Pak Aby ysh. 

Maksud tulisan saya mengenai Sistem
Kota-kota yang masih debating adalah Sistem Kota-kota dalam konteks
"Model in Planning". Bukan soal Sistem Kota-kota itu penting
atau tidak penting, bukan pula soal salaryman dan rakyat swasta. ....it
wanders from the subject. 

Thanks. CU. BTS. 


----- Original Message ----- 
From: hengky abiyoso 
To:
[email protected] 
Sent: Saturday, September 13, 2008 12:01
AM 
Subject: [referensi] Re: Shift-Share Re :Kuasa dan Pembangunan
Kota 

Bambang Tata Samiadji" [EMAIL PROTECTED] wrote: 

“……Yang masih debating adalah sistem kota-kota
yang katanya ada orde 1, orde 2, orde 3, dan seterusnya. Heran di jaman
global dan desentralisasi koq masih dipakai. Tapi terserah... syariatnya
memang gitu kali……”. 

>>>: Justru
dizaman globalisasi inilah dimana negara-negara sedang berkembang
berlomba-lomba ingin menarik sebanyak-banyak investasi asing…. Malu
kalau wilayahnya masih ‘berantakan’ dan
‘udik’..…..jadi perlu ‘berbenah’…..


Berlomba-lomba ingin tune in dan kompatibel dengan berbagai
sistem kehidupan serta sistem disitribusi negara-negara maju…..
dengan harapan ratingnya dalam country competitiveness bisa tinggi dan
terpilih sebagai bagian dari ‘negara-negara tujuan investasi
favorit’….… 

Lain daripada
itu…… berbeda dengan orang2 dibirokrasi, para salaryman
serta profesional….. yang sangat berbeda dengan mayoritas rakyat
biasa…. yang sumber kehidupannya serta invoicingnya lebih terletak
dilapangan dan sangat bergantung pada mekanisme pasar……
rakyat terbanyak harus hidup dari berwiraswasta…. Dari
berproduktivitas… serta tergantung dari interaksi transaksi
ekonomi….. 

Rakyat sebagai bagian terbesar penduduk
negeri …. Banyak harus larut dalam sistem distribusi
nasional….. sebagai bagian dari mekanisme pasar …. 

Barang yang diproduksi didistribusikan melalui sistem kota-kota….
Demikian pula barang yang dibutuhkan dan dapat dibeli… juga
sebelumnya harus menempuh jalan panjang distribusinya dulu sejak pertama
keluar dari pabriknya (bahkan tak jarang diluarnegeri sana)
…… 

Sistem distribusi nasional atau regional dan
lokal tergantung pula pada sistem jaringan transport nasional, regional
serta lokal yang sama …... dimana konkritnya jalur distribusi itu
adalah berupa jaringan hubungan strategis antar kota-kota secara
hirarkhial …… 

Karena itu dimata profesional dan
para salaryman hirarkhi kota itu tidak penting… karena pasarnya,
konsumen/ bos/ ‘tuhan’nya serta invoicingnya
berbeda…… 

Tetapi dimata para produsen…
dimata para wiraswastawan, dimata para industrialis, para trader serta
rakyat kebanyakan pada umumnya….. Hirarkhi kota yang hampir menyatu
dengan hirarkhi sistem jaringan transportasi serta hirarkhi jejaring
distribusi adalah sosok serta rute pasti yang nyata, riil dan vital dalam
kehidupan sehari2nya….. 

Distribusi bukanlah proses yang
‘asssaaal’… tetapi memakai hirarkhi…..
setidaknya dari pabrik… keagen tunggal/ distributor utama…..
ke distributor’’’ ke wholesaler… ke
retail…. barulah kekonsumen…... konsumen tidak bisa
nyelonong langsung ke pabrik….. 

Sistem distribusi
umumnya sejalan dengan sistem jaringan transportasi nasional yang
hirarkhial….…. 

Karena itulah ‘sistem
hirarkhi kota’ itu ‘aturan’ serta 'benda riil' dimata
rakyat ….. sedangkan dimata profesional dan salaryman ia 'abstrak'
dan bukanlah apa-apa……. 



Salam, 

aby 


Kirim email ke