Para Milister Ysh, 
Karena saya bukan planner, saya mohon perkenan tanggapan para Bapak/Ibu yang 
mengerti tentang 'neraca ruang' (kalau sumberdaya air sedikit mengertilah) :
- Bukankah 'land' itu tetap jumlahnya, sedangkan 'ruang' adalah tidak tetap 
jumlahnya. 'Ruang' sangat fleksibel tergantung orientasi pemanfaatannya (mohon 
periksa rusun yang indah di S'pore atau kebun strawberry di Jawa Barat).   
- Bisa tidak kita katakan bahwa 'neraca ruang' tersebut mendekati teori 'zero 
sum game' ?, tentunya dengan tetap memperhatikan daya dukung, daya tampung 
serta aspek keberlanjutan ?
Suwun.............
Hormat saya
cut safana




----- Original Message ----
From: risfano <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, September 22, 2008 8:04:19 AM
Subject: [referensi] Re: neraca ruang



Bang Eka dan rekans ysh,

Neraca lahan = neraca ruang?
Kalau lahan, tanah, apakah tidak lebih konkret. Kalau 'ruang' sepertinya
kan intangible. Orang memiliki atau membeli x ha lahan, bukan ruang kan?
Nilai lahan/tanah, land value, land rent.
Sementara kalau ruang konotasinya lebih abstract, konsep, "peruntukan"
atas sebidang lahan/tanah.

Bukan begitu? Jadi yang mana yang ada kita bahas?

Salam,
Risfan Munir

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "ekadj08" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Pak Risfan ysh,
>
> Sepertinya bapak telah membuka pintu kepada pemikiran neraca yang
lebih
> implementatif. Sebenarnya ada contoh yang lebih populer dan dikenal
> selama ini, yaitu: neraca air. Manajemen sumber daya air berlandas
pada
> beberapa prinsip, di antaranya bagaimana bila air itu ditahan selama
> mungkin di daratan, tersimpan (stock) di hulu, dan didistribusikan
> penggunaannya secara efisien, apakah melalui pipa, saluran, bendungan,
> dst. Jenis penggunaannya pun beragam, mulai dari penggunaan domestik
> rumah tangga, pertanian, perikanan, industri, dst. Jadi pengelolaan
> sumber daya air memerlukan manajemen mulai dari hulu hingga ke hilir.
> Untuk itu dibutuhkan neraca, yang mengimbangkan penyediaan dan
> penggunaan, supaya pemanfaatannya menjadi sustain. Namun permasalahan
> kita selama ini hanya bermain di tataran teoritik dan filosofik, belum
> sampai kepada perhitungan yang lebih terukur. Atau kalaupun ada, belum
> populer.
>
>

 


      

Kirim email ke