Eyang Wawo, wah wah saya merasa sangat bahagia jika berhasil memancing reaksi Eyang yang sangat berharga.....dan masih ada sisa pertanyaan saya....apakah semua bahan berharga yang Eyang sebutkan itu sudah menjadi bagian dari semacam kebijakan tata ruang nasional di Indonesia ? Jika belum, wah sayang sekali ya....mohon maaf merepotkan lagi...Yang saya memang sangat berminat mengangkat pernik-pernik lokal untuk digunakan sebagai bagian dalam menata kehidupan kita semua....mohon restu ya....saya ada di arus bawah seperti itu....
Salam dan Hormat, Djarot --- On Sun, 9/28/08, Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe! To: [email protected] Date: Sunday, September 28, 2008, 3:44 PM Sdr Onnos R, dan juga sdr Djarot, Referensi atau catatan tentang John Rahasia alm, memang menjadi alasan untuk juga memberikan sekedar keterangan yang mungkin tidak disampaikan oleh bapak John Rahasia pada waktu hidupnya. Sewaktu saya di UNSRAT dari tahun 1976 sampai 1986, saya juga sempat bertemu beberapa kali dengan bapak John Rahasia, sebetulnya terutama dalam kaitan dengan Dr Sam Ratulangi yang telah menulis buku Indonesia in den Pacific - Kernproblemen van den Aziatischen Pacific, yang telah terbit pada tahun 1937, walaupun sebetulnya sudah dalam penyusunan sejak mula tahun 20an , sedangkan suatu publikasi lain yang agak kurang dikenal namun barangkali justru mengandung jauh lebih banyak pandangan-pandangan analitis yang sudah dikemukakan oleh orang Indonesia waktu itu De PACIFIC - verzameling opstellen van Dr GSSJ Ratu Langie, Moh. H. Thamrin dan Soetardjo Kartohadikoesoemo, ini adalah sekumpulan karangan : Schaduwen der Onrust(bayangan ke tidak amanan) I dan II (1928) Ratu Langie, In den Branding (dalam deburan ombak)I dan II (1934) Moh. H. Thamrin dan M. Soetardjo Kartyohadikoesoemo, dan Slotbeschouwing (pandangan penutup)(1938) Ratu Langie , Mengapa saya menyebut karangan-karangan ini secara spesifik adalah oleh karena John Rahasia terutama telah menggunakan sumber-sumber ini untuk mengemukakan pelbagai teorinya. Pandangan-pandangan khusus tentang peran kebaharian telah disampaikannya di LEMHANAS waktu itu. Barangkali satu teori yang spesifik dikemukakan oleh John Rahasia adalah tentang suatu kerajaan TAGAROA, nama mana sebenarnya berasal dari sejarah kebudayaan Maori. Saya tidak dapat meverifikasi mana sebenarnya yang menjadi nama atau istilah yang asli dalam kebaharian Indonesia, atau berasal dari budaya Pasifik lain. Yang saya ketahui bahwa John Rahasia mula-mula mempunyai suatu gagasan untuk membangun satu kapal yang sedikitnya ingin digunakan mengarungi laut-laut Indonesia, mungkin sampai ke samudra Pasifik. Namun saya kira prakarsa ini tidak sampai dilaksanakan tetapi perhatian John Rahasia terhadap kebaharian itu tidak susut tetapi terutama di arahkan ke penelitian kerang atau shells yang terutama dikumpulkan di pantai pulau Siladen itu sendiri. Kolleksi bia atau karang-karang inilah yang lebih dikenal di pulau Siladen dan dirumahnya di Sindulang Manado. Sebenarnya pada tahun 70 sampai 80 an itu beberapa prakarsa kebaharian itu telah berkembang di Indonesia, UNSRAT pada waktu itu juga telah mencoba menyusun semacam kerangka research yang kurang lebih ingin mengembangkan tiga poros, (1) a study of relevant Pacific Cultures (2) a specific study on Pacific Sciences and Technologies - yang juga telah dilakukan dengan