Pak Aunur dan rekan-rekan referensier Ysh,

Menyambut undangan pak Aunur izinkanlah saya menambah sedikit deskripsi
tentang kontribusi Paul Krugman dalam "Trade Pattern and Location of
Economic Activities" yang mengantarkannya menjadi pemenang tunggal  hadiah
Nobel Ekonomi 2008. Sebagai perbandingan, selama 2000-2007, pemenang Nobel
Ekonomi tiap tahun selama periode tersebut lebih dari satu orang. Deskripsi
ini hanya pecahan  kecil dari mozaik pemikiran Krugman, khususnya dalam "new
economic geography".

Tulisan Edward  Glaeser tentang Krugman yang dilampirkan pada posting
sebelumnya,  sebenarnya sudah memberikan sedikit "hint" gambaran tentang
"New Trade Theory" dan "New Economic Geography" masing-masing  sebagai
representasi  dari analisis "trade pattern" dan "location of economic
activities. Jika  scholars menjuluki konsep Krugman sebagai "New Trade
Theory" dan "New Economic Geography" tentu ada teori perdagangan  internasional
klasik dan pendekatan geografi ekonomi tradisional, kira-kira demikian.
Sebelumnya, teori perdagangan internasional klasik lazimnya menggunakan
pendekatan Ricardian (David Ricardo), di mana perdagangan antara dua negara
terjadi jika masing-masing negara dianugerahi oleh "factor endowment" yang
menggambarkan keunggulan komparatif masing-masing negara, seperti yang
dicontohkan dalam artikel Glaeser. Pada perkembangan selanjutnya pendekatan
Ricardian dikembangkan oleh Hechcher-Ohlin-Samuelson (HOS) dan seterusnya.
Namun ada asumsi yang tidak berubah yaitu, biaya transportasi antar negara
tidak diungkapkan secara eksplisit.

Jauh sebelumnya, Walter Isard mahaguru ekonomi Harvard pada sekitar tahun
1956 juga sudah menberi kritik terhadap mainstream economics yang tidak
concern pada aspek "space economy", seolah-olah suatu negara sebesar seperti
Amerika adalah "wonderful  land of no dimension". Singkatnya lahirlah
"regional science" yang kemudian dianggap – serumpun dengan regional
economics dan economic geography.  Isard dan Krugman sama-sama mendobrak
kemapanan mainstream economics, namun nasib mereka berbeda, Isard tidak
dianugerahi Nobel. Prof. Leontief dari Harvard pada tahun 1968 bersama
dengan Richard Stone (Universitas Cambridge – Inggris) dianugerahi Nobel
karena menemukan model input-output yang kemudian sangat berguna untuk
analisis struktur ekonomi regional beserta turunan lainnya seperti  SAM dan
CGE. Banyak scholar yang menyesalkan kenapa Isard tidak dapat Nobel pada
zamannya.

Krugman melihat, pendekatan ekonomi mainstream ternyata selama ini masih
mengabaikan karya-karya (economic) geographer yang sangat kental sekali
dimensi "ruang" yang lebih realistik, termasuk bagaimana biaya transportasi
akan sangat mempengaruhi pemilihan lokasi kegiatan ekonomi. Di sisi lain,
pendekatan (economic geography) terlalu banyak bermain di arena kebijakan
tanpa diiringi dengan formalisasi model matematika yang elegan – sebagaimana
tipikal ilmu ekonomi neoklasik.  Krugman mengatakan bahwa ada dimensi
"increasing return" – sebuah indikasi yang dapat dilihat dari model fungsi
produksi, yang mempengaruhi mengapa suatu kota bisa tetap maju dan tumbuh –
yang luput dari perhatian economic geographer.

Dapat ditafsirkan bahwa "new trade theory dan "new economic geography"
adalah seperti dua arena berbeda  di mana scholars melakukan senam akademik,
yang sesungguhnya saling mempengaruhi, yang tersambung karena pemikiran
Krugman tentang dimensi ruang baik ruang abstrak maupun ruang riil, yang
sebelumnya tersekat oleh arogansi dan kedigjayaan para dewa-dewa.

