kota yang katanya ada orde 1, orde 2, 
orde 3, dan seterusnya. Heran di jaman global dan desentralisasi koq masih 
dipakai. Tapi terserah... syariatnya memang gitu kali.. 

Thanks. CU. BTS. 





elemahannya memang tidak menunjukkan 
----- Original Message ----- 
From: Nuzul Achjar 
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com 
Sent: Thursday, September 11, 2008 3:37 AM 
Subject: Re: [referensi] Bengkok Lurus Kuasa dan Pembangunan Kota: Shift-share 



Pak Aunur, Pak Risfan, Pak Dwi, Pak Aby dan teman-teman milister Ysh, 

Selama bulan Ramadhan 1429H ini, koq rasa-rasanya saya merasa cerewet sekali 
untuk mengomentari berbagai hal, khususnya tentang penataan ruang. Jadi mohon 
maaf sebelumnya jika ada yang kurang berkenaan. 

Begini ceritanya. Dalam beberapa kesempatan saya mencoba mereview hasil Rencana 
Tata Ruang baik tingkat provinsi maupun Kabupaten yang dibuat konsultan, 
khususnya dalam analisis ekonomi regional. Yang menarik adalah hampir semuanya 
menggunakan model shift-share. Namun sayangnya, tidak satupun analisis 
shift-share tersebut yang "bunyi" dalam konteks tata ruang, kecuali sekedar 
angka-angka yang tidak punya makna. Saya tidak tahu persis asal muasal 
digunakannya shift-share tersebut yang kemudian menjalar ke daerah lain. 

Tentu tidak pantas saya mereview apa itu shift-share di milis referensi kita 
ini, Kalau tokh harus direview, dalam analisis tersebut sama sekali tidak 
disentuh makna atau implikasi dari pengaruh pertumbuhan ekonomi provinsi 
terhadap pertumbuhan regional, demikian juga implikasi dari daya saing sektoral 
(competitive share) sektor-sektor yang telah diidentifikasi, dan bagaimana 
hubungannya dengan konsep tata ruang hingga 10 atau 20 tahun ke depan. 

Kalau saja model shift-share itu sudah nyambung, kita sudah lebih maju 
selangkah, walaupun dalam kenyataannya, model shift-share ini sudah tidak 
"ampuh" lagi dalam analisis regional kontemporer, kecuali sebagai referensi 
historis belaka. Tanpa perbaikan mendasar, kesan Rencana Tata Ruang itu sekedar 
barang pajangan yang indah dilihat akan semakin terasa. 

Sekali lagi mohon maaf jika kurang berkenan. 

Wassalam, 

Nuzul Achjar 


Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Calendar 
Komunitas Referensi 
http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ 

Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Visit Your Group 
Need traffic? 
Drive customers 

With search ads 

on Yahoo! 

Y! Messenger 
PC-to-PC calls 

Call your friends 

worldwide - free! 

Check out the 
Y! Groups blog 

Stay up to speed 

on all things Groups! 
.

 














      

Kirim email ke