Ini respon dari tulisan saya di blog http://plano2000.multiply.com/
Beliau bernama ahmad zacky saat ini sedang menempuh pendidikan di Jerman..
Seorang praktisi perencana partikelir muda yang biasa menangani
Penyusunan rencana tata ruang di bagian timur indonesia.
Mungkin tanggapannya bisa menjadi bahan wacana dan diskusi kita bersama :

haha...akhirnya ada juga yang mengungkap "keburukan" planning
1. Tidak akuntabelnya rencana tata ruang
memang seringkali proses tata ruang sangat tidak akuntabel. diperlukan
sebuah terobosan untuk mengatasi fenomena ini. terobosan yang
diperkirakan akan berimplikasi luas serta mengakibatkan perubahan
besar dalam hal proses tata ruang
ditunggu ni konsep perubahan hahaha
2. Minimnya kapasitas SDM pelaksana penataan ruang
Kalo masalah ini coba tanya sama kementrian dalam negeri. Mengapa
formasi penerimaan CPNS tidak pernah mengikuti tata cara supply –
demand. Apabila proses penerimaan dikalkulasikan dengan menggunakan
metode supply-demand serta mengurangi deviasi (KKN) serta kesediaan
ditempatkan di daerah, maka kapasitas SDM tidak akan pernah terjadi.
Terutama alumni PL ITB, jangan cuman memusat di Jakarta or Bandung
doang dong...coba anda minta ditempatkan di Teminabuan, Merauke,
Wagete (pernah denger ga kota ni rekan alumni??)
3. Tidak membuminya penataan ruang sebagai wacana public
Berkaitan dengan mental TOP DOWN...seharusnya yang diperlukan
masyarakat adalah PENDIDIKAN PLANOLOGI...planning tidak hanya
diberikan di jurusan yang memang memiliki jurusan ini. Hal ini akan
terkait kepada proses pelibatan juga. Mungkin kita semua (planner)
pernah mengalami FGD..gimana susahnya berbicara dengan orang yang
memiliki background pendidikan berbeda...maka dari itu agar arah
pembicaraan memiliki tujuan yang sama, diperlukan adanya PENDIDIKAN
PLANNING (PLANNING EDUCATION). Planning education ini juga nantinya
akan meminimalisir kesenjangan informasi antara langit dan dunia.
Contohnya ketika planner berbicara mengenai sustainable development,
masyarakat akan dengan sangat mudah mengerti dan mencerna serta
mengaplikasikan di dalam kehidupan nyata. Jangan sampe kasus lebak
siliwangi terulang. Atau lembah dago yang dengan mudahnya dijual oleh
masyarakat setempat (dan yang lebih gila, pembelinya dosan ITB)
padahal daerah tersebut merupakan daerah resapan air.

Fenomena mental block di kalangan penata ruang diindikasikan oleh beberapa hal
1. Tidak Progresif
Jelas tidak progresif lah karena proses perencanaan tata ruang masih
dikekang oleh Keppres 80 Tahun 2003…kemudian proses tata ruang juga
kan harus mengacu kepada UU 26 Tahun 2007. bagaimana planner mau
improvisasi ketika semua hal sudah diatur oleh UU
Beda dengan pekerjaan jalan tol...disitu tidak pernah ada yang namanya
pedoman pembuatan jalan tol...yang pasti ada adalah kebutuhan panjang
jalan sekian untuk menampung pergerakan sekian…spesifikasi teknis
mengenai desain geometris, bentuk konstruksi apakah menggunakan ceker
ayam or sosro bahu atau menemukan bentuk konstruksi baru dan lain-lain
ya diserahkan kepada pelaksana
2. Latah Wacana
Kalo ini sepakat…memang planning saat ini masih sekedar menjadi alat
poltik…bukan menjadi senjata politik (tools not a weapon). Planning
menjadi sangat terkenal ketika terjadi banjir Jakarta yang dipengaruhi
oleh keberadaan Jabodetabekpuncur…tapi planning tidak bisa menembak
seorang konglomerat yang memiliki Villa di puncak yang mengakibatkan
berkurangnya daerah resapan air. Diperlukan sebuah upaya untuk
menjadikan planning sebagai sebuah alat hokum yang mengikat…tapi
pertanyaan mendasar. SIAPKAH kita apabila produk tata ruang didesain
untuk menjadi produk hokum yang mengikat. Apakah mau rumah kita, orang
tua kita, teman, kerabat, mertua digusur gara-gara melanggar ketentuan
tata ruang…hehehe
3. Kesenjangan Informasi
Hal ini biasanya berkaitan dengan akses...tidak bisa dipungkiri bahwa
data dan informasi saat ini masih menjadi KOMODITAS YANG
DIPERJUALBELIKAN demi memperoleh keuntungan bagi pihak yang memiliki
akses terhadap data dan informasi.

