Pak Aby yang sangat gigih,

Kabarnya, agar tetap segar dan dapat tidur pulas kita harus menyimpan dulu
pikiran kita hari ini di luar kamar tidur, dan baru menengok atau
mengambilnya kembali esok hari. Kadang-kadang kita perlu "meletakkan" dulu
mainan lama kita, melupakan sesaat, dan mencoba permainan baru. Bukan untuk
melupakannya, tapi sedikit "refreshing" atau tour ke luar kotak, agar otak
kita tidak mampet dengan keruwetan yang membelit kita selama ini. Siapa tahu
ada gagasan baru, atau justru menambah cinta kepada mainan lama kita.

Belakangan ini mulai berkembang pula gagasan untuk membuat pusat
pertumbuhan, berbasis perkiraan perkembangan pasar global masa datang, di
Sulawesi Utara dan di Maluku Utara.
Tampaknya gagasan mereka berbeda dengan konsep pengembangan Makasar-nya Pak
Aby. Pak Aby mengambil posisi di "tengah-tengah" peta NKRI, sedangkan usulan
mereka justru dipingirannya (perbatasan, terdepan). Tentu konsep ini juga
berbeda dengan pemikiran bahwa yang dikembangkan adalah "counter magnet"
terhadap Jakarta. Mungkin malah tidak ada kaitannya dengan pemilihhan
alternatif "ibukota baru".

Tanpa perlu membandingkan dengan Makasar, apa pendapat Pak Aby atau
rekan-rekan lain terhadap kedua gagasan yang juga sedang bersaing tersebut?

