Pak Abimanyu ysh,
 
Untuk ide-ide pengembangan pusat pertumbuhan baru …. Sulut dan Maluku Utara…… 
berbasis perkiraan pengembangan pasar global atau berbasis boom minyak  Dubai 
dsb…….. saya kira tak hanyaSulut dan Maluku Utara (Morotai) saja yang 
rencananya akan dikembangkan ……
Kalau anda pernah baca koran lokal terbitan Kendari misalnya ….. suatu saat 
pernah juga sampai beberapa pekan lamanya ramai  beredar wacana tentang potensi 
pengembangan  tak hanya Kendari…… tapi bahkan lebih udiknya lagi… yaitu sebuah 
pulau apa gitu namanya saya lupa (dengan kotanya Bau2 atau bukan, saya lupa) 
yang amat sangat diyakini/ diramalkan sebagai akan menjadi ‘pusat dunia’…….. 
 
Trims atas tipsnya untuk cara hidup sehat seputar kamar tidur…… tapi kalau saya 
boleh ganti berbagi  tips juga tentang hidup sehat berbasis kenyataan….. maka 
konon katanya … kalau seseorang bercita-cita ingin menjadi brigjen atau 
kolonel…. Konon ia setidaknya sudah harus dilantik jadi letnan dua dulu… atau 
paling apes sudah diterima test masuk Akabri…. Dan bukannya dalam status putus 
sekolah  serta  sedang  jadi tukangparkir didepan restoran padang…..
 
Pertama…  tawaran saya tentang Makassar menjadi pusat KTI dan agar 
diproyeksikan menjadi rencana megapolis baru sebagai countermagnet Jkt  mungkin 
saja hampir tidak ideal amat dari sisi koordinat geografik…. Tapi kalau kita 
coba secara imajiner ‘mengasumsikan peta Indonesia sebagai empatpersegipanjang 
dan membelahnya 4 bagian…..maka Jkt terletak di ¼ kiri bawah dan Mks terletak 
di1/4 kanan atas…… jadi dari sisi koordinat setidaknya lokasi Mks sudah 
memenuhi syarat ‘keadilan koordinat geografik’ untuk mengimbangi Jkt (kalau 
sekedar dari pertimbangan ‘keadilan koordinat’ sih silahkan pilih saja… mana 
lokasi lain yang ideal) ……tapi kedua…. Saya tidak menjagokan pengembangan 
rencana  kota dunia  ‘tanpa menginjak bumi’…..
 
Hari ini status kota Makassar telah menjadi metropolitan dengan penduduk 1.3 
juta…. Atau bersama 3 satelitnya Maros, Takalar dan Sungguminasa berpenduduk 
sekitar 1.6 juta jiwa…..  jadi kedepan hampir tak mungkin penduduknya akan 
statik diangka 1.6 juta jiwa atau apalagi menyusut……. 
Dengan status ‘kota metropolitan’ hari ini ….. jelas bahwa masyarakat Mks 
relatif siap menerima perubahan menjadi proyeksi  ‘kota global’ lebih daripada 
Gorontalo atau Morotai/ Merauke misalnya……i  
 
Sebagai ‘ide injak bumi’ Mks ‘hanya’ memerlukan’  langkah awal berupa  jatah 
‘semai anak cabang industri manufaktur dari industri nasional/ multinasional 
yang memimpin di Jabodetabek  (Perroux)….  Dimana sekali lagi sebagai ide 
‘injak bumi’ … saya tidak menawarkan ‘relokasi’  spektakular industri 
manufaktur Jabodetabek ke Mks…. Tapi hanya ‘persemaian’ anak perusahaannya saja 
(industri 3 merk terkemuka spd motor yang masing2 berkapasitas sekitar 2 juta 
unit per tahun agar diminta oleh lelvlel Kepala Negara (re: posting pak Risfan 
yang menyinggung tentang kampanye Obama) agar membuat semaian  anak cabang unit 
produksi di Mks masing2  sebanyak 250.000 unit per tahun saja (hanya 1/8 atau 
1/6 kapasitas penuhnya)….toh kenyataannya  setidaknya ada jumlah riil  
distribusi untuk KTI dan sekitarnya  yang selama ini harus dikapalkan dari 
jabodetabek……….
 
