Ini saya kira model serta sikap mental space consciousness standar dan wajib
yang patut dimiliki oleh semua spatial planner..... agar bisa dicontoh oleh
masyarakat luas.....
Mungkin ingin hemat space Datuk E tidak menambahkan ajaran tentang etos menanam
padi dikantong plastik..... dan untuk bangunan berlantai ganda tentu akan baik
pula bila dikembangkan etos menanam diatas dak atau roof garden......
Walau bukan planner... atau paling banter planner palsu.... untuk memenuhi
himbauan budaya otarki itu......sedikit2 saya sudah lho datuk.... untuk
floranya didak belakang dan depan rumah saya tanam ada jambu air, jambu batu,
belimbing, jeruk wangi, jahe, cabe dan beberapa macam bunga..... hanya padi
yang ingin tapi belum sempat dapat gabahnya.....dan untuk faunanya ada ikan
lele serta kucing angora/ persia......
Salam,
aby.
--- On Mon, 9/15/08, ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [permukiman] Fw: Otarki
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, September 15, 2008, 2:25 PM
Otarki identik dengan Jepang. Keterbatasan tanah yang dapat ditanami
serta etos kemandirian yang dimiliki penduduk negeri sakura,
menjadikan otarki sebagai kultur yang terlembagakan dengan baik dari
generasi ke generasi.
Dalam pengertian yang sederhana, otarki dipahami sebagai budaya
menanami pekarangan rumah dengan tanaman-tanaman yang produktif,
termasuk di dalamnya tanaman obat-obatan. Di Jepang, otarki juga
dilakukan dengan media pot. Hasilnya, penduduk jepang relatif lebih
berswa semabada pangan di bandingkan Indonesia.
Indonesia yang diberkati kekayaan alam yang berlimpah, perlu
"mengimpor" budaya ini. Karena kita memiliki laut yang mengandung
hasil laut yang hampir tidak terbatas, di mana tanpa harus melakukan
budi daya perikanan, kebutuhan ikan, udang, teripang dan sebagainya
seharusnya dapat terpenuhi. Di daratan, potensi alam negeri ini juga
tidak kalah melimpah. Banyak tanaman lokal seperti umbi-umbian,
rempah-rempah dan makanan pokok sehari-hari dapat tumbuh dengan
sendirinya. Namun nyatanya kita belum berswa sembada pangan. Kita
masih perlu mengimpor beras dari Vietnam, bahkan kita pernah menjual
kapal buatan PT DI (IPTN) dengan pembayaran berupa tepung. Dan rasanya
kita perlu mengurut dada, mengingat bahwa untuk memenuhi kebutuhan
garam, kitapun masih harus mengimpor dari luar negeri.
Luas pekarangan rumah dan tanah kosong yang dimiliki mayoritas
masyarakat Indonesia belum tergarap dengan maksimal. Untuk pekarangan
rumah yang luasnya 1 x 2 meter, seseorang dapat menanam 1 pohon terong
yang merambat, 1 pohon kunyit, 1 pohon jahe, 3 pohon cabai, 1 pohon
tomat, 1 pohon lengkoas yang masing-masing ditanam dalam pot ukuran
sedang. Kemudian sebagai penyejuk, silahkan dia memilih pohon
belimbing, rambutan, mangga, jambu air, jambu batu, atau pohon lain
yang buahnya berukuran kecil atau sedang. Ia pun masih dapat menambah
1 pohon pepaya di pojok pekarangan. Dengan demikian, pekarangan rumah
yang mungil tadi dapat memenuhi kabutuhan pangan, paling tidak sambal
terong untuk pelengkap lauk nasi, sekaligus rempah untuk membuat
obat-obatan alternatif bagi penyakit ringan seperti gatal-gatal, masuk
angin, dan flu.
Untuk mendapatkan benih cabai, tomat, dan pepaya, kita cukup menjemur
biji-biji buah tersebut selama satu hari, untuk kemudian disebar di
tanah (atau pot). Untuk menanam terong, jahe, dan langkoas, kita cuma
perlu menanamnya dalam tanah. Selanjutnya, kita menyiraminya jika
hujan tidak turun. Tanpa pupuk dan perawatan yang rumit, pohon-pohon
itu dapat tumbuh dengan baik, dan memberikan hasil yang tidak terputus
oleh musim.
Orang-orang tua kita sudah mengingatkan, bahwa semisal besok kiamat
datang, dan di tangan kita ada satu benih papaya, maka hendaknya kita
menanamnya. Apa yang kita tanam, terkadang tidak kita nikmati
hasilnya, namun demikian, orang setelah kita akan bersyukur kepada
kita atas "warisan" tanaman yang kita tinggalkan. Nabi Muhammad
shallalahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, Apabila seorang muslim
menanam, kemudian tanaman itu dimakan burung, manusia, ataupun hewan,
maka itu sudah termasuk sedekah (HR. Bukhari dan Muslim)
MENANAM, YUK!
akangwowo.multiply. com