Pak Wawo ysh,
Salam kenal, maaf beberapa kali saya ke Manado belum sempat 'sowan'. 
Terima kasih atas tanggapan bapak mengenai peran Almarhum pak John Rahasia 
dalam kecintaannya akan kebaharian. Semoga ide besar beliau, walaupun mungkin 
ada yang pro-contra, dapat dikembangkan oleh generasi penerus. Saya ingat ide 
'TAGAROA' beliau yang dipampangkan di dinding rumah jl. Sindulang dan 
lukisan-lukisan kerang yang kata almarhum sempat dikritik oleh pak Emil Salim 
(menteri KLH) karena dianggap dapat menghabiskan habitat kerang, tetapi justru 
di dukung pak Jope Ave (menteri Pariwisata) untuk dikembangkan. Seingat saya, 
almarhum pernah punya ide untuk mengembangkan pulau Siladen sebagai obyek 
tourism sekaligus sebagai museum kapal/bahari dan membangun hotel di bukit 
Sindulang (tanahnya milik beliau) yang menyediakan helikopter untuk ke Pulau 
Siladen, apakah ide tersebut dapat terwujud ? Selain itu, apakah perpustakaan 
pribadi almarhum di rumah jl. Sindulang apakah masih ada ?
Semoga pula ide pak Wawo tentang URBAHARI dapat segera terwujud. Selamat 
Lebaran, mohon maaf lahir & bathin.
Wassalam,
Onnos R.



To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Sun, 28 Sep 2008 01:44:43 
-0700Subject: Re: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!






Sdr Onnos R, dan juga sdr Djarot, 
 
Referensi atau catatan tentang John Rahasia alm,  memang menjadi alasan untuk 
juga memberikan sekedar keterangan yang mungkin tidak disampaikan oleh bapak 
John Rahasia pada waktu hidupnya.  Sewaktu saya di UNSRAT dari tahun 1976 
sampai 1986, saya juga sempat bertemu beberapa kali dengan bapak John Rahasia,  
sebetulnya terutama dalam kaitan dengan Dr Sam Ratulangi yang telah menulis 
buku  Indonesia in den Pacific - Kernproblemen van den Aziatischen Pacific, 
yang telah terbit pada tahun 1937, walaupun sebetulnya sudah dalam penyusunan 
sejak mula tahun 20an , sedangkan suatu publikasi lain yang agak kurang dikenal 
namun barangkali justru mengandung jauh lebih banyak pandangan-pandangan 
analitis yang sudah dikemukakan oleh orang Indonesia waktu itu  De PACIFIC - 
verzameling opstellen van Dr GSSJ Ratu Langie,  Moh. H. Thamrin dan Soetardjo 
Kartohadikoesoemo, ini adalah sekumpulan karangan : Schaduwen der 
Onrust(bayangan ke tidak amanan) I dan II (1928) Ratu Langie, In den Branding 
(dalam deburan ombak)I dan II (1934) Moh. H. Thamrin dan M. Soetardjo 
Kartyohadikoesoemo, dan  Slotbeschouwing (pandangan penutup)(1938)  Ratu Langie 
, Mengapa saya menyebut karangan-karangan ini secara spesifik adalah oleh 
karena John Rahasia terutama telah menggunakan sumber-sumber ini untuk 
mengemukakan pelbagai teorinya. Pandangan-pandangan khusus tentang peran 
kebaharian telah disampaikannya di LEMHANAS waktu itu. Barangkali satu teori 
yang spesifik dikemukakan oleh John Rahasia adalah tentang suatu kerajaan 
TAGAROA, nama mana sebenarnya berasal dari sejarah kebudayaan Maori.  Saya 
tidak dapat meverifikasi mana sebenarnya yang menjadi nama atau istilah yang 
asli dalam kebaharian Indonesia, atau berasal dari budaya Pasifik lain.  Yang 
saya ketahui bahwa John Rahasia mula-mula mempunyai suatu gagasan untuk 
membangun satu kapal yang sedikitnya ingin digunakan mengarungi laut-laut 
Indonesia, mungkin sampai ke samudra Pasifik. Namun saya kira prakarsa ini 
tidak sampai dilaksanakan tetapi perhatian John Rahasia terhadap kebaharian itu 
tidak susut tetapi terutama di arahkan ke penelitian  kerang atau shells yang 
terutama dikumpulkan di pantai pulau Siladen itu sendiri.  Kolleksi bia atau 
karang-karang inilah yang lebih dikenal di pulau Siladen dan dirumahnya di 
Sindulang Manado. Sebenarnya pada tahun 70 sampai 80 an itu beberapa prakarsa 
kebaharian itu telah berkembang di Indonesia, UNSRAT pada waktu itu juga telah 
mencoba menyusun semacam kerangka research yang kurang lebih ingin 
mengembangkan tiga poros,  (1) a study of relevant Pacific Cultures (2) a 
specific study on Pacific Sciences and Technologies - yang juga telah dilakukan 
dengan Technology Development Institute dari East West Center Hawaii,  dan 
khirnya (3) cross ocean cooperation yang al. dicoba antara UNSRAT dengan 
lembaga di Mexico.  Ini sebenarnya dalam usaha untuk menyusun semacam Pola 
Ilmiah Pokok, yang memang dari mula didasarkan pada buku Ratu Langie Indonesia 
in den Pacific. 
sdr Onnos dan mungkin Jarot juga mungkin akan bertanya bagaimanakah dengan 
prakarsa  John Rahasia alm. itu. Secara tidak langsung sebenarnya ada beberapa 
hal yang telah tercapai.  Kelautan terutama berkembang dalam bidang perikanan, 
sedang pelbagai implikasi lanjut seperti masalah-masalah perbatasan utara 
Indonesia pasti itu dalam konteks kebaharian negara kita.  
 
