Lhp pak Aby ysh? Apa dosa Tika Panggabean dan Oky Lukman ?
Salam, abimanyu 2008/10/22 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> > > > Rekan Paulus Bawole dan milisters ysh, > > > > "paulus bawole" [EMAIL PROTECTED] wrote : > > * * > > *"….**Welah-welah kok jadinya kakean cangkem toh ya.......*** > > *Mohon maaf bapak-bapak dan ibu-ibu kalau obrolan saya diatas ngelantur > kemana-mana. **….".* > > > > Bosan membaca tulisan saya sendiri… saya amat sangat menkmati tulisan 'kakean > cangkem' dari rekan Bawole yang jenaka….. yang menurut saya kakean > cangkem saya malah jauh lebih parah dan ngelanturnya jauh lebih kemana-mana > dibanding beliau…….. > > > > Kita sudah dianugerahi kesempatan hidup pada zaman dengan kemajuan > teknologi seperti saat ini… jauh lebih beruntung daripada James Watt, > presiden George Washington atau Pangeran Diponegoro yang dalam hidupnya > bahkan belum pernah memiliki VCD, Play Station atau Laptop dan internet…. > Jadi mengapa kita tidak amat mensyukurinya dengan memanfaatkannya > semaksimal mungkin teknologi media komunikasi yang ada didepan hidung ini > untuk beribadah (menulis dan membaca) melalui secuil ilmu dan pandangan > (planologi dan atau lainnya) yang kita pernah dapatkan … untuk agar kita > bisa saling berwasiat (saling menasehati) atau bertukar pikiran antar > sesama…. tentang apa yang sebaiknya dapat kita lakukan bagi negara dan > bangsa yang tiada lain adalah anak cucu kita?....... > > Untuk nikmat yang kita dapat dari fasilitas internet gratis dikantor > misalnya… atau speedy dirumah…. Tidakkah bisa kita syukuri dan manfaatkan > bagi maslahat orang banyak…. > > Bagaimana Tuhan akan berkenan menambah rezeki dan nikmat kita serta akan > menyayangi dan memberi pahala lebih pada kita.... kalau kita tidak pandai > mensyukurinya dan menikmatinya?............ > > > > > > *+++: **Nah kalau menurut saya yang membuat kedua ilmu tersebut menjadi > semakin merusak adalah pelaku-pelaku yang mengimplementasikan teori-teori > yang nota bene diadopsi dari Moconegoro alias dari Eropah dan Amerika tanpa > memperhatikan konteks wilayah, sosial budaya dan arsitektur setempat. * > >>>: Saya sepakat pada unsur kata pada potongan kalimat : > > "*yang membuat kedua ilmu tersebut menjadi semakin merusak adalah**"….. * > > Tentang menyangkut kata "Monconegoro" serta "benua Eropa dan Amerika"… > maupun konteks wilsosbud dan arsitektur setempat…. Kalau berkaitan dengan > "arsitektur"….. saya sepakat bahwa "arsitektur" (katakanlah sebagai seni > estetika struktur dan konstruksi… yen simplifikasi ini salah wis ojo dipaido > yo mas Djarot, Abi dan Bawole) memang sarat kaitan eratnya dengan masalah > "sosbud" lokalitas ….. > > Tetapi menyangkut planologi…. > > > > Planologi dalam kaitannya lebih erat kepada "sosek/ sosial ekonomi" > nasional dan regional…. Seperti istilah wilayah tertinggal… wilayah > kelewat maju… ekologi (kalo yang ini gak saya sebut takut pak Abimanyu > ngamuk)….wilayah overconcentrated… kemacetan… enjinering jalan raya…. > Enjinering transportasi… pengangguran… penciptaan kesempatan kerja…. Migrasi… > urbanisasi…. Kepemihakan pada simiskin…. Hankam…. Makro ekonomi…. > Pariwisata……. > Hubungan internasional…Dsb….. dan boleh jadi agak kurang kaitannya kepada > aspek "sosbud/ sosial budaya"……. Saya melihat banyak sekali universalitas > dari planologi yang dapat diterima oleh berbagai bangsa dan budaya dimuka > bumi ini………. > > > > Dari 'budaya' tentang 'kapling matang' (land plot) misalnya…. > > Universalitas dari teknik planologi saya lihat tidak banyak > menyangkut-nyangkut budaya atau etnisitas setempat…….. > > Dari 'kapling matang' misalnya….Yang penting adalah pertama bagaimana > legalitas > kepemilikan atau hak penggunaannya…. Maupun bgmn kompatibilitasnya dengan > desain kota dan perkaplingan peruntukan2nya….. > > Bagaimana pula aksesnya kepada "jalan" sebagai "sistem jaringan cara > mobilitas manusia"…… aksesnya pada "sewerage system" dan "sistem