Tanpa embel2 rengekan  ‘buatlah jalan raya’… tanpa rengekan ‘buatlah jalan 
tol’….’buatlah bandara internasional’ dan ‘pelabuhan internasional’…. Karena 
selain semuanya itu sudah ada disana……. Apa yang pertama perlu dikerjakan di 
KTI/ Mks memang bukanlah ‘pembangunan fisik’…... tetapi adalah  bagaimana 
‘memperbaiki komposisi SDM’ disana….. bagaimana memperbaiki’struktur industri’ 
disana… bagaimana memperbaiki ‘pola belanja/ konsumsi masyarakat disana’….. 
serta bagaimana  dapat membuat ‘pemicu aliran migrasi’ disana……. (Karena itu 
sungguh absurd kalau seorang panglima keruangan belum2 sudah mengeluh ‘letoy’ 
dan malah menuduh tentang ‘konsep lama merasuk hati’, sehingga malah 
sebenarnya  perlu ganti dipertanyakan balik….memangnya yang namanya ‘konsep 
pembangunan’ di KTI itu harusnya gambarannya  ‘seperti apa dan seperti  
bagaimana’?)……
 
Kalau Presiden (mungkin cukup nyuruh menterinya saja) berhasil meminta 3 merk 
utama sepedamotor itu untuk ‘menyemai’ (filialisasi) sejumlah kecil unit 
produksinya di Mks…… saya kira semua hidung bisa menghitung…. Berapa besar 
dampak multiplier effect  yang ditimbulkannya……. 
Barangkali juga tanpa Presiden atau mungkin Meneg BUMN menyuruh…. Terbukti 
perusahaan penerbangan Merpati juga dengan tanpa merengek minta dibuatkan 
prasarana ini dan itu  malah berinisiatip memindahkan kantor pusatnya kesana… 
dan malah mengira perusahaannya akan lebih efisien dengan bermarkas di Mks……….. 
 
Kembali ke impian Sulut atau Malut sebagai ’pusat baru’ era globalisasi…… 
sayang disayang…. Kasian betul itu Malut hanya dibuat bahan mimpian saja….…. 
Sudah rencana kepindahan ibukotanya ke Sofifi tertunda gara2 sengketa 2 cagub 
disana (padahal semua perangkat gedung2 pemda dan rumah dinas gub nya sudah 
siap)…… sudah begitu Morotai yang diimpikan menjadi pusat baru dibibir pasifik… 
jalan tembus keliling pulaunya yang walau hanya jalan ALS saja juga belum 
dibuat…..  
 
Beberapa referensi mengatakan  ….. (seperti terbukti Dubai lebih berminat 
memborong sejumlah properti di Manhattan) ….. investor raksasa asing hanya mau 
berinvestasi dikawasan yang masyarakatnya sudah cukup siap untuk menerima 
‘perubahan kemajuan’ menuju kehidupan global….. lebih dari kehidupan pasca 
zaman neolitikum  ‘petani/ nelayan tradisional’ lokalnya yang bahkan jalan 
keliling lintas pulau sekedar dari tanah yang dikeraskan  sajapun belum punya…… 
hingga  masyarakat diujung pulau harus acapkali menyabung nyawa melalui jalan 
laut dengan ombak yang tak selalu  bersahabat… untuk sekedar mencapai ‘pusat 
layan kebutuhan sehari2’ dari pulau dengan  keliling sekitar 300-an km itu…….
 
Mks  tak perlu lagi dipermasalahkan apakah  ‘ditengah’ atau ‘dipinggir’nya atau 
dimananya Indonesia…..atau apakah tidur kita pulas atau tidak…..  tapi 
masalahnya adalah Jkt dengan 17 juta penduduk perlu countermagnet……. Sama 
seperti pantai timur AS masa 1950-an menjadi ‘pemusatan berlebih’ dari 
gumpalan/ deretan kota2 metropolis (dari Boston, Wahington, Balltimore, New 
York sampai sejauh 650 km)… sementara dipantai baratnya masih ‘tertinggal’……… 
sampai akhirnya dengan awal perkembangan Frisco, Silicon Valley dan Holywood… 
maka LA dan pantai barat akhirnya berkembang pesat dan ‘sengaja atau tanpa 
sengaja’ akhirnya dapat mengimbangi  gumpalan kota2 megalopolis dipantai 
timur…….
Apakah Jkt tak perlu ‘kota tandingan’……. Dan kalau ya apakah mau dibarat 
(Medan) .. mau di “timur jawa” (Surabaya) atau dimana?........... dan kalau Jkt 
tak butuh ‘kota tandingan’…. Maka ayolah kita menanti  datangnya subway, 
marilah menikmati  pemanjaan oleh busway….. atau memang anda benar…... saya 
perlu tidur pulas agar sehat segar……
 
Salam,
aby

--- On Tue, 9/16/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Konsep Lama Merasuk Jiwa Re: Kompas dan Planologi
To: [email protected]
Date: Tuesday, September 16, 2008, 4:47 PM







Pak Aby yang sangat gigih,

Kabarnya, agar tetap segar dan dapat tidur pulas kita harus menyimpan dulu 
pikiran kita hari ini di luar kamar tidur, dan baru menengok atau mengambilnya 
kembali esok hari. Kadang-kadang kita perlu "meletakkan" dulu mainan lama kita, 
melupakan sesaat, dan mencoba permainan baru. Bukan untuk melupakannya, tapi 
sedikit "refreshing" atau tour ke luar kotak, agar otak kita tidak mampet 
dengan keruwetan yang membelit kita selama ini. Siapa tahu ada gagasan baru, 
atau justru menambah cinta kepada mainan lama kita.  

