Waduh ternyata penjelasan mas nuzul achyar begitu komprehensif......terima 
kasih banyak. Nah bagaimana perkembangan ilmu tersebut di Indonesia. Apakah 
banyak teman-teman di perguruan tinggi yang mempelajari atau mengembangkan 
teori tersebut? Kita punya wilayah sangat beragam memang diperlukan teori yang 
applicable buat Indonesia.
Sekali lagi terima kasih mas

 Salam
Aunur Rofiq 



----- Original Message ----
From: Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, October 16, 2008 3:24:37 AM
Subject: Re: Bls: [referensi] pemenang nobel ekonomi: Paul Krugman


Pak Aunur dan rekan-rekan referensier Ysh,
Menyambut undangan pak Aunur izinkanlah saya menambah sedikit deskripsi tentang 
kontribusi Paul Krugman dalam "Trade Pattern and Location of Economic 
Activities" yang mengantarkannya menjadi pemenang tunggal  hadiah Nobel Ekonomi 
2008. Sebagai perbandingan, selama 2000-2007, pemenang Nobel Ekonomi tiap tahun 
selama periode tersebut lebih dari satu orang. Deskripsi ini hanya pecahan  
kecil dari mozaik pemikiran Krugman, khususnya dalam "new economic geography".
Tulisan Edward  Glaeser tentang Krugman yang dilampirkan pada posting 
sebelumnya,  sebenarnya sudah memberikan sedikit "hint" gambaran tentang "New 
Trade Theory" dan "New Economic Geography" masing-masing  sebagai representasi  
dari analisis "trade pattern" dan "location of economic activities. Jika  
scholars menjuluki konsep Krugman sebagai "New Trade Theory" dan "New Economic 
Geography" tentu ada teori perdagangan  internasional klasik dan pendekatan 
geografi ekonomi tradisional, kira-kira demikian. Sebelumnya, teori perdagangan 
internasional klasik lazimnya menggunakan pendekatan Ricardian (David Ricardo), 
di mana perdagangan antara dua negara terjadi jika masing-masing negara 
dianugerahi oleh "factor endowment" yang menggambarkan keunggulan komparatif 
masing-masing negara, seperti yang dicontohkan dalam artikel Glaeser. Pada 
perkembangan selanjutnya pendekatan Ricardian dikembangkan oleh 
Hechcher-Ohlin-Samuelson (HOS) dan seterusnya. Namun ada
 asumsi yang tidak berubah yaitu, biaya transportasi antar negara tidak 
diungkapkan secara eksplisit.
Jauh sebelumnya, Walter Isard mahaguru ekonomi Harvard pada sekitar tahun 1956 
juga sudah menberi kritik terhadap mainstream economics yang tidak concern pada 
aspek "space economy", seolah-olah suatu negara sebesar seperti Amerika adalah 
"wonderful  land of no dimension". Singkatnya lahirlah "regional science" yang 
kemudian dianggap – serumpun dengan regional economics dan economic geography.  
Isard dan Krugman sama-sama mendobrak kemapanan mainstream economics, namun 
nasib mereka berbeda, Isard tidak dianugerahi Nobel. Prof. Leontief dari 
Harvard pada tahun 1968 bersama dengan Richard Stone (Universitas Cambridge – 
Inggris) dianugerahi Nobel karena menemukan model input-output yang kemudian 
sangat berguna untuk analisis struktur ekonomi regional beserta turunan lainnya 
seperti  SAM dan CGE. Banyak scholar yang menyesalkan kenapa Isard tidak dapat 
Nobel pada zamannya.  
Krugman melihat, pendekatan ekonomi mainstream ternyata selama ini masih 
mengabaikan karya-karya (economic) geographer yang sangat kental sekali dimensi 
"ruang" yang lebih realistik, termasuk bagaimana biaya transportasi akan sangat 
mempengaruhi pemilihan lokasi kegiatan ekonomi. Di sisi lain, pendekatan 
(economic geography) terlalu banyak bermain di arena kebijakan tanpa diiringi 
dengan formalisasi model matematika yang elegan – sebagaimana tipikal ilmu 
ekonomi neoklasik.  Krugman mengatakan bahwa ada dimensi "increasing return" – 
sebuah indikasi yang dapat dilihat dari model fungsi produksi, yang 
mempengaruhi mengapa suatu kota bisa tetap maju dan tumbuh – yang luput dari 
perhatian economic geographer.
Dapat ditafsirkan bahwa "new trade theory dan "new economic geography" adalah 
seperti dua arena berbeda  di mana scholars melakukan senam akademik, yang 
