Bang Nuzul,
Saya melihat kemenangan Krugman ini dalam konteks Indonesia, wa bil khusus UI, 
sebagai kemenangan Bang Nuzul juga. Yang mengawal geographic concern di sarang 
ekonom.

Dari penjelasan Bang Nuzul, Krugman kontribusinya di kalangan ekonom meneguhkan 
arti LOKASI. Tapi untuk lingkungan regional economist/scientist sendiri yang 
sudah dari sononya bicara lokasi dan aglomerasi, kontribusi (yang baru) dia apa 
ya?

Salam,
Risfan Munir


--- In [email protected], "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Aunur dan rekan-rekan referensier Ysh,
> 
> Menyambut undangan pak Aunur izinkanlah saya menambah sedikit deskripsi
> tentang kontribusi Paul Krugman dalam "Trade Pattern and Location of
> Economic Activities" yang mengantarkannya menjadi pemenang tunggal  hadiah
> Nobel Ekonomi 2008. Sebagai perbandingan, selama 2000-2007, pemenang Nobel
> Ekonomi tiap tahun selama periode tersebut lebih dari satu orang. Deskripsi
> ini hanya pecahan  kecil dari mozaik pemikiran Krugman, khususnya dalam "new
> economic geography".
> 
> Tulisan Edward  Glaeser tentang Krugman yang dilampirkan pada posting
> sebelumnya,  sebenarnya sudah memberikan sedikit "hint" gambaran tentang
> "New Trade Theory" dan "New Economic Geography" masing-masing  sebagai
> representasi  dari analisis "trade pattern" dan "location of economic
> activities. Jika  scholars menjuluki konsep Krugman sebagai "New Trade
> Theory" dan "New Economic Geography" tentu ada teori perdagangan  
> internasional
> klasik dan pendekatan geografi ekonomi tradisional, kira-kira demikian.
> Sebelumnya, teori perdagangan internasional klasik lazimnya menggunakan
> pendekatan Ricardian (David Ricardo), di mana perdagangan antara dua negara
> terjadi jika masing-masing negara dianugerahi oleh "factor endowment" yang
> menggambarkan keunggulan komparatif masing-masing negara, seperti yang
> dicontohkan dalam artikel Glaeser. Pada perkembangan selanjutnya pendekatan
> Ricardian dikembangkan oleh Hechcher-Ohlin-Samuelson (HOS) dan seterusnya.
> Namun ada asumsi yang tidak berubah yaitu, biaya transportasi antar negara
> tidak diungkapkan secara eksplisit.
> 
> Jauh sebelumnya, Walter Isard mahaguru ekonomi Harvard pada sekitar tahun
> 1956 juga sudah menberi kritik terhadap mainstream economics yang tidak
> concern pada aspek "space economy", seolah-olah suatu negara sebesar seperti
> Amerika adalah "wonderful  land of no dimension". Singkatnya lahirlah
> "regional science" yang kemudian dianggap – serumpun dengan regional
> economics dan economic geography.  Isard dan Krugman sama-sama mendobrak
> kemapanan mainstream economics, namun nasib mereka berbeda, Isard tidak
> dianugerahi Nobel. Prof. Leontief dari Harvard pada tahun 1968 bersama
> dengan Richard Stone (Universitas Cambridge – Inggris) dianugerahi Nobel
> karena menemukan model input-output yang kemudian sangat berguna untuk
> analisis struktur ekonomi regional beserta turunan lainnya seperti  SAM dan
> CGE. Banyak scholar yang menyesalkan kenapa Isard tidak dapat Nobel pada
> zamannya.
> 
> Krugman melihat, pendekatan ekonomi mainstream ternyata selama ini masih
> mengabaikan karya-karya (economic) geographer yang sangat kental sekali
> dimensi "ruang" yang lebih realistik, termasuk bagaimana biaya transportasi
> akan sangat mempengaruhi pemilihan lokasi kegiatan ekonomi. Di sisi lain,
> pendekatan (economic geography) terlalu banyak bermain di arena kebijakan
> tanpa diiringi dengan formalisasi model matematika yang elegan – sebagaimana
> tipikal ilmu ekonomi neoklasik.  Krugman mengatakan bahwa ada dimensi
> "increasing return" – sebuah indikasi yang dapat dilihat dari model fungsi
> produksi, yang mempengaruhi mengapa suatu kota bisa tetap maju dan tumbuh –
> yang luput dari perhatian economic geographer.
> 
> Dapat ditafsirkan bahwa "new trade theory dan "new economic geography"
> adalah seperti dua arena berbeda  di mana scholars melakukan senam akademik,