Belakangan ini mulai berkembang pula gagasan untuk membuat pusat pertumbuhan, 
berbasis perkiraan perkembangan pasar global masa datang, di Sulawesi Utara dan 
di Maluku Utara.
Tampaknya gagasan mereka berbeda dengan konsep pengembangan Makasar-nya Pak 
Aby. Pak Aby mengambil posisi di "tengah-tengah" peta NKRI, sedangkan usulan 
mereka justru dipingirannya (perbatasan, terdepan). Tentu konsep ini juga 
berbeda dengan pemikiran bahwa yang dikembangkan adalah "counter magnet" 
terhadap Jakarta. Mungkin malah tidak ada kaitannya dengan pemilihhan 
alternatif "ibukota baru".

Tanpa perlu membandingkan dengan Makasar, apa pendapat Pak Aby atau rekan-rekan 
lain terhadap kedua gagasan yang juga sedang bersaing tersebut?

Wasalam,

Abimanyu



2008/9/16 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>












  
Pak Risfan ysh, 
  
Sukacita  saya mendengar kata anda: "….Mengenai Makassar, itu memang pusat 
utama di Timur, sebagai 'counter-magnet' . No doubt about it. ……… Mungkin ini 
bisa jadi bahan diskusi?........" 
Semula ingin langsung menyambutnya… . tapi agak sedikit mengernyitkan dahi 
ketika membaca kalimat  anda : 
"…Memang betul lah itu berawal dari kisah lama, saat negara ini begitu 
optimistik……". 
Dan jadi prihatin berat ketika membaca posting lain lagi berikut ini : 
"……Ngga  tahu pake konsep pembangunan yg dilakukan di SulSel, Makasar-Pare.  
Tapi yg jelas pasti letoy lah, artinya belum ada energi kalau kita bangun 
disitu, walaupun tahu bhw pusat pertumbuhan wilayah Timur di Makasar, 
itukan krn konsep-konsep yg lama yg telah merasuk ke pemikiran kita, 
sehingga msh meyakini Makasarpusat pertumbuhan…….". 
  
Kenapa…. Ya itu artinya ….. untuk petinggi otoritas keruangan yang telah 
bertitah  begitu….. sudah bertitah bahwa "itu konsep lama yang merasuk 
jiwa"…... 
 dan orang lain atau saya masih juga mau mendiskusikannya… itu bukankah nekat 
namanya?.... ..  
Kalo coba ikutan pola pikir 'lama' juga…… maka saya pikir asalkan seorang 
petinggi otoritas sudah menitahkan sesuatu… maka tanpa banyak rewel  rakyat dan 
mereka yang hidupnya tergantung pada bidang wewenang petinggi itu tentunya 
harus tunduk patuh….  jangan nekat…… sebab kalo nggak… alamat  ga bakalan dapat 
'restu'……. Dan gak dapat restu  untuk bidang yang menyangkut hidup mati 
kita…memangnya  enak?....... .. 
  
Tapi saya pikir saya sudah tua…. sudah  gak banyak artinya….  lagipula gak 
harus hidup dari planning… jadi kalopun bicara saya gak dapat 'restu' saya 
pikir gak  apa-apa banget……. tapi saya sebenarnya merasa agak rancu juga dengan 
campur aduk pengertian antara  'konsep lama',  'pola pikir lama' atau 
'mentalitas lama'…….... 
  
