Pak Nuzul ysh,
 
Mohon maaf…. Format tanggapan saya seperti dibawah ini…...mudah2an berkenan…..
 
+++: Setelah menyimak respons pak Aby dan (tambahan dari pak Wahyu BIntarto) 
tentang upaya menjadikan Makasar sebagai pusat pertumbuhan KTI, tampaknya Pak 
Aby masih tetap bermain di tataran normatif, belum memberikan argumentasi 
mendasar prasyarat munculnya agglomerasi. 
>>>: Mohon maklum, selain dengan anda atau pak Risfan misalnya…. Pada saat yang 
>>>sama saya harus pula meladeni diskusi  dengan milister lain dengan poin 
>>>serta irama yang berbeda….  Hingga saya tak bisa selalu berkonsentrasi 
>>>khusus dengan pokok bahasan kita terus…….  Dasar sekarang sedang jadi ‘pak 
>>>tani’….yang menurut ‘three magnets’nya Ebenezer Howard… jam kerjanya panjang 
>>>(dsb)…. Hingga waktu saya untuk membalas posting sering terlambat… mohon 
>>>maafnya…..
 
+++: Secara konseptual dan empirical, pak Aby benar bahwa "seandainya" industri 
sepeda motor direlokasikan dari Jawa ke Makasar dan sekitarnya, efek 
multipliernya sangat besar, ada efek terhadap munculnya subcontracting, 
dan penyerapan tenaga kerja langsung lainnya. Argumentasi pak Aby dapat 
diterapkan bukan hanya kepada Makasar dan sekitarnya, tetapi juga untuk 
Kalimantan Barat misalnya.
Yang mungkin kita sepakati dulu adalah apakah kita punya pengertian yang 
sama tentang istilah agglomerasi. 
 >>>:Saya kira pada dasarnya pengertian kita secara umum tentang makna 
aglomerasi adalah sama……
 
+++: Kalau pengertian umum aglomerasi industri (dan jasa) adalah berkumpulnya 
beberapa industri di suatu wilayah, maka kekuatan agglomerasi sangat terkait 
dengan penghematan biaya, baik penghematan karena skala ekonomi (economies of 
scale), ataukah economies of scope, ataukah economies of complexities. 
 >>>:Mungkin pada konteks  mencari cara ‘pengembangan countermagnet to primate 
city’ ditempat tertinggal dan terpencil  seperti KTI  ini kita bisa agak 
berbeda sisi pandang dalam melihat pengertian aglomerasi itu…….
Selain ‘keterpaksaan’ …. tentu saja hampir tidak ada idealisme dalam membangun 
aglomerasi di Mks ini… ibarat  datang ketengah hutan lebat sekaligus hujan 
lebat lalu mendadak kita harus membuat api unggun……… 
Membuat api unggun agar mudah nyalanya ditengah hutan tentu setidaknya jangan 
hari hujan….. dan seyogyanya terdapat cukup kayu2 kering disekitar….
Masalahnya dalam membangun KTI kita tak pernah punya pilihan faktor2 pendukung  
yang ideal, kuat dan mudah didapat…. Dan kalau faktor ideal itu mudah didapat.. 
tentu KTI sudah berkembang dan tidak ’tertinggal’ sejak dulu………...
Karena itu dalam membangun medan yang berat sementara dana dan daya selalu tak 
memadai …. Tak ada cara lain kecuali harus lebih banyak dipakai taktik seperti 
dengan memakai sepenuhnya dana dan daya yang ada, walau minimal………….
Pada umumnya kawasan2 dengan aglomerasi yang sudah ‘matang’….seperti 
Jabodetabek sejak beberapa dasa warsa terakhir  ini… atau Batam (krn dkt 
Singapura)...kita bisa mudah bicara tentang economies of scale, scope atau 
complexities…… tetapi apa yang kita mau katakan ketika pertama kali VOC tancap 
kaki di Sunda Kelapa 4 abad lalu?….
Karena itu kalau menurut pak Nuzul saya tidak pantas meminjam istilah 
‘aglomerasi’  utk Mks itu…. maka saya harus mencari istilah lain yang mungkin 
kurang praktis ….. seperti bahwa ‘filialisasi’ (bukan relokasi total) porsi 
kecil fasilitas produksi dari industri  memimpin nasional ke Mks diperlukan…..… 
dalam rangka untuk memperbaiki struktur industri di Mks/ Sulsel dari yang hari 
ini masih sangat  berwarna agraris  (termasuk bgmn gudang2 dipelabuhan Mks 
lebih banyak memuat barang2 hasil pertanian) ….. bgmn memperbaiki struktur 
tenagakerja di Mks/ SulSel (walau ini sementara waktu  terpaksa dipenuhi dengan 
migrasi dulu dari Jawa)… bgmn memperbaiki struktur upah… memperbaiki pola 
konsumsi masyarakat (relokasi/ filialisasi industri akan membawa serta SDM 
trampil dan berpenghasilan menengah/ atas dan akan ‘meningkatkan daya beli’ 
lokal dan pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas ekonomi lokal…….   
 
+++: Kita tidak bisa berharap banyak akan muncul (misalnya saja)  semacam 
industrial complex ala Gresik (pupuk, semen, peleburan tembaga, petrokimia) 
atau Lhokseumawe (pupuk, LNG, Kertas Kraft), jika Sulsel tak ada bahan baku 
utama gas. Tentu maksud saya Makasar tidak harus punya industrial complex 
petrokimia, tetapi tetap dalam konteks penghematan biaya. 
 >>>: ‘Filialisasi’ (bukan relokasi) porsi kecil dari ‘industri memimpin’ 
sekedar saya maksudkan untuk ‘memastikan’ bahwa apa yang  mau ‘disemai’ di Mks/ 
SulSel sebagai  penggerak  awal dari upaya kelancaran pembentukan  ‘aglomerasi’ 
dipastikan akan ‘kontan langsung hidup’ (gak pake endut2an/ atau jangan pakai 
gak pasti) dan tak akan terjadi ‘gonjang-ganjing’ karena adanya ‘relokasi 
industri secara kolosal/spektakular’ dari Jawa/ Jabodetabek keluar Jawa….....  
tujuan dari pemilihan langkah ‘filialisasi’ cabang industri memimpin  adalah 
dalam kerangka untuk memfasilitasi berkembangnya Mks menjadi greater metropolis 
dalam waktu relatif cepat….. a.l. disitu dapat dicapai target hadirnya tambahan 
jumlah masyarakat kelas menengah/atas sebagai ‘kelas kreatif’ melalui 
‘migrasi’…… yang selanjutnya akan menarik pula jumlah SDM sejenis  lebih besar 
dengan hadirnya berbagai macam perusahaan……  tak
 harus yang raksasa terus…….
Sebuah kota metropolitan (misalnya SIngapura, Hongkong, Bangkok, Monaco, 
Honolulu atau Jkt)  dapat saja dikembangkan  tidak harus  dengan pengembangan  
kompleks industri berat atau industri hulu…… yang penting terdapat sejumlah 
cukup klas menengah/ atas….. lalu dapat dikembangkan  berbagai industri 
berbasis amenity resources….. seperti pariwisata, industri kreatif dsb….  
 
+++: Belum lagi pertanyaan apakah masyarakat Sulsel punya "milleu" industri 
(tertentu) dan jika tidak, berapa lama waktu diperlukan untuk transformasi 
nilai masyarakat.
 >>>: Pada tahap awal… seiring dengan skenario ‘filialisasi’ porsi kecil 
industri kecil nasional memimpin……… tentu diperlukan kepindahan  (migrasi)  
dari Jabodetabek sejumlah eksekutif serta pekerja trampil senior yang 
dibutuhkan  (karena perintah perusahaan serta agar filialisasi berjalan 
lancar)…. Selanjutnya untuk tenaga kerja junior  bisa dipakai tenaga lokal ……… 
dimana dengan sedikit pelatihan dalam waktu relatif singkat….tak  lama akan 
siap menjadi bagian dari derap kehidupan industri yang baru berdiri itu….. 
karena Unhas dan banyak PT swasta di SulSel misalnya tiap tahun juga mencetak 
ribuan  sarjana… sebagiannya dari jurusan teknik … yang bersama2 dengan lulusan 
SMK… tentu bisa dipakai…. Yang pak taninya juga tetap bisa berinteraksi dengan 
konsumen elit hasil migrasi dari Jabodetabek tanpa kesulitan pula…. Pak tani 
menjual hasil kebun, ladang dan hasil laut…. Dan orang kota dari Jabodetabek 
membelinya
 tanpa  kesulitan……  
 
+++: Kekuatan agglomerasi karena economies of scale dan economies of scope 
tidak cukup dukungan infrastruktur, tetapi juga butuh masyarakat dengan 
"millieu" industri, social network ditambah lagi "geographical advantage," 
Apakah prasyarat keberhasil industri sepeda motor (misalkan direlokasikan ke 
Makasar) memenuhi persyaratan munculnya kekuatan agglomerasi? . 
 >>>: Mengembangkan aglomerasi saya kira tidak harus selalu dengan tingkat / 
kadar arus pemusatan  awal yang selalu harus demikian besar dan cepat….. yang 
penting adalah walaupun  ‘arusnya’ kecil.. tapi pasti dan kontinu……. 
Seperti dikatakan pak Nuzul : 
……"seandainya" industri sepeda motor direlokasikan (difilialisasikan) dari Jawa 
ke Makasar dan sekitarnya, efek multipliernya sangat besar, ada efek 
terhadap munculnya subcontracting, dan penyerapan tenaga kerja langsung 
lainnya……”.
Dari sini jelas bahwa terdapat arus migrasi….. terdapat dampak berdirinya 
berbagai macam usaha dari berbagai multi sektor .. tak sekedar yang ‘secara 
langsung’ berkait dengan ‘industri memimpin’ itu….. tapi juga yang ‘secara tak 
langsung’…. Pokoknya sektor riil bisa berkembanglah…Termasuk pula ‘sektor 
informal’…..
Jkt/ Jabodetabek sendiri juga untuk menuju 12/17 juta juga memakan waktu 
‘lama’….. pada 1970 Jkt masih berpenduduk 4 juta….. pada 1978 belakang  kantor 
bupati Bekasi  juga masih banyak sawah…… juga ditengah kota Tangerang….
Ketika utk pertamakali kita mau membangun jalan tol (jagorawi)… orang barat 
sempat ada yang mengejek…. Yang mau lewat jalan tol siapa?........
 
+++: Mungkin Paul Krugman, pencetus "new economic geography" akan bertanya, 
bagaimana tuh kekuatan sentripetal dan sentrifugal industri sepeda motor di 
Makasar dan sekitarnya. Kalau pasar domestik terbesar ke dua setelah Jawa 
adalah Sumatera, apakah rasional merelokasikan industri sepeda motor ke Sulsel?
>>>: Tentu tidak rasional memilih KTI….. Karena itu untuk KTI/ Mks saya selalu 
>>>lebih sarankan tentang ‘filialisasi (bukan relokasi total) industri 
>>>memimpin…… dan itupun cukup ‘porsi yang kecil saja’…..
Tujuan ke KTI karena memang kita ‘terpaksa wajib mengembangkan KTI’ walau tanpa 
idealisme apapun disana…..dan tak ada cara lain lebih praktis dan ampuh lagi 
kecuali itu…. dan bukan karena alasan bahwa “yang paling ideal, strategis dan 
ekonomis  adalah relokasi ke KTI’….
 
>>>: Kenapa kita tidak mulai dulu dari cluster industri tenun sutera dulu 
>>>ketimbang berbicara industri skala besar di Sulsel (misalnya)? 
+++:  Pilihan industri sepedamotor  adalah karena alasan dampak multiplier 
effectnya yang terbesar ……dan dapat menarik migrasi (termasuk migrasi SDM krah 
putih….walau a.l. terpaksa karena penugasan oleh perusahaan)….
‘Filialisasi’ jelas bukan dimaksudkan menekankan aspek kebesaran skalanya….. 
tapi  lebih dimaksudkan kepada tujuan menghidupkan berbagai multi sektor yang 
lainnya… yang memang mampu dibangkitkan oleh industri otomotif….. yang walau 
‘serba kecil’ tapi  tak  mengapa.. pokoknya ‘mulai berkembang’ dan ‘hidup’….. 
nanti dengan  perjalanan waktu serta dengan sentuhan teknik keruangan 
berikutnya .. pasti aglomerasi itu akan dapat dalam waktu relatif cepat  
berkembang lebih kuat lagi……
Industri tenun sutera sebagai industri tradisional / industri kecil di 
SulSel….. (terbukti) tidak mampu membangkitkan dampak multiplier effect yang 
besar….. 
 
+++: Banyak hikmah yang dapat kita petik dari sejarah perkembangan ekonomi 
regional di banyak negara bahwa "leading industries" tidak harus berkonotasi 
industri skala besar ala Hirschman. Hirschman berbicara dalam konteks kurangnya 
enterpreneurhip regional sehingga diperlukan "leading industries" untuk 
mendorong semua sektor terkait sehingga semua sektor bergerak.
>>>: setuju…..
 
Salam,
aby

--- On Thu, 9/18/08, Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Konsep Lama Merasuk Jiwa (Agglomerasi)
To: [email protected]
Date: Thursday, September 18, 2008, 1:00 PM








Pak Wahyu Bintarto, Pak Aby, dan Rekan-rekan milister Ysm,
 
Setelah menyimak respons pak Aby dan (tambahan dari pak Wahyu BIntarto) tentang 
upaya menjadikan Makasar sebagai pusat pertumbuhan KTI, tampaknya Pak Aby masih 
tetap bermain di tataran normatif, belum memberikan argumentasi mendasar 
prasyarat munculnya agglomerasi. Secara konseptual dan empirical, pak Aby benar 
bahwa "seandainya" industri sepeda motor direlokasikan dari Jawa ke Makasar dan 
sekitarnya, efek multipliernya sangat besar, ada efek terhadap munculnya 
subcontracting, dan penyerapan tenaga kerja langsung lainnya. Argumentasi pak 
Aby dapat diterapkan bukan hanya kepada Makasar dan sekitarnya, tetapi juga 
untuk Kalimantan Barat misalnya.
 
Yang mungkin kita sepakati dulu adalah apakah kita punya pengertian yang 
sama tentang istilah agglomerasi. Kalau pengertian umum aglomerasi industri 
(dan jasa) adalah berkumpulnya beberapa industri di suatu wilayah, 
maka kekuatan agglomerasi sangat terkait dengan penghematan biaya, baik 
penghematan karena skala ekonomi (economies of scale), ataukah economies of 
scope, ataukah economies of complexities. 
 
Kita tidak bisa berharap banyak akan muncul (misalnya saja)  semacam industrial 
complex ala Gresik (pupuk, semen, peleburan tembaga, petrokimia) atau 
Lhokseumawe (pupuk, LNG, Kertas Kraft), jika Sulsel tak ada bahan baku utama 
gas. Tentu maksud saya Makasar tidak harus punya industrial complex petrokimia, 
tetapi tetap dalam konteks penghematan biaya. Belum lagi pertanyaan apakah 
masyarakat Sulsel punya "milleu" industri (tertentu) dan jika tidak, berapa 
lama waktu diperlukan untuk transformasi nilai masyarakat.
 
Kekuatan agglomerasi karena economies of scale dan economies of scope tidak 
cukup dukungan infrastruktur, tetapi juga butuh masyarakat dengan "millieu" 
industri, social network ditambah lagi "geographical advantage," Apakah 
prasyarat keberhasil industri sepeda motor (misalkan direlokasikan ke 
Makasar) memenuhi persyaratan munculnya kekuatan agglomerasi? . Mungkin Paul 
Krugman, pencetus "new economic geography" akan bertanya, bagaimana tuh 
kekuatan sentripetal dan sentrifugal industri sepeda motor di Makasar dan 
sekitarnya. Kalau pasar domestik terbesar ke dua setelah Jawa adalah Sumatera, 
apakah rasional merelokasikan industri sepeda motor ke Sulsel?
 
Kenapa kita tidak mulai dulu dari cluster industri tenun sutera dulu ketimbang 
berbicara industri skala besar di Sulsel (misalnya)? Banyak hikmah yang dapat 
kita petik dari sejarah perkembangan ekonomi regional di banyak negara 
bahwa "leading industries" tidak harus berkonotasi industri skala besar ala 
Hirschman. Hirschman berbicara dalam konteks kurangnya enterpreneurhip regional 
sehingga diperlukan "leading industries" untuk mendorong semua sektor terkait 
sehingga semua sektor bergerak.
 
Wassalam,
 
Nuzul Achjar
 
  














      

Kirim email ke