> yang sesungguhnya saling mempengaruhi, yang tersambung karena pemikiran
> Krugman tentang dimensi ruang baik ruang abstrak maupun ruang riil, yang
> sebelumnya tersekat oleh arogansi dan kedigjayaan para dewa-dewa.
> 
> Tidak kurang pula kritik economic geographer bahwa Krugman hanya bermain di
> formalisasi  matematika yang abstrak. Konsep Krugman seolah olah seperti
> "old wine in new bottle". Namun tidak sedikit pula economic geographer yang
> mengakui bahwa konsep Krugman telah memberi gairah baru sekaligus
> merevitalisai bangunan geografi ekonomi. Muncullah Journal of Economic
> Geography (Oxford), sebagai wadah komunikasi akademik tingkat tinggi para
> scholars geografi economi, termasuk Krugman, yang membahas isyu dan teori
> tentang urban dan regional, khususnya dalam perspektif new economic
> geography.
> 
> Cerita tentang ruh "dimensi ruang" yang menempel pada jiwa Paul Krugrman
> melalui medium teori perdagangan internasional, tergambar dari tulisannya
> pada buku "Geography and Trade". Ketika berjalan-jalan di kawasan Piccadilly
> (London), Krugman melihat begitu banyak toko buku. Ada apakah gerangan?
> Inilah fenomena paling sederhana tentang "agglomerasi spasial".
> 
> Seandainya Krugman berjalan-jalan di jejeran toko buku di Kwitang (sebelum
> digusur) dia mungkin akan mengatakan bahwa semua orang akan berpikiran bahwa
> kalau cari buku sebaiknya ke Kwitang saja. Bagi penjual buku, batinnya akan
> mengatakan bahwa sebaiknya buka toko buku di Kwitang saja, karena pembeli
> buku kemungkinan besar akan pergi ke di Kwitang. Klop lah sudah, memimjan
> jargon buku bisnis: location, location, and location.
> 
> Dalam konteks perkotaan, pola distribusi kegiatan ekonomi yang terbentuk di
> daerah perkotaan termasuk fenomena "edge cities" disebut oleh
> Krugman sebagai mekanisme "self organizing behavior" yang sebenarnya juga
> berakar dari von Thunen dan central place theory, tetapi dikembangkannya
> dengan melihat kekuatan daya tarik menarik antara centrifugal (dispersive)
> dan dan sentripetal (agglomerative).
> 
> "The interaction of these forces under two conditions-similar strength of
> the two forces and the range of the agglomerative force being shorter than
> the dispersive force-produces a distribution of cities with several almost
> equally spaced business centers, regardless of the initial distribution of
> the businesses in the city".
> 
> Begitu banyak turunan dan varian varian yang dikembangkan oleh scholars lain
> yang muncul di berbagai jurnal akademik bergengsi, yang berangkat dari
> perspektif new economic geography Krugman. Mungkin inilah kontribusi
> nyata  Krugman
> karena menjadi acuan ratusan bahkan mungkin ribuan scholars dalam memahami
> fenomena kegiatan perdagangan internasional dan interregional serta lokasi
> kegiatan ekonomi yang menyertainya.
> 
> Mengapa Kalimantan mengimpor kayu jati dari Jawa, sementara penduduk Jawa
> juga mengimpor kayu dari Kalimantan (bertolak belakang dari konsep
> Ricardian), atau mengapa keinginan pengambil keputusan ingin agar daerah nya
> menjadi pusat kegiatan ekonomi tidak pernah dapat direalisasikan seperti
> mengukir langit, secara koseptual dapat dijelaskan dalam "new trade" theory
> dan  "new economic geography".
> 
> Fenomena agglomerasi, cluster industry atau konsentrasi kegiatan ekonomi di
> berbagai belahan dunia baik secara teoritis maupun empiris saat ini,
> langsung dan tidak langsung secara konseptual akan mengacu pada adanya
> indikasi "increasing return" dan kekuatan sentripetal.
> 
> Walaupun konsep Krugman diwarnai dengan derivasi matematika yang elegan dan
> indah, sangat sederhana, bahkan tidak ada sama sekali, mungkin akan menjadi
> sangat relevan pula bagaimana kerangka konseptual Krugman tersebut dapat
> menjelaskan atau menjadi acuan bagi kebijakan pembangunan regional dan urban
> di Indonesia. Kita tunggu langkah referensiers selanjutnya.
> Wassalam,
> Nuzul Achjar
>


Kirim email ke