Pak Wahyu Bintarto, Pak Aby, dan Rekan-rekan milister Ysm,

Setelah menyimak respons pak Aby dan (tambahan dari pak Wahyu BIntarto)
tentang upaya menjadikan Makasar sebagai pusat pertumbuhan KTI, tampaknya
Pak Aby masih tetap bermain di tataran normatif, belum memberikan
argumentasi mendasar prasyarat munculnya agglomerasi. Secara konseptual dan
empirical, pak Aby benar bahwa "seandainya" industri sepeda motor
direlokasikan dari Jawa ke Makasar dan sekitarnya, efek multipliernya sangat
besar, ada efek terhadap munculnya subcontracting, dan penyerapan tenaga
kerja langsung lainnya. Argumentasi pak Aby dapat diterapkan bukan hanya
kepada Makasar dan sekitarnya, tetapi juga untuk Kalimantan Barat misalnya.

Yang mungkin kita sepakati dulu adalah apakah kita punya pengertian yang
sama tentang istilah agglomerasi. Kalau pengertian umum aglomerasi industri
(dan jasa) adalah berkumpulnya beberapa industri di suatu wilayah,
maka kekuatan agglomerasi sangat terkait dengan penghematan biaya, baik
penghematan karena skala ekonomi (economies of scale), ataukah economies of
scope, ataukah economies of complexities.

Kita tidak bisa berharap banyak akan muncul (misalnya saja)  semacam
industrial complex ala Gresik (pupuk, semen, peleburan tembaga, petrokimia)
atau Lhokseumawe (pupuk, LNG, Kertas Kraft), jika Sulsel tak ada bahan baku
utama gas. Tentu maksud saya Makasar tidak harus punya industrial complex
petrokimia, tetapi tetap dalam konteks penghematan biaya. Belum lagi
pertanyaan apakah masyarakat Sulsel punya "milleu" industri (tertentu) dan
jika tidak, berapa lama waktu diperlukan untuk transformasi nilai
masyarakat.

Kekuatan agglomerasi karena economies of scale dan economies of scope tidak
cukup dukungan infrastruktur, tetapi juga butuh masyarakat dengan "millieu"
industri, social network ditambah lagi "geographical advantage," Apakah
prasyarat keberhasil industri sepeda motor (misalkan direlokasikan ke
Makasar) memenuhi persyaratan munculnya kekuatan agglomerasi?. Mungkin Paul
Krugman, pencetus "new economic geography" akan bertanya, bagaimana tuh
kekuatan sentripetal dan sentrifugal industri sepeda motor di Makasar dan
sekitarnya. Kalau pasar domestik terbesar ke dua setelah Jawa adalah
Sumatera, apakah rasional merelokasikan industri sepeda motor ke Sulsel?

Kenapa kita tidak mulai dulu dari cluster industri tenun sutera dulu
ketimbang berbicara industri skala besar di Sulsel (misalnya)? Banyak hikmah
yang dapat kita petik dari sejarah perkembangan ekonomi regional di banyak
negara bahwa "leading industries" tidak harus berkonotasi industri skala
besar ala Hirschman. Hirschman berbicara dalam konteks kurangnya
enterpreneurhip regional sehingga diperlukan "leading industries" untuk
mendorong semua sektor terkait sehingga semua sektor bergerak.

Wassalam,

Nuzul Achjar

Kirim email ke