Saya bingung…. Kalo yang namanya konsep NKRI  itu termasuk 'konsep lama' atau 
gak ya?....... apa pak Risfan ada punya 'konsep baru'nya dan saya boleh 
pinjem?..... ... siapa tahu beda jauh isinya….. 
Juga istana presiden kok main nimbrung memakai  lokasi eks kolonial di merdeka 
utara …. Atau ibukota negara kok juga main nimbrung dieks lokasi pusat 
pemerintahan kolonial … apa itu termasuk 'konsep lama' juga ato gak ya?..... 
Tapi sekali lagi pak Risfan yang baik… dari kalimat anda "….. 
Mks…'counter-magnet' . No doubt about it…." Kalau saya  sih terus terang masih 
tetap doubting berat aja….. maksud saya… saya masih percaya bahwa masih saja 
tak banyak dinegeri ini  yang berpikir tentang perlunya "countermagnet to 
national primate city " itu…… karena  pertama kurangnya patriotism serta  less 
national planning vision ……yang kedua… karena semacam  'kehendak alam'….atau 
'kehendak pasar'…. Dimana praktek planologi yang paling laku dipasar adalah 
yang dari 'local planning' atau 'city planning' (dan bukan urban planning atau 
regional development planning) … biasanya untuk konsumsi pemda serta industri 
real estate…. maka  anak-anak planning cenderung memilih jurusan2 yang paling 
laku dipasar tenaga kerja itu…… ini tak beda jauh seperti didunia  sekolah 
teknik industri atau teknik mesin misalnya … dimana umumnya anak2 lebih 
menyerbu jurusan
 otomotif dan amat kurang berminat pada jurusan metalurgi atau konversi energi 
misalnya…. Yang jelas akan lebih strategis bagi bangsa dan negara…….... 
  
Ya ini semua saya kira tak terlepas dari rangkaian sejarah masa lalu sekolah 
planning kita juga…. maksud saya sambil rindu menggodain  biar eyang Wawo  yang 
baik budi tergelitik dan  berkenan turun  bukit serta berkenan berdiskusi juga 
secara lumayan serius  (tapi first of all saya tentu mohon ampunnya karena 
mengganggu istirahat beliau dan saya hanya iseng godain saja) … dan berharap 
beliau bukannya sekedar  terlibat 'diskusi iseng/ main2'… seperti ungkapannya 
orang lain untuk masalah  berat yang menjadi kompetensi jabatan formalnya yang 
dengan ringan tanpa beban moral apapun katakan  "…he he he, sori sekedar iseng 
nimbrung….". 
  
Ya pak Risfan (juga ysh pak Wawo)…. Sebenarnya tak salah kalo anak-anak selepas 
SMA memilih jurusan yang cepat nyangkut dipasar tenagakerja itu…. Dasar nyari 
kerja yang masa depannya enak khan gak mudah (tapi trenyuh juga inget kisah 
eyang Wawo ketika pertama membujuk2 mahasiswa untuk agar mau masuk 'jurusan 
baru' planologi')…. Tapi ya gitulah ya…. Semua itu selalu dengan segala 
Plus-minusnya… . L.k. sama seperti didunia farmasi …. Para ahli farmakolog 
terus meriset obat-obat baru untuk menghasilkan efek penyembuhan yang besar 
sambil terus meminimalkan side effectnya….. tapi sering obat2 sebaik apapun 
untuk pemakaian jangka panjang tetap saja menghasilkan side effect yang 
merugikan juga……. 
Mungkin satu  side effect pada sekolah planologi adalah bahwa jurusan national 
strategic planning  yang sesungguhnya paling dibutuhkan oleh bangsa dan 
negara…. Tapi menjadi paling kurang diminati… karena pasarnya bisa paling sepi/ 
kering……  dan bisa menjadi  paling tidak diminati oleh industri real estate dan 
pemda……. Dan lagipula bicara national strategic planning kalau beda dengan 
selera penguasa khan bisa jadi 'musuh politik'?... . dan buntut-buntutnya gak 
dipake alias mati kutu?....... maka akhirnya yang paling aman adalah 
menciptakan suasana (atau menjadi bagian dari)  'masyarakat planning  yang 
guyub' dan 'akur'… dan  perkara masyarakat  (khususnya yang miskin) menjadi 
terlantar…. Bukankah itu sudah nasib?... setidaknya itu sudah terjadi sejak 
berabad lalu masuknya VOC…... 
Tapi kembali lagi…. Memenuhi ajakan pak Risfan untuk berdiskusi tentang Mks….. 
Walau ada titah warning dari sang panglima space development/ panglima pasukan 
planner tentang …'membangun di Mks pasti 'letoy'… atau…'tidak ada energi' …. 
Dan  itu hanya "….konsep-konsep yg lama yg telah merasuk ke pemikiran kita…."… 
akh  saya sih masa bodo amat…. Setelah ini saya akan dengan suka cita mengumbar 
pikiran saya tentang taktik membangun di Mks itu… karena itu sudah kadung 
merasuk jiwa…. Dan kebetulan  ada undangan pak Risfan untuk mendiskusikannya …. 
 Jadi ada alasan saya untuk mengocehkannya… .. walau resikonya akan sekaligus 
mengundang debat untuk mematahkannya… .. 
  
Salam, 
aby 
 

 














      

Kirim email ke