jaringan > kota lainya (pln, telkom, gas) ……. sebagai bagian dari sistem sanitasi > serta estetika kota…….. > > > > Dari 'budaya' tentang "sistem jaringan jalan" ……… menurut pengamatan saya…. > planologi lebih melihat bagaimana hubungan antara peruntukan2 dan hirarkhi > lebar jalan misalnya…. dimana pada hirarkhi terendah sistem jalan…. > Katakanlah lebar maksimal 3 meter…. Cukuplah kapling2 yang menghadapnya > adalah 'kapling peruntukan "rumah tinggal" saja… berukuran maksimal 90m2 > saja misalnya….. dengan maksimal ketinggian 2 lantai…. > > > > Sebaliknya bila planolog dan arsitek berpikir kewiraswastaan kecil dan > the poor akan ditingkatkan kwalitasnya (apalagi bila ingat kewiraswastaan > kita dikuasai oleh 5% populasi non-pri)…… > > tentu planolog dan arsitek harus berpikir bahwa "kapling" untuk the poor > tetap diupayakan kecil saja (90m2, 60m2, 120m2…utk azas > keterjangkauannya… maksimal 3 lantai… untuk pengembangan kapasitas > produktivitasnya) ….. > > > > Akan tetapi sebaliknya …. Kapling 'the poor' perlu dihadapkan pada "rencana > jalan ekonomi" yang memadai… yang mengisyaratkan "lebar jalan yang cukup > memadai" pula serta bagi "desain jalan untuk kecepatan lalulintas cukup > memadai" pula (katakanlah perlu jalan dengan lebar 15 meter/ trotoar@ 2m, > jalan dua arah @6m )…….. > > > > Kalau di Jabodetabek atau di Jawa itu tak mungkin?....maka itu planolog dan > arsitek perlu berpikir tentang "kota lain di Jawa"…. (karena daratan > Indonesia adalah 1.9juta km2) ….. dan perlu berpikir pula tentang "skenario > (trans)migrasi (urban)"….. skenario tentang "migrasi kerah putih"… dsb… dan > tentu idealnya ketimur… > > > > Kalau paham bahwa angka kemiskinan amat melilit negeri ini dan urbanisasi > lebih menggemari menyerbu kota-kota megapolitan (Jabodetabek) atau greater > metropolis (Surabaya, Medan, Bandung)….… dimana populasi yang meledak perlu > pekerjaan dan uang…. Dan menanam padi atau singkong bukanlah 'jalan > kemakmuran' yang pendek untuk bisa beli rumah, motor dan hp…. Selain > bahwa lahan warisan milik sudah habis….. maka anak2 mhs planologi janganlah > terlalu banyak diajarkan tentang 'small beautiful town' ….. yang padahal > itu hanyalah banyak lebih cocok diperuntukkan bagi salaryman serta 'the > KPR selection' saja…. Hasil kolusi antara developer dan bank, restu pemda > serta restu jawasentrisme oleh para rezim pemerintahan saja……. > > > > Setelah 50 tahun planologi… setelah ledakan jumlah penduduk dunia…. Setelah > angka pengangguran (serta kelahiran) dan angka urbanisasi kita jang > selalu amat tinggi…. Bolehlah pelajaran tentang 'smalll town is > efficient dan beautiful' (for salaryman, developer and Pemda > actually)…….diberikan sedikit saja… Dan mhs perlu lebih diajar tentang > kewiraswastaan sebagai job creation serta self employment (sekedar tahu) > karena angka pengangguran kita tinggi…. diajarkan (sekedar tahu) bahwa > kampanye KB oleh BKKBN seharusnya membuat rakyat mengerti tentang data > total penduduk nasional dan angka pertambahannya… maupun gambaran ideal > total penduduk kita (zero and or minus population growth)….. angka > pengangguran kita… angka carry over ketekoran gedung sekolah yang harus > dibangun (yang padahal bisa untuk lainnya)… dsb…. Lebih dari sekedar > semboyan terlalu lunak dan persuasif "Dua anak cukup, cowok cewek sama > saja"…… yang gilanya…. Dizaman hak azasi ini BKKBN sempat mempertimbangkan… > apakah semboyan gitu itu masih terlalu keras ato gak ya?.......... > > > > Setelah 50 th planologi dan mungkin tadinya lebih physical oriented….. kini > mhs kiranya perlu lebih diajar yang lebih 'eksos oriented'…. Seperti > akrab dengan urbanisasi dan pengangguran…. maka lalu perlu lebih diajar > tentang 'greater metropolitan city' as 'propulsive engine of efficient > national economic growth and entrepreneurship development'….