Bung Abimanyu dan rekan2 ysh.

Terima kasih atas tanggapannya. Saya jadi ingat waktu di kota kelahiran
dulu, kebetulan rumah saya dekat kesatrian angkatan laut, jadi tiap hari
saya lewat gerbang bertulusan "Jalesveva Jayamahe" (Justru di laut lah
kita jaya?) dengan dua ranjau laut di kiri-kanannya.
Kemudian ikut "pramuka laut", supaya bisa renang gratis di kesatrian AL
tersebut. Ya setidaknya waktu itu hafal lah nama-nama KRI, arti
tiap-tiap bendera, serta simpul tali temali di kapal. Sehingga sempat
bercita-cita jadi KKO (he he he).  Tapi ternyata ada lho teman saya yang
eks marinir lalu kuliah lagi dan jadi dosen arsitektur.

Ya, seperti Bung Abimanyu duga, lalu sekolahnya tentang tata guna tanah.
Jadi mendarat lah. Mungkin ada baiknya bagi saya untuk belajar kembali
tentang kelautan, yang dikawinkan dengan planning.

Salam,
Risfan Munir






--- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Risfan ysh,
>
> Tanggapan saya ke Pak Aby bukan untuk beliau saja pak, juga untuk
mengajak
> rekan-rekan lain untuk mencoba keluar dari kotak "planning school"
yang
> masih berbasis daratan dan mulai berbasis pulau-laut (tanah-air)
Indonesia
> tercinta.
> Kalau soal "World City" itu justru bukan berasal dari pendapat pribadi
saya
> tetapi dari beberapa tulisan mengenainya. Menurut kriteria tersebut,
tidak
> otomatis suatu kota besar dapat berfungsi sebagai "World City"
(mungkin Pak
> Risfan juga tahu soal tersebut).
>
> Pertanyaan bapak mengenai "wilayah lautan dan pesisir" adalah inti
dari
> pertanyaan khas sebagian besar rekans yang masih berbasis Indonesia
tanahku
> (motherland), belum tanah-airku. Mungkin "regionisme" ini juga
merupakan
> hasil penjajahan pendidikan negara benua (negara daratan) terhadap
> pakar-pakar negara archipelago dan pulau-pulau kecil (SIDC).
>
> Secara singkat, kekhasan konsep perencanaan wilayah kepulauan yang
mencakup
> pulau-laut, dengan pesisir yang nomor 4 terpanjang di dunia dan lautan
yang
> dua-pertiga luas wilayahnya, adalah kita perlu selalu peduli bahwa
sebagai
> negara kepulauan (yang dengan kenaikan muka laut daratannya akan
semakin
> berkurang) keberlanjutan negara ini sangat tergantung kepada
keberlanjutan
> pulau dan kualitas laut yang akan menjadi sumber daya terbesar
kehidupan
> kita kalau saat sumberdaya daratannya sudah habis dirambah atau
dijual.
> Kelemahan kita dalam mengelola laut (termasuk bencana di laut) adalah
karena
> kita memang tidak menyiapkan pengelolaannya, walaupun Deklarasi
Djuanda
> memperjuangkan bahwa negara kita bukan daratan plus 3 mil laut
sekitarnya
> tetapi termasuk laut Nusantara.
> Laut juga bukan tempat pembuangan sampah atau lumpur Lapindo, dsb,
dst.
> Sayangnya memang kita lebih banyak terdidik menjadi masyarakat darat,
> walaupun masyarakat pulau-laut dan masyarakat laut kita kehidupannya
justru
> lebih banyak tergantung lautan daripada daratan. Belanda yang pernah
> menjajah kita saja sekarang sudah mulai mengembangkan konsep-konsep
> terapung, karena sadar tidak selamanya konsep membendung laut mampu
> mempertahankan wilayahnya yang semakin terancam oleh kenaikan muka
laut.
>
> Banyak aspek yang perlu kita kupas bersama disini, tapi mungkin Pak
Aby
> tidak berselera....Sory Yang.
>
> Wasalam,
>
> Abimanyu
>
>

Kirim email ke