Technology Development Institute dari East West Center Hawaii, dan khirnya (3) cross ocean cooperation yang al. dicoba antara UNSRAT dengan lembaga di Mexico. Ini sebenarnya dalam usaha untuk menyusun semacam Pola Ilmiah Pokok, yang memang dari mula didasarkan pada buku Ratu Langie Indonesia in den Pacific. sdr Onnos dan mungkin Jarot juga mungkin akan bertanya bagaimanakah dengan prakarsa John Rahasia alm. itu. Secara tidak langsung sebenarnya ada beberapa hal yang telah tercapai. Kelautan terutama berkembang dalam bidang perikanan, sedang pelbagai implikasi lanjut seperti masalah-masalah perbatasan utara Indonesia pasti itu dalam konteks kebaharian negara kita. Sedikit lebih spesifik maka saya sendiri sedang mengembangkan suatu segi yang lebih dekat dengan tata ruang atau perkotaan, secara kasar telah saya namakan konsep URBAHARI, yang memang menggunakan beberapa istilah dasar: mula-mula ur dalam pengertian asal atau bentuk tua, selanjutnya urba yang mengkarakterisir kekotaan atau urban, sedangkan bahari jelas laut. Well in short I do hope to focus on those coastal (human) settlements, not only in terms of their ancient origin (ur) but also more towards the more recent implications, which I also developed on a trans oceanic phenomena, which is the study of the ARLINDO or the cross Indonesian currents between the Pacific and the Indian Ocean. Memang phenomena arus lintas laut itu sejak lama sudah dikenal, namun arus lintas budaya, utara selatan maupun timur barat antara benua Asia Australia dan Asia Tenggara sebetulnya masih sangat kurang dipahami. Sdr Onnos dan Jarot , barangkali keterangan-keterang an saya agak berlebihan padahal hanya untuk mengenang alm John Rahasia. Tapi mungkin kalau saya tidak sampaikan keterangan ini maka mungkin hanya jadi lost knowledge. Well I do hope I have touched a sensitive concern. Selamat Idul Fitri . Pak Wawo.- ----- Original Message ---- From: Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Sent: Saturday, September 27, 2008 9:09:08 PM Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe! Pak Djarot dan milisters ysh, Mengenai pengalaman saudara kita suku Bugis dan Bajo tentang laut, memang belum banyak yang tertulis yang dapat dipakai sebagai bahan kajian. Saya melontarkan ide tersebut berdasarkan pengamatan saya dilapangan saja, mungkin ada rekan-rekan yang berminat untuk menelitinya. Sepertinya hal ini lebih dekat kepada bidang anthropology (sosial-budaya ?) yang tentunya dapat dipakai untuk bahan 'penataan ruang laut' atau 'kebijakan kelautan'. Sekitar tahun 1995 - 2001 saya pernah beberapa kali ketemu bapak John Rahasia (almarhum) dari Manado yang sangat senang menulis tentang asal usul bangsa Indonesia sebagai 'bangsa bahari atau bangsa nusantara', beliau sebagai 'antropolog otodidak' banyak diakui perannya di berbagai universitas di luar negeri dan sempat mengajar sebagai dosen tamu di Unsrat dan Lemhanas. Waktu itu saya sempat bertamu dan ngobrol lama dirumahnya di jl. Sindulang I Manado (dekat Pasar Bersehati), beliau mempunyai perpustakaan pribadi dan mempunyai pulau kecil (Pulau Siladen dekat Bunaken) yang dijadikan sebagai museum miniatur perahu/kapal. Semoga sepeninggal beliau ada pewaris yang merawat/meneruskan ide besar tersebut, kalau anda sempat jalan ke Manado atau memang ada rekan milister yang tinggal disana mungkin dapat mencoba melacak kembali, siapa