On 9/29/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Teman2 outsiders dan Milisters ysh,
>
> Semula saya ingin tanggapi pak Nuzul masalah 'triple helix dan sciencepark'
> dalam kaitannya dengan Morotai …… dimana ini semula berkait  posting tentang
> EPZ untuk Morotai di milis referensi  21/09/08…  yang menurut pak Eka dan
> pak Nuzul barangkali adalah sebuah "kecelakaan" atau pancingan  untuk
> bahan diskusi….. dimana malah pak Eka pake nambah2in segala bahwa menurutnya
>  "…urusan Morotai dimilis ini kan seharusnya ditujukan ke Pak Aby dkk…"
> lalu pak Nuzul kemudian juga ajak kita untuk "…mendiskusikan konsep "triple
> helix" sehingga lebih jernih melihat perspektif pengembangan "science
> park"…….. hingga lalu saya  ingin diskusikan masalah tersebut…….
>
> Sebenarnya saya ingin ajak pak Nuzul melihat masalah yang  lebih dalam
> menyangkut seputar latar belakang yang menjadi mitos tradisi  ambisi
> pengembangan Morotai-nya itu sendiri…… lebih daripada masalah  science park/
> EPZnya…... karena bila tanpa kaitan eratnya  dengan masalah lokasi… maka
> yang belakangan ini tentu akan lebih pas bila dibahas oleh para ekonom/
> industrialis sendiri lebih daripada dibahas oleh milis referensi…… yang
> tentunya mengharapkan analisis2 yang lebih berdimensi serta berkait erat
> dengan aspek keruangan/ lokasional…... lebih daripada masalah2 pendalaman
> sains dari ekonomi serta  teknologi industri….
> Tapi rupanya itu belum kesampaian (sama spt bbrp topik lain juga tertunda
> terus nulisnya).… lalu keburu muncul tulisan planner muda kita yang
> progresip….. mas Catur yang cukup menarik…..dimana beliau menulis tentang
> 'mental block penataan ruang'…… hingga lalu tulisan ttg Morotai itu jadi
> tertunda……
> Tulisan 'mental block'  tsb menjadi menarik.. tak lepas dari kaitannya
> dengan sambutan bpk2 Risfan dan BTS yang cukup inspiratip dan informatip…..
> khususnya bagi outsider seperti bbrp teman serta bagi yang macem saya
> gini…..
>
> Ketiganya sama2 menarik dan informatip… tapi Sejujurnya … posting mas BTS
> paling menarik bagi saya.. karena alasan paling singkat, paling padat dan
> mudah dimengerti.. cukup informatip dan sengaja/ tidak… ada unsur jenakanya
> disana…. Tapi tentu saja kalau tak ada wacana  diskusi panjang-lebar 'buka
> diri dan otokritik' model mas Catur dan pak Risfan itu…. Sulit bagi para
> outsiders untuk banyak memanen/ mengutip info seputar sosiologi/ psikologi
> masyarakat planners itu……..
>
> Menanggapi posting mas BTS dulu …….
>
> Pertama… saya sepakat  dgn pendapat beliau bahwa kedua pak Risfan dan mas
> Catur sama2 benar…..
> Kedua… menanggapi istilah mas BTS tentang 'segitiga' pasar tenaga kerja
> planner,  agen penyalur TK planning serta SDM TK planningnya sendiri…..
> serta terakhir 'ada jenis SDM planner yang nggak ada sertifikasinya dan
>  nggak laku'… seperti apa yang ditulis mas BTS :
> "….Seperti kita ketahui bahwa formalitas kompetensi seorang Planner yang
> diakui adalah mereka yang bersertifikat, sementara itu sertifikat yang
> diterbitkan oleh IAP sebagai pengakuan kompetensi Planner adalah Sertfikat
> Penataan Ruang, bukan Sertifikat "Strategic Planning and Program
> Development" (SP-PD) sebagaimana yang dimaksud Bung Risfan.
