Mas EkoBK ysh, 
+++: “….saya kuatir industri jenis ini tidak bisa sebagai propulsive 
industry...kalau ditempatkan di KTI, paling nanti pabriknya hanya sebagai 
tempat "pasang" saja...sementara suku2 cadangnya lebih murah diproduksi di Jawa 
atau Medan... 
  
>>>: Ttg diskusi yg ini…. Mari kita tdk kaitkan dulu dengan Morotai…. Tapi 
>>>kaitkan dgn ‘kawasan tertinggal secara umum’…… 
Tentu saja “industri light aircraft” ini tidak hrs selalu dpt menjadi 
‘satu-satunya’ industri memimpin (leading industries) yg ideal dikawasan 
tertinggal manapun…. 
Saya kira anda sepakat bahwa lain negeri bisa lain  leading industriesnya……, 
mungkin juga lain masa lain pula leading industriesnya……. 
Saya pikir kalau tak ada leading industries lain yg benar memimpin disuatu 
negeri…. maka drpd  tidak samasekali…. light aircraft industriespun saya kira 
bolehlah sebagai salah satu alternatifnya…. 
Kalau disatu kwsn tertinggal sudah ada leading industriesnya yg lain…. 
kehadiran industri pesawat yang ini juga tentu semakin memperkuat saja struktur 
industri, struktur SDM,  struktur upah maupun pola konsumsi yg telah ada 
diwilayah tsb…. 
Kalau sering saya sebutkan bahwa ideal leading industies kita adalah industri 
sepedamotor .. itu  adalah karena kapasitasnya yg demikian besar….. pasar 
domestiknya 5.5 juta unit per tahun…… ketiga terbesar dunia stlh China dan 
India…. Sehingga desentralisasi cabang kecil fasilitas produksinya 
(filialisasi) ditempat lain (dalam kaitan dengan countermagnet city) akan mampu 
menjadi leading industries dan menggerakkan multiplier effect serta 
berkembangnya perekonomian perkotaan lokal…..bahkan juga pusat pertumbuhan 
regional……. 
Kembali lagi ke light aircraft industries (krn kaitannya dgn produk BPPT itu) 
…  dikaitkan dgn potensinya utk pengembangan suatu  kawasan tertinggal  
“xyz”….  
Kalaupun kata anda “jangan2 nanti hanya jadi industri tempat masang saja”…. 
“sementara suku2 cadangnya lebih murah diproduksi di Jawa atau Medan...”(atau 
malah impor) .. Ya itu nggak apa-apa mas….. karena yang penting khan adalah 
‘sales’nya… dan ‘company profit’nya… dimana kedua faktor itu penting utk 
menunjang keberlangsungan kehidupan perusahaan tsb serta perkembangannya (dlm 
kompetisi global dgn negara maju industri pesawat kita yg pasti unggul dlm hal 
low cost wages) ……. 
Pada konteks lain... dimana pada industri mobil suku cadang tidak dibuat 
sendiri seluruhnya... pabrik mobil Toyota di Jepang misalnya dalam rangka 
'hemat ruang'.... kalau pesan suku cadang...  special notenya termasuk a.l. 
pemasok harus menyerahkan suku cadang pesanan itu tak hanya pada hari "H" yg 
ditentukan... namun bahkan juga sampai pada jam "J"nya... hingga "ruang 
penggudangan suku cadang" bisa dihemat....  
Lagipula utk industri pesawat terbang semacam Indonesia…. Paling lakunya 
setahun berapa unit sih?.... khan paling nggak sampai  ratusan unit…. Paling2 
bisa bikin dan terjual setahun 30  unit juga sudah hebat sekali (itu juga 
asalkan nggak sering2 tukeran sama ketan,  duren atau kelapa misalnya)…. Jadi 
faktor onderdil dibuat dikota lain kiranya nggak ada masalah….. 
Yang tidak boleh terjadi khan kalau semula dikawasan tertinggal  “xyz” itu “ada 
“industri light aircraft” katakanlah merk “dua cula”… lalu karena mismanajemen… 
lalu industri pesawat tsb. bangkrut dan tutup….. dan kawasan itu lalu kembali 
lagi tak memiliki leading  industries apapun (dalam arti relatif)…..   
Kalau perusahaan itu dapat dipertahankan keberlangsungan hidupnya…. Pertama…. 
Setidaknya fasilitas industri “perakitan pesawat terbang” itu sendiri sudah 
merupakan ‘modern activities’ yang memberikan keuntungan psikologis tersendiri  
yg tidak kecil pada wilayah… seperti dgn adanya gairah/ semangat utk 
mengembangkan industri lain lebih lanjut…..dan dpt memberikan berbagai 
multiplier effect yang lumayan….. itu kalau  dibanding dengan “keadaan 
semula”….ketika industri pesawat itu belum didirikan ditempat “xyz” itu…dan 
ketika dikawasan “xyz” itu belum ada apa-apa….. 
Dengan itu maka bermigrasilah sejumlah SDM industri tsb.  (dikit juga nggak 
apa-apa, yg penting khan ada) … dari kawasan maju (artinya ada redistribusi SDM 
unggulan nasional) kewilayah tsb….. 
Pada saat yang sama akan hadir pula dengan bermigrasi… SDM kelas menengah/ 
kelas kreatif dari berbagai multisektor lain …Baik berkait langsung atau tak 
langsung dengan leading industrial activities tsb… (misalnya dokter dan bisnis 
rumah sakit… krn masak pegawai aircraft industries kalo sakit dibawa 
kepuskesmas)…. Dalam mana kehadiran para SDM pendapatan menengah  itu akan 
tentu memperbaiki  “struktur upah diwilayah”…… akan memperbaiki “pola konsumsi 
diwilayah”… sehingga volume konsumsi diwilayah menjadi meningkat.. yang itu 
berarti demand/ perekonomian lokal jadi menggeliat bangkit….. dan yang pasti 
dengan itu lalu semakin muncul multiplier effect dibanyak multisektoral yang 
luas… seperti setidaknya disektor konstruksi .. perumahan. pendidikan, 
kesehatan, transportasi… dll. 
Utamanya dibidang aircraft engineering maupun general industrial 
engineerings…..  seperti misalnya di KTI (tentu Mks dong)…. Tentu sebagian 
maintenance yang semula dilakukan di Jkt dapat sebagiannya dilakukan di 
KTI/Mks….. Aircraft industries sebagai jenis industri teknologi tinggi  tentu  
mampu mendukung rintisan berdirinya berbagai macam engineering industries 
lainnya (setidaknya mendukung maintenancenya) …baik mulai dari mesin jahit, 
mesin parut kelapa, mesin tempel sampai otomotif…. yang pada saatnya dengan itu 
maka berbagai macam industri lainnya dibidang produksi non-mesin (juga jasa) 
akan tidak gamang untuk didirikan/ dikembangkan….. 
Yang tak kalah penting.... sektor modern itu akan dapat berinteraksi dengan 
sektor pertanian dan kelautan..... seperti produk pertanian dan kelautan akan 
bertambah luas pasarnya karena kehadiran urban people disana.... yang pasti tak 
akan memenuhi kebutuhan pangannya dengan nanem padi dan sayur sendiri... atau 
nangkep ikan sendiri dikali....... 
  