tahu dapat dipakai sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Semoga amal baik almarhum dapat bermanfaat bagi kita semua, amien. Wassalam, Onnos R. To: [EMAIL PROTECTED] ps.com From: [EMAIL PROTECTED] com Date: Thu, 25 Sep 2008 10:28:39 -0700 Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe! Pak Onno, saya tidak meragukan keahlian kedua nenek-moyang kita orang pelaut itu. jika kita memang ingin lebih merangkul laut sebagai "halaman" rumah bersama Indonesia kita. Benar mereka sangat akrab dengan laut, bahkan laut dan daratan memiliki makna yang khas pada suku Bajo (menurut kajian Hedy Shri Ahimsa dalam bukunya). Jika bukan pelaut maka bukan Bajo Asli, katanya. Oleh karenanya, persoalan memahami laut adalah sebuah masalah tersendiri yang menarik untuk digali. Pertanyaan saya, apakah selama ini dunia planning di Indonesia sudah mengakomodasi pengetahuan nenek-moyang kita orang pelaut itu ? Ataukah para planner kita terkesima dan silau oleh pandangan dan teori-teori "dari luar" sehingga melirik-pun tidak terhadap kearifan orang-orang Bajo dan Bugis. Apakah pengetahuan orang Bajo dan Bugis dan mana lagi sudah menjadi bagian dari penyusunan kebijakan tata ruang di Indonesia ? Setahu saya, orang Bajo dan orang Bugis hanya disinggung dan diakui keberadaannya di milis ini, tetapi pengetahuan mereka yang bermanfaat untuk kita dan masa depan anak-cucu kita tidak pernah diungkap secara mendalam. Apakah pengetahuan dan pengalaman mereka hanya akan diposisikan sebagai sekedar informasi tanpa arti atau semacam arus kecil pemikiran dalam planning yang layak diabaikan... .? Mohon pencerahan Pak. Salam, Djarot --- On Thu, 9/25/08, Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe! To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Thursday, September 25, 2008, 10:48 AM Wah pertanyaannya sepertinya sudah terjawab langsung pak, karena yang berwenang dan sumbernya ada disitu he he .. Tetapi mungkin jawabnya juga bisa kita tanya kepada 'rumput laut' yang bergoyang terus ya ... Wassalam, Onnos R. To: [EMAIL PROTECTED] ps.com From: [EMAIL PROTECTED] com Date: Thu, 25 Sep 2008 10:36:50 +0700 Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe! Pak Onno. kalau mau belajar penataan ruang laut - sama siapa yaa. salam ferri djais To: [EMAIL PROTECTED] ps.com From: [EMAIL PROTECTED] com Date: Wed, 24 Sep 2008 03:03:25 +0000 Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe! Untuk memahami tentang laut, kita juga musti belajar dari saudara kita suku Bajo dan Bugis yang sudah terkenal sebagai pelaut ulung sampai kemanca negara. Selamat Lebaran 1429 Hijriah, mohon maaf lahir bathin. Wassalam, Onnos R. To: [EMAIL PROTECTED] ps.com From: [EMAIL PROTECTED] com Date: Mon, 22 Sep 2008 14:45:56 +0800 Subject: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe! Untuk memahami laut mulai aja dengan mempelajari UNCLOS ( United Nations Convention on the Law of the Sea) 1982. Di Dewan Kealutan sudah diterjemahkan. Silakan ajukan surat ke sekretariat. Untuk Lembaga pemerintah, perguruan tinggi dan asosiasi dapat diberikan gratis. Wassalam AAS --- Pada Sen, 22/9/08, risfano <[EMAIL PROTECTED] com> menulis: Dari: risfano <[EMAIL PROTECTED] com> Topik: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe! Kepada: [EMAIL PROTECTED] ps.com Tanggal: Senin, 22 September, 2008, 12:37 AM Bung Abimanyu dan rekan2 ysh. Terima