Sedikit lebih spesifik maka saya sendiri sedang mengembangkan suatu segi yang 
lebih dekat dengan tata ruang atau perkotaan,  secara kasar telah saya namakan 
konsep URBAHARI, yang memang menggunakan beberapa istilah dasar: mula-mula ur 
dalam pengertian asal atau bentuk tua,  selanjutnya urba  yang mengkarakterisir 
 kekotaan atau urban, sedangkan bahari jelas laut.  Well in short I do hope to 
focus on those coastal (human) settlements, not only in terms of their ancient 
origin (ur) but also more towards the more recent implications, which I also 
developed on a trans oceanic phenomena, which is the study of the ARLINDO or 
the cross Indonesian currents between the Pacific and the Indian Ocean. Memang 
phenomena arus lintas laut itu sejak lama sudah dikenal, namun arus lintas 
budaya, utara selatan maupun timur barat antara benua Asia Australia dan Asia 
Tenggara  sebetulnya masih sangat kurang dipahami. 
 
Sdr Onnos dan Jarot ,  barangkali keterangan-keterangan saya agak berlebihan 
padahal hanya untuk mengenang alm John Rahasia. Tapi mungkin kalau saya tidak 
sampaikan keterangan ini maka mungkin hanya jadi lost knowledge.  Well I do 
hope I have touched  a sensitive concern.  Selamat Idul Fitri . Pak Wawo.- 


----- Original Message ----From: Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]>To: 
[EMAIL PROTECTED]: Saturday, September 27, 2008 9:09:08 PMSubject: RE: Bls: 
[referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!

Pak Djarot dan milisters ysh,Mengenai pengalaman saudara kita suku Bugis dan 
Bajo tentang laut, memang belum banyak yang tertulis yang dapat dipakai sebagai 
bahan kajian. Saya melontarkan ide tersebut berdasarkan pengamatan saya 
dilapangan saja, mungkin ada rekan-rekan yang berminat untuk menelitinya. 
Sepertinya hal ini lebih dekat kepada bidang anthropology (sosial-budaya ?) 
yang tentunya dapat dipakai untuk bahan 'penataan ruang laut' atau 'kebijakan 
kelautan'. Sekitar tahun 1995 - 2001 saya pernah beberapa kali ketemu bapak 
John Rahasia (almarhum) dari Manado yang sangat senang menulis tentang asal 
usul bangsa Indonesia sebagai 'bangsa bahari atau bangsa nusantara', beliau 
sebagai 'antropolog otodidak' banyak diakui perannya di berbagai universitas di 
luar negeri dan sempat mengajar sebagai dosen tamu di Unsrat dan Lemhanas. 
Waktu itu saya sempat bertamu dan ngobrol lama dirumahnya di jl. Sindulang I 
Manado (dekat Pasar Bersehati), beliau mempunyai perpustakaan pribadi dan 
mempunyai pulau kecil (Pulau Siladen dekat Bunaken) yang dijadikan sebagai 
museum miniatur perahu/kapal. Semoga sepeninggal beliau ada pewaris yang 
merawat/meneruskan ide besar tersebut, kalau anda sempat jalan ke Manado atau 
memang ada rekan milister yang tinggal disana mungkin dapat mencoba melacak 
kembali, siapa tahu dapat dipakai sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Semoga 
amal baik almarhum dapat bermanfaat bagi kita semua, amien.Wassalam,Onnos R. 