… dan bukannya > 'never develop metropolis… 'cause she is nothin but glamour and > bourgeoisie'…... > > > > Urbanisasi…. Angka kelahiran berlebih… pengangguran… kegagalan pembangunan > pendidikan nasional…. Semuanya banyak berkait erat dengan demografi………. > > Walau populasi nasional adalah urusan BKKBN….. tak ada salahnya planolog > juga menaruh concern kuat pada demografi…. Dan pada saat yang tepat > menyarankan > 'teknik kampanye KB' yang lebih signifikan…… bukan sekedar "dua anak > cukup, cowok cewek sama saja"….. karena BKKBN yang lebih banyak berlatar > belakang kedokteran KB dan tujuan "kesejahteraan ibu dan anak"…. tentu tak > terlampau jauh concernnya pada angka pengangguran dan job creation… > > > > *+++:** Tidak heran apabila kita melihat implementasi dari perencanaan > kota yang menghancurkan kehidupan sosial-budaya masyarakat golongan bawah di > kota hanya untuk mengekspresikan keindahan kota dengan membuat green belt > dan taman kota yang hanya bisa dinikmati oleh mereka dari golongan menengah > ke atas. > *>>>: Pemukiman ilegal adalah ilegal….melawan hukum…. Kita ingin hukum > juga menghargai planologi.. maka planologi juga harus hargai hukum….. > > Atas pemukiman ilegal (yg a.l. juga akibat ledakan populasi)….. berbeda > dengan pemda yang main 'main gusur' dan 'habis perkara (kadang plus > kerohiman)'…. Planologi harus bekerja keras meneliti model teknik keruangan > yang dapat menampung luapan arus urbanisasi yang berpotensi besar menjadi > pemukiman ilegal……. > > Pada kota-kota yang ada….. planologi harus dapat mendata mana-mana lahan > kota (utamanya milik pemerintah) yang dapat dipakai untuk menampung luapan > arus urbanisasi…… atau mana-mana lahan milik masyarakat yang sekiranya > dapat dibeli oleh pemerintah (dengan harga wajar) untuk ditata ulang > (bersama LSM barangkali) dan dijual kembali dengan harga pokok kepada the > low income….. sesuatu yang tak mungkin diserahkan pada developer swasta….. > > > > Kalau pada "kota yang ada" itu "tidak mungkin"….. maka seyogyanya Pemda > (termasuk yang sudah menyerahkan "pada ahlinya" simas kumis itu)….. janganlah > (bersama "ahlinya itu pula) lalu tetap berkacamata kuda terus dan kepala > batu…… melihat atau menangani perkara urbanisasi itu in the manner of inward > looking…. DKI menangani dengan cara hanya utk DKI saja … Sby menangani > dengan cara Sby utk Sby saja…… masa bodo dengan sistem kota secara > nasional……... > > > > "Ahlinya" DKi seharusnya mengerti bahwa mengapa penduduk menyerbu DKI > karena favoritnya memang ke DKI…. dan bukan ke Bogor atau Purwakarta atau > Rangkasbitung…. Yang mana itu artinya bahwa penduduk dari desa dan daerah > tidaklah bodoh2 amat memandang semua kota sebagai "sama saja"…….... > > > > Penduduk desa dan daerah mengerti bahwa city size megapolitan menyimpan > potensi > kesempatan kerja dan prospek masa depan yang jauh lebih banyak dibanding > kotamadya seperti Purwakarta, Serang atau Garut….. > > > > Kalau sudah begitu… kenapa "si ahli" ini berpikir orang minta megapolitan > kok dikasihnya kotamadya atau desa?....... apakah siahli ini juga mau > .... ketika mudanya dulu mengidamkan figur seperti Luna Maya lalu dikasihnya > Tika Panggabean atau Okky Lukman?.... > > Dengan logika seperti itu… "siahli" perencana kota seharusnya mengerti > bahwa kalau ia tidak bisa memberikan 'megapolitan miliknya'……ya seharusnya > ia bisa bernegosiasi lah dengan pemilik kota metropolitan lainnya….."hei > bung atau hei daeng…. Dapatkah kita mengembangkan rencana megapolitan atau > greater metropolis lain ditempat anda untuk menampung luapan arus > urbanisasi yang favoritnya adalah kota megapolitan?"……..** > > > > Akh….. cangkeman saya juga sudah kelewatan.. jadi segini saja dulu… > > > > Singkat kata rekan Bawole yang baik…… seharusnya kita malah bersyukur… > dan janganlah malah salahkan Howard, Burges, Chiristaller, Corbu dsb….. > karena pemikiran mereka adalah universal dan inspiratif bagi kita…. > > Tak mungkinlah kita akan dapatkan semua itu dari Gajahmada, Ken Arok, > Adipati Unus atau Adipati Belambangan …. > > > > Salam, > > aby > > > > > >

