Pak Risfan ysh, Sukacita saya mendengar kata anda: “….Mengenai Makassar, itu memang pusat utama di Timur, sebagai 'counter-magnet' . No doubt about it. ……… Mungkin ini bisa jadi bahan diskusi?........” Semula ingin langsung menyambutnya…. tapi agak sedikit mengernyitkan dahi ketika membaca kalimat anda : “…Memang betul lah itu berawal dari kisah lama, saat negara ini begitu optimistik……”. Dan jadi prihatin berat ketika membaca posting lain lagi berikut ini : “……Ngga tahu pake konsep pembangunan yg dilakukan di SulSel, Makasar-Pare. Tapi yg jelas pasti letoy lah, artinya belum ada energi kalau kita bangun disitu, walaupun tahu bhw pusat pertumbuhan wilayah Timur di Makasar, itukan krn konsep-konsep yg lama yg telah merasuk ke pemikiran kita, sehingga msh meyakini Makasarpusat pertumbuhan…….”. Kenapa…. Ya itu artinya ….. untuk petinggi otoritas keruangan yang telah bertitah begitu….. sudah bertitah bahwa ”itu konsep lama yang merasuk jiwa”….. dan orang lain atau saya masih juga mau mendiskusikannya… itu bukankah nekat namanya?...... Kalo coba ikutan pola pikir ‘lama’ juga…… maka saya pikir asalkan seorang petinggi otoritas sudah menitahkan sesuatu… maka tanpa banyak rewel rakyat dan mereka yang hidupnya tergantung pada bidang wewenang petinggi itu tentunya harus tunduk patuh…. jangan nekat…… sebab kalo nggak… alamat ga bakalan dapat ‘restu’……. Dan gak dapat restu untuk bidang yang menyangkut hidup mati kita…memangnya enak?......... Tapi saya pikir saya sudah tua…. sudah gak banyak artinya…. lagipula gak harus hidup dari planning… jadi kalopun bicara saya gak dapat ‘restu’ saya pikir gak apa-apa banget……. tapi saya sebenarnya merasa agak rancu juga dengan campur aduk pengertian antara ‘konsep lama’, ‘pola pikir lama’ atau ‘mentalitas lama’…….... Saya bingung…. Kalo yang namanya konsep NKRI itu termasuk ‘konsep lama’ atau gak ya?....... apa pak Risfan ada punya ‘konsep baru’nya dan saya boleh pinjem?........ siapa tahu beda jauh isinya….. Juga istana presiden kok main nimbrung memakai lokasi eks kolonial di merdeka utara …. Atau ibukota negara kok juga main nimbrung dieks lokasi pusat pemerintahan kolonial … apa itu termasuk ‘konsep lama’ juga ato gak ya?..... Tapi sekali lagi pak Risfan yang baik… dari kalimat anda “….. Mks…'counter-magnet' . No doubt about it….” Kalau saya sih terus terang masih tetap doubting berat aja….. maksud saya… saya masih percaya bahwa masih saja tak banyak dinegeri ini yang berpikir tentang perlunya “countermagnet to national primate city “ itu…… karena pertama kurangnya patriotism serta less national planning vision ……yang kedua… karena semacam ‘kehendak alam’….atau ‘kehendak pasar’…. Dimana praktek planologi yang paling laku dipasar adalah yang dari ‘local planning’ atau ‘city planning’ (dan bukan urban planning atau regional development planning) … biasanya untuk konsumsi pemda serta industri real estate…. maka anak-anak planning cenderung memilih jurusan2 yang paling laku dipasar tenaga kerja itu…… ini tak beda jauh seperti didunia sekolah teknik industri atau teknik mesin misalnya … dimana umumnya anak2 lebih menyerbu jurusan otomotif dan amat kurang berminat pada jurusan metalurgi atau konversi energi misalnya…. Yang jelas akan lebih strategis bagi bangsa dan negara…….... Ya ini semua saya kira tak terlepas dari rangkaian sejarah masa lalu sekolah planning kita juga…. maksud saya sambil rindu menggodain biar eyang Wawo yang baik budi tergelitik dan berkenan turun bukit serta berkenan berdiskusi juga secara lumayan serius (tapi first of all saya tentu mohon ampunnya karena mengganggu istirahat beliau dan saya hanya iseng godain saja) … dan berharap beliau bukannya sekedar terlibat ‘diskusi iseng/ main2’… seperti ungkapannya orang lain untuk masalah berat yang menjadi kompetensi jabatan formalnya yang dengan ringan tanpa beban moral apapun katakan “…he he he, sori sekedar iseng nimbrung….”. Ya pak Risfan (juga ysh pak Wawo)…. Sebenarnya tak salah kalo anak-anak selepas SMA memilih jurusan yang cepat nyangkut dipasar tenagakerja itu…. Dasar nyari kerja yang masa depannya enak khan gak mudah (tapi trenyuh juga inget kisah eyang Wawo ketika pertama membujuk2 mahasiswa untuk agar mau masuk ‘jurusan baru’ planologi’)…. Tapi ya gitulah ya…. Semua itu selalu dengan segala Plus-minusnya…. L.k. sama seperti didunia farmasi …. Para ahli farmakolog terus meriset obat-obat baru untuk menghasilkan efek penyembuhan yang besar sambil terus meminimalkan side effectnya….. tapi sering obat2 sebaik apapun untuk pemakaian jangka panjang tetap saja menghasilkan side effect yang merugikan juga……. Mungkin satu side effect pada sekolah planologi adalah bahwa jurusan national strategic planning yang sesungguhnya paling dibutuhkan oleh bangsa dan negara…. Tapi menjadi paling kurang diminati… karena pasarnya bisa paling sepi/ kering…… dan bisa menjadi paling tidak diminati oleh industri real estate dan pemda……. Dan lagipula bicara national strategic planning kalau beda dengan selera penguasa khan bisa jadi ‘musuh politik’?.... dan buntut-buntutnya gak dipake alias mati kutu?...... maka akhirnya yang paling aman adalah menciptakan suasana (atau menjadi bagian dari) ‘masyarakat planning yang guyub’ dan ‘akur’… dan perkara masyarakat (khususnya yang miskin) menjadi terlantar…. Bukankah itu sudah nasib?... setidaknya itu sudah terjadi sejak berabad lalu masuknya VOC…... Tapi kembali lagi…. Memenuhi ajakan pak Risfan untuk berdiskusi tentang Mks….. Walau ada titah warning dari sang panglima space development/ panglima pasukan planner tentang …‘membangun di Mks pasti ‘letoy’… atau…‘tidak ada energi’ …. Dan itu hanya “….konsep-konsep yg lama yg telah merasuk ke pemikiran kita….”… akh saya sih masa bodo amat…. Setelah ini saya akan dengan suka cita mengumbar pikiran saya tentang taktik membangun di Mks itu… karena itu sudah kadung merasuk jiwa…. Dan kebetulan ada undangan pak Risfan untuk mendiskusikannya …. Jadi ada alasan saya untuk mengocehkannya….. walau resikonya akan sekaligus mengundang debat untuk mematahkannya….. Salam, aby