kasih atas tanggapannya. Saya jadi ingat waktu di kota kelahiran dulu, kebetulan rumah saya dekat kesatrian angkatan laut, jadi tiap hari saya lewat gerbang bertulusan "Jalesveva Jayamahe" (Justru di laut lah kita jaya?) dengan dua ranjau laut di kiri-kanannya. Kemudian ikut "pramuka laut", supaya bisa renang gratis di kesatrian AL tersebut. Ya setidaknya waktu itu hafal lah nama-nama KRI, arti tiap-tiap bendera, serta simpul tali temali di kapal. Sehingga sempat bercita-cita jadi KKO (he he he). Tapi ternyata ada lho teman saya yang eks marinir lalu kuliah lagi dan jadi dosen arsitektur. Ya, seperti Bung Abimanyu duga, lalu sekolahnya tentang tata guna tanah. Jadi mendarat lah. Mungkin ada baiknya bagi saya untuk belajar kembali tentang kelautan, yang dikawinkan dengan planning. Salam, Risfan Munir --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Risfan ysh, > > Tanggapan saya ke Pak Aby bukan untuk beliau saja pak, juga untuk mengajak > rekan-rekan lain untuk mencoba keluar dari kotak "planning school" yang > masih berbasis daratan dan mulai berbasis pulau-laut (tanah-air) Indonesia > tercinta. > Kalau soal "World City" itu justru bukan berasal dari pendapat pribadi saya > tetapi dari beberapa tulisan mengenainya. Menurut kriteria tersebut, tidak > otomatis suatu kota besar dapat berfungsi sebagai "World City" (mungkin Pak > Risfan juga tahu soal tersebut). > > Pertanyaan bapak mengenai "wilayah lautan dan pesisir" adalah inti dari > pertanyaan khas sebagian besar rekans yang masih berbasis Indonesia tanahku > (motherland) , belum tanah-airku. Mungkin "regionisme" ini juga merupakan > hasil penjajahan pendidikan negara benua (negara daratan) terhadap > pakar-pakar negara archipelago dan pulau-pulau kecil (SIDC). > > Secara singkat, kekhasan konsep perencanaan wilayah kepulauan yang mencakup > pulau-laut, dengan pesisir yang nomor 4 terpanjang di dunia dan lautan yang > dua-pertiga luas wilayahnya, adalah kita perlu selalu peduli bahwa sebagai > negara kepulauan (yang dengan kenaikan muka laut daratannya akan semakin > berkurang) keberlanjutan negara ini sangat tergantung kepada keberlanjutan > pulau dan kualitas laut yang akan menjadi sumber daya terbesar kehidupan > kita kalau saat sumberdaya daratannya sudah habis dirambah atau dijual. > Kelemahan kita dalam mengelola laut (termasuk bencana di laut) adalah karena > kita memang tidak menyiapkan pengelolaannya, walaupun Deklarasi Djuanda > memperjuangkan bahwa negara kita bukan daratan plus 3 mil laut sekitarnya > tetapi termasuk laut Nusantara. > Laut juga bukan tempat pembuangan sampah atau lumpur Lapindo, dsb, dst. > Sayangnya memang kita lebih banyak terdidik menjadi masyarakat darat, > walaupun masyarakat pulau-laut dan masyarakat laut kita kehidupannya justru > lebih banyak tergantung lautan daripada daratan. Belanda yang pernah > menjajah kita saja sekarang sudah mulai mengembangkan konsep-konsep > terapung, karena sadar tidak selamanya konsep membendung laut mampu > mempertahankan wilayahnya yang semakin terancam oleh kenaikan muka laut. > > Banyak aspek yang perlu kita kupas bersama disini, tapi mungkin Pak Aby > tidak berselera... .Sory Yang. > > Wasalam, > > Abimanyu > > Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the way you want. Windows Live Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere. Find out more. Windows Live

