Teman2 outsiders dan Milisters ysh,
 
Semula saya ingin tanggapi pak Nuzul masalah ‘triple helix dan sciencepark’ 
dalam kaitannya dengan Morotai …… dimana ini semula berkait  posting tentang 
EPZ untuk Morotai di milis referensi  21/09/08…  yang menurut pak Eka dan pak 
Nuzul barangkali adalah sebuah "kecelakaan" atau pancingan  untuk 
bahan diskusi….. dimana malah pak Eka pake nambah2in segala bahwa menurutnya  
“…urusan Morotai dimilis ini kan seharusnya ditujukan ke Pak Aby dkk…”
lalu pak Nuzul kemudian juga ajak kita untuk “…mendiskusikan konsep "triple 
helix" sehingga lebih jernih melihat perspektif pengembangan "science park"…….. 
hingga lalu saya  ingin diskusikan masalah tersebut…….
 
Sebenarnya saya ingin ajak pak Nuzul melihat masalah yang  lebih dalam 
menyangkut seputar latar belakang yang menjadi mitos tradisi  ambisi 
pengembangan Morotai-nya itu sendiri…… lebih daripada masalah  science park/ 
EPZnya…... karena bila tanpa kaitan eratnya  dengan masalah lokasi… maka yang 
belakangan ini tentu akan lebih pas bila dibahas oleh para ekonom/ industrialis 
sendiri lebih daripada dibahas oleh milis referensi…… yang tentunya 
mengharapkan analisis2 yang lebih berdimensi serta berkait erat dengan aspek 
keruangan/ lokasional…... lebih daripada masalah2 pendalaman sains dari ekonomi 
serta  teknologi industri….
Tapi rupanya itu belum kesampaian (sama spt bbrp topik lain juga tertunda terus 
nulisnya).… lalu keburu muncul tulisan planner muda kita yang progresip….. mas 
Catur yang cukup menarik…..dimana beliau menulis tentang ‘mental block penataan 
ruang’…… hingga lalu tulisan ttg Morotai itu jadi tertunda……
Tulisan ‘mental block’  tsb menjadi menarik.. tak lepas dari kaitannya dengan 
sambutan bpk2 Risfan dan BTS yang cukup inspiratip dan informatip….. khususnya 
bagi outsider seperti bbrp teman serta bagi yang macem saya gini…..
 
Ketiganya sama2 menarik dan informatip… tapi Sejujurnya … posting mas BTS 
paling menarik bagi saya.. karena alasan paling singkat, paling padat dan mudah 
dimengerti.. cukup informatip dan sengaja/ tidak… ada unsur jenakanya disana…. 
Tapi tentu saja kalau tak ada wacana  diskusi panjang-lebar ‘buka diri dan 
otokritik’ model mas Catur dan pak Risfan itu…. Sulit bagi para outsiders untuk 
banyak memanen/ mengutip info seputar sosiologi/ psikologi masyarakat planners 
itu……..
 
Menanggapi posting mas BTS dulu …….
 
Pertama… saya sepakat  dgn pendapat beliau bahwa kedua pak Risfan dan mas Catur 
sama2 benar…..
Kedua… menanggapi istilah mas BTS tentang ‘segitiga’ pasar tenaga kerja 
planner,  agen penyalur TK planning serta SDM TK planningnya sendiri….. serta 
terakhir ‘ada jenis SDM planner yang nggak ada sertifikasinya dan  nggak laku’… 
seperti apa yang ditulis mas BTS :
“….Seperti kita ketahui bahwa formalitas kompetensi seorang Planner yang diakui 
adalah mereka yang bersertifikat, sementara itu sertifikat yang diterbitkan 
oleh IAP sebagai pengakuan kompetensi Planner adalah Sertfikat Penataan Ruang, 
bukan Sertifikat "Strategic Planning and Program Development" (SP-PD) 
sebagaimana yang dimaksud Bung Risfan. 
Jadi Bung Risfan, kalau ada seorang konsultan yang punya profesi dan kompetensi 
di bidang SP-PD, itu nggak laku di pasaran penataan ruang……”
 
Menurut saya sih ‘apa yang nggak ada sertifikasinya’ dan ‘nggak laku’  
dipasaran buruh SDM planning itu…. Sebenarnya Ia tetap saja ada ‘pasarnya’…. 
dan atau ‘ada tempatnya yang terhormat’…… hanya saja itu belum ‘dibuka’…..… 
atau karena bisa juga SDM/ TK plannersnya itu yang  malah tidak mau atau tidak 
tahu bgmn harus duduk ditempat ‘terhormat’ itu……...
 
Sebgmn yang diurai oleh mas BTS…… apa yang namanya ‘pasar majikan atas buruh 
planners’ itu…. Serta ’agen penyalur buruh planners’ itu dimana sang agen ini 
fungsinya mengeluarkan sertifikasi keahlian….…… dalam ‘mekanisme kehidupan 
demokrasi’  (trias politika eksekutip-legislatip-judikatip)…. keduanya masih 
berada pada lingkup ‘eksekutip’………
Menurut saya…. Apa yang di ‘eksekutip’ itu menjadi ‘barang nggak laku’ dan 
‘nggak ada sertifikasinya’……. Kalo di ‘legislatip’.. ia akan menjadi ‘barang 
mewah’ yang diterhormat dan amat butuhkan…….
Masalahnya adalah…. Kalau dibeberapa sektor/ bidang lain ‘mekanisme demokrasi’  
ini mulai banyak dihidupkan (bidang penegakan hukum, transportasi, penyiaran, 
HAM, gender, dll…) …….. tapi kalau dibidang ‘penataan ruang’ .. apa yang 
namanya ‘mekanisme demokrasi’ itu belum dihidupkan dan dijalankan……
Jadi yang terjadi di PR adalah bahwa lembaga ‘eksekutip’ ini bermain sendiri 
(sesukanya, boleh salah, boleh benar)….. tanpa ada lembaga lain yang setara… 
yang mengontrolnya secara efektip……
Kalau mau dibilang ‘tidak ada’ kontrol… ya ada sih ‘mekanisme kontrol’ itu yang 
kini ‘dimainkan’ oleh Komisi V DPR…… tapi yaitu tadi….. tidak epektip dan tak 
memadai… karena kita tahu… mereka yang di Komisi V DPR itu lebih banyak 
merupakan  ‘politisi’ (campuran aduk antara badut politik dan bukan)….. dan 
bukannya majority of smart planners…….
Yang jelas .. di Australia… ketua partai oposisi memperoleh rumah dinas yang 
sama besar dan sama kerennya dengan rumah dinas perdana menteri…… menunjukkan 
bahwa legislatif dan eksekutif itu ‘setara’ dan sama-sama diperlukan…..
Kalau para planners muda (atau yang STW) resah tak hanya masalah ‘masa depan 
planning’ namun juga sesungguhnya resah juga masalah  ‘job in planning’ (tak 
jarang utk yang planners imut malah masih juga resah  utk urusan planning n 
love)…..silahkan mulai sekarang pikir2 untuk ‘dalam kelompok/ barisan’ 
mengembangkan ide ‘demokrastisasi dlm planning’…. Alias pengembangan ‘politik 
perencanaan’…... dimana job dan earning tak sekedar bisa didapat dari 
‘eksekutif’ .. namun juga dari ‘Legislatif’…..
Asal ingat saja….. gaji ketua KPK yang berada diranah ‘legislatif’ itu lumayan 
besar juga lho… 40jt rp….. dan budget KPK juga ratusan M juga lho!.......
 
Sementara segini dulu dan salam,
aby
 
 


      

Kirim email ke