sesungguhnya saling mempengaruhi, yang tersambung karena pemikiran Krugman 
tentang dimensi ruang baik ruang abstrak maupun ruang riil, yang sebelumnya 
tersekat oleh arogansi dan kedigjayaan para dewa-dewa.   
Tidak kurang pula kritik economic geographer bahwa Krugman hanya bermain di 
formalisasi  matematika yang abstrak. Konsep Krugman seolah olah seperti "old 
wine in new bottle". Namun tidak sedikit pula economic geographer yang mengakui 
bahwa konsep Krugman telah memberi gairah baru sekaligus merevitalisai bangunan 
geografi ekonomi. Muncullah Journal of Economic Geography (Oxford), sebagai 
wadah komunikasi akademik tingkat tinggi para scholars geografi economi, 
termasuk Krugman, yang membahas isyu dan teori tentang urban dan regional, 
khususnya dalam perspektif new economic geography. 
Cerita tentang ruh "dimensi ruang" yang menempel pada jiwa Paul Krugrman 
melalui medium teori perdagangan internasional, tergambar dari tulisannya pada 
buku "Geography and Trade". Ketika berjalan-jalan di kawasan Piccadilly 
(London), Krugman melihat begitu banyak toko buku. Ada apakah gerangan? Inilah 
fenomena paling sederhana tentang "agglomerasi spasial".  
Seandainya Krugman berjalan-jalan di jejeran toko buku di Kwitang (sebelum 
digusur) dia mungkin akan mengatakan bahwa semua orang akan berpikiran bahwa 
kalau cari buku sebaiknya ke Kwitang saja. Bagi penjual buku, batinnya akan 
mengatakan bahwa sebaiknya buka toko buku di Kwitang saja, karena pembeli buku 
kemungkinan besar akan pergi ke di Kwitang. Klop lah sudah, memimjan jargon 
buku bisnis: location, location, and location.
Dalam konteks perkotaan, pola distribusi kegiatan ekonomi yang terbentuk di 
daerah perkotaan termasuk fenomena "edge cities" disebut oleh Krugman sebagai 
mekanisme "self organizing behavior" yang sebenarnya juga berakar dari von 
Thunen dan central place theory, tetapi dikembangkannya dengan melihat kekuatan 
daya tarik menarik antara centrifugal (dispersive) dan dan sentripetal 
(agglomerative).
"The interaction of these forces under two conditions-similar strength of the 
two forces and the range of the agglomerative force being shorter than the 
dispersive force-produces a distribution of cities with several almost equally 
spaced business centers, regardless of the initial distribution of the 
businesses in the city". 
Begitu banyak turunan dan varian varian yang dikembangkan oleh scholars lain 
yang muncul di berbagai jurnal akademik bergengsi, yang berangkat dari 
perspektif new economic geography Krugman. Mungkin inilah kontribusi nyata  
Krugman karena menjadi acuan ratusan bahkan mungkin ribuan scholars dalam 
memahami fenomena kegiatan perdagangan internasional dan interregional serta 
lokasi kegiatan ekonomi yang menyertainya. 
Mengapa Kalimantan mengimpor kayu jati dari Jawa, sementara penduduk Jawa juga 
mengimpor kayu dari Kalimantan (bertolak belakang dari konsep Ricardian), atau 
mengapa keinginan pengambil keputusan ingin agar daerah nya menjadi pusat 
kegiatan ekonomi tidak pernah dapat direalisasikan seperti mengukir langit, 
secara koseptual dapat dijelaskan dalam "new trade" theory dan  "new economic 
geography".
Fenomena agglomerasi, cluster industry atau konsentrasi kegiatan ekonomi di 
berbagai belahan dunia baik secara teoritis maupun empiris saat ini, langsung 
dan tidak langsung secara konseptual akan mengacu pada adanya indikasi 
"increasing return" dan kekuatan sentripetal.    
Walaupun konsep Krugman diwarnai dengan derivasi matematika yang elegan dan 
indah, sangat sederhana, bahkan tidak ada sama sekali, mungkin akan menjadi 
sangat relevan pula bagaimana kerangka konseptual Krugman tersebut dapat 
menjelaskan atau menjadi acuan bagi kebijakan pembangunan regional dan urban di 
Indonesia. Kita tunggu langkah referensiers selanjutnya.  
Wassalam,
Nuzul Achjar
 
 
 
  
  


      

Kirim email ke