To: [EMAIL PROTECTED] ps.comFrom: [EMAIL PROTECTED] comDate: Thu, 25 Sep 2008 
10:28:39 -0700Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!






Pak Onno, saya tidak meragukan keahlian kedua nenek-moyang kita orang pelaut 
itu. jika kita memang ingin lebih merangkul laut sebagai "halaman" rumah 
bersama Indonesia kita. Benar mereka sangat akrab dengan laut, bahkan laut dan 
daratan memiliki makna yang khas pada suku Bajo (menurut kajian Hedy Shri 
Ahimsa dalam bukunya). Jika bukan pelaut maka bukan Bajo Asli, katanya. Oleh 
karenanya, persoalan memahami laut adalah sebuah masalah tersendiri yang 
menarik untuk digali. Pertanyaan saya, apakah selama ini dunia planning di 
Indonesia sudah mengakomodasi pengetahuan nenek-moyang kita orang pelaut itu ? 
Ataukah para planner kita terkesima dan silau oleh pandangan dan teori-teori 
"dari luar" sehingga melirik-pun tidak terhadap kearifan orang-orang Bajo dan 
Bugis. Apakah pengetahuan orang Bajo dan Bugis dan mana lagi sudah menjadi 
bagian dari penyusunan kebijakan tata ruang di Indonesia ? Setahu saya, orang 
Bajo dan orang Bugis hanya disinggung dan diakui keberadaannya di milis ini, 
tetapi pengetahuan mereka yang bermanfaat untuk kita dan masa depan anak-cucu 
kita tidak pernah diungkap secara mendalam. Apakah pengetahuan dan pengalaman 
mereka hanya akan diposisikan sebagai sekedar informasi tanpa arti atau semacam 
arus kecil pemikiran dalam planning yang layak diabaikan... .?Mohon pencerahan 
Pak.Salam,Djarot--- On Thu, 9/25/08, Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] 
com> wrote:
From: Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED] com>Subject: RE: Bls: [referensi] 
Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!To: [EMAIL PROTECTED] ps.comDate: Thursday, 
September 25, 2008, 10:48 AM


Wah pertanyaannya sepertinya sudah terjawab langsung pak, karena yang berwenang 
dan sumbernya ada disitu he he ..Tetapi mungkin jawabnya juga bisa kita tanya 
kepada 'rumput laut' yang bergoyang terus ya ...Wassalam,Onnos R.

To: [EMAIL PROTECTED] ps.comFrom: [EMAIL PROTECTED] comDate: Thu, 25 Sep 2008 
10:36:50 +0700Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!


Pak Onno. kalau mau belajar penataan ruang laut - sama siapa yaa. salam ferri 
djais

To: [EMAIL PROTECTED] ps.comFrom: [EMAIL PROTECTED] comDate: Wed, 24 Sep 2008 
03:03:25 +0000Subject: RE: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!


Untuk memahami tentang laut, kita juga musti belajar dari saudara kita suku 
Bajo dan Bugis yang sudah terkenal sebagai pelaut ulung sampai kemanca 
negara.Selamat Lebaran 1429 Hijriah, mohon maaf lahir bathin.Wassalam,Onnos R. 

To: [EMAIL PROTECTED] ps.comFrom: [EMAIL PROTECTED] comDate: Mon, 22 Sep 2008 
14:45:56 +0800Subject: Bls: [referensi] Di laut Kita... Jalesveva Jayamahe!







Untuk memahami laut mulai aja dengan mempelajari UNCLOS ( United Nations 
Convention on the Law of the Sea) 1982. Di Dewan Kealutan sudah diterjemahkan. 
Silakan ajukan surat ke sekretariat. Untuk Lembaga pemerintah, perguruan tinggi 
dan asosiasi dapat diberikan gratis.
 