Salam, 
aby 
  
  
Thursday, November 13, 2008 6:16 PM 
From: "Eko B K" <[EMAIL PROTECTED]> 
  
Trims kembali. Justru sifat footloosenya yg membuat saya kuatir industri jenis 
ini tidak bisa sebagai propulsive industry...kalau ditempatkan di KTI, paling 
nanti pabriknya hanya sebagai tempat "pasang" saja...sementara suku2 cadangnya 
lebih murah diproduksi di Jawa atau Medan... 
  
salam.. 
  
--- On Fri, 11/14/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: 
  
Trims mas EkoBK ysh, 
  
Lha ya teknologi  yang model tepat guna dan konkrit  begini inilah yang banyak 
ditunggu-tunggu dan pasti diappreciate oleh bangsa Indonesia…… 
Alat angkut jenis hydro craft  (kombinasi pesawat udara dan kapal laut) memang 
paling cocok dan ideal untuk pemakaiannya dinegeri 17000 pulau ini….. 
Dan tak kalah penting..... ini adalah salah satu jenis .footloose industry... 
yang bisa didirikan dimana saja... baik jauh dari pasarnya maupun jauh dari 
tempat bahan bakunya... dan cocok menjadi industri pendorong (propulsive 
industries) dan leading industries untuk kawasan tertinggal dan terpencil 
seperti KTI...... yang akan mampu menggerakkan perkembangan multi sektor 
lainnya..... ... 
  
Salam, 
aby 


 


      

Kirim email ke