Wasalam,

Abimanyu


2008/9/16 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>

>
>
> Pak Risfan ysh,
>
>
>
> Sukacita  saya mendengar kata anda: *"….**Mengenai Makassar, itu memang
> pusat utama di Timur, sebagai 'counter-magnet' . No doubt about it. **………
> **Mungkin ini bisa jadi bahan diskusi?**........"
> *Semula ingin langsung menyambutnya…. tapi agak sedikit mengernyitkan dahi
> ketika membaca kalimat  anda :
>
> *"…**Memang betul lah itu berawal dari kisah lama, saat negara ini begitu
> optimistik…**…".*
>
> Dan jadi prihatin berat ketika membaca posting lain lagi berikut ini :
>
> *"……**Ngga  tahu pake konsep pembangunan yg dilakukan di SulSel,
> Makasar-Pare.  Tapi yg jelas pasti letoy lah, artinya belum ada energi kalau
> kita bangun disitu, walaupun tahu bhw pusat pertumbuhan wilayah Timur di
> Makasar, ***
>
> *itukan krn konsep-konsep yg lama yg telah merasuk ke pemikiran kita, ***
>
> *sehingga msh meyakini Makasarpusat pertumbuhan…**….".** ***
>
>
>
> Kenapa…. Ya itu artinya ….. untuk petinggi otoritas keruangan yang telah
> bertitah  begitu….. sudah bertitah bahwa "itu konsep lama yang merasuk
> jiwa"…...
>
>  dan orang lain atau saya masih juga mau mendiskusikannya… itu bukankah
> nekat namanya?......
>
> Kalo coba ikutan pola pikir 'lama' juga…… maka saya pikir asalkan seorang
> petinggi otoritas sudah menitahkan sesuatu… maka tanpa banyak rewel  rakyat
> dan mereka yang hidupnya tergantung pada bidang wewenang petinggi itu
> tentunya harus tunduk patuh….  jangan nekat…… sebab kalo nggak… alamat  ga
> bakalan dapat 'restu'……. Dan gak dapat restu  untuk bidang yang menyangkut
> hidup mati kita…memangnya  enak?.........
>
>
>
> Tapi saya pikir saya sudah tua…. sudah  gak banyak artinya….  lagipula gak
> harus hidup dari planning… jadi kalopun bicara saya gak dapat 'restu' saya
> pikir gak  apa-apa banget……. tapi saya sebenarnya merasa agak rancu juga
> dengan campur aduk pengertian antara  'konsep lama',  'pola pikir lama'
> atau 'mentalitas lama'……....
>
>
>
> Saya bingung…. Kalo yang namanya konsep NKRI  itu termasuk 'konsep lama'
> atau gak ya?....... apa pak Risfan ada punya 'konsep baru'nya dan saya boleh
> pinjem?........ siapa tahu beda jauh isinya…..
>
> Juga istana presiden kok main nimbrung memakai  lokasi eks kolonial di
> merdeka utara …. Atau ibukota negara kok juga main nimbrung dieks lokasi
> pusat pemerintahan kolonial … apa itu termasuk 'konsep lama' juga ato gak
> ya?.....
>
> Tapi sekali lagi pak Risfan yang baik… dari kalimat anda *"….. 
> Mks…**'counter-magnet'
> . No doubt about it…**." *Kalau saya  sih terus terang masih tetap
> doubting berat aja….. maksud saya… saya masih percaya bahwa masih saja tak
> banyak dinegeri ini  yang berpikir tentang perlunya "countermagnet to
> national primate city " itu…… karena  pertama kurangnya patriotism serta  less
> national planning vision ……yang kedua… karena semacam  'kehendak
> alam'….atau 'kehendak pasar'…. Dimana praktek planologi yang paling laku
> dipasar adalah yang dari 'local planning' atau 'city planning' (dan bukan
> urban planning atau regional development planning) … biasanya untuk konsumsi
> pemda serta industri real estate…. maka  anak-anak planning cenderung
> memilih jurusan2 yang paling laku dipasar tenaga kerja itu…… ini tak beda
> jauh seperti didunia  sekolah teknik industri atau teknik mesin misalnya …
> dimana umumnya anak2 lebih menyerbu jurusan otomotif dan amat kurang
> berminat pada jurusan metalurgi atau konversi energi misalnya…. Yang jelas
> akan lebih strategis bagi bangsa dan negara……....
>
>
>
> Ya ini semua saya kira tak terlepas dari rangkaian sejarah masa lalu
> sekolah planning kita juga…. maksud saya sambil rindu menggodain  biar
> eyang Wawo  yang baik budi tergelitik dan  berkenan turun  bukit serta
> berkenan berdiskusi juga secara lumayan serius  (tapi first of all saya
> tentu mohon ampunnya karena mengganggu istirahat beliau dan saya hanya iseng
> godain saja) … dan berharap beliau bukannya sekedar  terlibat 'diskusi
> iseng/ main2'… seperti ungkapannya orang lain untuk masalah  berat yang
> menjadi kompetensi jabatan formalnya yang dengan ringan tanpa beban moral
> apapun katakan  *"…**he he he, sori sekedar iseng nimbrung**….".*
>
>
>
> Ya pak Risfan (juga ysh pak Wawo)…. Sebenarnya tak salah kalo anak-anak
> selepas SMA memilih jurusan yang cepat nyangkut dipasar tenagakerja itu….
> Dasar nyari kerja yang masa depannya enak khan gak mudah (tapi trenyuh juga
> inget kisah eyang Wawo ketika pertama membujuk2 mahasiswa untuk agar mau
> masuk 'jurusan baru' planologi')…. Tapi ya gitulah ya…. Semua itu selalu
> dengan segala Plus-minusnya…. L.k. sama seperti didunia farmasi …. Para ahli
> farmakolog terus meriset obat-obat baru untuk menghasilkan efek penyembuhan
> yang besar sambil terus meminimalkan side effectnya….. tapi sering obat2
> sebaik apapun untuk pemakaian jangka panjang tetap saja menghasilkan side
> effect yang merugikan juga…….
>
> Mungkin satu  side effect pada sekolah planologi adalah bahwa jurusan
> national strategic planning  yang sesungguhnya paling dibutuhkan oleh
> bangsa dan negara…. Tapi menjadi paling kurang diminati… karena pasarnya
> bisa paling sepi/ kering……  dan bisa menjadi  paling tidak diminati oleh
> industri real estate dan pemda……. Dan lagipula bicara national strategic
> planning kalau beda dengan selera penguasa khan bisa jadi 'musuh
> politik'?.... dan buntut-buntutnya gak dipake alias mati kutu?....... maka
> akhirnya yang paling aman adalah menciptakan suasana (atau menjadi bagian
> dari)  'masyarakat planning  yang guyub' dan 'akur'… dan  perkara
> masyarakat  (khususnya yang miskin) menjadi terlantar…. Bukankah itu sudah
> nasib?... setidaknya itu sudah terjadi sejak berabad lalu masuknya VOC…...
>
> Tapi kembali lagi…. Memenuhi ajakan pak Risfan untuk berdiskusi tentang
> Mks….. Walau ada titah warning dari sang panglima space development/
> panglima pasukan planner tentang …'*membangun di Mks pasti 'letoy'*…
> atau…'*tidak ada energi'* …. Dan  itu hanya *"….**konsep-konsep yg lama yg
> telah merasuk ke pemikiran kita**….*"… akh  saya sih masa bodo amat….
> Setelah ini saya akan dengan suka cita mengumbar pikiran saya tentang taktik
> membangun di Mks itu… karena itu sudah kadung merasuk jiwa…. Dan kebetulan
> ada undangan pak Risfan untuk mendiskusikannya ….  Jadi ada alasan saya
> untuk mengocehkannya….. walau resikonya akan sekaligus mengundang debat
> untuk mematahkannya…..
>
>
>
> Salam,
>
> aby
>
>
>  
>

Kirim email ke