> Jadi Bung Risfan, kalau ada seorang konsultan yang punya profesi dan
> kompetensi di bidang SP-PD, itu nggak laku di pasaran penataan ruang……"
>
> Menurut saya sih 'apa yang nggak ada sertifikasinya' dan 'nggak laku'
>  dipasaran buruh SDM planning itu…. Sebenarnya Ia tetap saja ada
> 'pasarnya'…. dan atau 'ada tempatnya yang terhormat'…… hanya saja itu belum
> 'dibuka'…..… atau karena bisa juga SDM/ TK plannersnya itu yang  malah tidak
> mau atau tidak tahu bgmn harus duduk ditempat 'terhormat' itu……...
>
> Sebgmn yang diurai oleh mas BTS…… apa yang namanya 'pasar majikan atas buruh
> planners' itu…. Serta 'agen penyalur buruh planners' itu dimana sang agen
> ini fungsinya mengeluarkan sertifikasi keahlian….…… dalam 'mekanisme
> kehidupan demokrasi'  (trias politika eksekutip-legislatip-judikatip)….
> keduanya masih berada pada lingkup 'eksekutip'………
> Menurut saya…. Apa yang di 'eksekutip' itu menjadi 'barang nggak laku' dan
> 'nggak ada sertifikasinya'……. Kalo di 'legislatip'.. ia akan menjadi 'barang
> mewah' yang diterhormat dan amat butuhkan…….
> Masalahnya adalah…. Kalau dibeberapa sektor/ bidang lain 'mekanisme
> demokrasi'  ini mulai banyak dihidupkan (bidang penegakan hukum,
> transportasi, penyiaran, HAM, gender, dll…) …….. tapi kalau dibidang
> 'penataan ruang' .. apa yang namanya 'mekanisme demokrasi' itu belum
> dihidupkan dan dijalankan……
> Jadi yang terjadi di PR adalah bahwa lembaga 'eksekutip' ini bermain sendiri
> (sesukanya, boleh salah, boleh benar)….. tanpa ada lembaga lain yang setara…
> yang mengontrolnya secara efektip……
> Kalau mau dibilang 'tidak ada' kontrol… ya ada sih 'mekanisme kontrol' itu
> yang kini 'dimainkan' oleh Komisi V DPR…… tapi yaitu tadi….. tidak epektip
> dan tak memadai… karena kita tahu… mereka yang di Komisi V DPR itu lebih
> banyak merupakan  'politisi' (campuran aduk antara badut politik dan
> bukan)….. dan bukannya majority of smart planners…….
> Yang jelas .. di Australia… ketua partai oposisi memperoleh rumah dinas yang
> sama besar dan sama kerennya dengan rumah dinas perdana menteri……
> menunjukkan bahwa legislatif dan eksekutif itu 'setara' dan sama-sama
> diperlukan…..
> Kalau para planners muda (atau yang STW) resah tak hanya masalah 'masa depan
> planning' namun juga sesungguhnya resah juga masalah  'job in planning' (tak
> jarang utk yang planners imut malah masih juga resah  utk urusan planning n
> love)…..silahkan mulai sekarang pikir2 untuk 'dalam kelompok/ barisan'
> mengembangkan ide 'demokrastisasi dlm planning'…. Alias pengembangan
> 'politik perencanaan'…... dimana job dan earning tak sekedar bisa didapat
> dari 'eksekutif' .. namun juga dari 'Legislatif'…..
> Asal ingat saja….. gaji ketua KPK yang berada diranah 'legislatif' itu
> lumayan besar juga lho… 40jt rp….. dan budget KPK juga ratusan M juga
> lho!.......
>
> Sementara segini dulu dan salam,
> aby
>
>
>
>
>


-- 
Elkana Catur Hardiansah
CPMU USDRP-Planning Officer
Directorate Programme Development
Directorate General Human Settlements
Ministry of Public Works
http://catuy.blogspot.com
http://perencanamuda.wordpress.com/

------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke