Pak Risfan ysh, Mohon maaf terlambat menjawab….. +++: Dari awal, dalam menanggapi soal 'kota tandingan' Makassar (tahun lalu), saya menyarankan untuk melihatnya dari sudut pandang 'daerah'. Maksudnya, selama ini konsep 'kota tandingan' itu memang pemikiran 'pusat' dalam rangka menyebarkan pertumbuhan ke luar Jabodetabek (Jawa). Kalau dari kacamata 'pusat' memang kita bisa berpolemik, setuju atau tidak, befikir layak atau tidak. Tapi kalau berfikir dari kacamata warga dan pemda di Sulawesi dan sekitarnya, tentu masih sangat relevan 'menumbuhkan' Makassar menjadi 'pusat tandingan'. Soal policy 'pusat' ke situ atau tidak, bagi mereka sebagai konsideran saja. Yang pasti menguatkan, dan pasti tidak melarang. >>>: Terimakasih….beberapakali sih terpikir demikian …. Tapi nampaknya >>>kendalanya juga tidak sedikit……tapi memang untung masih ada milister sahabat >>>kita Dr. Yahya Hanafie asal Mks yang planner juga….…. yang sayang beliau >>>masih tertarik untuk memulai pada yang mikro (sama seperti belum lama juga >>>ada ide petisi dari kampus sekolah planning tentang ajakan rame2 menggugat >>>pemda dikotanya…... yang konsennya masih lebih pada ‘ruang hijau’ yang tentu >>>sedikit banyak selain ‘mudah dimengerti’ ia juga ‘dapat langsung dirasakan >>>dan dilihat hasilnya oleh awam maupun siempunya ide…. lebih daripada >>>national job creation dan regional inequalities spt luar jawa yang >>>tertinggal dan lebih strategis)……. . Dari pengalaman yang sudah…. setidaknya orang2 KTI yang di Jkt sayangnya masih lebih tertarik pada dunia politik….. maklum selain tidak perlu ‘asah teknologi tinggi’…… yang diperlukan nampaknya cukup ‘lebih banyak kreativitas akal2an’ dan perkoncoan.... dan setidaknya kalau bisa nyangkut dilegislatif juga lumayan bisa jadi sumber kehidupan yang enak dan mudah juga…… apalagi sebelum zamannya KPK eksekutif khan juga butuh ngajak 'main' selain legislatif juga rindu diajak 'main'........ . Tentang kendala ‘pendekatan didaerah’…. kalaupun bukan jadi planner.. mereka nampak lebih banyak tertarik dengan dunia politik (contohnya mereka yang banyak nongkrong di Habibie Center) …… dan kalau sudah bicara dengan orang politik…... bagi mereka yang penting bukan omongan kita benar atau tidak…. Tapi apa yang dikepala mereka adalah kita bisa dimanfaatkan/ langsung bermanfaat atau tidak……… Kadang antusiasme orang daerah langsung mau lebih kepada sektor bisnisnya (karena langsung dekat dengan uang juga, dan kalo berhasil mereka bisa menjadi yang pertama menikmatinya, sementara ‘ruang’ terlalu abstrak utk mereka ) seperti apa yang disinggung pak Nuzul…. Ialah tentang bgmn membesarkan ‘industri tradisional daerah seperti tekstil ulat sutera….. Banyak Media di Mks juga sama saja…. Kalau kita baca koran daerah/ berita mau cari tentang pembangunan pedalamannya SulSel…. Pertama-tama apa yang ditulis hampir selalu tentang politik juga …. Cerita sehari2 ttg perebutan kekuasaan di pemda…. ... kalau sudah begitu… kadang berikutnya yang keluar adalah berita korupsi atau kriminal …. maklum… pers didaerah sendiri untuk dapat ‘bertahan hidup’ juga tidak mudah….. mana pangsa pasar pembacanya kecil…. Iklannyapun kecil pula…. Tapi anda benar…..walau setiapkali saya ragu dengan ‘pendekatan langsung didaerah’ (maklum dengan planner dipusat pemerintahan dan dipusat kiblat pengajaran saja meyakinkannya juga masih susah… apalagi dengan awam dikawasan tertinggal)…. Tapi setiap kali saya masih ingin saja terus mencoba peluang baru ‘pendekatan didaerah’…… siapa tahu suatu saat ada cara tepat yang manjur dan peroleh kemajuannya yang signifikan….... +++: Kalu kita ke Makassar saat ini tentu melihat gairah yang besar dalam membangun. Dan itu tampak nyata secara fisik, setelah terbangunnya kawasan Global Trade Center (yang menymbung pulau itu), lalu beberapa kawasan CBD yang baru (Panakukang? ), airport modern(Sultan Hasanudin Makassar), serta jalan tol ke hinterland yang sebagian sudah mulai terbangun. Semua menunjukkan bahwa pertumbuhan dan pembangunan (fisik) skala besar besar itu sudah terjadi. Dengan demikian, Pak Aby, saran saya diskusinya sudah bukan soal oke/tidaknya konsep 'counter-magnet' . Apapun konsep yang melatar belakanginya, Makassar sudah bergairah. Ini Otonomi Daerah Bung !!! Sehingga tinggal bagaimana manajemen-nya, supaya pembangunan fisik yang terjadi tidak mengulang 'salah kaprah' yang terjadi di megapolitan Jakarta, Surabaya dan lainnya. >>>: Setidaknya dengan anda dan pak Nuzul saya cukup puas berdiskusi, karena >>>setiapkali terasa