Bung Andri dan milister lainnya.
 
Paduan Suara "Duit Kurang" mungkin sebuah lagu lama. Yang namanya duit itu 
pasti kurang karena kebutuhan itu bisa ditambah-tambah sehingga duit selalu 
kurang. Duit kurang itu tidak selalu berarti tidak punya duit. Duit di daerah 
itu sebetulnya ada. Persoalannya apakah kurang, cukup, atau lebih. Coba saja 
kita lihat data.
 
Sejak dulu, setiap akhir tahun, anggaran daerah itu selalu sisa. Tak banyak, 
sekitar 5-10% dari total APBD. Sisa itu kemudian dipakai untuk belanja tahun 
anggaran berikutnya. Sejak otonomi diberlakukan, sisa atau surplus itu semakin 
besar, antara 10-15% dari APBD. Oleh karena jumlah APBD itu semakin besar, maka 
nominal surplus juga semakin besar saja.
 
Sejak ada perubahan sistem akuntansi, surplus itu tidak lagi dipakai untuk 
belanja tahun anggaran berikutnya, tetapi dicatat di rekening Pembiayaan. 
Sementara belanja setiap bulan sudah cukup didanai dari PAD plus Dana 
Perimbangan (Transfer Pusat) yang ada. Sekarang ini, APBD yang paling rendah 
itu sekitar Rp 300 milyar. kalau ada surplus 10%, maka ada surplus Rp 30 
milyar.. Kalau setiap tahun surplus itu tidak dipakai, maka dalam rekening 
pembiayaan tersimpan jumlah duit yang cukup besar. Pada tahun 2006 yang lalu, 
saya menghitung dari 329 daerah (tidak termasuk provinsi), jumlah akumulatif 
surplus ada sekitar Rp 35 triliun. Kemudian tahun 2007 yang lalu terhitung 
sebesar Rp 45 triliun. Kalau ini ditambah dengan surplusnya provinsi, maka 
jumlahnya akan bisa meningkat menjadi Rp 75 triliun. Ini uang-uang sisa 
nganggur yang ada di rekening daerah. Uang ini sebenarnya bisa untuk membangun 
prasarana dan investasi, tapi  nyatanya sebagian besar  di deposito
 on-call di BPD, dan kemudian oleh BPD diteruskan ke SBI.
 
Jadi menurut saya, duit di daerah itu tidak kurang, cuman tidak tahu bagaimana 
memanfaatkannnya bagi kesejahteraan.
 
Thanks. CU. BTS
 
 
 
 
 
 
 


--- On Thu, 10/16/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: Jakarta, Pusat Segalanya (money included:-)
To: [email protected]
Date: Thursday, October 16, 2008, 8:31 PM






Pak Aunur ysh.,

Saya kira yang Pak Aunur kemukakan sangat masuk akal. Saya ingin 
menyampaikan lagi berita "Paduan Suara Duit Kurang" sbb. sementara 
menanti masukan dari rekan-rekan planolog apa yang bisa dikerjakan 
untuk mengatasinya.

http://kompas. com/kompas- cetak/0105/ 01/DAERAH/ padu20.htm

"KALAU semua provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia ini
dikumpulkan, mereka bisa membentuk kelompok paduan suara yang pantas
diberi nama Paduan Suara "Duit Kurang". Sebab hanya itu yang mereka
"nyanyikan" hari-hari ini di tengah krisis ekonomi dan di tengah
penerapan otonomi daerah. "Lagu" mereka tidak ada kaitannya dengan
soal cinta atau kisah muda-mudi yang berpacaran, walaupun nadanya
sedih dan mengeluh. Kecuali barangkali Pemda DKI Jakarta dengan lima
kotanya yang tidak terdengar banyak mengeluh. Maklum, ekonomi
Indonesia artinya adalah ekonomi Jakarta dan 70-80 persen uang beredar
di Jakarta."

Salam,
Andri 

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ ...> 
wrote:
>
> China mempunyai peraturan yang sangat ketat terhadap kepindahan 
penduduk antar provinsi, namun kota besar seperti Beijing, Shanghai 
maupun Hong kong masih menjadi tujuan dari urbanisasi dan pusat 
segalanya termasuk keuangan. Keinginan pemerintah China membangun 
daerah Yunan dan Guangxi melalui investasi infrastruktur besar-besaran 
tetap tidak bisa menarik investasi swasta ke sana, karena uang tetap 
ada di Shanghai, Beijing dan Hongkong. 
> 
>  Salam
> Aunur Rofiq 
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] >
> Sent: Monday, October 13, 2008 4:23:30 PM
> Subject: [referensi] Jakarta, Pusat Segalanya (money included:-)
> 
> On 10/13/08, ... wrote:
> > Rekan-rekan,
> > Jumlah penduduk Jakarta yang kian membludak merupakan salah satu
> > faktor kerumitan yang mempersulit pembangunan infrastruktur dan
> > ekonomi ibukota. Mulai pasca Lebaran pekan ini, Pemda DKI Jakarta
> > menerapkan razia penduduk, Operasi Yustisi.
> 
> Akar masalahnya ada di sini:
> 
> "Dalam kasus Indonesia, fakta yang ada sekitar 70-80 persen uang
> beredar secara nasional, masih berputar-putar di Jakarta. Jakarta
> bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat pertumbuhan 
ekonomi,
> pusat perdagangan, pusat jasa, pusat pendidikan, pusat industri, 
pusat
> investasi, dan segalanya."
> 
> [ref: http://www2. kompas.com/ kompas-cetak/ 0506/18/Fokus/ 1823142.htm 
]
> 
> Tidak heran jika Aceh dan Papua minta merdeka. Apalagi Hasan Tiro
> sudah datang. :-)
> 
> Salam,
> Andri
> 
> ------------ --------- --------- ------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links
>

 














      

Kirim email ke