Wassalam
AAS--- Pada Sen, 22/9/08, risfano <[EMAIL PROTECTED] com> menulis:
Dari: risfano <[EMAIL PROTECTED] com>Topik: [referensi] Di laut Kita... 
Jalesveva Jayamahe!Kepada: [EMAIL PROTECTED] ps.comTanggal: Senin, 22 
September, 2008, 12:37 AM



Bung Abimanyu dan rekan2 ysh.
Terima kasih atas tanggapannya. Saya jadi ingat waktu di kota kelahiran dulu, 
kebetulan rumah saya dekat kesatrian angkatan laut, jadi tiap hari saya lewat 
gerbang bertulusan "Jalesveva Jayamahe" (Justru di laut lah kita jaya?) dengan 
dua ranjau laut di kiri-kanannya. Kemudian ikut "pramuka laut", supaya bisa 
renang gratis di kesatrian AL tersebut. Ya setidaknya waktu itu hafal lah 
nama-nama KRI, arti tiap-tiap bendera, serta simpul tali temali di kapal. 
Sehingga sempat bercita-cita jadi KKO (he he he).  Tapi ternyata ada lho teman 
saya yang eks marinir lalu kuliah lagi dan jadi dosen arsitektur.
Ya, seperti Bung Abimanyu duga, lalu sekolahnya tentang tata guna tanah. Jadi 
mendarat lah. Mungkin ada baiknya bagi saya untuk belajar kembali tentang 
kelautan, yang dikawinkan dengan planning.
Salam,Risfan Munir
 
 
--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:>> Pak Risfan ysh,> > Tanggapan saya ke Pak Aby bukan untuk beliau saja 
pak, juga untuk mengajak> rekan-rekan lain untuk mencoba keluar dari kotak 
"planning school" yang> masih berbasis daratan dan mulai berbasis pulau-laut 
(tanah-air) Indonesia> tercinta.> Kalau soal "World City" itu justru bukan 
berasal dari pendapat pribadi saya> tetapi dari beberapa tulisan mengenainya. 
Menurut kriteria tersebut, tidak> otomatis suatu kota besar dapat berfungsi 
sebagai "World City" (mungkin Pak> Risfan juga tahu soal tersebut).> > 
Pertanyaan bapak mengenai "wilayah lautan dan pesisir" adalah inti dari> 
pertanyaan khas sebagian besar rekans yang masih berbasis Indonesia tanahku> 
(motherland) , belum tanah-airku. Mungkin "regionisme" ini juga merupakan> 
hasil penjajahan pendidikan negara benua (negara daratan) terhadap> pakar-pakar 
negara archipelago dan pulau-pulau kecil (SIDC).> > Secara singkat, kekhasan 
konsep perencanaan wilayah kepulauan yang mencakup> pulau-laut, dengan pesisir 
yang nomor 4 terpanjang di dunia dan lautan yang> dua-pertiga luas wilayahnya, 
adalah kita perlu selalu peduli bahwa sebagai> negara kepulauan (yang dengan 
kenaikan muka laut daratannya akan semakin> berkurang) keberlanjutan negara ini 
sangat tergantung kepada keberlanjutan> pulau dan kualitas laut yang akan 
menjadi sumber daya terbesar kehidupan> kita kalau saat sumberdaya daratannya 
sudah habis dirambah atau dijual.> Kelemahan kita dalam mengelola laut 
(termasuk bencana di laut) adalah karena> kita memang tidak menyiapkan 
pengelolaannya, walaupun Deklarasi Djuanda> memperjuangkan bahwa negara kita 
bukan daratan plus 3 mil laut sekitarnya> tetapi termasuk laut Nusantara.> Laut 
juga bukan tempat pembuangan sampah atau lumpur Lapindo, dsb, dst.> Sayangnya 
memang kita lebih banyak terdidik menjadi masyarakat darat,> walaupun 
masyarakat pulau-laut dan masyarakat laut kita kehidupannya justru> lebih 
banyak tergantung lautan daripada daratan. Belanda yang pernah> menjajah kita 
saja sekarang sudah mulai mengembangkan konsep-konsep> terapung, karena sadar 
tidak selamanya konsep membendung laut mampu> mempertahankan wilayahnya yang 
semakin terancam oleh kenaikan muka laut.> > Banyak aspek yang perlu kita kupas 
bersama disini, tapi mungkin Pak Aby> tidak berselera... .Sory Yang.> > 
Wasalam,> > Abimanyu> > 

Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru 
@ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! 

Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the way you want. 
Windows Live 

Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery 

Chat online and in real-time with friends and family! Windows Live Messenger 

Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere. Find 
out more. Windows Live 
 





_________________________________________________________________
Easily edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview

Kirim email ke