seperti ada ‘langkah maju’…… saya pikir segera saya harus >>>kerjakan nasehat anda ini….. dan diskusi terakhir saya dengan pak Nuzul >>>apakah sekiranya sudah seperti yang anda maksud?......... Saya mau tanya…. Kalau sekedar ‘menggugat pemda sebuah kota’ saja orang dari sekolah tinggi planning pada ngajakin keroyokan bikin petisi…. Cukup ‘fair’ atau tidak ya pak …. Kalau saya ajak anda dan pak Nuzul bertiga mengembangkan ide Mks/ KTI ini?....... maklum kalau sendiri tenaga saya terlampau kecil……. Dan lagipula sekarang khan zamannya apa-apa tawuran?..... bukan zamannya duel 1 lawan 1 seperti cerita koboi ditahun 1950-an?........ dimana lawan yang terjatuh dikasih uluran tangan dan dibantuin berdiri?...... dan konyolnya kok ya mau juga?..... +++: Saran saya lagi, Pak Aby menjelaskan 'konsep'nya. Kalau Makassar sudah bergairah begitu mau disarankan bagaimana? >>>: Apakah diskusi terakhir dgn pak Nuzul msh belum sesuai dgn yang anda >>>maksud?....alangkah idealnya kalau proyek ini bisa digarap bareng-bareng….. >>>saya optimis…. Walau sekedar berdua bertiga berempat….. tentu akan dapat >>>kita peroleh kemajuan yang signifikan……lebih daripada kalo saya sendirian….. >>>Bagaimana kalau anda, pak Nuzul, pak Yahya mengagendakan ini sbg bagian >>>dari jihad kecil anda?....... +++:Jadi jangan mundur lagi ke Sistem Kota-kota, Planologi, NKRI dan sebagainya. Pertumbuhan Makassar adalah realita, bukan wacana. Jadi diskusinya fokus bahas Makassar saja dan sekitarnya, apa konsepnya (atau provokasinya) yang disarankan Pak Aby: dari segi penataan ruang, menumbuhkan ekonomi/investasi, dst. >>>: Yah….. sayangnya partisipasi dari milisters yang bermacam2 perlu >>>diapresiate juga dan tak boleh diacuhin…. Hingga saya akui sering jalan saya >>>jadi mundur, kadang malah mundur sambil belok atau muter2 segala dsb….. >>>hingga ‘kemajuan’ jadi lambat…. Tapi siapa tahu ‘jalan kita’ memang harus >>>begitu?.... atau kata Tuhan barangkali kini memang belum ‘saatnya’?…. Akh >>>tapi untung sejauh ini anda telah berperan sangat-sangat supportif dan >>>sangat berarti untuk saya…….. Salam, aby
--- On Fri, 9/19/08, risfano <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: risfano <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] Konsep Lama Merasuk Jiwa Re: Kompas dan Planologi To: [email protected] Date: Friday, September 19, 2008, 1:04 AM Pak Aby dan rekans ysh, Dari awal, dalam menanggapi soal 'kota tandingan' Makassar (tahun lalu), saya menyarankan untuk melihatnya dari sudut pandang 'daerah'. Maksudnya, selama ini konsep 'kota tandingan' itu memang pemikiran 'pusat' dalam rangka menyebarkan pertumbuhan ke luar Jabodetabek (Jawa). Kalau dari kacamata 'pusat' memang kita bisa berpolemik, setuju atau tidak, befikir layak atau tidak. Tapi kalau berfikir dari kacamata warga dan pemda di Sulawesi dan sekitarnya, tentu masih sangat relevan 'menumbuhkan' Makassar menjadi 'pusat tandingan'. Soal policy 'pusat' ke situ atau tidak, bagi mereka sebagai konsideran saja. Yang pasti menguatkan, dan pasti tidak melarang. Kalu kita ke Makassar saat ini tentu melihat gairah yang besar dalam membangun. Dan itu tampak nyata secara fisik, setelah terbangunnya kawasan Global Trade Center (yang menymbung pulau itu), lalu beberapa kawasan CBD yang baru (Panakukang? ), airport modern(Sultan Hasanudin Makassar), serta jalan tol ke hinterland yang sebagian sudah mulai terbangun. Semua menunjukkan bahwa pertumbuhan dan pembangunan (fisik) skala besar besar itu sudah terjadi. Dengan demikian, Pak Aby, saran saya diskusinya sudah bukan soal oke/tidaknya konsep 'counter-magnet' . Apapun konsep yang melatar belakanginya, Makassar sudah bergairah. Ini Otonomi Daerah Bung !!! Sehingga tinggal bagaimana manajemen-nya, supaya pembangunan fisik yang terjadi tidak mengulang 'salah kaprah' yang terjadi di megapolitan Jakarta, Surabaya dan lainnya. Saran saya lagi, Pak Aby menjelaskan 'konsep'nya. Kalau Makassar sudah bergairah begitu mau disarankan bagaimana? Jadi jangan mundur lagi ke Sistem Kota-kota, Planologi, NKRI dan sebagainya. Pertumbuhan Makassar adalah realita, bukan wacana. Jadi diskusinya fokus bahas Makassar saja dan sekitarnya, apa konsepnya (atau provokasinya) yang disarankan Pak Aby: dari segi penataan ruang, menumbuhkan ekonomi/investasi, dst. Salam, Risfan Munir --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Aby ysh, > > Dari tulisan Pak Aby, terbukti bahwa eyang saya ini memang sudah jatuh cinta > betul sama konsep kota tandingan dengan idola Mks. >