Tidak kurang pula kritik economic geographer bahwa Krugman hanya bermain di
formalisasi  matematika yang abstrak. Konsep Krugman seolah olah seperti
"old wine in new bottle". Namun tidak sedikit pula economic geographer yang
mengakui bahwa konsep Krugman telah memberi gairah baru sekaligus
merevitalisai bangunan geografi ekonomi. Muncullah Journal of Economic
Geography (Oxford), sebagai wadah komunikasi akademik tingkat tinggi para
scholars geografi economi, termasuk Krugman, yang membahas isyu dan teori
tentang urban dan regional, khususnya dalam perspektif new economic
geography.

Cerita tentang ruh "dimensi ruang" yang menempel pada jiwa Paul Krugrman
melalui medium teori perdagangan internasional, tergambar dari tulisannya
pada buku "Geography and Trade". Ketika berjalan-jalan di kawasan Piccadilly
(London), Krugman melihat begitu banyak toko buku. Ada apakah gerangan?
Inilah fenomena paling sederhana tentang "agglomerasi spasial".

Seandainya Krugman berjalan-jalan di jejeran toko buku di Kwitang (sebelum
digusur) dia mungkin akan mengatakan bahwa semua orang akan berpikiran bahwa
kalau cari buku sebaiknya ke Kwitang saja. Bagi penjual buku, batinnya akan
mengatakan bahwa sebaiknya buka toko buku di Kwitang saja, karena pembeli
buku kemungkinan besar akan pergi ke di Kwitang. Klop lah sudah, memimjan
jargon buku bisnis: location, location, and location.

Dalam konteks perkotaan, pola distribusi kegiatan ekonomi yang terbentuk di
daerah perkotaan termasuk fenomena "edge cities" disebut oleh
Krugman sebagai mekanisme "self organizing behavior" yang sebenarnya juga
berakar dari von Thunen dan central place theory, tetapi dikembangkannya
dengan melihat kekuatan daya tarik menarik antara centrifugal (dispersive)
dan dan sentripetal (agglomerative).

"The interaction of these forces under two conditions-similar strength of
the two forces and the range of the agglomerative force being shorter than
the dispersive force-produces a distribution of cities with several almost
equally spaced business centers, regardless of the initial distribution of
the businesses in the city".

Begitu banyak turunan dan varian varian yang dikembangkan oleh scholars lain
yang muncul di berbagai jurnal akademik bergengsi, yang berangkat dari
perspektif new economic geography Krugman. Mungkin inilah kontribusi
nyata  Krugman
karena menjadi acuan ratusan bahkan mungkin ribuan scholars dalam memahami
fenomena kegiatan perdagangan internasional dan interregional serta lokasi
kegiatan ekonomi yang menyertainya.

Mengapa Kalimantan mengimpor kayu jati dari Jawa, sementara penduduk Jawa
juga mengimpor kayu dari Kalimantan (bertolak belakang dari konsep
Ricardian), atau mengapa keinginan pengambil keputusan ingin agar daerah nya
menjadi pusat kegiatan ekonomi tidak pernah dapat direalisasikan seperti
mengukir langit, secara koseptual dapat dijelaskan dalam "new trade" theory
dan  "new economic geography".

Fenomena agglomerasi, cluster industry atau konsentrasi kegiatan ekonomi di
berbagai belahan dunia baik secara teoritis maupun empiris saat ini,
langsung dan tidak langsung secara konseptual akan mengacu pada adanya
indikasi "increasing return" dan kekuatan sentripetal.

Walaupun konsep Krugman diwarnai dengan derivasi matematika yang elegan dan
indah, sangat sederhana, bahkan tidak ada sama sekali, mungkin akan menjadi
sangat relevan pula bagaimana kerangka konseptual Krugman tersebut dapat
menjelaskan atau menjadi acuan bagi kebijakan pembangunan regional dan urban
di Indonesia. Kita tunggu langkah referensiers selanjutnya.
Wassalam,
Nuzul Achjar

Kirim email ke