Sebelum berdiskusi tentang aspek industri dan migrasi pusat pertumbuhan 
KTI….Saya ingin bicara tentang sikap moral dulu…..
Sama sbgmn TNI-AL dengan peralatan amat terbatas terpanggil harus menjaga 92 
pulau-pulau terluar… demi apa yang namanya NKRI….suatu pekerjaan yang tak dapat 
dikatakan sebagai enak,  efisien dan ekonomis (enak itu bisa diartikan sebagai 
mudah, menyenangkan, menarik, basah dsb…)…..Suka-tidak suka…tanpa bisa 
menawar…. TNI (AL) harus selalu  lakukan itu…. Sebab kalau tidak TNI akan 
hilang kredibilitas serta kehormatannya sebagai penjaga/ penjunjung keamanan 
dan kedaulatan negara…..
 
Dalam bayangan saya … seorang patriotic national spatial development planner 
atau seorang nationalistic regional development planner… walau dunia mau runtuh 
sekalipun….. seharusnya selalu berpikir seperti itu pula….. dengan tanpa kenal 
menyerah selalu berpikir keras tentang bagaimana mengupayakan arah pembangunan 
keruangan secara nasional yang ideal serta adil dari beberapa aspeknya  (karena 
planologi adalah bagian dari  ilmu teknologi/ teknik rekayasa… dan bukan bagian 
dari ilmu spiritual seperti zikir yang dalam beberapa bagiannya kita diajarkan 
untuk bersyukur dan nrimo untuk hal yang tak bisa kita capai…. dsb) ….  seperti 
demografik… keseimbangan kemajuan antar wilayah… perluasan kesempatan kerja…. 
Perbaikan nasib simiskin ……. Penegakan sistem nasional kota-kota…pengembangan 
aglomerasi2 baru…bersama dengan rekayasa pemerataan lokasi2 industri 
manufaktur…..ketahanan wilayah dan ketahanan perekonomian yang tinggi….
 dsb…..  walau disisi lain birokrat daerah2 sedang riang bereforia dengan 
otonomi daerah yang jelas amat sangat kedaerah-daerahan… dan tak peduli dengan 
apa yang namanya visi nasional keutuhan serta integritas NKRI……...
 
Ditengah gegap  gempita eforia otonomi daerah pula… lembaga nasional seperti 
BKKN  misalnya juga harus mengupayakan program family planning … sesuatu yang 
mungkin terlupa atau disikapi EGP ditengah eforia birokrat otonomi  daerah 
itu………
Banyak sekali visi-visi nasionalistik lainnya yang harus ditegakkan…demi 
kredibilitas sebuah negara agar terhormat…  terlepas apakah sarana kerja  serba 
terbatas serta apakah situasi medannya ‘letoy’  atau bahkan ganas seperti 
apapun …… 
 
Berbeda dengan KPK yang memperoleh anggaran sangat besar serta peralatan 
canggih yang memadai seperti alat penyadap… sehingga dasar dilandasi oleh etos 
kerja yang baik pula .. maka lalu hasil kerja KPKpun cukup memuaskan…..  Tetapi 
sebaliknya dari itu…. tidak kurang kegigihan seperti kisah apa yang telah 
dilakukan secara patriotik oleh Suster Apung Hj. Andi Rabiah, pemenang Eagle 
Award 2006… yang selama 30 tahun mengarungi laut Flores yang ganas ombaknya 
untuk mengunjungi  belasan pulau2 terpencil yang terserak dikawasan Pangkajene 
Kepulauan  untuk melakukan layanan kesehatan….yang bahkan sampai melampaui  
kapasitas jabatan mediknya yang hanya suster…. Karena memang  disana tak ada 
lagi petugas kesehatan lain yang  melakukannya……
 
Sama seperti TNI-AL yang tak pernah memiliki pilihan ideal dan menyenangkan 
menjaga wilayah perairan serta pulau2 terluar…… seorang patriotic national 
spatial planner juga tidak akan pernah membayangkan atau bahkan tak sudi 
memilih bahwa medan yang dihadapinya haruslah yang mewah dan tidak ‘letoy’…. 
Atau agar yang kaya SDA terpendam….. justru karena berbeda dari  ‘pejuang kelas 
salon’… tantangan dari seorang patriot  sejati adalah medan2 yang berat dan 
ganas…… sama seperti tantangan serta kepuasan seorang arsitek dedikatif adalah 
…. Bagaimana dapat mengubah sebuah kawasan gersang, kumuh, tergenang atau 
kotor  menjadi lingkungan hunian serta aktivitas manusia serta bagi simiskin 
yang indah serta menyenangkan……. Atau tantangan dari seorang hot-rod mania  
adalah  memburu mobil kuno dan mangkrag lalu mengubahnya menjadi mobil yang 
horsepowerful… speedy … kinclong… macho.. .lalu menjadi pemenang kontes 
automobile
 show….. 
 
Satu hal  adalah …..  seorang patriotic national spatial planner pertama-tama 
tidak akan secara fanatik hanya berpikir tentang mengandalkan pembangunan fisik 
sebagai ujung tombak  ‘pembangunan’……serta tak akan puas dengan aglomerasi kota 
primat yang ada seperti jabodetabek sentrisme atau jawasentrisme…...
Rekan Mulya  Amri pernah katakan bahwa walaupun   ditempat terpencil dibangun 
jalan serta prasarana lainnya …. Kalau pengusaha tidak mau datang…. Siapa akan 
lakukan kegiatan disana …… karena itu pembangunan tak boleh semata2 
mengutamakan mengandalkan pembangunan fisik saja……
 
Ekologi tak usah lagi disebut panjang  lebar (karena sudah standar  dan tak 
akan pernah  dilupakan serta tak akan pernah dikesampingkan)…… maka itu seorang 
patriotic national development planner  seharusnya tidak begitu antusias dengan 
pembangunan jawasentrisme…… karena jawasentrisme selain kontradik dengan 
penyelamatan ekologi di Jawa… ia juga hampir sama saja dengan ‘melecehkan’ 
kawasan luar Jawa yang 93.3% wilayah……atau sama saja itu dekat dengan sikap 
anasionalis…....
 
Seorang patriotic national spatial planner sudah tentu pada saat yang sama 
adalah seorang nationalistic regional development planner…. Karena ia selalu 
berpaling ingin menjauh dari aglomerasi kota primat…. Dan sekaligus ia adalah 
juga seorang urban planner yang peduli pada kemiskinan dan pengangguran....dan 
last but not least tentu saja juga seorang city planner…. yang selalu ingin 
merancang ruang yang indah dan menyenangkan... ruang  bagi kegiatan kehidupan 
manusia....... 
Dalam memandang regional development ia akan selalu lebih mengedepankan 
national  integrity lebih daripada sekedar ego/ provincial interest yang tak 
jelas alasannya……
Ia akan lebih berpikir mengedepankan  demografi… industri manufaktur untuk job 
creation dan multiplier effect… megapolitan dan metropolitan sebagai mesin 
pertumbuhan ekonomi….. aglomerasi sebagai pusat kegiatan… serta migrasi dan 
pengelolaan urbanisasi...... 
 
Salam,
aby
 


      

Kirim email ke